Wednesday, 29 February 2012

Akhi, Ukhti, nyamankah kamu?

Sebuah sms masuk ke handponeku. Seorang saudara memberiku sms motivasi. Alhamdulillah, memberikan semangat baru ditengah suasana ujian yang kalut. Tapi ada sesuatu yang mengganjal. Ia memanggilku akhi. Tentu aku protes. Selama ini sepengetahuanku kan akhi itu panggilan untuk laki-laki. Pendapatnya, panggilan akhi itu sama dengan panggilan anda dalam bahasa Indonesia.
Hems, panggilan akhi, ukhti, antum, antumna, memang sudah sering mampir di mata ataupun ditelinga (baca sms kan pake mata ya?). Apalagi yang sering bergaul dengan para aktifis dakwah sejak memasuki bangku SMA (bukannya sombong loh). Tapi anehnya, aku tetap ngga ‘nggeh’ kalau di panggil demikian (ukhti –red). Dan akibatnya, aku juga jarang memanggil saudara-saudaraku dengan panggilan itu (Maap kalo ada yang ngga nyaman). Aku lebih suka memanggil mereka dengan panggilan mbak atau mas. Emang sih, kesannya umum banget. Tapi, bukankah artinya juga sama dengan ukhti atau akhi?
Secara bahasa kata ukhti itu adalah panggilan untuk saudara perempuan atau اختي dalam bahasa arab. Sama seperti kata Noung dalam bahasa Thailand dan Mbak dalam bahasa Jawa. Tanpa membedakan apakah dia muslim atau bukan. Di Arab sana (asal bahasa, red) perempuan-perempuan Arab biasa memanggil Ukhti pada mereka yang non muslim.
Nah, untuk kasus diatas, saya akhirnya searcing di internet dan hasilnya panggilan akhi atau dalam bahasa arab اخي berarti saudara lelaki. Tapi, di Indonesia banyak yang mengartikan panggilan akhi khusus untuk memanggil saudara lelaki yang beragama muslim padahal kenyataannya tidak begitu.
Memang bukan sebuah masalah yang besar karena ketika saya dipanggil ukhti (ataupun akhi?), karena biasanya saya pun biasa-biasa aja. Alasan untuk mempererat ukhuwah pun saya terima. Hanya kadang-kadang ada garis diskriminasi yang saya rasakan. Kadang-kadang panggilan akhi dan ukhti itu seperti sebuah panggilan khusus untuk kalangan aktivis dakwah saja. Seperti sebutan akhwat untuk menyebut mereka yang berjilbab besar, bergamis dan rajin ngajinya. Sedangkan untuk mereka yang masih ‘biasa’ lantas bukan akhwat? Mereka kan muslim juga.
Akhirnya, di mata masyarakat pun berkembang istilah bahwa mereka yang alim sajalah yang berhak di panggil ikhwan dan akhwat. Bahkan saya pernah mendengar cerita, seorang akhwat di tegur temannya karena memanggil dik pada adik angkatnya yang seorang al-akh. Kenapa ngga panggil ustadz atau ustadzah aja? Karena orang-orang Mesir biasa memanggil orang lain dengan panggilan ustadz, termasuk kepada orang-orang yang belum dikenal, jadi kata ‘ustadz’ di sini bukan hanya identik dengan seorang guru biasa atau guru agama saja. Seperti kata Sampeyan dalam bahasa Jawa. Saya ingat percakapan saya dengan seorang teman. Suatu kali saya tengah mengabarkan sesuatu pada teman saya (bukan ghibah loh..), kemudian dia bertanya, emang dia ikhwan ya? Ya iyalah, namanya saja Anto, masa akhwat..
Dan kesimpulannya, saya bukannya keberatan, apalagi kalau yang manggil saya ukhti itu niatnya mendoakan saya agar saya lebih sholehah. Tapi paling tidak, panggil juga perempuan-perempuan muslim yang notebene bukan aktivis dakwah dengan sebutan itu juga (ukhti, not akhi, hehehe). Biar diantara kami tidak ada jarak dan tidak salah kaprah. Bukankah dengan demikian dakwah akan lebih berkenan? Atau jika tidak, biarkan saya memanggil akuw-kammu, atau loe-gue, dan mas atau mbak. Harap dimaklumi ya....
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 28 February 2012

Manusia-Manusia Munafik

Bismillah...
Dan Kami turunkan dari Al Qur’an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang lalim selain kerugian.
(Al Isra 82)
Nuzh

ulul Qur’an memang masih lama, tapi tak ada salahnya jika kali ini saya ingin membahas tentang sebuah Mukjizat terbesar Rasulullah yang dijadikan pedoman umat Islam di dunia dan akherat. Apa pasal? Sederhana saja (sebenarnya komplek sangat!!), banyak hal yang terjadi tak lagi berpedoman pada pedoman paling sempurna ini. Banyak yang menganggap bahwa Al Qur’an hanyalah pedoman untuk manusia-manusia di jamannya, sedangkan untuk sekarang ini, Al Qur’an dianggap sudah tak lagi konvensional, ketinggalan jaman, ortodok, atau apapun sebutannya yang sangat-sangat tidak bisa saya toleran.( Woy, itu kitab agama gue).
Buktinya? Mungkin, sudah banyak dari kita yang menyadari ini. Pernah dengar tentang Islam Liberal? Ya, disini saya akan membahas tentang Islam Liberal itu, sedikit saja, karena memang saya tidak terlalu paham, mengapa ada Islam yang liberal. Perlu diingat disini, asumsikan saja, saya adalah manusia yang awam. Bukan santri, bukan kyai, bukan ustadz (ane akhwat gan, hehehe), tapi ada sesuatu yang membuat mata ini terasa dililipi banyak debu, dan seakan telinga ini kemasukan serangga super besar. Ngga nyaman, begitulah intinya.
Saya pernah membaca sebuah artikel tentang pidato seorang staff partai politik ternama di negara kita, kalau tak salah begini bunyinya,“ ”Apakah kita bisa menerapkan apa yang selama ini dianggap sebagai hukum Tuhan seraya mengabaikan konvensi-konvensi internasional yang disepakati oleh bangsa-bangsa, misalnya konvensi tentang kebebasan sipil? Apakah kita tetap bertahan dengan diktum dalam Quran bahwa seorang suami boleh memukul istri (QS.4:34), sementara kita sekarang memiliki hukum yang melarang kekerasan dalam rumah tangga? Apakah kita masih harus mempertahankan diktum lama bahwa seorang laki-laki tidak diperbolehkan untuk menjabat tangan seorang perempuan non-muhrim hanya karena ada sebuah hadits yang melarang tindakan semacam itu? Kenapa hukum semacam itu harus dipertahankan? Apa ”rationale-nya”? Apakah alasan yang mendasarinya? Apakah alasan itu masih relevan sampai sekarang? Intinya: Apakah hukum-hukum agama yang memperlakukan perempuan secara diskriminatif masih tetap harus kita pertahankan semata-mata karena hukum itu berasal dari Tuhan?” (KOMPAS Forum, 08-03-11)
Masya Allah, ruarrrrr biasa sekali. Nampaknya orang ini sudah menganggap dirinya paling hebat sehingga mampu melawan hukum Tuhan. Hal ini bisa saja terjadi karena kurangnya pemahaman terhadap ayat-ayat Al Qur’an namun menganggap bahwa diri sudah paham, sudah khatam, dan sudah mahir dalam hal ini. Banyak sekali surat-surat Al Qur’an yang salah tafsir. Karena, manusia sekarang itu sombong, menganggap dirinya sudah berilmu, maka dengan mudahnya ia menafsirkan ayat-ayat yang terkandung dalam Al Qur’an, sehingga timbulah persepsi sesuai dengan latar belakang ataupun kepentingan si penafsir.
Satu hal lagi, contoh-contoh manusia yang seperti ini adalah manusia-manusia yang mengagung-agungkan dunia. Atas alasan toleransi, kemanusiaan, hak asasi, sepertinya hukum Allah sudah tidak diperlukan, dan yang paling terbaru adalah tentang konsep pluralisme. Sesungguhnya saya heran, kenapa sampai ada istilah pluralisme dalam agama? Bagi saya, agama adalah prinsip yang paling prinsip. Sebuah pegangan, sebuah panduan, pedoman, ketika seseorang akan melangkah. Lalu, ketika seseorang itu mengungkaop konsep pluralisme dalam agama, prinsipnya kemana?
Apakah mereka hendak merubah Al Qur’an sesuai dengan kehendak mereka? Tidak, mereka tau hal itu tidak mungkin, karena Allah akan menjaga Al Qur’an hingga akhir jaman. Karena itulah, mereka mulai mengingkari, dan mencari celah (yang sebenarnya tidak ada) untuk menyisihkan hukum Allah yang tertuang dalam Al Qur’an, dan orang-orang yang demikianlah yang disebut kaum yang munafik.
Siapakah itu kaum munafik? Kaum munafik adalah kaum yang abu-abu. Aneh dan mengherankan. Ia tidak seperti gambaran orang yang beriman (mengingkari hukum Allah), namun tak pula seperti orang kafir yang berada di kegelapan. Abu-abu, berarti samar. Ya, dia akan sangat sulit di bedakan, karena bisa jadi secara penampilan dia menampilkan busana agamis, namun secara ruhiah, dia goyah dan terguncang.
Dalam bukunya, Sehatkan Iman Anda, Mukmin Fathi Al Haddad menyatakan bahwa orang munafik memiliki ciri-ciri jika mendengar, maka dia meremehkan. Jika berkata, maka dia melakukan penyimpangan. Jika berdalil, maka ia menghiasinya dengan kebohongan. Jika dinasehati padanya: “Bertaqwalah kepada Allah; maka dia membantah. Agamanya adalah makar, syariatnya adalah pelanggaran janji, akidahnya adalah kekafiran, ucapannya keji, dan tidak hidup dengan dada yang terbuka (pendendam). ‘audzubillah..
Akhirnya, kembali lagi pada bahasan di atas. Banyak sekali sekarang ini, orang-orang Munafik yang menggunakan dalil-dalil dalam Al Qur’an sebagai pembanding. Padahal mereka tau, hal tersebut tidak pas untuk di bandingkan. Tapi demi mencapai tujuan mereka (mengganti hukum Allah dengan hukum “aneh” mereka) hal tersebut sah-sah saja..
Merekalah yang harus diwaspadai. Mereka lebih berbahaya daripada orang-orang kafir. Ya, karena mereka samar. Mengaku Islam tapi tak berIslam. Waspadalah...waspadalah....
NB: Simak juga tentang AL Qur’an, petunjuk Sepanjang Jaman ya... ^^
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Monday, 27 February 2012

Lady Gaga dan Indonesia..

Sudah dengar kabar terbaru? Yup, Penyanyi pop asal Amerika Serikat, Lady Gaga, dijadwalkan akan menggelar konser di Jakarta. Dalam rilis yang diterima Kompas dari promotor Big Daddy Live Concerts, konser turnya bertajuk The Born This Way Ball ini akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada 3 Juni 2012 (Kompas, Selasa, 28 Februari 2012). Wuih, setelah Caty perri berhasil 'menggoyang' panggung indonesia, sekarang giliran penyanyi yang di kenal sangat kontroversial ini. Keren ya... Sudah berniat beli tiketnya? Cepetan, ntar kehabisan.
Ckckckckck... bener-bener deh. Bom itu bentar lagi meledak. Indonesia sudah mulai kena dampaknya. Gaya hidup hedonisme sebentar lagi akan membumi di Indonesia.. Bagaimana tidak, coba saja bayangkan, dengan menggelar konser seperti itu (Paling acaranya cuma nyanyi-nyanyi doang kan? ndengerin di lepi udah cukup toh? ) mengeluarkan banyak dana yang pastinya akan lebih bermanfaat jika di sumbangkan ke panti-panti sosial. Tidak hanya jangka pendek, tapi juga jangka panjang. Cobalah di cek, setelah konser caty perri, manfaat apa yang diambil Indonesia? Hanya segelintir orang yang menikmati. Blum lagi, penonton yang bela-belain nggrogoh kocek sangat dalam untuk menonton konser beberapa jam ini. Ckckckck, oke-oke aja sih, asal jangan lupa sama zakatnya aja. Tapi sayangnya banyak yang lupa.
Ya, musik memang telah menjadi raja di dalam gaya hidup kita. Dimana sih ada orang, hari gini yang ngga ngedengerin musik, sedangkan kehalalan musik saja hingga saat ini masih jadi perdebatan halus dikalangan umat Islam. lihat saja di acara TV-Tv kita, semakin sering menayangkan acara musik, maka semakin tinggi rattingnya. Subhanallah...
Musik, secara tidak kita sadari, telah membawa kita pada dunia baru. Musik telah mengantarkan kita pada tatanan dunia yang serba di kendalikan. Saya sendiri terlibat didalamnya. Bagaimana lagi, semua orang mendengarkan musik, dan apakah saya harus menutupi telinga saya dengan kapas? sebagai gantinya, (perang dinginnya), mending lah kalau mendengarkan lagu-lagu nasyid atau sejenisnya, biar tidak terlalu menyenangi dunia.
Hedonis, bukankah begitu lagu-lagu yang sering kita dengar? dan kita pun terseret pada dunianya. Dunia musik hedonis. Awas, jangan sampai! Kesimpulanya, jangan sampai kita ikut-ikutan gaya hedonis "mereka". Dengarkanlah musik sekadarnya, jika boleh saya menyarankan, dengarkan murotal saja. Jika tidak bisa, nasyid lah. paling tidak mengingatkan pada Allah, dan hidup kita didunia yang hanya sementara. Oke?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sunday, 26 February 2012

Say No!!!

Bissmillah...
Malam yang cerah. Beberapa motor hilir mudik, lebih ramai dari malam-malam sebelumnya. Dapat di maklumi, ini malam minggu. Sebuah lagu pun pernah mengatakan, malam minggu adalah waktunya kunjung pacar (pasti tak asing dengan lagu aneh ini kan?), dan benar saja. Hilir mudik pasangan muda-mudi memadati jalanan kota. Entah tujuannya kemana. Hanya sekedar mengitari kota Yogyakarta, tempat makan, atau tempat-tempat lain yang tidak pernah saya bayangkan (kira-kira kemana ya?).
Ya, malam minggu dinobatkan sebagai malam bagi beberapa pasangan muda mudi sebagai malam untuk memadu kasihnya (nyontek kata-katanya Khalil Gibran..hehehe). Malam yang indah bagi mereka. Malam yang panjang karena akan diisi oleh cerita-cerita. Tapi, bukankah malam Minggu adalah malam yang terburuk? Lihat saja, pasangan muda-mudi yang belum mengucapkan ikrar pernikahan, dengan mudahnya berboncengan, bergandengan tangan, berkhalwat, dan entah ber-ber apalagi (sungguh saya tidak tau apa lagi yang mereka lakukan diluar disana).
Tidak hendak berburuk sangka, tapi bukankah fakta dari sejumlah penelitian telah menyatakan, banyak pasangan pra nikah yang melakukan hubungan layaknya suami istri? Atau dalam istilah kerennya free sex. Bisa dibayangkan, ketika banyaknya muda mudi yang bergandengan tangan, berboncengan, berduan, dan ber-ber lainnya tanpa ada rasa sungkan, tanpa ada rasa takut, dan tanpa ada rasa malu sedikitpun, pada malam Minggu, maka berapa banyak yang melakukan hal-hal yang tidak semestinya (eh, bukankah bergandengan tangan, berboncengan, berduan, dan ber-ber lainnya juga ngga semestinya ya? ^^) Bisa saja, hanya diawali dengan bergandengan tangan dan akhirnya diakhiri dengan hal-hal lain yang lebih jauh. Bukankah setan sering menggunakan panah cintanya (setan juga punya panah cinta loh) untuk menjerumuskan anak manusia, dan ketika panah cinta itu sudah dilesatkan, tinggal kata-kata setan yang berbicara (Innalillahi, ngeri sangat).
Yups, awalnya memang sederhana. Banyak memang dari pasangan muda-mudi itu yang tujuannya hanya untuk sekedar jalan-jalan, makan, dan setelah itu pulang. Tanpa mereka pernah memikirkan, “kejahatan itu bisa terjadi dimana saja dan kapan saja”. Hal ini dimungkinkan karena memang sudah menjadi hal yang teramat biasa di masyarakat kita. Masyarakat yang notebene mayoritas beragama Islam (tapi entahlah..). Berduaan, atau berkhalwat dengan yang non mahrom bukan menjadi hal yang ganjil bukan? Dimana-mana, bisa kita jumpai muda-mudi bersendau-gurau tanpa memikirkan adab-adab pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Tak perduli dengan lingkungan sekitar, tak perduli dengan apa kata orang lain, apalagi perduli dengan Allah aza wa jalla. Sampai-sampai ada istilah, dunia milik berdua. Ckckckckckc, yang lain ngontrak euy.. dan herannya ini tetap menjadi hal yang ‘biasa’.
Pendidikan memang bermula dari keluarga. Saya yakin, banyak dari mereka telah memiliki bekal pendidikan moral yang cukup dari keluarga dirumah. Tapi, ketika seseorang dihadapkan pada lingkungan yang berbeda, dengan problematika yang berbeda, merekalah yang seharusnya menentukan arah. Apakah akan terbawa arus, atau melawan arus, dan sayangnya ketika seseorang tidak mawas diri, mereka telah bergabung bersama arus yang membawa mereka pada hal-hal yang jauh dari lingkungan keluarga mereka. Ya, lingkungan pergaulan mereka di luar rumah sangat mempengaruhi perilaku mereka. Saya yakin, sebagian besar dari mereka yang melakukan free sex sebenarnya pun tidak ingin melakukan hal tersebut, dan ketika mereka sadar kesalahan mereka, sayangnya, tidak ada yang mengarahkan mereka ketika mereka salah, karena lingkungan pergaulan mereka juga membenarkan kesalahan tersebut.
Saya pikir, disinilah peran mahasiswa muslim ‘yang lebih tahu’. Ya, syariat Islam, solusi yang paling baik, dan solusi ini haruslah ditegakkan. Nyatakan kembali kebenaran, dan salahkan kembali yang salah. Tidak harus dengan serta merta mengatakan, “hai, lu salah, harusnya lu masuk neraka,”(hehehehe) tapi dekatilah mereka. Meski mereka mengenakan jilbab made in paris, atau tanpa jilbab sekalipun. Warnai lingkungan mereka yang tadinya hitam abu-abu, tambahkan dengan warna-warna Islam dari kehadiran kita. Siarkan, bagaimana seharusnya perempuan dan laki-laki bergaul dan jika perlu, sebarkan pamflet-pamflet dan baliho sebesar-besarnya (jangan kalah dengan iklan rokok) di berbagai tempat, boleh di kos-kosan, di tempat-tempat nongkrong muda-mudi, disembarang tempat, say no free sex, katakan tidak pada pergaulan bebas. Jika perlu, kerja sama dengan aparat daerah, dan katakan pada pemerintah, tak usahlah repot-repot mengurusi Keluarga Berencana, dengan tegas, kita punya solusi untuk pertumbuhan penduduk yang tinggi, yaitu dengan memberantas free sex. Betul?
Salam... ^^

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kenapa Harus Begitu?


Kesedihan itu tiba-tiba membuncah. Seperti sudah sekian tahun tertanam dalam dada. Bagaimana tidak, ku lihat saudara-saudaraku, terpecah, saling terberai, saling bermusuhan, seperti tak saling kenal. Bukankah kita satu akidah? Bukankah kita satu Pedoman? Bukankah kita satu Tuhan? Apa yang salah disini?
Aku menangis, dalam batin yang teramat sepi. Saudaraku saling menghalalkan darah saudaranya. Saling menghujat saudaranya. Kenapa?
Apa yang terjadi disini?
Aku ingat benar kisah-kisah ketika Rasulullah masih ada, ataupun beberapa waktu setelah ia Wafat. Betapa Islam bergerak dengan indah. Bersatu seperti padu yang tak mungkin runtuh. Tergerak sama tergerak. Berjuang sama berjuang. Yang pasti jelas sekali kedamaian.
Tapi sekarang? Masing-masing menganggap dirinya benar. Masing-masing menganggap idiologinya yang paling tinggi. Sungguh, kesedihan ini tak terbendung lagi...
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 23 February 2012

Lomba cerpen Andrea Hirata Song Book

23 Feb 2012 | Rubrik: Info Nida - Dibaca: 106 kali





Bentang akan menerbitkan Andrea Hirata Song Book, yang memadukan lagu ciptaan Andrea (soundtrack serial Laskar Pelangi) dengan kisah-kisah Laskar Pelangi yang menjadi sumber inspirasinya. Lebih seru lagi, Andrea Hirata Song Book juga akan menampilkan cerpen dari pembaca. Mau karya kamu masuk di project ini?

Cek syarat-syaratnya:

1. Mengirimkan karya cerpen atau artikel pengalaman pribadi dengan tema:
- Inspirasi dari Tetralogi Laskar Pelangi
- Negeri Laskar Pelangi (Pulau Belitong)

2. Tidak memuat unsur SARA (tidak berpotensi menimbulkan konflik) dan pornografi.

3. Naskah ditulis dalam kertas kuarto, 3-5 halaman, spasi 2, margin Top 4, Left 4, Right 3, Bottom 3 (dalam cm), font Times New Roman 12pt.

4. Setiap file MS Word hanya memuat satu cerpen.

5. Sertakan biodata lengkap (Nama, alamat, no HP, email dan profil singkat penulis) dalam halaman terakhir dari naskah (halaman terpisah).

6. Naskah diterima paling lambat 1 Maret 2012.

7. Jumlah cerpen yang dikirimkan bebas.

Lomba dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
- Anak & remaja : usia max 15 tahun
- Umum : usia diatas 15 tahun

Hadiahnya:

2 pemenang kategori anak dan remaja

Uang sebesar @ Rp 350.000,00 + paket buku bentang

2 pemenang kategori umum

Uang sebesar @ Rp 500.000,00 + paket buku bentang

Naskah dapat dikirim via

email: songbookandrea@gmail.com

dengan subyek email Andrea Hirata Song Book



Sumber : Fan page Facebook Bentang Pustaka
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 22 February 2012

Terjebak Hujan itu Mahal (sebuah cerita, hehehehe)



Mungkin menjadi hal yang biasa terjadi bagi kamu-kamu yang notebene adalah seorang yang pelupa atau pemalas untuk sekedar membawa payung atau mantol, terjebak hujan disuatu tempat, dan saya akui gue adalah tipe kedua-duanya. Apalagi di musim-musim penghujan seperti ini. Sudah tak terbilang, ketika gue bepergian, entah sekedar kekampus atau kesuatu tempat yang lain, gue hanya bisa merajuk “yah..Ko hujan.. “sembari melihat jam dan berharap hujan itu cepat berhenti.
Dalam ilmu geografi (Sebut saja Metklim), gue jadi tau bahwa hujan dengan intensitas besar didaerah tropis hanya akan bertahan 1 sampai 2 jam. Sisanya hanya rintik-rintik hujan. Karena pedoman itulah, gue sering memutuskan untuk menunggu jika hujan menjebak saya untuk pulang (hujannya pinter ya...). Yah, itu jika tidak tengah terburu-buru. Seperti sore ini. Gue kembali terjebak hujan untuk kesekian kalinya.
Sebelumnya, gue yang tengah berbelanja (weh, gaya euy, padahal Cuma beli odol sama sikat, hehehe) di salah satu swalayan di daerah bekasi, tak jauh dari tempat kontrakan kaka, gue ngga nyadar kalau gludag-gludug yang sedari tadi terdengar adalah suara gludug. Kirain diatep swalayan lagi mbangun apa gitu. So, waktu gue mau pulang dan ngliat luar, seperti yang gue katakan tadi, “yah...Ko ujan?” tanyaku pada diri sendiri. Pada siapa lagi coba, orang cuma jalan sendiri. Masa tanya sama manekin. Ngga lucu dong.
Satu-satunya pilihan adalah menunggu hujan reda. Mau gimana lagi, kalo mau menerobos hujan, hujannya cukup deras, ngga cuma badan gue yang basah, pasti belanjaan juga tak bisa terelakan. Gue lihat jam di layar HP. Masih cukup siang. Belum ada jam 3. So, aku putuskan menunggu.
10, 20 dan hampir setengah jam aku menunggu dengan posisi berdiri di depan swalayan. Cape juga. Mana ngga ada teman untuk mengalihkan perhatian, dan hujannya ternyata belum juga ingin reda. Aku tengok kanan-kiri. Mungkin aja ada tempat duduk. Ada sih, tapi di dalam sebuah tempat makan, dan aku tergoda untuk mendudukinya.
Okey, sekedar makan tak apalah. Kan dari tadi pagi belum makan. Jadilah gue melangkahkan kaki memasuki tempat makan siap saji itu. Setelah memesan dan membayar (belum sadar) gue memilih duduk di tempat paling pojok dekat jendela kaca. Kan biar lebih mudah mandangin ujannya.
Setelah duduk, baru gue sadar. Ko mahal ya? Hahaha, bukanya udik, atau emang sebenarnya udik. Tapi gue lagi tertarik buat berlogika. Emang nasi sepiring ngga penuh berapa harganya sih? Mentok-mentok ya 3 ribu. Terus ditambah telor dan secuil daging ayam. Apakah semahal ini? Dan lagi, tambahan minuman yang rasanya ngga jauh sama Pop ice, ko bisa seharga itu? Apakah bikinnya pake susu import? Esnya dari kutub langsung? Perasaan kalo gue bikin sendiri mentok-mentok ya 3500 lah.
Itu udah biasa kali, gitu aja heran. Udik banget sih Ji..
Di bilangin gue lagi pengen berlogika. Apakah untuk membayar sewa tempat yang mahal jadi semahal itu? Kan kesannya yang makan disitu jadi berkelas tuh? Tapi kan udah ada biaya Rest nya sebesar 2800 yang tertera di struk pembayaran. Emang kalo gue duduk ngga kurang dari 1 jam biasanya bayar? Engga kan..
Aduh..Lo tuh Ji, udik banget sih...
Ah, gue Cuma lagi pengen berlogika aja. Mereka itu bikinnya pake apa? Ko bisa semahal itu. Dan anehnya masih ada aja yang beli. Rame malahan. Kalo gue kan sekali-kali. Heran deh sama yang sering ke tempat-tempat sepert itu. Ditambah lagi fakta bahwa makanan siap saji itu ngga sehat.
Dan ternyata jawabannya sungguh mencengangkan. Gengsi. Aduh, emang kenyang apa makan gengsi? Aku aja ngga kenyang. Mending makan di deket lembah aja. Kenyang, murah dan yummy...hehehe
Tapi ya, mungkin bagi mereka, cukuplah makan dengan ‘seadanya’, asal tempat istimewa, yang penting dapat menunjang image mereka. Kali aja, dengan makan di tempat seperti itu jadi di cap orang kaya, orang berduit, dermawan, atau sebagainya dan itu hak mereka. Ah, aku tengah berfikir saja. Bermain-main dengan otakku yang urat-uratnya kusut karena memikirkan nilai yang makin berkerut..
Atau aku memang Udik?



Bekasi, 30 Januari 2012
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 21 February 2012

GERIMIS


“Aku percaya, meski sebenarnya aku tak percaya pada siapapun, malaikat Allah akan menjagamu.”
Mungkin kini ia tengah menangis tertahan. Badannya sedikit terguncang, tapi tak ada suara yang keluar dari bibirnya yang memar. Ia menoleh padaku. Sejenak mata kami bertemu. Tidak ada suara. Tidak ada air mata. Lalu ia berjalan menghampiriku.
“Tidak apa-apa. Sebaiknya kamu segera bergegas sebelum hujan kembali deras.”
“Dia minta apa lagi, Bu?”
Wanita separuh baya itu tercenung menatapku. Tentu ia tau apa yang aku maksud. Laki-laki itu baru saja kutemui di ambang pintu.
“Jangan seperti itu nak. Sudah, kamu berangkat sekolah saja.” Ibu memalingkan tubuhnya. Mungkin kali ini dia mau menangis. Aku menurut. Tak ada gunanya berdebat dengan Ibu. Bukankah itu akan membuatnya tambah sedih? Atau sebenarnya aku yang tak terlalu perduli dengannya?
Aku menerobos hujan gerimis pagi ini. Langit seakan tengah sendu. Jika ingin menyamakan, mungkin pagi ini sama dengan Ibuku. Tapi bukankah kesedihan Ibu setiap hari? Tapi aku tak perduli.
**
“Hendi, besok kamu antar ibu kerumah tante Maya ya. Ibu ada sedikit perlu.”
Aku menoleh. Kulihat ibu tengah menata kain-kain yang akan di jahitnya.
“Mau hutang lagi bu? Memang dia minta uang berapa? Hendi ada tabungan kalau ibu mau pake dulu.”
Ibu menoleh. Mukanya mengisyaratkan kemarahan. Tapi aku tak perduli. Aku beranjak dari dudukku menuju lemari. Kuambil sebuah amplop coklat. Isinya tabunganku beberapa tahun ini. Tidak terlalu banyak memang. Tapi aku pikir cukup untuk mendiamkan pria itu beberapa minggu.
“Ini, tabungan Hendi dari kerja. Ibu pake dulu. Ngga perlu hutang sama tante Maya. Hutang Ibu yang lalu juga belum di bayar kan. Kasih aja ke dia. Biar dia ngga balik untuk sementara waktu. Bosan aku ngliat dia.” Kusodorkn amplop itu kepada Ibu. Ibu menatapku. Matanya mengisyaratkan ia terluka.
“Hendi, apa maksud kamu?” Bibir ibu bergetar.
Aku kembali ke meja belajarku. Amplop itu aku letakan disamping ibu. Tangan ibu tak mau menerimanya. Jelas, aku tau reaksi ibu akan seperti ini. Tapi aku enggan kerumah tante Maya. Bau alkohol memuakanku. Juga wanita itu.
“Dipakai saja dulu. Tadinya buat biaya kuliah Hendi. Tapi kemarin Hendi dengar ada beasiswa. Jadi ngga pake duit-duitan segala. Sudah, hendi mau belajar. Kalau nilai Hendi turun, ibu juga kan yang repot. Bisa-bisa beasiswa hendi di cabut.”
Plukk
Amplop coklat itu mendarat di mejaku. Aku mengangkat wajah. Ibu memandangku. Mungkin antara marah, terluka, atau kecewa. Kemungkinan besar ketiga-tiganya.
“Kenapa Bu? Masih kurang? Emang dia mau apa?”
“Hendi, kamu sudah keterlaluan. Ibu capek berurusan dengan kamu.”
Ibu meninggalkanku. Kudengar langkahnya meninggalkan rumah kontrakan kami yang hanya satu petak. Mungkin dia akan menemui pria itu. Atau ketempat-tempat yang lain yang belum aku ketahui sebelumnya.
Kutatap amplop coklat. Hening. Benar-benar hening. Jauh didalam hatiku.
**
Dia ibu kandungku, setidaknya begitu yang aku tau, dan aku tidak berusaha menyangkalnya. Kami memiliki banyak kemiripan. Dia buakan tipe Ibu tiri yang suka menyiksa anaknya. Memang sedari kecil aku bekerja. Tapi itu atas kemauanku. Lalu apa aku anak yang durhaka? Mungkin. Aku tak keberatan jika ada orang yang mengatakan itu padaku. Bahkan mungkin aku akan tersenyum ponggah. Tapi aku ingin bertanya, lalu apakah ada sebutan untuk ibu ketika ia “kurang ajar” pada anaknya?
Bagaimana perasaanmu ketika kamu belum genap berusia 4 bulan dalam kandungan tapi hendak di musnahkan? Bagaimana perasaanmu ketika kamu lahir tapi tidak diharapkan dan hendak di buang? Dan bagaimana perasaanmu ketika kamu tumbuh, begitu banyak orang yang mencabik-cabik hatimu hingga kamu selalu di hantui mimpi-mimpi buruk. Semua karena ulah ibumu. Semua dari Ibumu, yang kata orang-orang “normal” adalah malaikat. Apakah masih ada alasan agar aku tidak durhaka?
Aku tau pekerjaan ibuku dulu. Aku tau siapa laki-laki itu. Dulu sewaktu masih kecil dia sering bersama Ibu. Apakah dia ayahku? Pertanyaan itu memburuku. Ibu tak menjawab ketika aku tanya. Kusimpulkan dia ayahku, dan aku memanggil laki-laki itu Ayah. Pria itu tertawa. Ibu tersenyum masam. Lalu pria itu mengeluarkan umpatan yang membuat ibu marah. Mereka bertengkar. Sejak itu, aku menjadi sering melihat mereka bertengkar. Entah apa yang diributkan dan entah mengapa Ibu tetap bertahan dengan pria itu padahal dia slalu memukul ibu ketika mereka bertengkar. Pemandangan yang sudah sangat biasa.
Laki-laki itu sempat menghilang beberapa tahun. Kupikir ia menghilang selamanya, tapi beberapa bulan ini dia datang kembali sambil membawa kepalan tangan jika ibu tak memberinya uang. Tante Maya, tempat ibu bekerja dulu lah yang sering jadi tempatnya berlindung dari kepalan tangan itu.
Aku tau, sejak keluar dari tempat kerjanya dulu, ibu bekerja mati-matian. Ia mengandalkan satu-satunya keahlian yang di bawanya dari desa, menjahit. Aku ingat benar dulu, ketika aku berusia 9 tahun, ia sering tak tidur untuk menyelesaikan jahitannya. Aku memang anak durhaka, tapi bukan berarti tanpa perasaan. Aku bekerja sehabis sekolah. Apa saja untuk membantunya. Hingga kebutuhan sekolah aku penuhi sendiri. Tak jarang, kebutuhan rumah tangga pun aku ikut membantu. Tapi karena laki-laki itu, dia tetap kepayahan.
**
Kamis, 05 Januari 2012
“Ibu, tadi pak Burhan nanyain uang kontrakan. Duitnya ngga di kasih ke dia kan?” Aku meletakan tasku dikursi. Sepi. Biasanya ibu akan tergopoh-gopoh menghampiriku ketika aku pulang. Menanyakan ini itu lalu menyuruhku makan.
Aku beranjak ke dapur. Ibu tak ada. Di kamarnya pun kosong. Aku kembali keruang depan. Untuk apa aku perduli?
“Nak Hendi...”
“Ya?” aku menoleh. Pak Burhan yang tadi menanyaiku soal uang kontrakan di tikungan jalan kini sudah di ambang pintu. “Ibu ngga ada pak. Nanti Hendi tanyaian. Mungkin lagi di pake dulu. Tapi pasti hari ini kami bayar.” Sungguh ngga sabaran benar orang ini.
“Bukan itu nak...” Pak burhan nampak ragu-ragu.
“Lalu apa pak? Mau masuk dulu?”
Pak Burhan menggeleng. Raut wajahnya seperti orang khawatir.
“Tadi Bapak di kasih tau istri Bapak, katanya Ibu kamu diseret-seret sama Pak Anton. Kayanya Pak Anton marah-marah.”
“Trus, ibu kemana?”
“Ya ikut sama bapak Anton. Istri bapak ngga tau kemana. Mau nyegah tapi katanya takut. Pak Anton kan galak. Apalagi habis keluar dari penjara.”
“Penjara?”
“Iya, kan Pak Anton keluar dari penjara. Katanya habis bunuh orang. Memang Nak Hendi tidak tahu?” Pria berusia tiga puluhan itu seperti bingung sendiri. Ya, kami memang dulu tinggal serumah. Tapi apa aku peduli padanya? Tidak.
“Ya sudah, Bapak pamit dulu. Bapak Cuma mau ngasih tau itu. Soal uang kontrakan, besok juga ngga apa-apa.”
Aku tak bergeming saat ia mengucapkan salam dan pergi. Ada sesuatu yang tiba-tiba menyerangku. Kawatir. Gerimis tiba-tiba turun.
**
Lagi-lagi aku menerobos gerimis. Baju seragam putih abu-abuku belum aku ganti.
“Aku percaya, meski sebenarnya aku tak percaya pada siapapun, malaikat Allah akan menjagamu.”
Kalimat itu kembali terngiang dikepalaku yang telah basah oleh air hujan. Kalimat itu kalimat yang ibu tulis sebagai pesan perpisahan. Aku menemukanya di balik amplop coklat yang isinya masih utuh ditambah uang kontrakan untuk Pak Burhan. Aku tak tau apa yang ibu rencanakan. Kemungkinan besar dia akan meninggalkanku. Tapi bukankah itu yang aku mau. Bukankah itu doaku setiap malam? Tapi kakiku membantah. Ia terus berlari menyusuri jalan aspal yang telah basah.

Hendi, anakku tersayang..
Ibu memang bersalah padamu. Tapi sungguh, melihatmu tumbuh, melihatmu menjadi remaja, membuat ibu sangat merasa berdosa telah berusaha untuk menghilangkanmu dari sisi ibu dulu. Memang tetap tidak ada alasan yang dapat membenarkan tindakan ibu dulu.Ibu sungguh menyesal Tapi satu hal yang tak pernah Ibu sesali kini adalah telah di beri kesempatan Tuhan untuk menjadi Ibumu.
Hendi, Ibu tau kamu membenci Ibu. Dan mungkin doamu tiap malam adalah agar Ibu pergi dari kehidupanmu. Ibu tau kamu terlalu terluka. Oleh karena itulah ibu kali ini hendak mengabulkan keinginanmu, kini Ibu pergi. Semoga kamu bahagia dengan kepergian Ibu.
Ibu memang bukan Ibu yang baik. Tapi Ibu selalu berusaha untuk menjagamu. Kini kamu sudah dewasa. Ibu tau, dunia itu terlalu kejam. Tapi Ibu tak pernah kawatir, ibu percaya, meski sebenarnya ibu tak percaya pada siapapun, malaikat Allah akan menjagamu.
Ibumu

**
Minggu, 08 Januari 2012
Hari ini media-media ramai memberitakan peristiwa pembunuhan. Seorang anak SMA membunuh ayah tirinya setelah ayah tirinya membunuh Ibu kandungnya. Apa itu tentang beritaku? Cepat sekali ia di cetak. Padahal aku pikir tidak ada yang akan tahu kecuali aku dan Ibu. Iya kan bu? Ibu menatapku lembut. Ia tersenyum di sampingku. Tangannya sibuk menyulam sesuatu. Mungkin sebuah sweter untukku. Aku cukup kedinginan dengan baju bertuliskan TAHANAN di punggungku. Apalagi sekarang gerimis turun diluar. Terimaksih Ibu.
_END_
Di muat di Annida Online tanggal 09 Januari 2012
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com