Wednesday, 13 February 2013

Jangan Ganggu Banci (Chapter Hijab Day)


Jreng!! Jreng!! Jreng!!
Bunyi gitar yang sumbang mengisi ruang dengar pemirsa sekalian. Namanya juga bus kota kelas ekonomi, kalau ngga pengasong ya pengamen. Tapi yang bikin mata memicing kali ini adalah tipe pengamen yang berdiri tepat di samping gue. (What the orange?!!). Karena si pengamen bukan perempuan, dan laki-laki namun tidak mengakui dirinya sebagai laki-laki, tanpa pikir panjang, diri ini pun menggeser tubuh untuk duduk lebih menjauh, meski harus menyesak pada Ibu-ibu yang juga nampaknya mahfum.
Sebuah lagu selesai di nyanyikan dengan suaranya yang serak dan agak banjir karena dipaksakan menyerupai suara perempuan, dan yang selanjutnya terjadi adalah, tak ubahnya seperti pemalakan, dengan wajah garang dan bibir yang menyumpah halus, serta omelan galak, dia meminta uang ngamen dari penumpang bus mulai dari posisi terdepan. Bahkan serunya itu, ia sempat bersitegang dengan seorang bapak tua. Oh tidak, apa yang harus aku lakukan? Ngga punya receh nih. Padahal tadinya sih duitnya receh semua, tapi kan udah buat bayar ongkos bus.
“Prok..prok..prok..” suara langkahnya semakin mendekat. Keringat dingin pun mengucur deras, membanjir luruh. Akhirnya, aku hanya mampu memutuskan menggerakan tangan sebagai isyarat tidak ketika ia telah berada di sampingku, dan sebuah keajaiban terjadi. Dia tidak marah apalagi menyumpah. Ia berlalu begitu saja seperti aku tidak ada. (Haruskah saya berteriak girang dan berkeliling bus?)
Pyuh, leganya. Tapi apa yang terjadi membuatku penasaran. Akhirnya aku melihat penumpang sekitar yang wajahnya kini tertekuk. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan tidak mengenakan hijab. Lalu hubungannya apa?
Aku hanya mampu membatin dalam jantung (hati-red), aku memang berbeda dari penumpang lain. Mungkin nampak aneh. Namun, keanehanku yang menyelamatkanku (wah, segitunya).
Memang nampaknya hal ini sepele. Namun, coba deh lihat sekitarmu. Seorang perempuan yang berhijab rapi, persentasi mereka sebagai korban kejahatan, meski hanya seperti example diatas (juga ditambah, di lecehin, digodain ngga jelas, dan pelecehan seksual lain) jumlahnya lebih sedikit daripada perempuan yang tidak berhijab. Conclusinya, hijab tidak hanya sebagai identitas kamu sebagai seorang muslim, namun hijab melindungi kamu. Menghindarkan kamu dari kesempatan seseorang melakukan tindak kejahatan. “Mereka” akan berfikir dua kali ketika hendak menggangu kamu.
Pernah lihat film “Alangkah Lucunya Negeriku”? Beberapa pecopet kecil mengurungkan niatnya untuk mencopet karena target mereka adalah ustadz. Mereka takut ketaatan orang tersebut terhadap Allah akan memberikan kesialan pada mereka, dan ini tidak hanya di film. Dalam kehidupan nyata banyak sekali contoh kasusnya.
Banyak media barat yang mengklaim bahwa kasus pemerkosaan di Arab adalah yang tertinggi, namun faktanya kasus pemerkosaan di AS menempati peringkat pertama, dan di Arab hanya menempati posisi seratus sekian. Why? Bandingkan saja model berpakaian orang Amerika dan orang Arab, tak perlu aku jelaskan kan?
So, jangan ganggu banci. Eh, berhijablah biar ngga di ganggu banci. (Berhijablah untuk Allah, insyaAllah Ia akan melindungimu dari gangguan banci), dan engkau yang telah berhijab, istiqomahlah. Meski kadang panas, gerah, dan ribet namun panasnya neraka tak mampu untuk di bayangkan, dan kelak, wangi surga dapat kau cium sesukamu. InsyaAllah. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 6 December 2012

Bunga Trotoar

Ketika ada seorang bocah, berusia tujuh atau delapan tahun mendekatimu, dan dengan entengnya mengatakan,”Mba, minta duit,” apa yang akan kamu lakukan? Pilihan biasanya ada dua, pertama, mengacuhkan. Kadang-kadang aku juga gini. Habisnya yang jadi pengemis lebih kerenan dari aku sih, lebih gemukan (aku emang kurus sangat ya?), Hpnya aja lebih canggih. Rasanya ngga etis banget aku ngasih ke orang yang punya “modal” seperti itu. Terus, pilihan kedua adalah kita menyodorkan beberapa lembar uang kita, tak jarang uang receh yang nyelip disela-sela kantong yang udah lepek. Tapi kali itu, aku pengen melakukan hal yang lain. Ah, tepatnya spontanitas ding.
Bocah itu, (ah, entahlah siapa namanya, semoga ketika besar kelak dia tak menjadi pengemis seperti apa yang ia lakukan sekarang ini) menghampiriku yang baru keluar dari In**mart dekat asrama. Ia masih menggunakan seragam sekolah, namun sudah nampak kumal. Mukanya juga kotor kena debu jalanan. Dengan entengnya dia mengatakan,”Mba, minta duit.” Kalo aku kenal dia sih ngga papa, tapi aku kan ngga kenal dia, dia juga belum tentu kenal aku. Yah, namanya juga pengemis. Tapi aku tergelitik juga buat tanya lebih lanjut.
“Minta uang buat apa dek?” tanyaku mencoba meramahkan diri.
“Buat beli es cream, Mba,” jawabnya dengan mata memandang ke aspal.
Oiii, gue aja udah berbulan-bulan ngga makan es cream.
“Memang Bapak kamu kemana? Ngga minta sama bapak aja?” tanyaku lagi. Setahuku, dan semoga benar, anak seusia dia masihlah menjadi tanggungan orang tua. Tentu tidak dibenarkan ketika dia meminta-minta pada orang lain selain orang tuanya dalam keadaan tidak terdesak. Buat beli es cream coba.
“Bapak lagi layat, Mba,”
“Bapaknya di perempatan jalan tuh, Mba,” sela seorang pemuda di dekat kami. Nampaknya ia menyimak pembicaraan kami.
“Kalo Ibu? Layat juga?”
Dia hanya mengangguk lemah. Satu fakta, dia bukan anak yatim. Setidaknya belum aku lihat pembenaran dari tindakannya menjadi peminta-minta. Mungkin kini di pikirannya waktu itu, “Mba aneh, ngapain sih nanya-nanya?” tapi aku tak perduli. Waktu-waktu yang bergulir selanjutnya, aku masih berbicara dengannya. Menyakan banyak hal tentang ini itu. Mulai dari sekolahnya, PRnya yang belum dikerjakan, ia yang dipaksa kakaknya untuk ikut mengemis (kakaknya di Al**mart juga loh), bapaknya yang tak memberinya uang, hingga pengakuannya yang mengatakan ulang tahun minggu depan. Ah, aku tentu ingin mengajaknya ke asrama. Jika mau, dia akan aku belikan kue ulang tahun yang mungkin sangat ia impikan. Tentu jika pengakuannya benar, tapi, dia menolak. Namanya juga pengemis.
Adzan magrib baru saja terdengar dari masjid, dibersamai gerimis rintik-rintik. Jika tidak teringat bahwa aku harus sholat magrib, mungkin pembicaraan setelah hampir lebih dari 20 menit itu itu akan terus berlanjut. Tapi aku ternyata harus menyudahinya setelah berkali-kali mengatakan,”Mengemis bukanlah pekerjaan. Janganlah mengemis. Tuhan tidak suka akan hal itu, dan itu sungguh bukan perbuatan yang baik, bekerjalah jika kau dewasa nanti. Tugasmu sekarang adalah belajar, biar orang tuamu yang mencari uang untukmu. Sekali lagi jangan mengemis. Itu sungguh bukan perbuatan yang baik, ” tentu dengan bahasa yang mudah untuk ia pahami (aku punya ponakan seusia dia, ingat itu! Terus knapa?).
Aku meninggalkannya, setelah sebelumnya memberinya sebungkus coklat (tau kan coklat yang biasa aku beli?-.-).
Bocah itu hanya satu, dari mungkin sekian ribu bocah-bocah yang tak beruntung. Bukan karena tak beruntung berada dalam kemiskinan, tapi karena tak beruntung berada di dalam bimbingan orang tua yang “tak benar”. Kenapa aku bilang tak benar? Jika orang tua mengasuhnya dengan benar, tak mungkin orang tuanya membiarkan anaknya malam-malam, magrib berada di luar rumah, mengemis pula. Meski semiskin apapun, jika masih mampu, orang tua yang benar-benar mengajar anaknya dengan benar, tak akan membenarkan tindakan mengemis seperti itu. Sungguh, dia pantas mendapatkan lebih dari ini.
Kemudian, terkenang masa kanak-kanak. Meski hanya berasal dari keluarga bekas transmigran, keluarga yang harus berjuang penuh untuk bertahan hidup setelah kembali ke pulau Jawa, setelah tertatih menata hidup kembali setelah goncangan bertubi-tubi, sungguh, aku lebih beruntung dari ia. Orang tuaku tak pernah mengajarkanku untuk menjadi peminta-minta. Keluargaku tak pernah meninggalkanku sendirian di kegelapan malam, menghampiri orang-orang untuk meminta uang pada mereka, berharap belas kasihan. Sungguh, aku jauh dan jauh lebih beruntung.
Ah, aku teringat pula akan negriku yang kaya raya luar biasa. Melimpah ruah sumber daya. Bagaimana negriku 10-15 tahun ke depan jika anak-anaknya lebih suka di luar untuk mengemis daripada berada di dalam rumah, belajar, mengerjakan PR, dan mengaji? Apakah ini salah keadaan? Patutkah kita menyalahkannya? Sungguh, tentu tak ada gunanya saling menyalahkan sekarang. Tak perlu pidato, penghimbauan pemberantasan kemiskinan, tak perlu sumbangan janji-janji, tak perlu, sungguh.
Dan, aku selalu bertanya, apa yang bisa aku lakukan?
Lagi-lagi jawabannya adalah, aku hanya bisa menulis. Melukis keadaan mereka dengan goresan tinta. Menerjemahkan keadaan mereka dengan otakku yang terbatas, dan semoga mampu mengetuk hati yang keras, untuk sekedar peduli, melihat dan turut memikirkan, apa yang bisa kita lakukan. Tidak hanya untuk mengulurkan tangan, membantu, tapi juga berusaha memutus rantai yang terlanjur terjalin kuat. Negara kita bukan negara pengemis. Ah, lagi-lagi, mungkin itu terlalu muluk.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Monday, 16 July 2012

Numero Uno

 Celoteh pagi membangunkanku, menghabiskan mimpi yang tiba-tiba hilang dari ingatan. Entah apa yang aku mimpikan tadi. Mataku menyapu seluruh ruangan. Lampu kamar masih menyala, namun cahayanya meredup karena sinar matahari sudah mulai menerobos dari jendela. Jam berapa sekarang? Tak ada jam yang terpasang didinding kamar. Satu-satunya penunjuk waktu yang ada adalah handpone jadulku.

 “Astagfirullah!!!!!!!!!!!!!!” mataku yang semula redup dan ingin terpejam lagi langsung terbuka lebar. Seratus watt full. Pukul 05.43. Aku melewatkan sholat Subuh ku. Ah, tidak, semoga masih ada waktu. Aku terbirit-birit kekamar mandi. Menabrak pintu kamar, sandal selen, terantuk pintu kamar mandi yang hanya setinggi telingaku dan tragisnya, semua kamar mandi telah terisi.

 “Buruk Cip,” kataku seraya duduk disamping Cipa, teman sekelasku. Ia menoleh. Mengernyitkan dahi, tak mengerti.

 “Kesiangan lagi?”

Aku mengangguk. Ia nampak prihatin. Tapi sesaat. Ia kembali asyik dengan sesuatu yang berada di tangannya. Buku, novel tentunya. Aneh sekali jika yang ia baca buku pelajaran meski ditengah pelajaran sekalipun.

 “Cip, kasih solusi napa? Sholat Subuh jadi ngga tepat waktu nih,” rengekku. Meski aku tau sia-sia. Jika Cipa sudah memeggang buku, segala urusan adalah sampingan. Tak ada yang penting. Menyebalkan.

 Tuh kan, dia hanya menengok mukaku yang memelas, sedetik. Tak lebih, lalu kembali lagi ke bukunya. Sungguh tega! Apakah ini yang disebut sahabat? Jerit batinku. Tak serius tentunya. Ia sahabat yang paling baik yang pernah aku kenal. Aku menatapnya yang tak bergeming. Mangkel. Tapi ya sudahlah. Nanti jika sudah waktunya dia pasti akan memberiku solusi. Semoga saja solusinya tepat.

 ”Tanya si numero uno,” bisik Cipa di tengah-tengah perkuliahan. Aku menatapnya sejenak, tak mengerti arah pembicaraannya. Namun, setelah ku ikuti arah matanya yang tak setajam silet, baru aku paham apa yang ia maksud. Benar kata pepatah, setiap solusi pasti ada jalannya. Eh, setiap masalah pasti ada solusinya. Tinggal kita mencari kuncinya, dan kunci permasalahanku berada di depan sana. Duduk tenang di barisan kursi paling depan.

 Namanya Mandala, tapi kami sering menyebutnya si Numero uno. Nama yang sangat cocok untuknya, mengalahkan nama pemberian orang tua yang mungkin membutuhkan waktu berbualan-bulan untuk meracik nama itu. Tapi kami, atau mungkin seluruh makhluk di bumi hanya membutuhkan waktu sepuluh detik untuk menyebutnya Si Numero Uno.

 Si kurus berwajah tirus itu memang memiliki hal nomor satu hampir dalam segala hal. Contohnya saja tempat duduknya, ia tak pernah absen untuk menempatkan dirinya di kursi paling depan. Bahkan ia mungkin akan rela menggusur, ataupun menggunakan trik licik milik para penjahat tengik hanya untuk mendapatkan kursi paling depan. Tapi sepertinya ia tak usah mengguras tenaganya untuk mengeluarkan triknya tersebut. Selama ini dia selalu datang paling awal ketika pintu kelas belum terbuka, bahkan mungkin ketika pintu gerbang belum terbuka. Kadang aku jadi penasaran, jam berapa sih dia bangun?

 Nah, tepat sekali. Si nomor satu dalam segala hal ini pasti punya trik jitu. Namun ternyata hari ini aku tengah sial, si nomor satu telah melesat pergi paling pertama ketika perkuliahan telah usai. Dia memang the numero uno.

 Sepedaku melaju pelan melewati beberapa pertokoan. Matahari seakan tersenyum mengejek. Dia melambai-lambaikan sinarnya dan nampak enggan untuk bersembunyi lama-lama dibalik awan yang sesekali lewat. Beberapa klakson motor atau mobil terdengar nyaring. Ah, masa sama sepeda aja dzalim. Suruh siapa tak ada jalur khusus sepeda. Aku tetap mengayuh sepedaku santai dan sesekali tersenyum mengejek pada mereka yang menggerutu dibalik kemudi.

 “Santai sekali? Sepertinya pengemudi di belakang sana sudah kehabisan persediaan sabar,” suara seseorang mengusikku. Mandala. Dia mengayuh sepeda di sampingku. Namun kemudian ia melesat pergi. Wah, kunciku. Aku harus mengejarnya.

 Meski jauh dari adegan seru ala film action saat berkejar-kejaran, apalagi kami hanya menaiki sepeda ontel, namun mengejarnya sudah cukup membuat keringatku mengucur deras dan membasahi jilbab yang kukenakan. Tapi tak sia-sia, aku berhasil mengejarnya dan kini kami mengayuh sepeda bersamaan.

 “Baru pulang?”tanyanya.

 Aku hanya mengangguk. Aku belum berhasil mengatur nafasku.

 Kami terdiam cukup lama. Mengayuh dalam bisu. Wah, kaya orang marahan. Akhirnya kubuka pembicaraan.

 “Aku boleh minta tolong ngga, Man?”

 “Apa?” jawabnya singkat. Wajahnya tetap tertuju pada jalanan yang mulai lenggang. Kami mulai meninggalkan padatnya kota.

 “Ehmss…” keraguan tiba-tiba saja menghujamku. Aku takut dia akan menertawakanku dan berlalu pergi. Atau bahkan ia akan menceritakan pada teman-temannya bahwa aku sering kesiangan. Tapi segera kutepis bayangan itu. Setahun sekelas dengannya sepertinya sudah cukup untukku mengetahui wataknya.

 “Ngga jadi?” dia menoleh. Ah, aku harus cepat bicara. Jangan sampai ia menjadi the numero uno dalam hal meninggalkan teman.

 “Jadi…Aku Cuma pengen tanya, apa sih rahasia kamu selalu bangun pagi?”

Dia menoleh, mengernyitkan keningnya. Apa pertanyaanku konyol?

 “Yia, kamu kan selalu dateng paling pagi. Otomatis kamu harus bangun pagi dong? Nah, apa nih rahasianya supaya kamu bisa bangun pagi?” jelasku. Wajahnya kembali menghadap ke depan. Nampaknya ia tengah berfikir. “Aku hanya dalam keadaan terdesak,” jawabnya singkat.

 Aku menatapnya bingung. Kupikir dia akan membeberkan trik jitunya seperti jangan tidur terlalu malem lah, jangan minum kopi malem-malem lah, pasang alarm yang keras lah, yang semuanya pernah ku coba namun gagal total. Hampir saja sepedaku menabrak sepeda motor yang terparkir.

 “Maksudnya?” tanyaku dengan wajah terbodoh yang pernah ada di bumi.

 “Ehms…” dia berfikir lagi. Nampaknya dia paham, dia harus menjelaskan sangat terperinci agar aku mengerti apa yang ia maksudkan. Pengalaman di dalam kelas.

 “Ayo ikut aku,” jawab Mandala akhirnya. Ia membelokkan sepeda menyebrangi jalanan. Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, aku membuntuti kemana ia pergi. Kami melewati sebuah jalan sempit dengan pemukiman kumuh disana-sini. Baru aku tau ada tempat seperti ini didaerahku.

 “Kita kemana?” aku sedikit berteriak. Jalanan sempit ini tak memungkinkan kami berjalan beriringan. Dia tidak menjawab, namun malah memperlambat laju sepedanya.

 “Ini tempat apa?” tanyaku lagi layaknya nenek-nenek renta yang paling cerewet melihat sebuah bangunan tua yang nampak lapuk, namun terawat. Ada banyak pohon bunga di tamannya. Jelas ini bukan rumah Mandala. Rumah Mandala sangat besar, mirip rumah di film-film. Dia anak orang kaya, dan yang buat aku salut dia bukan orang yang suka memamerkan kekayaan orang tuanya. Dia juga anak yang rajin, yah, si numero uno. Selalu mendapat nilai tertinggi, selalu paling awal menyerahkan tugas, selalu nomor satu aktif di kelas. Namanya juga numero uno.

 Lagi-lagi dia diam, hanya menyeringai kecil penuh misteri. Ah, baru aku tau, ada sisi lain pada dirinya. Aku kembali mengikutinya memasuki halaman bangunan tua itu. Seorang anak kecil menyambutnya.

 “Ibu ada Wen?” Tanya Mandala pada gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun. Bocah itu menggelang, lalu ia berceloteh riang. Mandala menoleh kearahku, matanya menyuruhku untuk mengikutinya.

 Kami memasuki sebuah ruangan luas dengan beberapa kursi di sudut-sudutnya. Mungkin ini ruang tamu.

 “Selamat datang di rumahku,” ujarnya. Ia meletakan pantatnya di kursi yang terbuat dari kayu. Aku menatapnya tak mengerti. Pasti nampak sangat bodoh.

 Tanpa menunggu waktu lama, ia lalu menjelaskan panjang lebar tentang rumah itu. Itu memang rumahnya. Lalu rumah besar itu? Pemilik rumah itu adalah orang tua angkatnya yang berbaik hati mau menyekolahkan Mandala. Mandala hanyalah seorang anak miskin yang sedikit beruntung. Ayahnya telah meninggal sejak adiknya, Weni lahir. Ia terpaksa membantu perekonomian keluarganya, sampai-sampai ia terancam putus sekolah. Beruntung, seorang keluarga kaya menawarkan bantuan untuk membantu biaya sekolahnya. Namun tetap saja perekonomian keluarganya tak cukup membaik. Oleh karena itulah ia tetap bekerja di sela-sela kesibukannya. Setiap pagi ketika aku masih sibuk dengan mimpi-mimpiku, ia telah bersiap mengantarkan beberapa dagangan milik ibunya kepasar pagi dan membantu berjualan disana. Ketika matahari mulai menampakan batang hidunganya ia langsung meluncur ke kampus dengan sepeda ontelnya. Padahal jarak pasar dengan kampus bukanlah jarak yang dekat. Pekerjaanya belum usai. Ketika perkuliahan selesai ia harus bergegas menuju sebuah toko elektronik. Ia bekerja disana hingga matahari bersembunyi kembali.

 “Oke, jika ada alasan yang membenarkan aku bangun siang, pasti aku akan melakukannya. Namun sayangnya tidak. Waktu terus berpacu, dan aku harus mengejarnya agar aku tak menelan kerugian. Bukankah Rasulullah pun selalu bangun pagi? Kenapa aku tak mengikutinya, bukankah Ia panutan nomor satu di dunia?”

 Aku tercengang. Mandala mencontoh Rasulullah padahal ia non muslim. Sedang aku yang telah berikrar berkali-kali bahwa ia adalah Rasulku? Memalukan. Aku menatap taman melalui sela-sela jendela. Tak mungkin kubiarkan manusia nomor satu, the real Numero Uno, bukan Mandala, namun Rasulullah bersedih karena pengikutnya yang malas.

-End-
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 11 July 2012

Dari Kolong Langit

 "Ibu, hari ini kita buka sama apa?"

 Ah, andai saja bisa memilih, tapi ini bukan pertanyaan atas sebuah pernyataan yang telah tersedia, tapi ini adalah pertanyaan atas ketiadaan, dan aku hanya bisa tersenyum sambil terus mengemasi penyambung nyawaku yang aku temukan. Kardus-kardus kosong tumpuan hidup kami hari ini. Tapi sepertinya harta karun ini belum cukup untuk mengganjal perut yang sewaktu-waktu minta diisi. Apa-apa sekarang mahal. Ah, tapi kenapa harta karunku ini tak bisa terjual mahal?

 "Ibu, kemarin Ayi lihat ada yang bagi-bagi kardus putih di persimpangan. Bu, nanti kita kesana ya," rajuk anak semata wayangku, bocah kecil berusia delapan tahun yang menjadi alasanku untuk tetap berusaha hidup hari demi hari.

 Ia menatapku. Ah, indah binar matanya. Masih bening sebening embun pagi. Andai dia tak terlahir disini, kolong langit yang sering mempersembahkan hujan mengguyur, mengigilkan badan, panas matahari yang terik, dan asap menyesakan dada. Mata indah itu pasti akan sangat dikagumi. Aku mengangguk. Ada harapan untuk sore nanti.

**

 Tiga puluh menit lagi. Kulihat jam di toko tempat biasanya aku meminta harta karunku. Tapi ternyata hari ini harta karunku tak aku jumpai. Hanya senyum ganjil yang aku terima dari si empunya toko. Dia tak pernah bicara sepatah katapun denganku. Hanya tangan dan kakinya yang bergerak seperlunya. Sungguh enak hidupnya. Hanya duduk dibelakang meja, tapi sudah mendapatkan uang. Ah, lalu bgaimana hidup orang-orang diatas sana yang berebut mendapatkan meja dibangunan yg sangat luar biasa itu. Aku tak mampu memikirkannya.

 "Ibu, kardus putihnya sedang dibagi. Ramai sekali disana. Ayo Bu, nanti ngga kebagian,"ucapnya penuh semangat. Ia menarik tanganku erat, dan aku hanya mengikutinya. Namun dihatiku juga tak kalah semangat. Perutku sudah berteriak minta diisi, tak mungkin aku abaikan. Kami berlari-lari kecil, dengan bayangan sekardus makanan lezat yang akan kami nikmati sore ini. Ah, lama sekali lidahku tak dirasai rasa-rasa sedap. Seringkali hanya aku temuai rasa hambar nasi dari beras untuk si miskin dan taburan kristal putih bernama garam.

 "Ibu, ayo, disana," Anakku menunjuk kerumunan orang-orang. Aku kenal banyak dari mereka, si Ibang pengumpul harta karun TPA, Si Sumi, musisi yang sering konser ditemani lampu merah kuning hijau, dan masih banyak lagi tetanggaku di kolong jembatan. Mereka antri dengan manis didepan seorang wanita muda yang begitu cantik dan anggun. Kulitnya putih, bajunya bagus, Senyumnya mengembang ramah. Ah, inikah malaikat itu?

 "Ibu, ayo!" Ayi menarikku mendekati kerumunan itu.

 “Tentu, ayo nak, kita bertemu dengan malaikat itu dan doakan yang terbaik untuknya,” kataku dengan senyum mengembang.

 "Ibu, maaf. Kami mau mewawancarai ibu ya," seseorang tiba-tiba mencegatku. Ia mengenakan tanda pengenal yang menggantung di lehernya. Sebuah microphone tergenggam di tangan kanannya. Dia ditemani seorang lelaki muda yang membawa benda hitam dengan ujung kaca dipundaknya, yang biasa mereka sebut kamera.

 "Ibu, pekerjaan Ibu sehari-hari sebagai apa? Bagaimana menurut Ibu dengan pembagian makanan untuk berbuka ini." Ia terus mengajukan pertanyaan yang tak aku mengerti. Untuk apa ia bertanya seperti itu? Apa ini syarat untuk mendapatkan kotak putih berisi makanan lezat itu? Aku tatap wanita muda disana, seseorang mengelap keningnya beberapa kali, ia juga dikelilingi orang-orang pembawa kamera. Cahaya-cahaya seperti kilat sering terlihat disana. Ayi berlari sendri tak sabar. Ia akhirnya berkumpul dengan mereka yang kini aku lihat mulai berebut. Apa tubuh Ayi yang kecil bisa ikut berebut. Harusnya aku membantu Ayi. Ah, sedang apa orang ini. Dia terus bertanya. Tak membiarkanku mendekati makanan lezat itu. Hingga kerumunan itu merenggang. Si wanita anggun pergi dengan mobil mewahnya. Orang itu pun turut berhenti bertanya dan meningglkanku dengan cepat-cepat.

 Mana Ayi? Apa ia berhasil dapatkan kotak putih itu? Aku lihat ia. Bajunya bertambah compang-camping, rambutnya bertambah kusut. Ia menatapku dengan air mata yang bersimbah. Tangannya kosong.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 24 May 2012

Chroma



Keluh itu bukan karena peluh
Meski telah membanjir luruh
Seperti debu yang tersepuh,
Mengahantam, menjadi grumosol, regosol, dan spodosols

Layaknya aphelium, renggang tanpa pegangan
Layaknya apparent, mundur selangkah demi selangkah
Menjauh, dari barisan yang berjajar

Memang, aral itu bukan sekedar elfata
Yang menggores kaki dan mengotorinya
Bukan sekedar lapili yang menghujani
Tapi karang dan tebing
Juga badai hurricane di garis tropis

Tapi sungguh, kita bukan asteroid tanpa jalur
Bukan meteor yang terkikis saat jatuh,
Bukan pluto, tanpa induk
Bukan premeval yang melayang menjauhi matahari.
Tapi sungguh, jalan ini berujung tanpa jerih,
Bersemai manis, serangkai kamboja, semerbak pada kasturi.

Lalu, tak bisakah kita kembali sedekat layaknya perihelium
Dengan chroma yang berpijar meski berbeda
Bukan fault yang terpisah dan tercacah
Merangkai jemari dan melangkah
Pada satu ikatan ukhuwah
Kembali menjadi perca-perca Jundullah.




Zii Mujiku Hibiniu
24 Mei 2012
Ruang kuliah 214
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 23 May 2012

Dinding

Dinding -Dinding
Kita selalu berbicara disini. Berfikir luas, mengembara jauh tentang dunia kita, mengkritik, menghujat, dan bahkan mencaci. Ketidak puasan itu terluncur pasti, dan seperti tanpa aling-aling lagi, kita menuntut mereka. Luar biasa, bukan main, betapa beraninya kita. Ya, kita, karena aku pun bergabung bersama kalian disini. Hati yang bergejolak menentang penindasan dan ketidak adilan, hati yang sedih menatap perut-perut membuncit karena busung lapar, mata-mata yang nanar menatap mayat-mayat hancur berantakan, namun hati ini pun slalu bertanya, kapan kita buka pintu itu, dan kita berteriak lantang di luar? Kapan kita bergerak melawan ketidak adilan? Kapan kita kumandangkan perang pada mereka sang penjahat?
Selalu, yang aku temui kosong. Dinding-dinding kelas seperti sebuah batas pemikiran kita. Dinding-dinding kelas seperti pemisah antara jiwa kita yang radikal, peduli, berani, dan tangkas, dan jiwa kita yang masa bodoh, apatis, dan terlalu penurut pada keadaan.
Tentu, ingin aku usung idiologi kalian yang hebat keluar dari kungkuman ruang bernama kelas. Tentu ingin aku robohkan dinding-dinding batas sehingga kita tak lagi perlu menjadi orang lain. Aku ingin kita bergerak, mencabik-cabik mereka yang telah mengoyak-koyak tubuh ibu pertiwi dengan rakusnya. Kita berjalan, membawa spanduk-spanduk keadilan, kita teriakan, kita kumandangkan, kita kibarkan bendera perang pada mereka yang memenjara kita dengan dinding-dinding peradaban buatan tangan mereka.
Aku ingiiiiinnnnn sekali kawan. Tidak hanya berdemo dipinggir jalan, atau memutari kota dengan seribu tuntutan. Tapi kita benar-benar bertindak. Bukan menuntut, tapi kita yang melakukannya sendiri. Aku inngiiiiiiiin sekali kawan, kita sama-sama berjalan, menyusuri jalan-jalan terjal, menghampiri mereka yang membutuhkan, mendengar suara mereka, bukan sok tau dan menganggap kita sudah sangat paham. Aku ingiiiiiin sekali kawan.
Tapi akhirnya aku harus kembali pada kenyataan. Anganku yang melambung harus kembali pada raganya yang masih duduk manis di dalam kelas. Kosong dan kecewa karena aku hanya bisa diam, dan kita hanya bisa bicara.

#Ayo lakukan perubahan Kawan!!!!

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 10 May 2012

Hujan yang Melengkung


Masih ingat tentang hasil wawancara Justin Bieber yang gue baca di http://id.omg.yahoo.com/news/justin-bieber-sebut-indonesia-sebagai-negeri-antah-berantah.html. Mungkin setelah ini, gue juga bakalan di hujat sama fansnya Justin Bieber mengenai hal ini. (hah, mana gue peduli).Bukan mengenai negeri antah berantah , tapi mengenai perkatan Justin "Kata 'think' itu menggunakan 'th', bukan 'f',".
Gue emang bukan orang yang pinter pake bahasa Inggris, karena ngga mahir itulah gue jadi enggan. Knapa? Lidah gue sering kesleo kalau ngomong bahasa inggris, belum lagi kalo di ketawain sama mereka yang ndengerin. Mendingan ngga usah ngomong. Hahaha, sebenarnya itu pun gue ngga peduli.

Lagi pula kenapa harus bahasa Inggris? Kenapa ngga pake bahasa Indonesia aja? Kenapa harus berkiblat pada bahasa yang ngga tau juntrung dan asal muasalnya. Bahasa Indonesia itu keren loh. Ngga Tau? (meski masih kerenan bahasa Jawa sih, juga bahasa daerah-daerah lain yang penuh dengan keunikan dan seni tersendiri).

Gue sendiri bukan ahli bahasa. Jurusan gue Geografi man!! Tapi gue pengen berfikir kritis layaknya profesor. Gue cuma seorang Mahasiswi tingkat rendah yang ngga tau apa-apa tentang dunia luar. Kita bandingkan saja antara bahasa Inggris dan bahasa nenek moyang kita yang harus kita junjung tinggi-tinggi dan kita gunakan sehari-hari (jangan malah sok-sokan pake bahasa Inggris)

Contohnya saja yang mirip-mirip nama gue, pelangi. Pelangi, bahasa inggrisnya apa? Rainbow. Rain, hujan, bow, melengkung. Hujan yang melengkung. Apakah hujan bisa melengkung? Lagi pula ngga kreatif banget karena menjiplak dari kata lain. Rain dan BOw. Sedangkan bahasa Indonesia itu kreatif, dengan memberi nama lain pada hal yang baru. Nenek moyang kita itu pinter-pinter dan pemikir kelas berat. Maka munculah kata pelangi untuk warna yang berwarna-warni setelah hujan reda yang melengkung indah di langit yang cerah. Hahaha....

Satu lagi, Bahasa Inggris itu ngga konsisten. Really!!! Coba deh, cari di kamus, atau buku bacaan apa saja yang ada bau English di dalamnya. Lu akan nemuin kata-kata yang ngga konsisten, dari segi pengucapan. Misal nih, Kenapa dalam bahasa Inggris Cat, C-A-T, diucapkan Kat, K-A-T??? Lalu guna huruf C itu untuk apa? Apa untuk memperindah. Jadi gue mulai berfikir, sebenarnya bahasa inggris itu hanya memiliki sedikit kosakata, sehingga untuk membedakan antara yang satu dengan yang lain, ya pake perbedaan pengucapan. Wah, beda sekali dengan bahasa Indonesia. K ya di ucapkan K, C ya di ucapkan C, begitupun dengan Z, th ya tetep th, so ngga perlu ada perdebatan antara th di baca th atau f. ckckckc, bener-bener kreatif nenek moyang kita sehingga membuat kosakata yang beraneka ragam.

Sebenarnya, bukan karena keberatan menggunakan bahasa Inggris, tapi gue pengen menghimbau aja (ceila, bahasanya, kaya udah jadi presiden aja, "saya menghimbau kepada segenap masyarakat indonesia dan bla bla bla' hahaha) bahwa bahasa Indonesia itu ngga kalah keren dengan bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Inggris, so, kenapa harus berusaha beringgris-inggris ria, kalau kita memiliki bahasa yang super duper keren. Berbahasa Inggris boleh, tapi pada tempat dan situasi yang tepat. Ngga melulu harus bahasa Inggris, sampe-sampe yang sebenernya hanya bisa ngomong yes no, sok-sokan pake bahasa Inggris. Aneh bukan? Niatnya sih biar di bilang keren, tapi nyatanya, bikin wajah mupeng alias muka pengen ketawa.hehehe

Kita negeri yang bermartabat guys, so tunjukan martabat kita pada dunia. Kalo aku sih, sangat setuju dengan negeri Prancis yang tetep keukeuh mempertahankan bahasanya. Ngga ada salahnya kalau kita ikuti langkah mereka. Gunakan bahasa Indonesia. Takut dikucilkan dan sebagainya? Kalo aku sih lebih takut azab Allah (apa coba hubungannya? Ya dihubung-hubungin aja, iya ngga coy...Hahahaha), dan gue amat sangat sekali mendukung Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional. Kesempatannya besar loh, coba di hitung seluruh penduduk Indonesia, dan juga penduduk Indonesia yang ada di luar negeri. Hampir seluruh penduduk Indonesia tersebar di seluruh dunia dengan jumlah yang besar.
So, ayo perjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. dan tentu, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ya...hehehe
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 8 May 2012

At Taman Pancasila

Habis baca buku keren langsung pengen nulis. Keren, meski sepertinya ngga best seller. Tapi itu bukan acuan untuk menyatakan kualitas buku kan. Ah, mungkin hanya sebagian yang tau. Atau hanya malah hanya aku yang tahu buku itu ada? Ya ngga lah. Masa buku itu cuma di cetak satu eksemplar aja. (Jadi ingat antologiku yang baru dicetak 2 eksemplar. Kabarnya sekarang gimana ya? Jangan-janang tulisanku udah di garis merah semua. Wa...bahaya, siaga 14.)
Akhirnya aku punya kesempatan nulis juga, setelah berhari-hari lalu, dikalahkan dengan game online (ya ampun aku sudah adicted..huwaaaa..), Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku. Aku ngga bisa buka FB. Tapi diambil ibrohnya saja. Jadi bisa nulis blog kan. Ya, setelah sekian lama blognya ngga disambangi. (ih, semutnya nakal. Nggodain aku mulu..(bukan semut di game, tapi semut beneran, la wong posisi nulisnya lagi di bawah pohon kelengkeng yang ngga pernah kelihatan kelengkengannya. Katanya sudah sepuh)).
Back to the book. Sebenarnya bukan bukunya yang hendak aku bahas. Tapi, efek samping setelah nuklis itu buku. Jadi rasa-rasanya langsung pengen nulis. Kayaknya gampang banget gitu loh. Mulus seperti tol tanpa hambatan yang berarti (paling kambing yang lagi pada bejemur, mirip bule-bule gitu) Ya, mudah banget kayanya, masih kayaknya karena aku belum praktek langsung. penasaran sama bukunya? Hubungi saya di nomor 087xxxxxxxxx, hahahahaha.
Dari buku itu, bisa diambil kesimpulan bahwa seorang penulis haruslah memiliki mata dewa. harus mampu melihat hal sekecil apapun yang akan di kembangkan oleh imajinasinya. Sayangnya memang tak mudah menemukan/ memiliki mata dewa itu (itu pendapatku sendiri). Perlu kepekaan tersendiri pada kehidupan sekitar. Ya, saya setuju dengan hal itu. Seorang penulis harus mampu melihat berbagai sudut pandang dari satu peristiwa, sesederhana apapun peristiwa tersebut. Misalnya aja nih, coz aku lagi ditaman, ehm, kita lihat aja di sekitar. Ada seorang mahasiswa duduk sendirian di tengah-tengah taman. Tangannya memegang laptop tapi matanya menerawang. Ah, siapa yang peduli dengan kejadian itu. Tapi bagi seorang penulis, hal itu bisa menjadi sebuah inspirasi. Kita kembangkan, kenapa mahasswa itu bisa termenung padahal di tangannya ada laptope yang sedang menyala. Apakah dia lapar, apakah ia tengah memikirkan tugasnya yang belum kelar, atau bahkan tengah merasai perutnya yang terasa nyeri karena pengen kebelakang. Atau yang lebih romantis, dia tengah teringat pada seseorang disana. Entah dimana. Itu silahkan di kembangkan, bagi kamu-kamu yang pengen jadi penulis cerpen. Atau bahkan novel. Hanya dari melihat seorang mahasiswi yang tengah termenung kita bisa mengembangkan banyak cerita. (katanya sih begitu)
Pengen tau apa bukunya? dan kenapa aku sampai betah bacanya?
lihat aja di toko buku terdekat. banyak sebenarnya buku-buku bagus tentang menulis. Tapi kita sungguh enggan meluangkan waktu dan tentu doku untuk hal yang satu ini. Ya buku. Kita (karena gue juga termasuk brow..heheh) seringkali memilih membeli pulsa yang akan seketika habis, daripada buku yang seumur hidup pun bisa utuh. Asal pinter ngrawatnya aja. Jadinya? Kita jadi buta akan dunia, sedangkan pengeluaran pulsa membengkak dan memperkaya mereka (pemilik penyedia layanan pulsa,hehehe). Seorang guru pernah berkata, musuh utama penulis adalah pulsa. Hems, iya ya...
Hah, sudah adzan dzhuhur. Saatnya sholat dulu Sob. Mungkin besok, kalo FBnya ngga bisa kebuka lagi bisa disambung lagi, mungkin dengan menu yang berbeda, aturan berbeda dan nuansa yang berbeda.
Assalamu'alaykum...(tadi ngga di buka dengan salam ya...hahahaha)



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com