Monday, 23 April 2012

Dari Kotak Sampah Masa Lalu


"Belagu kamu. Kerja mash lelet kaya keong aja udah berani ga masuk. Knapa kamu ga
masuk??" tanyanya, lebih tepatnya bentaknya, tiba-tiba di hadapanku.
Dengan tenang aku jawab,"Sakit, Pak!"
"Sakit?? Sakit apa kamu??"
Masih dengan tenang aku jawab,"Demam,pak."
"Demam panggung? Hebat kamu. Demam sehari sudah sembuh. Kurang lama kamu liburnya??" tanyanya, ah tidak, tepatny, bentaknya lagi. Sekarang semua mata sepertinya tertuju padaku.
"Sudah dari Sabtu, Pak." Aku mulai gemetar.
Huuh, knapa pula harus gemetar. Dia ini! Tapi tanganku tetap saja gmetar, meski sbenarnya perasaanku biasa saja. Bukankah dia sudah sering seperti ini? Hanya risih berhadapan dengan manusia seperti dia.
"Mau mati kamu?? Kalo kamu udah ga bisa jalan, baru ga masuk. Demam saja ko absen!!" bentaknya lagi yang membuat emosiku memuncak.
“Eh, kamu siapa? Aku disini bukan budak yang bisa diperlakukan begitu saja. Aku bukan robot yang bisa kamu kendalikan sesuka hatimu tanpa merasa lelah.” Tapi sayangnya kata-kata itu hanya bisa tersendat di tenggrokanku. Aku tau saat ini posisiku dimana. Aku hanya seorang buruh rendahan, dan dia seorang manager yang memiliki kekuasaan. Bisa saja ia mengadukanku pada atasannya, dan bukan mustahil jika aku kehilangan pekerjaan ini. Aku hanya bisa diam. Kembali menekuri pekerjaanku, meski bening kristal sepertinya hendak menetes dan kaki yang lemas karena lelahnya berdiri.
Ah, cerita lama, sepotong episode yang telah terlanjur terukir dalam hidupku yang panjang (sudah dua puluh tahun loh..:D). Sungguh saat-saat yang paling pahit dalam kehidupanku. Tapi ini bukan lagi cerita duka, kini cerita itu adalah cerita faforitku ketika aku tengah terpekur pada keputus asaan. Itu hanya sepenggal kisah laluku ketika sebuah harapan tak mampu menjadi kenyataan begitu saja.
Hems, mungkin sebagian besar dari kalian mengalami kehidupan yang cukup mulus, bahkan mungkin semulus jalan tol. Jikapun ada batu sandungan, batu itu bisa tersingkirkan dengan mudah. Tapi bagi sebagian orang lain, batu itu tak hanya sebagai batu sandungan, namun karang penghalang yang sangat kuat dan tak sedikit yang berbalik dan pergi. Ya, mereka memilih memutar arah dan menyerah. Tapi aku tidak ingin menjadi bagian orang kebanyakan itu. Aku tidak ingin menyerah ditengah keterbatasan, ditengah halangan, dan mungkin rintangan. Jalan Allah akan selalu ada.
Ya, kisah itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu ( baru dua tahun sih). Ketika itu, suatu malam yang gelap, dingin dan bintang yang malu-malu mengintip dari tebalnya malam. Tapi sayangnya aku tak bisa menikmati mereka. Aku terpaksa berdiri di bawah sebuah bangunan dengan dunia luar yang mulai tertidur karena telah larut. Ya, aku berdiri menghadap sebuah meja dan beberapa peralatan kerjaku, dengan tangan yang tak pernah berhenti meski mata sejak beberapa jam lalu tak bisa lagi diajak kompromi.
Bangunan itu adalah sebuah pabrik elektronik. Bangunan kokoh diantara bangunan-bangunan kokoh lain di tengah-tengah kawasan industri ibu kota. Disitulah tempatku bekerja hampir 9 bulan (10 hari lagi lahiran loh..:P). Siang dan malam tergantung sift yang aku dapat. Jika kebagian sift siang, jam 6 pagi aku harus stay di pinggir jalan menunggu jemputan pabrik, setelah sepuluh jam bekerja (jika tidak lembur, dan jika lembur di tambah dua jam lagi, dan sayangnya seringkali kita tidak bisa menawar jam lembur. Hal itu seperti sudah keharusan), jemputan itu akan mengantarkan kembali ke tempat dimana ia menjemput kita. Pukul 8 malam biasanya aku sampai di kontrakan. Kemudian, apa yang bisa aku lakukan dengan kondisi tubuh yang telah lelah karena sesiangan bekerja dengan posisi berdiri dan tangan yang tak pernah berhenti? Tubuh itu tak jarang hanya mampu terkapar di kasur tipis. Beristirahat, mengumpulkan kembali tenaga, untuk kembali berjuang esok pagi.
Jika kebagian sift malam, sehabis sholat magrib aku harus stay di pinggir jalan. Menunggu jemputan yang biasanya telah penuh sesak. Menunggu macet yang tak kunjung lenggang, dan kembali bekerja, berdiri dengan tangan yang tak berhenti memproses berbagai material elektronik. Meski jika sift malam hanya 8 jam kerja, namun sungguh, sift malam bukanlah sift yang mudah. Kita harus menjaga agar mata tetap terjaga, kita harus menjaga naluri untuk tidur, dan menjaga agar pekerjaan kita tetap benar (kopi sudah tidak mempan). Jam 7 pagi, bus jemputan itu kembali mengantarkanku ke tempat semula. Aku kembali ke kontrakan dengan aktifitas siang yang sebagian besar aku gunakan untuk mengumpulkan energi agar tetap terjaga dimalam hari. Jika bos sedang “berbaik hati” mereka akan mewajibkan bekerja di hari Sabtu dan Minggu. Memang hasilnya cukup lumayan, tapi seorang buruh akan benar-benar bekerja tujuh hari dalam satu minggu.
Itulah rutinitasku selama 9 bulan itu. Bekerja siang dan malam mengabaikan pembagian hari. Siang untuk bekerja, malam untuk beristirahat. Hal itu tidak ada. Kesenangan- kesenangan lai pun terabaikan, misalnya saja kesenanganku menulis benar-benar aku tinggalkan. Aku sangat jarang menyentuh pena dan kertas. Sangat jarang berjalan-jalan, sangat jarang membaca, sangat jarang berdiskusi, sangat jarang naik gunung (tidak pernah). Tujuh hari dalam seminggu benar-benar digunakan untuk bekerja.
Aku bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang melakukan hal tersebut tentunya. Aku memiliki teman yang senasib. Lulus SMA, langsung melamar kerja. Bekerja tujuh hari dalam seminggu demi cita-cita di kemudian hari. Ya, beberapa dari teman-temanku juga memiliki impian yang sama. Kami hanya bekerja disini sementara. Jika uang telah mencukupi, kami akan kembali mengejar mimpi kami. Mimpi kami bukanlah disini, tentu. Kami ingin melanjutkan kuliah, menjadi mahasiswa berprestasi, kuliah di luar negeri, mendapat pekerjaan yang mendapatkan jatah kursi untuk kami duduk. Aku sedikit demi sedikit berhasil. Aku meninggalkan pabrik itu setelah sembilan bulan bekerja dan melanjutkan mimpiku, menjadi mahasiswa yang semoga dapat berprestasi, berharap menjadi guru yang menginspirasi, dan jikalau dapat menjadi penulis yang memotivasi. Tapi tidak untuk mereka. Teman-teman yang aku kenal selama sembilan bulan. Teman-teman yang menghiburku ketika aku mendapatkan makian dari atasan, teman-teman yang menemaniku bergadang, teman-teman yang membersamaiku berdiri dengan kaki pegal.
Sebagian dari mereka kini masih bekerja. Ada beberapa yang bekerja di tempat yang sama, ada beberapa yang pindah namun dengan tipe pekerjaan yanng hampir sama, dan ada sebagian dari mereka yang menikah dan menjadi ibu rumah tangga, menunggu suami yang juga bekerja sebagai buruh sebuah pabrik, dan hanya segelintir orang saja yang menyusulku menapaki bangku kuliah setelah satu tahun mereka aku tinggalkan.
Aku memang bukan Tuhan yang tahu segala, tapi sungguh, kalian yang memiliki jalan mulus seperti jalan tol. Kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk kuliah, kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk membeli pulsa, kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk makan sehari-hari, karena orang tua kalian telah menyediakan segala, sungguh kalian akan membuat kami kecewa, buruh-buruh yang mengubur mimpi-mimpi masa depan, jika kalian berleha-leha, menerima segalanya dengan pikiran masa bodoh, membiarkan waktu-waktu terbuang percuma, meratapi nasib yang sebenarnya tak seberapa, meneriaki dunia karena keputus asaan kalian, membenci dunia karena putus cinta, dan membiarkan ‘mereka’ merenggut milik kita, sungguh kami kecewa.
Kalian adalah wujud-wujud mimpi kami, jika kami tidak bisa menjadi kalian, biarlah kalian yang menjadi diri kalian sendiri. Menjadi penerus bangsa yang bisa memperjuangkan nasib rakyatnya, memperjuangkan nasib buruh-buruhnya, memperjuangkan pendidikan untuk semua, dan yang terpenting menjadikan negri kaya ini menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Tugas itu kami serahkan pada kalian yang memiliki kesempatan, maka, bangunlah dari sekarang, pedulilah pada kami buruh-buruh mlarat yang mengubur mimpi dalam-dalam, pedulilah pada masa depan kalian. Jangan menyerah hanya karena masalah kalian, jangan berputus asa hanya karena satu masalah.

“...sesungguhnya Aku dekat...” (Q.S. Al Baqarah: 186)


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 10 April 2012

Pertanyaan-Pertanyaan Ngga Penting Gueh



Kenapa kalo di sinetron-sinetron, orang tanda ketika seorang aktor atau aktris kena penyakit kangker rambutnya pada rontok? Padahal rambut rontok kan karena di kemoterapi. Kalo ngga di kemo ya ngga rontok. Kenapa bisa begitu? Apakah itu sebuah pembodohan? Lalu ketika rambut kita banyak yang rontok, terus bilang, jangan-jangan aku kena kangker. Panik, gigit jari, nangis-nangis sendiri di kamar, guling-guling ngga karu-karuan, jadi pendiem, menarik diri dari peredaran kaya majalah yang udah bangkrut atau artis yang kena skandal. Ujung-ujungnya bikin status geje di FB.. “Pren, maapin yeah kalo selama ini gueh ada salah,” terus ntar ada yang koment, “lebaran masih lama coy, ngapain maap-maapan sekarang?” Terus ada yang ngga nyambung lagi, “eah, gueh maapin, tapi beliin coklat dulu ya..xixixixi,” Becous si empunya status ikut geng jempol, jempol bertubi-tubi pun menghampiri statusnya. Pada seneng ya kalo temennya mau mati? (meski hanya dugaan)
Ini yang salah yang bikin status atau yang komen? Yang bikin status, padahal dulunya metal abis, status-statusnya penuh dengan makian, entah pada dunia, pada anjing yang lewat, atau pada burung-burung yang terbang tanpa dosa (kasian tuh burung), baru nyadar kalo udah mau mati (padahal hanya dugaan, kasian...) Yang bikin status, aneh, yang koment, tambah aneh. Emang kite maap-maapan cuma lebaran doang? Dikiranya dosa bisa dirapel dalam satu hari yaitu lebaran. Kaya gaji aja rapelan. Ckckckck, anak muda jaman sekarang. Untung gue mudanya jaman dahulu..hahahahaha..
Tapi ada baiknya juga sih, paling tidak meski hanya sementara, si empunya status bersikap ‘baik’. Sementara, karena nanti dua atau tiga hari lagi di juga paham, kalo paham, tanda-tanda kena penyakit kangker itu bukan dengan rambut rontok. Kali aja si empunya malas kramas, jadi rambutnya pada lari, males dengan baunya sendiri. ckckckc
Kenapa sih, kita sering kali hanya menjadi pengikut sebuah trend? Coba, trend apa yang kita tidak ikuti? Dari yang mulai boysband ala Korea, hingga chaya-chaya ala India. Ngga Cuma lagunya, gaya-gayanya juga. Mulai gaya fasion, bicara, sampe mungkin cara duduk cowok-cowok Korea yang bagi gue ngga banget.
Sebuah status mampir di beranda Gue, “Hari ini jalan bareng oppa liat pesawat ulang-aling. Baju kita kembaran loh, couple gitu. Lucu deh warna pinknya, Saranghai Oppa..” Herannya, jempolnya banyak banget. Mungkin dia juga anggota Genk Jempol. Gue sebenernya pengen koment, “Lu jalan ama kakek lu? Keren dong kakek-kakek pake baju pink, kembaran lagi. Sungguh cucu yang berbakti.”
Tapi, karena alasan etika dan tidak mau mencari perkara, gue biarin aja. Sambil menjadi pengamat, akhirnya gue ketemu juga sama yang namanya Oppa. Dia muncul sebagai komentator pertama. “Aku juga seneng Unni, besok lagi ya. Eh, tapi pake baju yang warna ungu ya..Saranghai juga.:*.” Kalian kakak beradik yang kompak.. Uni itu kakak kan? Ternyata yang namanya Oppa itu namanya Sami’un dari desa sebelah.
Ada-ada sahaja. Bener-bener ngga penting untuk diurusin. Tapi kenapa kita sok mengurusi hal-hal besar ketika hal-hal kecil yang sejatinya mengikis sedikit demi sedikit kepribadian kita dibiarkan begitu saja.
A
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mungkinkah?

Pernahkah kamu bertanya, Mungkinkah? Atau apakah aku bisa? Aku sering melakukanya ketika aku menginginkan sesuatu. Ya, itu sebagai bentuk ketidak optimisan yang sering membuat langkahku terhenti, ah, bahkan sebelum langkah pertama diambil. Apalagi, aku memang bukan orang yang dapat begitu saja optimis terhadap suatu hal. Bahkan terkadang minder, tidak pede dengan apa yang ada pada diriku. Ini adalah penyakit pembunuh yang paling utama. Penyakit ini adalah penghalang untuk eksistensi di dunia. Bukan hanya ‘aku’ yang menjadi tokoh disini. Bisa saja kamu, mereka atau dia. Ketika sebuah keraguan menjadi arah pikiranmu, silahkan saja tunggu hasilnya. Tapi disisi lain, tentu kita juga ingin menyisikan penyakit ini sejauh mungkin yang kita bisa. Apa segampang itu? Mudah sekali berteori, tapi sunggguh sulit realisasi. Kembali, sedikit cerita, sewaktu aku di bangku SMA, menjalani hari-hari yang semakin dekat dengan Ujian Nasional, aku selalu bertanya dalam hati, mungkinkah aku bisa kuliah? Meneruskan menuntut ilmu, mungkinkah aku bisa mencapai mimpi-mimpiku? Kemudian aku pun memikirkan hal-hal yang membuat hal-hal tersebut menjadi semakin tidak mungkin. Sebuah pemikiran bodoh yang akan menghancurkan mimpi itu sendiri. Aku berfikir, siapa aku? Aku hanyalah anak dari seorang petani yang hasil sawahnya tidak bisa di prediksi. Aku hanyalah seorang siswa dengan nilai pas-pasan, dan tak punya relasi banyak. Aku hanya anak kampung yang tak pernah menginjakan kaki ke Mal-mal, berbelanja, ataupun makan-makan di kafe-kafe mewah, seperti yang sering aku lihat di cerita TV (baca sinetron). Apakah itu yang aku butuhkan? Background keluarga? Relasi? Daerah asal? Tidak, bukan itu yang aku butuhkan dalam meraih mimpi itu. Ah, kata menyerah tentu ada. Ketika kelelahan setelah berjuang seharian, Ketika harus bergulat siang malam dengan material-material pabrik, terjatuh, dehidrasi, sakit, opname, atau mungkin seribu halangan, ketika akhirnya ada iming-iming gaji yang menjanjikan, sejatinya Ia tak pernah padam, karena ada satu keyakinan, Allah selalu ada untuk hambanya. Ya, langkah pertama, gantilah kata mungkinkah dengan “tiada yang tak mungkin bagi Allah azza Wa Jalla.” Bangku kuliah yang semestinya, teman-teman yang baik, keluarga baru yang hangat, suasana yang kondusif, bukan lagi mimpi. Sungguh, perjalanan panjang yang melelahkan. Tapi apakah sudah berakhir? Tidak sungguh masih panjang. Kata mungkinkah itu kembali hadir membayangi langkah kaki yang sudah berat dan di tambah berat lagi. Kemudian, hal yang paling sulit adalah aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sungguh sulit. Aku seperti menderita sindrom anti tempat baru sejak dulu. Mungkin sejenis fobia. Dan lagi-lagi aku bertanya, mungkinkah aku dapat diterima dengan keadaanku yang seperti ini. Fisik (ah, apa sih pentingnya fisik?) yang jauh dari kesempurnaan versi manusia, tutur kata yang manis, guyonan ringan tapi menghibur. Ah, aku tidak punya. Aku tak pada menyapa seseorang meski hanya berkata “hai” dan memulai percakapan yang berakhir pada persahabatan. Akhirnya aku hanya menjadi golongan yang mungkin lebih senang duduk di pojok dan menjadi penonton. Sungguh tidak asik bukan jika hanya menjadi penonton? Kata mungkinkah itu pun menjadi momok yang menyeramkan. Tapi apakah semudah itu aku menyerah, setelah satu tahun bergulat dengan peluh dan debu, setelah satu tahun menjadi manusia paling kritis dengan buku tabungan? (metafora lah..) Sungguh sia-sia, jika mungkinkah itu menjadi penghalang dan aku hanya terlempar disudut. Kaki ini harus bergerak, bibir ini harus berbicara, tangan ini harus terangkat, dan hilangkan ketakutan bahwa engkau adalah sendiri. Ya, langkah kedua, ingatlah dan camkan dengan baik-baik, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat....” Ya, Allah selalu dekat dimana pun engkau berada (backsong Allah always be There-Maher Zain..hehehe). Luar biasa, keberanian itu muncul. Seperti ada yang tak kasat mata, mengangkat tanganku, menyeret kakiku, dan menyuruhku berbicara meski tergagap, dan keyakinan itu hadir, aku siap menjadi guru dengan resiko bercerita di depan banyak orang, banyak mata yang memandang, meski dalam keadaan asing sekalipun. InsyaAllah. Selanjutnya, aku bermimpi, Aku ingin menjadi penulis. Dan lagi-lagi, pertanyaan itu menghantuiku. Mungkinkah? Sungguh, hidupku tak semulus jalan tol. Kata menyerah sering kali mampir. Tidak hanya menenggak air, tapi juga tertidur dan berdiam cukup lama. Hingga akhirnya, kata lelah tak terelakan. Aku lelah ketika harus menjalani hidup yang sering kali terhalang karang, aku lelah menjadi debu yang di terbangkan angin, dan tak cukup sampai disitu. Kesedihan datang bertubi, menjadi sebuah sandungan yang menyakitkan. Ketika sebuah kerikil membawa bala bantuannya. Sungguh, melelahkan. Tapi haruskah aku berhenti setelah sekian jalan yang telah terlewati? Haruskah berbalik arah dan menyerah? Jawabannya pasti sudah, TIDAK! Ketika semua upaya, daya tenaga, pikiran, dan jiwa telah tercurahkan, apalagi yang bisa dilakukan, kecuali berdoa padaNya? Ya, harapkanlah dengan pengharapan sebesar-besarnya. “Berdoalah padaKu, niscaya akan Aku kabulkan,” Ya, yang terakhir adalah, Berdoalah. Libatkan Allah dalam setiap urusanmu. Ingatlah Dia yang menggenggam segalanya. Dia pemilik alam semesta, dan terlantunlah sebuah doa sederhana, “Jika menulis bukan jadi jalanku, aku meminta Allah menunjukan apa yang terbaik untukku. Jika Menulis memang jalanku, berikanlah aku sedikit saja keyakinan bahwa itu memang jalanku,” Dan Allah menjawab doaku. Dia memberiku inspirasi ketika aku tengah bosan untuk menulis. Lelah dalam aktivitas harian. Dia memberiku ide dan kegigihan. Meski tanpa edit sebelumnya, dengan kondisi baru terlahir dari dalam telurnya, sebuah naskah tanpa ada tujuan akan mendapat apresiasi, penghargaan, atau pujian, telah terkirim pada sebuah majalah online dengan bacaan tasmiah. Dan Allah menjawab doaku. Satu hari berselang, sebuah email masuk dalam inbok Pemberitahuan, naskah yang aku kirim di tayangkan. Bukan prestasi besar, tapi aku pikir tiga ribu pembaca, dengan tiga puluh komentar hangat (padahal pengennya kripik pedas), sebuah pencapaian yang luar biasa, apalagi untuk aku, yang sungguh tak mengerti hakekat menulis sesungguhnya. Ya, libatkan Allah dalam setiap urusanmu. Apakah sudah selesai? Aku pikir belum. Masih banyak hal yang masih harus di capai, tentunya tanpa ada embel-embel kata Mungkinkah? membayangi langkah-langkah keyakinan akan Dia. Akhirnya, sebuah pesan dari seorang sahabat, jangan pernah menyerah! Jangan pernah ragu dengan bertanya, Mungkinkah? Tak ada yang tak mungkin bagi Allah azza Wa jalla. Selanjutnya, aku akan membuat novel. Mungkinkah? Sangat jelas mungkin jika Allah menghendaki itu terjadi. Salam... Mujiku Hibiniu Kamar Mimpi Revisi 10 April 2012
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sunday, 1 April 2012

grgrgrgrg

Muak, atau kata sejenisnya. Terserahlah. Kadang-kadang aku merasa menyesal, meski penyesalan itu segera aku enyahkan, karena akhirnya akan menambah daftar penyesalan lainnya. Kenapa aku ada disini? Bukankah seharusnya aku memiliki kehidupan yang lebih baik disana? Aku mungkin hanya lelah. Tugas-tugas tertumpuk, proker-proker yang menggunung, target-target yang tak tercapai. semuanya itu kemudian masuk kedalam pikiranku. Tidak seharusnya dipikirkan memang. Hanya perlu diselesaikan. Ya, tapi terlanjur sudah. Semua hal itu telah masuk kedalam otakku yang bebal. Yang terus saja memikirkannya hingga membuatku risau. Kenapa pula aku harus memikirkannya? Kerjakan saja. Nyatanya tak semudah itu. Ah, aku bosan. Bosan selalu saja berkutat dengan tugas-tugas, dengan kuliah-kuliah. Apa otakku makin tumpul? atau aku yang semakin dangkal? Bisa saja semua itu benar adanya. Aku yang terlalu dan terlalu. Ah, ini hanya kebosannanku. Tapi sungguh ini membuatku seperti orang gila. lelah rasanya menjadi aku meski aku bukan apa-apa. Meski aku tidak melakukan apa-apa. Atau mungkin itu yang membuatku bosan? Aku yang bukan apa-apa?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Ketika Kata

Adalah kata, jika ia semudah pemikiran yang slalu merasuki otak-otak jiwa. Namun nyatanya ia rumit bagai ilalang yang meranggas pada musim kemarau, memilin-milin urat-urat pada rentang kematian yang teramat lama. Sekarat pada detik penghabisan. Nadirnya menjadi pasti. Kata, ia bersandar dalam jiwa, andai saja semudah menghitung jari jemari yang terus berdzikir, nyatanya ia bagai bintang di langit yang kokoh pada pusarannya. menggapai awan-awan yang lalang melintang menghalang mata-mata yang padam. Kata, terakhir bagai tersambar halilintar kepatuhan yang mengancam kesangsian pada kebenaran. Nyatanya ia kasat lebih kasat lagi dan lagi. seperti ruh yang telah tercerabut dari raga yang tergeletak tak berdaya. Pori-porinya kembali utuh, tapi ia tak utuh lagi. Kata, seringkali, meleset pada mantra-mantra pendendam, penghasut, penindas, pembohong, pendusta, dan ia hilang pada angin yang bertiup menggelontorkan asap-asap hitam yang mengepul menyesakan nafas-nafas yang terengah-engah. Tubuh makin ringkih. Amarah makin mendidih, perut makin perih, nyali makin jerih, Kata, apakah dia masih bisa mengenali dirinya lagi??
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com