Thursday, 5 June 2014

Blog Baru Gue

Sebenernya masih satu akun sih. Tapi gue punya blog baru yang mungkin beda genre dari blog yang ini. Di blog yang satu ntu gue lebih condong cerita tentang jalan-jalan gue, dan itu lebih fokus. Yah, meskipun jarang entri post juga sih. Haha..
Tapi kalao lu mau lihat boleh ko... mampir aja. Kali aja lo tertarik..haha..


http://tintakeringtraveler.blogspot.com/
cek it out!!!
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Nemu Cerpen Lama, Sabila Sedang Jatuh Cinta

Wuih...gue nemu cerpen gue jaman kapan entah yang ngebahas tentang cinta. Scara, jarang banget kan gue nulis tentang cinta. Ya, mo gimana lagi. Pengalam gue tentang cinta antara kaum hawa dan kaum adam kan cuma segelintir doang. So, daripada bahas tentang cinta itu kan mendingan gue mbahas tentang fenomena sosial di tiap cerpen-cerpe gue. itu lebih gue banget. Nah, nih cepren gue.. Mo baca? Boleh..D

Sabila Sedang Jatuh Cinta
Debu mulai menemukan kebebasannya ketika matahari mulai terik. Ia berterbangan menguasai udara yang kering, menjelajahi sekian banyak dimensi, dan mungkin sebagian telah mampir di pelupuk mata hingga membuatnya merah dan mungkin iritasi. Beberapa menempel pada serat-serat kain yang dikenakan orang-orang yang berlalu lalang,  menempel pada kulit dan bercampur dengan keringat. Tapi nampaknya orang-orang yang berlalu lalang tidak perduli dengan hal itu. Mereka tetap sibuk dengan seribu urusannya hari ini. Urusan yang mungkin saja sangat pelik sehingga membuat langkah mereka tergesa-gesa dan memasang wajah serius, atau urusan yang menyenangkan sehingga membuat langkah mereka seringan angin dengan bibir yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.
Seorang laki-laki jangkung berada diantara mereka. Ia mengunakan kemeja bergaris halus dengan warna biru terang. Wajahnya nampak serius dengan langkah pelan namun mantap. Kacamata minus yang ia kenakan membuat ia terlihat nampak cerdas, namun tetap teduh.
Sebenarnya tidak ada yang mencolok dari laki-laki itu, tapi tidak bagi Sabila, seorang gadis muda yang sering menghabiskan harinya di belakang meja kasir sebuah toko kue. Ia bisa mengamati laki-laki itu dari kaca di sampingnya yang merupakan etalase. Tidak hanya hari ini, tapi berhari-hari sebelumnya dengan doa yang tak putus-putus terpanjatkan, laki-laki itu masuk kedalam toko kue tempatnya bekerja.
Laki-laki itu memang bukan laki-laki yang istimewa. Dia tak terlalu tampan, meski di atas rata-rata teman kampus Sabila. Tapi toh di luar sana banyak pria yang lebih tampan dari dia. Tapi memang bukan itu yang membuat Sabila terus-terusan mengamati laki-laki yang selalu lewat didepan toko setiap jam dua siang itu.
Pria jangkung itu pernah masuk kedalam toko kue. Sekali, dan langsung membuat Sabila merasa dia istimewa.
“Ada kue patah hati?” tanya pria itu.
“Ya?” tanya Sabila yang tidak percaya pada pendengarannya.
“Saya tengah patah hati, dan saya ingin makan kue,” kata pria itu dengan suara bergetar. Sabila melihat mata di balik kaca berbingkai itu memerah dan menyisakan setitik kristal bening. Sabila yang telah menjalani profesinya dua tahun mulai memahami situasi.
“Anda mau kue coklat? Itu bisa menurunkan kadar stress,” tawarnya.
Pria itu hanya mengangguk. Sabila memanggil temannya yang bertugas melayani konsumen. Pria itu tak berkata-kata lagi, dan ia pun meninggalkan toko. Keesokannya Sabila melihat pria itu lagi, dengan raut wajah berbeda, sesungging senyum mengukir dibibirnya. Hingga berhari-hari kemudian, pria itu selalu lewat di depan toko, namun tanpa mampir sekalipun di toko kue tempatnya berada.
“Dari awal dia memang aneh, tak heran kau jadi ketularan aneh,” kata Rara, teman kerja Sabila.
“Enak saja, dia itu menarik. Tak seperti laki-laki pada umumnya. Coba, mana ada si laki-laki yang lagi patah hati kepikiran buat makan kue kecuali dia. Pasti dia punya perasaan lembut seperti kue,”
“Nah itu yang bikin aneh. Yang aku tau, kalo laki-laki macam dia lagi patah hati paling ngga ngedugem bareng temennya di club, atau ngebut di jalan, atau yang lebih alim berdoa di masjid, la dia, makan kue, aneh.”
“Emang kenapa kalo patah hati makan kue? Ngga ada larangannya toh? Ngga ada undang-undangnya tau,” kata Sabila keras kepala.
“Ya sudah lah, terserah kamu,” kata Rara seraya beringsut pergi.
Sabila memang tak perduli betapapun anehnya apa yang tengah ia lakukan, dan mungkin apa yang ia rasakan. Ia selalu merindukan kedatangan pria itu. Sehari tanpa melihat pria itu membuat Sabila merasa dunianya muram, matahari seperti tertutup awan tebal meski sebenarnya matahari tengah bersinar dengan terang.
Hari ini, seperti biasa Sabila sudah stay melihat kaca etalase, dan ia melihat pria itu. Sepertinya Tuhan kali ini mengabulkan doanya. Pria itu berbelok arah, dan membuka pintu toko kue. Sontak membuat Sabila ingin berteriak kegirangan. Ia menatap Rara dengan gembira dan rasanya ia ingin memeluk temannya yang tengah menunggu akan ada adegan aneh apa lagi kali ini.
“Trimakasih sekali kuenya waktu itu mba,” kata pria itu dengan senyum yang terukir manis di bibirnya. Sabila tak mampu berkata-kata. Dia mulai berharap, dan angan-angannya mulai melambung.
“Memang benar ya, coklat itu bisa menenangkan,” lanjutnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar. “Sebenarnya sudah lama saya ingin kesini,” katanya lagi yang membuat angan-angan Sabila kian meninggi. “Tapi mungkin ini yang terakhir, saya harus segera ke Autria, beasiswa saya disetujui, dan kali ini saya ingin memesan kue kebahagiaan. Apakah toko ini memilikinya?”
Sontak saja angan-angan Sabila berdebum kelantai dengan keras. Austria? Dia pergi? Tak akan ada lagi acara mencuri pandang lewat etalase? Sepertinya sekarang Sabila membutuhkan kue patah hati.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com