Monday, 16 July 2012

Numero Uno

 Celoteh pagi membangunkanku, menghabiskan mimpi yang tiba-tiba hilang dari ingatan. Entah apa yang aku mimpikan tadi. Mataku menyapu seluruh ruangan. Lampu kamar masih menyala, namun cahayanya meredup karena sinar matahari sudah mulai menerobos dari jendela. Jam berapa sekarang? Tak ada jam yang terpasang didinding kamar. Satu-satunya penunjuk waktu yang ada adalah handpone jadulku.

 “Astagfirullah!!!!!!!!!!!!!!” mataku yang semula redup dan ingin terpejam lagi langsung terbuka lebar. Seratus watt full. Pukul 05.43. Aku melewatkan sholat Subuh ku. Ah, tidak, semoga masih ada waktu. Aku terbirit-birit kekamar mandi. Menabrak pintu kamar, sandal selen, terantuk pintu kamar mandi yang hanya setinggi telingaku dan tragisnya, semua kamar mandi telah terisi.

 “Buruk Cip,” kataku seraya duduk disamping Cipa, teman sekelasku. Ia menoleh. Mengernyitkan dahi, tak mengerti.

 “Kesiangan lagi?”

Aku mengangguk. Ia nampak prihatin. Tapi sesaat. Ia kembali asyik dengan sesuatu yang berada di tangannya. Buku, novel tentunya. Aneh sekali jika yang ia baca buku pelajaran meski ditengah pelajaran sekalipun.

 “Cip, kasih solusi napa? Sholat Subuh jadi ngga tepat waktu nih,” rengekku. Meski aku tau sia-sia. Jika Cipa sudah memeggang buku, segala urusan adalah sampingan. Tak ada yang penting. Menyebalkan.

 Tuh kan, dia hanya menengok mukaku yang memelas, sedetik. Tak lebih, lalu kembali lagi ke bukunya. Sungguh tega! Apakah ini yang disebut sahabat? Jerit batinku. Tak serius tentunya. Ia sahabat yang paling baik yang pernah aku kenal. Aku menatapnya yang tak bergeming. Mangkel. Tapi ya sudahlah. Nanti jika sudah waktunya dia pasti akan memberiku solusi. Semoga saja solusinya tepat.

 ”Tanya si numero uno,” bisik Cipa di tengah-tengah perkuliahan. Aku menatapnya sejenak, tak mengerti arah pembicaraannya. Namun, setelah ku ikuti arah matanya yang tak setajam silet, baru aku paham apa yang ia maksud. Benar kata pepatah, setiap solusi pasti ada jalannya. Eh, setiap masalah pasti ada solusinya. Tinggal kita mencari kuncinya, dan kunci permasalahanku berada di depan sana. Duduk tenang di barisan kursi paling depan.

 Namanya Mandala, tapi kami sering menyebutnya si Numero uno. Nama yang sangat cocok untuknya, mengalahkan nama pemberian orang tua yang mungkin membutuhkan waktu berbualan-bulan untuk meracik nama itu. Tapi kami, atau mungkin seluruh makhluk di bumi hanya membutuhkan waktu sepuluh detik untuk menyebutnya Si Numero Uno.

 Si kurus berwajah tirus itu memang memiliki hal nomor satu hampir dalam segala hal. Contohnya saja tempat duduknya, ia tak pernah absen untuk menempatkan dirinya di kursi paling depan. Bahkan ia mungkin akan rela menggusur, ataupun menggunakan trik licik milik para penjahat tengik hanya untuk mendapatkan kursi paling depan. Tapi sepertinya ia tak usah mengguras tenaganya untuk mengeluarkan triknya tersebut. Selama ini dia selalu datang paling awal ketika pintu kelas belum terbuka, bahkan mungkin ketika pintu gerbang belum terbuka. Kadang aku jadi penasaran, jam berapa sih dia bangun?

 Nah, tepat sekali. Si nomor satu dalam segala hal ini pasti punya trik jitu. Namun ternyata hari ini aku tengah sial, si nomor satu telah melesat pergi paling pertama ketika perkuliahan telah usai. Dia memang the numero uno.

 Sepedaku melaju pelan melewati beberapa pertokoan. Matahari seakan tersenyum mengejek. Dia melambai-lambaikan sinarnya dan nampak enggan untuk bersembunyi lama-lama dibalik awan yang sesekali lewat. Beberapa klakson motor atau mobil terdengar nyaring. Ah, masa sama sepeda aja dzalim. Suruh siapa tak ada jalur khusus sepeda. Aku tetap mengayuh sepedaku santai dan sesekali tersenyum mengejek pada mereka yang menggerutu dibalik kemudi.

 “Santai sekali? Sepertinya pengemudi di belakang sana sudah kehabisan persediaan sabar,” suara seseorang mengusikku. Mandala. Dia mengayuh sepeda di sampingku. Namun kemudian ia melesat pergi. Wah, kunciku. Aku harus mengejarnya.

 Meski jauh dari adegan seru ala film action saat berkejar-kejaran, apalagi kami hanya menaiki sepeda ontel, namun mengejarnya sudah cukup membuat keringatku mengucur deras dan membasahi jilbab yang kukenakan. Tapi tak sia-sia, aku berhasil mengejarnya dan kini kami mengayuh sepeda bersamaan.

 “Baru pulang?”tanyanya.

 Aku hanya mengangguk. Aku belum berhasil mengatur nafasku.

 Kami terdiam cukup lama. Mengayuh dalam bisu. Wah, kaya orang marahan. Akhirnya kubuka pembicaraan.

 “Aku boleh minta tolong ngga, Man?”

 “Apa?” jawabnya singkat. Wajahnya tetap tertuju pada jalanan yang mulai lenggang. Kami mulai meninggalkan padatnya kota.

 “Ehmss…” keraguan tiba-tiba saja menghujamku. Aku takut dia akan menertawakanku dan berlalu pergi. Atau bahkan ia akan menceritakan pada teman-temannya bahwa aku sering kesiangan. Tapi segera kutepis bayangan itu. Setahun sekelas dengannya sepertinya sudah cukup untukku mengetahui wataknya.

 “Ngga jadi?” dia menoleh. Ah, aku harus cepat bicara. Jangan sampai ia menjadi the numero uno dalam hal meninggalkan teman.

 “Jadi…Aku Cuma pengen tanya, apa sih rahasia kamu selalu bangun pagi?”

Dia menoleh, mengernyitkan keningnya. Apa pertanyaanku konyol?

 “Yia, kamu kan selalu dateng paling pagi. Otomatis kamu harus bangun pagi dong? Nah, apa nih rahasianya supaya kamu bisa bangun pagi?” jelasku. Wajahnya kembali menghadap ke depan. Nampaknya ia tengah berfikir. “Aku hanya dalam keadaan terdesak,” jawabnya singkat.

 Aku menatapnya bingung. Kupikir dia akan membeberkan trik jitunya seperti jangan tidur terlalu malem lah, jangan minum kopi malem-malem lah, pasang alarm yang keras lah, yang semuanya pernah ku coba namun gagal total. Hampir saja sepedaku menabrak sepeda motor yang terparkir.

 “Maksudnya?” tanyaku dengan wajah terbodoh yang pernah ada di bumi.

 “Ehms…” dia berfikir lagi. Nampaknya dia paham, dia harus menjelaskan sangat terperinci agar aku mengerti apa yang ia maksudkan. Pengalaman di dalam kelas.

 “Ayo ikut aku,” jawab Mandala akhirnya. Ia membelokkan sepeda menyebrangi jalanan. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku membuntuti kemana ia pergi. Kami melewati sebuah jalan sempit dengan pemukiman kumuh disana-sini. Baru aku tau ada tempat seperti ini didaerahku.

 “Kita kemana?” aku sedikit berteriak. Jalanan sempit ini tak memungkinkan kami berjalan beriringan. Dia tidak menjawab, namun malah memperlambat laju sepedanya.

 “Ini tempat apa?” tanyaku lagi layaknya nenek-nenek renta yang paling cerewet melihat sebuah bangunan tua yang nampak lapuk, namun terawat. Ada banyak pohon bunga di tamannya. Jelas ini bukan rumah Mandala. Rumah Mandala sangat besar, mirip rumah di film-film. Dia anak orang kaya, dan yang buat aku salut dia bukan orang yang suka memamerkan kekayaan orang tuanya. Dia juga anak yang rajin, yah, si numero uno. Selalu mendapat nilai tertinggi, selalu paling awal menyerahkan tugas, selalu nomor satu aktif di kelas. Namanya juga numero uno.

 Lagi-lagi dia diam, hanya menyeringai kecil penuh misteri. Ah, baru aku tau, ada sisi lain pada dirinya. Aku kembali mengikutinya memasuki halaman bangunan tua itu. Seorang anak kecil menyambutnya.

 “Ibu ada Wen?” Tanya Mandala pada gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun. Bocah itu menggelang, lalu ia berceloteh riang. Mandala menoleh kearahku, matanya menyuruhku untuk mengikutinya.

 Kami memasuki sebuah ruangan luas dengan beberapa kursi di sudut-sudutnya. Mungkin ini ruang tamu.

 “Selamat datang di rumahku,” ujarnya. Ia meletakan pantatnya di kursi yang terbuat dari kayu. Aku menatapnya tak mengerti. Pasti nampak sangat bodoh.

 Tanpa menunggu waktu lama, ia lalu menjelaskan panjang lebar tentang rumah itu. Itu memang rumahnya. Lalu rumah besar itu? Pemilik rumah itu adalah orang tua angkatnya yang berbaik hati mau menyekolahkan Mandala. Mandala hanyalah seorang anak miskin yang sedikit beruntung. Ayahnya telah meninggal sejak adiknya, Weni lahir. Ia terpaksa membantu perekonomian keluarganya, sampai-sampai ia terancam putus sekolah. Beruntung, seorang keluarga kaya menawarkan bantuan untuk membantu biaya sekolahnya. Namun tetap saja perekonomian keluarganya tak cukup membaik. Oleh karena itulah ia tetap bekerja di sela-sela kesibukannya. Setiap pagi ketika aku masih sibuk dengan mimpi-mimpiku, ia telah bersiap mengantarkan beberapa dagangan milik ibunya kepasar pagi dan membantu berjualan disana. Ketika matahari mulai menampakan batang hidunganya ia langsung meluncur ke kampus dengan sepeda ontelnya. Padahal jarak pasar dengan kampus bukanlah jarak yang dekat. Pekerjaanya belum usai. Ketika perkuliahan selesai ia harus bergegas menuju sebuah toko elektronik. Ia bekerja disana hingga matahari bersembunyi kembali.

 “Oke, jika ada alasan yang membenarkan aku bangun siang, pasti aku akan melakukannya. Namun sayangnya tidak. Waktu terus berpacu, dan aku harus mengejarnya agar aku tak menelan kerugian. Bukankah Rasulullah pun selalu bangun pagi? Kenapa aku tak mengikutinya, bukankah Ia panutan nomor satu di dunia?”

 Aku tercengang. Mandala mencontoh Rasulullah padahal ia non muslim. Sedang aku yang telah berikrar berkali-kali bahwa ia adalah Rasulku? Memalukan. Aku menatap taman melalui sela-sela jendela. Tak mungkin kubiarkan manusia nomor satu, the real Numero Uno, bukan Mandala, namun Rasulullah bersedih karena pengikutnya yang malas.

-End-
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 11 July 2012

Dari Kolong Langit

 "Ibu, hari ini kita buka sama apa?"

 Ah, andai saja bisa memilih, tapi ini bukan pertanyaan atas sebuah pernyataan yang telah tersedia, tapi ini adalah pertanyaan atas ketiadaan, dan aku hanya bisa tersenyum sambil terus mengemasi penyambung nyawaku yang aku temukan. Kardus-kardus kosong tumpuan hidup kami hari ini. Tapi sepertinya harta karun ini belum cukup untuk mengganjal perut yang sewaktu-waktu minta diisi. Apa-apa sekarang mahal. Ah, tapi kenapa harta karunku ini tak bisa terjual mahal?

 "Ibu, kemarin Ayi lihat ada yang bagi-bagi kardus putih di persimpangan. Bu, nanti kita kesana ya," rajuk anak semata wayangku, bocah kecil berusia delapan tahun yang menjadi alasanku untuk tetap berusaha hidup hari demi hari.

 Ia menatapku. Ah, indah binar matanya. Masih bening sebening embun pagi. Andai dia tak terlahir disini, kolong langit yang sering mempersembahkan hujan mengguyur, mengigilkan badan, panas matahari yang terik, dan asap menyesakan dada. Mata indah itu pasti akan sangat dikagumi. Aku mengangguk. Ada harapan untuk sore nanti.

**

 Tiga puluh menit lagi. Kulihat jam di toko tempat biasanya aku meminta harta karunku. Tapi ternyata hari ini harta karunku tak aku jumpai. Hanya senyum ganjil yang aku terima dari si empunya toko. Dia tak pernah bicara sepatah katapun denganku. Hanya tangan dan kakinya yang bergerak seperlunya. Sungguh enak hidupnya. Hanya duduk dibelakang meja, tapi sudah mendapatkan uang. Ah, lalu bgaimana hidup orang-orang diatas sana yang berebut mendapatkan meja dibangunan yg sangat luar biasa itu. Aku tak mampu memikirkannya.

 "Ibu, kardus putihnya sedang dibagi. Ramai sekali disana. Ayo Bu, nanti ngga kebagian,"ucapnya penuh semangat. Ia menarik tanganku erat, dan aku hanya mengikutinya. Namun dihatiku juga tak kalah semangat. Perutku sudah berteriak minta diisi, tak mungkin aku abaikan. Kami berlari-lari kecil, dengan bayangan sekardus makanan lezat yang akan kami nikmati sore ini. Ah, lama sekali lidahku tak dirasai rasa-rasa sedap. Seringkali hanya aku temuai rasa hambar nasi dari beras untuk si miskin dan taburan kristal putih bernama garam.

 "Ibu, ayo, disana," Anakku menunjuk kerumunan orang-orang. Aku kenal banyak dari mereka, si Ibang pengumpul harta karun TPA, Si Sumi, musisi yang sering konser ditemani lampu merah kuning hijau, dan masih banyak lagi tetanggaku di kolong jembatan. Mereka antri dengan manis didepan seorang wanita muda yang begitu cantik dan anggun. Kulitnya putih, bajunya bagus, Senyumnya mengembang ramah. Ah, inikah malaikat itu?

 "Ibu, ayo!" Ayi menarikku mendekati kerumunan itu.

 “Tentu, ayo nak, kita bertemu dengan malaikat itu dan doakan yang terbaik untuknya,” kataku dengan senyum mengembang.

 "Ibu, maaf. Kami mau mewawancarai ibu ya," seseorang tiba-tiba mencegatku. Ia mengenakan tanda pengenal yang menggantung di lehernya. Sebuah microphone tergenggam di tangan kanannya. Dia ditemani seorang lelaki muda yang membawa benda hitam dengan ujung kaca dipundaknya, yang biasa mereka sebut kamera.

 "Ibu, pekerjaan Ibu sehari-hari sebagai apa? Bagaimana menurut Ibu dengan pembagian makanan untuk berbuka ini." Ia terus mengajukan pertanyaan yang tak aku mengerti. Untuk apa ia bertanya seperti itu? Apa ini syarat untuk mendapatkan kotak putih berisi makanan lezat itu? Aku tatap wanita muda disana, seseorang mengelap keningnya beberapa kali, ia juga dikelilingi orang-orang pembawa kamera. Cahaya-cahaya seperti kilat sering terlihat disana. Ayi berlari sendri tak sabar. Ia akhirnya berkumpul dengan mereka yang kini aku lihat mulai berebut. Apa tubuh Ayi yang kecil bisa ikut berebut. Harusnya aku membantu Ayi. Ah, sedang apa orang ini. Dia terus bertanya. Tak membiarkanku mendekati makanan lezat itu. Hingga kerumunan itu merenggang. Si wanita anggun pergi dengan mobil mewahnya. Orang itu pun turut berhenti bertanya dan meningglkanku dengan cepat-cepat.

 Mana Ayi? Apa ia berhasil dapatkan kotak putih itu? Aku lihat ia. Bajunya bertambah compang-camping, rambutnya bertambah kusut. Ia menatapku dengan air mata yang bersimbah. Tangannya kosong.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com