Monday, 15 December 2014

TV, Warung Kopi, dan Pengunjung

Pulang. Lagi-lagi saya pulang ke rumah, mengunjungi orang tua tercinta dan tentu warung kopi yang tetap berdiri kokoh, setia.
Tidak ada bosannya, duduk berlama-lama di dalam warung kopi. Apalagi jika pengunjung tengah ramai. Bukan. Bukan saja karena kotak uang mama akan penuh,yang artinya ketika saya kembali ke Jogja, uang saku ikut penuh juga. Tapi lebih dari itu.  Otak saya pun akan penuh jika jeli menangkap cerita-cerita yang mengawang-awang diudara. Cerita mereka, para pengunjung warung kopi milik mama. Maka dari itu, ketika saya pulang ke rumah, malamnya saya akan berjaga di warung, melayani pembeli-pembeli yang sebagian besar adalah petani.
Ketika sholat Isya di mushola Pak Pingi usai, mereka akan menyerbu warung. Satu persatu. Namun hingga jarum jam menjelang angka sembilan, hanya ada tiga empat orang yang bertahan duduk di kursi warung.
Saya hanya bisa menghela nafas. Besok saya akan kembali ke Jogja dengan uang saku ala kadarnya.
Obrolan malam itu pun dimulai ketika ada sebuah berita singkat di TV. Ya, di dalam warung mama ada TV berukuran 21 inci untuk menemani para pengunjung. Beberapa kapal nelayan asing ditenggelamkan.
Kemudian, pujian-pujian itu pun terlontar. Seorang pengunjung memuji presiden baru kami karena ia berani. Pengunjung yang lain memuji presiden yang baru kami karena dia memperhatikan orang kecil. Pengunjung yang lain tak kalah, ia menimpali dengan pujian bahwa presiden kami tegas terhadap negara asing. Yah, presiden kami yang baru memang presidennya wong cilik.
Saya kala itu iseng nyletuk saja, "Amerika dan Cina belum ada kabarnya," Tidak ada yang menimpali. Biasa. Saya, masih dianggap anak ingusan yang tidak tahu apa-apa.
Acara TV berganti. Malam semakin larut, satu persatu dari mereka meninggalkan warung. Pulang menuju rumah mereka masing-masing. Warung di tutup. Besok masih ada hari yang harus di jalani.

Pagi, biasa. Warung sudah sibuk oleh pembeli. Tidak hanya bapak-bapak yang memesan kopi dan sarapan, tapi ibu-ibu yang sibuk memilih sayuran. Anak-anak berlarian menuju sekolah dengan baju yang tak rapi, karena tak ada setrika dirumah. Ada beberapa dari mereka yang menaiki sepeda ontel karatan dengar mur dan baut yang copot entah dimana, menempuh jalan berbatu yang akhirnya akan meninggalkan suara berisik.
Yang lebih biasa lagi adalah mendengar ibu-ibu mulai bergosip asik. Tapi tak melulu gosip. Banyak informasi menarik, dan pagi itu heboh berita pembunuhan ketua RT kecamatan tetangga oleh warganya. Masalahnya, boleh dibilang sepele. Gara-gara Ketua RT itu tak memasukan nama si warga ke daftar calon penerima bantuan subsidi BBM.
Ya. itu biasa. Cerita tentang pembunuhan apalagi berlatar belakang masalah ekonomi sudah biasa. Bukankah kita sering meilhatnya di layar kaca. Tapi tetap saja hal itu membuatku geleng-geleng kepala.
Yang tidak biasa pagi ini adalah, bibir mama yang mengkeret. Dompetnya tipis. Pengunjung sepi karena kemampuan mereka membeli menurun. Bagaimana tidak, karena harga-harga melambung tinggi, kopi di warung mama pun ikut naik. Meski hanya limaratus perak. Tapi tetap saja itu masalah.
Mama bingung, bagaimana menukar gul dan kopi hari ini.

Kau tau, pengunjung warung kopi mama sudah pintar. Mereka tak begitu lagi percaya pada media begitu saja.
Ini diawali ketika musim pemilu tiba. Dengan jelas mereka bisa membandingkan dua kubu yang berseteru dan dua media yang memberitakannya. Tidak objektif, sesuai siapa pemiliknya.
Mereka pun mengambil kesimpulan, Chanel TV A milik Ini, jadi akan memberitakan yang baik-baik tentang ini dan calon yang diusung. Chanel TV B milik itu jadi akan memberitakan kebaikan si itu atau yang calon yang diusungnya.
Ya, mereka jadi pintar. Tapi, karena pengunjung warung kopi memang pendukung calon yang diusung pemilik chanel A, tak keberatan tentang isi berita yang baik-baik saja itu. Kemudian, meski musim pemilu sudah berakhir, benci mereka dengan si chanel TV B tak berakhir. Mereka tak lagi percaya, meski si chanel sudah memberitakan yang sesungguhnya. Bahkan berita yang sepele.
Sayang, pintarnya mereka tak bisa melihat dari kacamata yang berbeda. Sumber mereka hanya TV. Koran tentu tak terfikirkan untuk membeli. Internet, mereka saja bingung apa itu internet. Buku, apalagi. Yang mereka tahu, buku hanya untuk anak sekolahan yang berisi perkalian.
Jika si Tv memberitakan tentang kejadian A, kemudian setelah di telusuri, tenyata kejadiannya B, dan cerita B tidak di tayangkan di TV, maka pengunjung warung kopi mama tetap akan menganggap cerita A adalah kebenaran.
Jadi, apa yang terlihat di TV itulah yang mereka lihat sebagai kebenaran. Jika saya bekata sesuatu yang berbeda dari apa yang diberitakan di TV, mereka akan mengernyitkan dahi sejenak, kemudian menganggap saya tak pernah berkata apa-apa.

Ketika saya sudah bisa terhubung ke internet, saya membaca sebuah berita. Kapal-kapal yang di bakar itu hanyalah "perahu". Ya, kapal berukuran kecil. Bukan kapal dalam artian sesungguhnya.
Entahlah, apa yang terjadi. Apakah benar pemerintahan kali ini terlalu di make up media, atau memang kenyataannya demikian.
Yang pasti pengunjung warung mama tetap memuji presiden barunya.


Ps : Saya hanya menceritakan apa yang benar-benar terjadi ketika saya pulang. Hanya itu saja. Makanya, tulisan ini begitu polos. Seperti bayi yang baru lahir. Tapi itulah kenyataannya.



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 3 December 2014

Keringat di Keping Seratus Rupiah


            Mungkin tidak masalah jika tersesat di suatu tempat padan siang hari, karena kemungkinan besar akan ada orang yang lewat dan kita bisa bertanya arah mana jalan yang benar. Sayangnya kali ini saya dan kedua teman saya tengah tersesat di waktu malam hari, lewat dari tengah malam. Alih-alih manusia yang lewat, kucing pun sepertinya enggan untuk keluar.
            Belum lagi medan yang benar-benar asing. Jalan tempat kami berada kini adalah jalan setapak berbatu. Kanan kirinya hutan rimbun. Bisa saja kami bertanya pada GPS yang terpasang di perangkat handpone. Sayangnya, signal terhalang pepohonan. Jadilah kami manusia-manusia tersesat yang sesungguhnya.
            Putus asa. Mungkin itu salah satu pilihan yang bisa kami ambil saat itu. Tapi ternyata skenario lain menanti kami.
            Dari arah belakang sebuah sepeda motor meraung, mendekat. Ada rasa sedikit was-was. Bagaimana tidak, kami, tiga perempuan biasa tanpa bekal ilmu bela diri. Ditambah lagi waktu sudah lebih dari tengah malam. Kejahatan bisa saja datang menyambangi kami.
            Pengendara sepeda motor itu berhenti disamping kami yang sudah memasang alarm siaga. Seorang bapak muda dengan pakaian sederhana bertanya dengan ramah. Kami menceritakan apa yang terjadi dan tempat tujuan kami. Bapak itu pun menunjukan arah yang kami tuju. Tak sampai disitu, bapak itu pun bersedia untuk mengawal kami untuk sampai tujuan.
            Perjalanan di lanjutkan dengan bapak yang belum kami ketahui namanya sebagai pemandu jalan. Jalan lebih menanjak dan hutan menjadi lebih lebat. Kewaspadaanku meningkat. Apalagi salah satu temanku dibonceng bapak itu. Pikiran buruk pun semakin liar. Kata jangan-jangan semakin banyak berkumpul di otak. Bagaimana tidak, alih-alih mendekati jalan yang ramai, kami malah semakin masuk ke dalam hutan.
            Saya sepertinya harus sujud sungkem dan meminta maaf kepadanya karena telah berpikiran buruk. Ternyata ia benar-benar mengantarkan kami ke jalan yang benar. Kami kembali ke jalan yang lebar dan beraspal. Beberapa mobil dan motor lewat mendahului kami. Hingga akhirnya sebuah papan besar terlihat. “Anda Memasuki Kawasan Kawah Ijen.”
            Kami berhenti dipertigaan jalan. Bapak tadi menjelaskan beberapa petunjuk untuk sampai di Kawah Ijen. Namun, ia terpaksa berhenti karena motornya tidak sempat dibelikan bensin. Maka dia harus menunggu mobil temannya untuk bisa sampai kesana.
            Ternyata bapak itu adalah penambang belerang di Kawah Ijen, sebuah  kawah gunung aktif yang memiliki kandungan asam tertinggi di dunia. Kawah Ijen terletak di Kabupaten Banyumas, Jawa Timur. Coba saja anda cari di internet dengan kata kunci Kawah Ijen, akan banyak sekali hal yang anda dapatkan. Belum lagi foto-fotonya yang menakjubkan. Tidak dari warga lokal saja, namun banyak masyarakat manca negara yang memiliki fotonya.
Tempat wisata yang telah mendunia ini ternyata menyimpan cerita lokal yang luar biasa. Cerita bapak ini salah satunya. Sudah sepuluh tahun lebih dia menjadi penambang belerang. Pekerjaannya memang dimulai pagi-pagi sekali. Setiap malam, dia keluar dengan motornya, menembus dinginnya udara pegunungan dan jalan yang terjal menuju sebuah tempat dengan ketinggian 2368 mdpl.
Tidak hanya ketinggian yang harus dilawan. Bapak itu dan penambang-penambang belerang yang lain pun harus menahan gas belerang yang tersembur di Kawah Ijen. Tentu saja gas belerang berbahaya untuk kesehatan. Belum lagi, mereka memikul hasil belerang dengan menggunakan dua buah keranjang yang di satukan dengan bambu. Dengan medan yang cukup terjal, mereka harus membawa belerang dengan bobot hampir 50 kilogram. Luar biasa bukan?
Ternyata, di balik itu semua masih ada kisah yang lebih memprihatinkan. Satu kilo belerang hanya dihargai seribu delapan ratus rupiah oleh pengepul. Jika di bandingkan dengan perjuangan yang harus dilakukan, tentu harga itu tak sebanding. Sering bapak itu dan rekan-rekannya berusaha berdiskusi dengan pengepul agar menaikan harga belerang. Yah, paling tidak biar genap dua ribu rupiah agar kebutuhan pokok yang semakin naik bisa terbeli. Namun sayang, usaha mereka sering sia-sia. Dua ratus rupiah yang mereka perjuangkan kandas. Harga belerang tetap mandeg di tempatnya. 

Pada akhirnya, saya tak sempat menanyakan namanya. Namun cukuplah cerita tentang hidupnya, tentang seratus rupiah yang diperjuangkannya menjadi pelajaran berharga buat saya. Seratus rupiah bisa tak berarti apa-apa buat saya, tapi buat mereka, seratus rupiah adalah harapan mereka untuk kehidupan yang lebih baik.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com