Sunday, 25 March 2012

Demokrasi, Pemandulan Hukum Islam??



Jleg!!
Saya sendiri kaget ketika saya memilih judul diatas. Tidak bermaksud menghakimi, atupun menyalahkan, saya hanya hendak mengkaji, sedikit saja bagian yang mungkin beberapa dari kita belum paham, tentang sebuah kata yang dianut oleh negara kita. Padahal sebagian besar dari kita telah menggembar-gemborkan dan bahlkan menuntut penegakannya, ya demokrasi.
Bukankah negara kita adalah negara demokrasi? Ya, secara teori negara kita adalah negara demokrasi. Oleh karena itu ada baiknya jikalau kita mengkaji dari awal, apa itu demokrasi. Kata Demokrasi dapat dipilah menjadi ‘demos’ yaitu ‘rakyat’ dan ‘kratos/cratein’ yang artinya pemerintahan, jadi demokrasi sederhananya berarti pemerintahan rakyat. Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang tepatnya diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern.
Kemudian munculah teori demokrasi klasik. Pandangan ini dikemukakan antara lain oleh JohnLocke (contrac social), Montesquie (triaspolitica),dll. Mereka mendefinisikan demokrasi sebagai “kehendakrakyat” (the will of the people ), kebaikan bersama,atau kebajikan publik (the common good ). Dalam hal ini demokrasi dilihat dari sumber dan tujuannya. Paham ini lahir sebagai respon terhadap paham yang memberikan kekuasaan mutlak pada negara, baik berbasiskan teokratis maupun duniawi seperti dalam konsep Thomas Hobbestentang Laviathan (sudah ada gambaran?).
Kemudian teoi klasik itu mendapatkan banyak kritikan. Terutama dari Joseph Schumpeter dalam bukunya berjudul “Capitalism, Socialismand Democracy” yang terbit tahun 1942. Dalam bukunya, Schumpter menyatakan bahwa“kehendak rakyat” (termasuk kontrak sosial) tidak bisa diimplementasikan begitu saja. Dalam politik, yang menjadi motor penggerak adalahprosedur-prosedur atau metode berdemokrasi. Karena menekankan prosedur maka konsep demokrasi Schumpeter disebut juga demokrasi prosedural.
Sepertinya demokrasi slalu di usahakan untuk menemukan titik idealnya. Padahal sejak tercetusnya kata demokrasi itu sendiri, telah terdapat banyak sekali kritikan. Apa engkau mengenal Plato? Bapak filsuf kita yang telah melanglang buana dunia keilmuan bahkan pada zaman semuanya masih terbatas. Ia adalah keturunan bangsawan Athena yang menjadi saksi sejarah bahwa demokrasi tak lebih baik dari hukum Islam tentang ketatanegaraan. Plato dalam karyanya yang masyhur berjudul Republic mengulas tentang istilah demokrasi. Dalam kajiannya tersebut, Plato berpandangan bahwa demokrasi sesungguhnya bukan sebuah sistem politik yang ideal. Plato mengkritik demokrasi seperti itu, berdasarkan pendapatnya bahwa masyarakat merupakan hakim yang tidak becus dalam banyak masalah politik. Masyarakat cenderung memberikan penilaian berdasarkan kebodohan, dorongan hati, sentimen, dan prasangka. Yang paling buruk adalah demokrasi seperti itu mendorong munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak becus. Karena pemimpin memperoleh kepemimpinannya dari masyarakat, pemimpin cenderung mengikuti tingkat masyarakat demi keamanan kedudukannya. Lagi pula, karena dalam demokrasi” setiap individu bebas melakukan apa yang dikehendakinya”, pengaruhnya bersifat merusak.
Bukankah hal ini telah secara nyata terjadi pada negara kita? Kita contohkan saja, hal yang sedang panas-panasnya saat ini. Apalagi dengan isu menaikan harga BBM. Saya sungguh lelah untuk terus mengecam dan mengecam. Bukankah mereka tidak akan pernah mendengar? Dalam Hukum Islam, telah terdapat hukum yang mengatur tentang energi. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khirasy bin Hausyab Asy Syaibani dari Al Awwam bin Hausyab dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air, rumput dan api. Dan harganya adalah haram." Abu Sa'id berkata, "Yang dimaksud adalah air yang mengalir." (HR. Ibnu Majah).
Sudah sangat jelas sekali. Harga untuk BBM haram, kecuali untuk produksinya sendiri, dan kini, wacana terbaru, pemerintah akan menaikan harga BBM untuk meningkatkan pendapatan APBN. Iya, jika APBN tersebut merata untuk rakyat. Kenyataanya, siapa yang menikmati APBN itu? Bandingkan dengan pengaturan APBN pada masa Amirul Mukmini. Tak ada anggaran yang di bebankan pada rakyatnya. Saya pikir anda telah paham tentang hal ini, dan menurut anda apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi di negara kita? Pemerintahan yang demokrasi.
Pemerintahan kita yang terdiri dari orang-orang yang di pilih oleh rakyat yang mengatakan bahwa mereka adalah wakil rakyat nyatanya mengambil untung dari rakyatnya tanpa perduli pada kehidupan yang mereka wakili. Apakah ini yang di sebut wakil rakyat? Saya tidak serta merta menyalahkan wakil-wakil rakyat kita, karena memang pada kenyataannya semua itu bukan mutlak kesalahan mereka. Benarkan? Siapa yang berhak memilih mereka? Siapa? Kita kawan-kawan. Rakyat yang memilih mereka. Padahal, kita sebenarnya tidak yakin apakah mereka amanah, apakah mereka seorang al amin, apakah mereka sidik, dan banyak kriteria lain sebagai syarat untuk menjadi wakil rakyat. Itulah kelemahan pemilu kita, pemilu sebagai lambang sebuah demokrasi ditegakan. Ya, negara kita adalah negara demokrasi.
Selain Plato, demokrasi juga mendapat kecaman dari filsuf kita yang lain. Aristoteles dalam Politics mengulas juga tentang demokrasi. Baginya demokrasi juga bukan pula sebuah sistem yang ideal. Penolakan aristoteles terhadap demokrasi sebagai sebuah sistem yang ideal karena demokrasi berpotensi menjadikan negara kacau (anarki), karena semua warga negara bebas berkehendak sesuai kepentingannya. Aristoteles menganggap suatu rezim akan menjadi ideal ketika rezim itu merupakan perpaduan antara aristokrasi dan demokrasi, dimana menurut Aristoteles rezim tersebut akan berjalan dengan baik jika benar-benar memadukan (anggota-anggota) dari berbagai kelas menjadi satu komunitas tunggal .
Saya rasa menemukan benang merah disini. Perpaduan antara aristokrasi dan demokrasi, apakah anda familiar dengan hal tersebut? Islam menjawabnya. Saya tidak akan berbicara banyak tentang hukum Islam disini karena itu jauh dari kemampuan saya. Yang pasti saya katakan bahwa hukum yang bersumber dari Tuhan itulah hukum yang paling benar.
Lalu, kenapa demokrasi terus di gulirkan, dan bahkan hampir semua negara di dunia menyakini demokrasi sebagai tolak ukur tak terbantahkan dari hukum politik. Kita lihat, siapa yang menggulirkan pandangan ini? Saya yakin mereka adalah negara non muslim yang menginginkan runtuhnya negara-negar muslim di muka bumi. Ya, cara yang sangat halus. Dengan demokrasi yang menjanjikan kebebasan kepada rakyatnya ini secara tidak langsung melucuti satu demi satu hukum-hukum Islam yang semestinya di tegakan dengan embel embel demi rakyat banyak. Ah, banyak sekali hukum islam yang telah terabaikan bukan? merambah ke bidang lain, kita akan melihat seks bebas yang mengkungkum negara kita ini secara kasat mata. Yang akhirnya menelurkan angka, secara kumulatif, aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta kasus per tahun. Setengah dari jumlah itu dilakukan oleh wanita yang belum menikah, sekitar 10-30% adalah para remaja. Pembunuhan terjadi dimana-mana, dan kita belum juga mau membuka mata.
Hukum Islam telah di mandulkan. Banyak hukum Islam yang di tentang, banyak hukum Islam yang di caci atas dasar demokrasi, kebebasan berpendapat, kebebasan bertindak, hingga urusan HAM pun di gulirkan. Ah, rasa-rasanya semua hal telah menjadi halal. Dan akhirnya kerusakan dimana-mana. Siapa yang senang? Manusia-manusia disana dengan otaknya yang licik. Karena ketika kerusakan itu telah pada puncaknya, mereka akan dengan mudah menguasai dan mengendalikan kita. Akhirnya? Kehancuran Islam di depan mata.

Apakah sekarang kamu akan tetap meneriakan,”Hidup Demokrasi”????..



NB: Saya yakin masih banyak sekali kekurangan, tolong di benarkan jika ada yang salah.
@Kamar kepedihan dengan satu tanya, Apakah aku harus mengancam kedua orang tua untuk menambah jatah bulananku sedang kini saja mereka menjerit tercekik???
#Diolah dari berbagai sumber.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Friday, 23 March 2012

Cerpenku yang di tolak..heheheh "COVER"

Aku pandangi lagi potongan kertas kecil di tanganku. Kemudian beralih ke monitor bertuliskan ang

ka di depan meja costumer . Masih lama. Disana masih tertulis angka 316, sedangkan kertas di tanganku tertera dengan sangat jelas angka 333. Angka yang cantik.
Sekali lagi aku memperbaiki posisi dudukku. Kadang untuk meregangkan otot setelah hampir setengah jam menunggu antrian. Sesekali ku edarkan pandangan kesekeliling. Berharap ada salah satu wajah yang aku kenal dan mengobati sedikit kejenuhan. Tapi nihil. Semuanya nampak asing. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang diam terkantuk-kantuk. Ada yang mengobrol dengan teman sebelahnya. Ada yang bermain HP, dan ada pula yang terus-terusan memandang layar monitor tanpa mengenal lelah. Wow, gigih sekali, atau tak sabaran?
Mesin pemanggil berbunyi lagi. Sedikit kelegaan. Seorang pria gemuk setengah baya maju menghampiri meja costumer. Sepertinya dia seorang pegawai kantoran atau seorang bos malahan. Penampilannya rapi dengan kemeja biru muda yang disetrika halus. Dilehernya tergantung dasi bergaris-garis dengan warna biru tua.
Aku pikir mungkin dia salah satu orang sukses di kota ini. Tapi aku lihat lagi, mukanya nampak kusut. Apalagi setelah ia mendengar penjelasan seorang teller muda di depannya. Ia seperti tengah memastikan sesuatu tapi kepastian itu tidak didapatnya. Berbeda dengan teller yang selalu mengembangkan senyum. Entah untuk menghibur atau karena tuntutan profesi. Tapi sepertinya pria itu tidak terpengaruh.
Penjelasan teller pun sepertinya usai. Pria itu terdiam sejenak. Menunduk, mungkin mengamati tali sepatunya yang terlepas dari simpulnya. Tapi sepertinya lebih dari itu. Pria itu lalu bangkit dan beranjak pergi. Dia tak membalas senyum ramah Pak Satpam.
Mesin pemanggil berbunyi lagi.
Sepasang, yang mungkin suami istri menggantikan posisinya. Pasangan itu sudah lanjut usia. Rambut si suami sudah putih semua. Si istri mengenakan jilbab putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya cerah, senada dengan wajah sang teller muda. Kemungkinan mereka tengah mengurus tabungan masa tua. Entah untuk naik haji ataupun untuk dana pensiun. Tapi nampaknya mereka bahagia.
Aku jadi ingat ayah dan ibu dirumah. Disela-sela obrolan kami sehari-hari kadang Ibu bercerita tentang keinginan hari tuanya. Memang dia bukan seorang manager yang hebat. Dia bahkan tidak mengenal ilmu-ilmu managemen yang diajarkan di perguruan-perguruan tinggi. Dia hanya lulus SD, namun dari kisah hidupnya yang panjang aku tau, dia adalah bendahara yang hebat. Buktinya, dengan bekal ketrampilannya yang terbatas dia mampu memperjuangkan hidup kami dengan sedemikian rupa. Dari sebuah gubuk dari papan dan daun alang-alang menjadi rumah batu bata matang dengan atap genteng dan sudah disemen.
Ia sering bercerita tentang keinginannya. Tidak terlalu muluk. Dia hanya ingin menjalankan semua rukun Islam. Tapi hal ini menjadi permasalahan yang cukup besar bagi kami mengingat kami hanyalah masyarakat pinggiran yang sudah bersyukur jika kebutuhan sehari-hari kami terpenuhi. Tapi hal itu tak pernah menyurutkan niatnya. Dengan mata menerawang dia biasanya berkisah tentang mimpinya ke tanah suci.
Tak lama kemudian sepasang lanjut usia itu meninggalkan meja costumerdan seorang wanita muda menggantikannya. Aku coba menerka.
Dugg..
Pemikiran yang baru saja aku tata tentang wanita itu tiba-tiba buyar. Ada yang menendang kakiku dengan keras. Seorang pria muda berdiri didepanku. Dia menatapku dengan tatapan yang mungkin bisa diartikan marah. Atau memang tatapannya selalu demikian. Entahlah.
Pria itu mengenakan jaket kulit usang yang sudah sobek dibeberapa bagian. Ia juga mengenakan celana jeans yang tak kalah mengenaskan. Dekil dan kumal. Penampilannya tak jauh beda dengan preman-preman yang aku sering temui di pasar. Aku bergidik ngeri.
“Ups, maaf,” ucapku. Semoga dia memaafkan, meski bukan aku yang salah. Dia kan yang menabrakku. Sepertinya kata maafku tak didengarnya. Ia berlalu menuju meja costumer. Wanita muda yang tadi duduk disana entah kemana.
Pria itu masih terbilang cukup muda. Mungkin 27 ataupun 28 tahun. Tapi penampilannya membuatnya sedikit lebih tua. Apalagi di tambah dengan wajah sangar yang ia miliki. Aku yakin dia preman. Atau mungkin tukang pukul sewaan. Ah, bisa saja bodyguard, atau mungkin..., Astagfirullah, kenapa aku jadi berburuk sangka seperti ini?
Pria itu meninggalkan meja costumer. Ia sempat melihatku sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu. Bulu kudukku berdiri.
**
“Ngga mau ah, Bu. Orangnya galak.”
“Ko kamu tahu, Di? Katanya kamu ngga kenal?” ibu menatapku heran. Untuk kesekian kalinya Ibu menawariku untuk berta’aruf dengan seorang ikhwan anak temannya.
Aku paham, di usiaku yang sudah menginjak hampir berkepala tiga, pasti ada kecemasan tersendiri padanya. Belum lagi ditambah gunjingan tetangga yang usil. Apa salahnya sih kalau belum menikah? Tandanya kan belum datang jodohnya. Mereka bilang katanya aku pemilih lah, anu lah, itu lah. Ya memang mencari pasangan hidup harus memilih kan? Ngga asal.
“Lihat aja mukanya, Bu”
“Loh, kamu udah pernah ketemu toh?”
“Belum, dari fotonya.”
“Dinar...Dinar.. kamu ini ya.. mbok ya jangan asal tebak begitu. Belum tentu dia galak meski mukanya seperti itu. Jangan-jangan malah dia itu penyayang.” Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ngga asal tebak ko, Bu. Lihat deh mukanya. Banyak banget guratan di keningnya. Pasti orang ini sukanya marah-marah.” Kilahku.
“Stststs, sudah. Kalau kamu ngga mau ya sudah, tapi jangan jadi zu’udhon gitu dong.” Ibu akhirnya menyerah. Nampaknya dia sangat mangkel dengan ulah putri bungsunya, yaitu aku. Ia meninggalkan aku sendiri.
Huft, pada ngga paham sih.
**
Gloobal warming memang bukan sekedar isu. Harusnya semua orang mengerti akan hal itu. Lihat saja, pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan tapi malah panas menyengat seperti ini. Belum ditambah lagi dengan kemacetan ibu kota. Harus ekstra sabar jika menaiki kendaraan umum, tanpa AC, berdesak-desakan pula. Keringan pasti menyerbu keluar dari pori-pori kulit.
Kali ini pun aku tengah menikmatinya. Berdesak-desakan dengan penumpang lain yang pastinya juga merasakan ketidaknyamanan yang sama. Bau-bau aneh menyeruak, ditambah posisi yang tidak menguntungkan. Tapi aku berusaha sabar. Tinggal beberapa menit lagi aku sampai ditujuan. Tapi macetnya itu loh. Bisa-bisa setengah jam lagi aku menikmati semua ini dan mungkin saja bisa lebih.
Tiba-tiba dari arah belakang ada yang mendesak. Aku menoleh. Ternyata seorang pria muda dengan kemeja yang masih lumayan bagus dengan dasi tergantung dilehernya tengah berusaha memasuki area ‘gerah’. Mungkin dia eksekutif muda yang tengah mengalami hari naas. Mungkin mobilny macet atau bannya pecah. Atau dia bukan eksekutif? Kali saja dia Cuma salles. Sales kan sering berpenampilan rapi. Lagian mana mau seorang eksekutif naik bis kota yang panas seperti ini. Paling tidak ia akan lebih memilih taksi sebagai alternatif.
Kini pria itu berdiri disampingku. Sepertinya dia sudah menemukan posisi nyamannya. Dia tersenyum ketika aku menoleh padanya.
Bus maju perlahan-lahan. Kemacetan sudah berkurang dan bus sudah bisa sedikit berjalan dengan lancar. Alhamdulillah sebentar lagi aku keluar dari penderitaan ini.
“Mbak, awas dompetnya,” seseorang membisikan sesuatu padaku. Aku menoleh. Ternyata pria berpenampilan preman yang kemarin lusa aku lihat di bank. Aku bergidik, lalu ingat dompetku.Apa maksudnya? Dompetkku?
Aku meraba tas slempanganku. Resletingnya terbuka separuh, tapi cukup untuk memasukan tangan kedalamnya. Dompet itu tak ada, dompet itu raib. Aku tercekat.
“Ngga ada..” curhatku pada pria preman tadi. Aku panik.
Ko aku curhat sama dia? Bukankah seharusnya dia yang aku curigai. Tapi tadi kenapa dia memperingatkanku? Apa dia mempermainkanku? Dendamkah dia karena tersandung kakiku kemarin hingga hari ini dia membuntutiku?
Dia menoleh kesekitar, seperti mencari sesuatu. “Tunggu sebentar,” katanya.
Ia lalu menerobos kerumunan. Pria berkemeja putih disampingku sudah tidak ada, bahkan aku tak menyadari kepergiannya. Dia sudah berada di pintu dan sepertinya hendak turun. Anehnya, pria bertampang preman itu menghampirinya.
Mereka berbicara. Si pria preman dengan nada seperti mengancam menyodorkan tangannya meminta sesuatu. Mereka bersitegang. Tak lama kemudian pria berkemeja putih sepertinya mengalah dan menstop bus kemudian turun.
Pria bertampang preman itu kembali.
“Nih. Lain kali hati-hati. Copet sekarang ngga kalah pinter sama koruptor. Penampilannya juga ngga kalah beda dengan pegawai kantoran. Coba di cek. Masih utuh atau ngga,” pria itu menyerahkan dompet berwarna abu-abu milikku.
*END*
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Monday, 12 March 2012

Janeng, yang Hilang di Telan Jaman

Banyak sekali budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia dengan berbagai nilai yang terkandung didalamnya. Misalnya saja budaya gotong royong, yang mana setiap masyarakat saling bekerja sama dalam melakukan sebuah pekerjaan tanpa ada imbalan berupa materi. Semuanya dilakukan sukarela. Tentu hal ini akan semakin mengeratkan silaturahmi antar penduduk. Selain itu, akan terasa sekali rasa kekeluargaan di dalam diri mereka. Susah sama dirasa, senang sama tertawa. Namun, sayangnya sesuai dengan perkembangan teknologi budaya yang banyak mengandung nilai-nilai kebaikan ini pun mulai luntur.

Kini jarang sekali ditemui budaya gotong royong seperti membuat rumah salah satu penduduk, memanen padi bersama, ataupun membangun jalan. Kini semuanya di nilai dengan materi. Apalagi di dalam masyarakat perkotaan. Budaya gotong royong ini sudah hilang dari permukaan karena masing-masing penduduknya tidak perduli satu sama lain.

Budaya-budaya yang lain pun demikian. Banyak kebudayaan-kebudayaan tradisional yang ditinggalkan warganya. Contohnya saja Janeng. Ya, Janeng. Kata ini pasti asing ditelinga kita. Ya, banyak yang tidak mengenal salah satu kesenian musik tradisional ini. Bahkan di kalangan penduduk Kebumen sendiri, musik Janeng seperti barang asing yang sangat asing. Jika ingin mengkaji tentang kesenian ini pun sumber tertulis yang ada sangatlah minim. Apalagi di dunia maya. Jarang sekali ada yang menyinggung kesenian tradisional Islam ini. Padahal budaya ini memiliki nilai-nilai yang sangat baik.

Janeng sendiri adalah kesenian musik daerah yang bernuansa Islami. Musik tradisional yang beralat musik pukul seperti kendang dan rebana ini biasa mendendangkan lagu-lagu puji-pujian yang ditujukan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, dan pada umumnya musik janeng di lantunkan dengan rasa syukur yang teramat.

Karena lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu sholawat kepada Rasulullah, maka lagu ini berbeda dengan lagu-lagu yang sering kita dengar sekarang ini. Lagu-lagu janeng memiliki pesan-pesan yang sangat baik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Selain itu juga mengingatkan kita terhadap Keagungan Sang Pencipta, Allah Azza Wa Jalla. Sehingga lagu-lagu yang dinyanyikan pun tidak sembarangan. Banyak lagu yang diambil dari hadist-hadist shahih. Sehingga tidak heran jika para pemain janeng banyak menghafal hadist-hadist shahih.

Pada awalnya musik janeng digunakan sebagai sarana dakwah oleh para ulama. Kemudian berkembang menjadi musik yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Dahulu, sekitar 1980-an, sebelum dangdut, musik pop, campursari, dan kesenian modern lain populer, musik Janeng sering dimainkan di mana-mana. Musik ini menjadi primadona. Seperti di balai desa, Kantor kecamatan, Pendopo Kabupaten, dan di tempat orang yang mempunyai hajatan.

Setiap ada pertunjukan Janeng, orang-orang berbondong-bondong untuk menonton. Dalam pertunjukan inilah sering terjadi interaksi yang mendekatkan masyarakat. Pertunjukan janeng sering di barengi dengan pembicaraan santai para penontonnya. Baik mengenai sawah mereka, maupun kehidupan rumah tangga mereka. Maka dari itu, terjadilah komunikasi yang baik serta tak lupa tentang esensi kehidupan mereka didunia ini.

Kini, Janeng tidak setenar dahulu. Jasanya jarang sekali di gunakan. Hanya sesekali dalam acara peringatan Maulud Nabi atau peringatan hari-hari Islam lain yang biasa dirayakan masyarakat. Bahkan karena sepinya jop, terkadang grup janeng ini menawarkan diri untuk tampil meski tidak di bayar.

Kebumen sendiri mempunyai banyak klub musik Janeng. Ini menandakan bahwa Kabupaten Kebumen adalah jantung dari Kesenian Janeng. Contohnya adalah klub janeng dari desa Bumirejo, Panggel, Peniron dan Klegenrejo. Tapi sayangnya yang tergabung dalam klub janeng adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Contohnya saja klub janeng yang berada di desa Klegenrejo, Kecamatan Klirong. Grup Janeng yang di motori oleh Pak Roso ini terdiri dari beberapa warga yang rambutnya telah memutih. Bahkan beberapa dari mereka telah hidup sejak penjajahan Jepang.
Mereka mengaku, meski kini jarang sekali mendapat panggilan untuk mengisi acara, mereka tetap sering berlatih. Hal itu semata-mata mereka lakukan karena mereka mencintai kebudayaan ini. Mereka mengaku bahwa kebudayaan ini seperti sarana untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Amat disayangkan memang, sebuah kebudayaan yang memiliki nilai-nilai positif ditinggalkan warganya. Anak-anak muda lebih memilih mempelajari musik-musik modern yang hinggar binggar dan hedonis. Kebudayaan ini pun tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Tidak ada upaya pengenalan kepada masyarakat luas. Padahal nilai-nilai yang terkandung sangat baik. Bahkan kebudayaan-kebudayaan ini lebih banyak ditampilkan di dalam kelas internasional daripada di wilayah domestik sendiri.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sunday, 4 March 2012

Waktu

Berdiskusi dengan waktu,
Menerjemahkan angka-angka khayal yang kelak jadi nyata,
Atau tentang misteri-misteri yang terpendam dari celah-celah harapan yang mengintip dari balik lukisan impian.

Mudah saja, mengelabui sang senja dan menggantinya dengan kelamnya malam.
Siapa yang menyukai malam, dan berkeliaran pada liang-liang gelap yang transparan pada mata-mata setan yang senyap.
Kedinginan itu menggairahkan,
Kengerian itu menertawakan,
Dan sebagian bergumul dengan selimut yang luntur,

Mudah saja,
Menipu ayam hingga ia berkokok ketika tubuh berkutat dengan alam bawah sadar,
Atau membiarkannya bungkam untuk waktu yang sangat lama.

Tapi tak mudah mengelabui waktu,
Ia tetap berjalan menggelicir,
menidas,
Menggilas,
Merampas,
Tak ada diskusi lanjutan,
Harganya sudah mati,
Dan telak,
Aku kalah.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Fairy..


Aku berusaha mengingatnya seperti mengingat potongan puzle yang menghilang entah kemana. Tak ada gambaran sama sekali. Dia telah terhapus tanpa aku tau kapan tepatnya ia terhapus. Tiba-tiba saja sudah tidak ada dalam ingatan. Mungkin seorang penyihir telah mengambilnya dariku saat aku bertaruh sesuatu. Benarkah aku telah bertaruh? Tentu saja itu hanya lelucon.
Tapi dia bersikeras. Dia pernah ada dihidupku. Entah dibagian yang mana. Sisi yang menyakitkan atau menyedihkan. Jelas bukan pada tempat yang menyenangkan karena tak ada bagian itu di hidupku. Jadi mudah saja seharusnya untuk mencari memori yang telah terpilih sedemikian rapi. Tapi tidak juga. Namanya sama sekali tidak muncul setelah proses searcing selesai. There are no result to display.
Jadi ku coba acuhkan saja dia. Mungkin saja dia yang salah. Tapi benarkah ia salah sedangkan ia telah menyebut namaku dengan lengkap, bahkan menceritakan kembali sejarah kehidupanku seperti ia membaca sejarah-sejarah pahlawan yang diajarkan di bangku sekolah.
Tak ada tempat mengelak. Mungkin ia benar, ia pernah ada dalam bagian hidupku dan mungkin ingatan tentangnya telah diambil oleh penyihir meski aku tak melakukan taruhan. Aku mengalah dan membiarkannya menariku menuju sudut mal.
Seorang waitres bermake up tebal menyambut kami dan menyerahkan daftar pesanan. Namun ia sama sekali menyentuh daftar pesanan itu, ia menyebutkan beberapa menu makanan yang sepertinya telah dihafal diluar kepala, dan anehnya salah satu menu yang ia sebut adalah makanan kesukaanku. Waitres meninnggalkan kami dan ia tersenyum sangat lebar menyaksikan wajahku yang nampak bodoh atas apa yang ia lakukan. Nampaknya dia benar-benar mengenalku.
“Kau nampak masih sangsi? Apa kau pernah menderita penyakit amnesia? Atau bahkan azhaimer?” ia menggodaku.
Aku menggeleng. Mengelak dari tatapannya yang tajam. Oh, Tuhan. Ada apa dengan ingatanku? Benarkah aku mengidap kedua penyakit itu?
“Bagaimana kehidupanmu sekarang? Nampaknya lebih baik dari dulu. Lihat dirimu. Kini kamu sudah bisa berdandan, dan lihatlah, baju yang kau kenakan. Bukankah itu rancangan desainer ternama?”
Aku melihat diriku sendiri, dan mengangguk pelan. Aku memang telah banyak berubah. Sejak kapan? Entah, tanpa aku sadari aku telah berubah sedemikian rupa. Seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Andai saja kalian lihat penampilanku waktu SMA, kalian tidak akan percaya.
“lalu bagaimana dengan dirimu?” tentu aku tak bisa menilai bagaimana alur hidupnya. Masa lalunya tak terkenang. Apakah aku sudah menjadi seseorang yang kejam?
“Yah begitulah.” Katanya seperti putus asa, namun dengan nada yang riang tanpa dibuat-buat. Aku sekali lagi tak bisa menerka bagaimana alur hidupnya.
“Apa kau sudah menikah? Bagaimana dengan Amir, kekasihmu itu? Apa kalian jadi menikah? Kupikir kalian cocok, Amir yang keras dan kamu yang lembut. Bukankah perpaduan yang sangat pas?”
“Tidak. Kami tak jadi menikah. Dia bersama wanita lain dan kini aku tak tau kabarnya.”
Ia menatapku prihatin. Memang menyakitkan, tapi itulah bagian hidupku, dan aku tersenyum seperti tak terjadi apa-apa. “Kami bukan jodoh,” ucapku.
“Yiah, kuharap kamu mendapatkan pria yang lebih baik. oya, kau tau apa yang membuatku sangat senang ketika melihatmu?”
Aku menggeleng.
“Lihatlah, semodis apapun dirimu, kau tetap mengenakan jilbab. Bukankah luar biasa. Kau tau banyak teman-teman kita yang sudah melepaskannya. Katanya untuk menunjang karier mereka. Mungkin benar, karena hingga saat ini aku tak mendapatkan posisi seperti mereka. Tapi kau mematahkan teori mereka. Kini kau sukses, meski dengan selembar kain di kepalamu. Aku salut.”
Aku kembali memutar otakku. Apakah mungkin dia teman satu sekolahku dulu. Setelah lulus SD, ayah memaksaku untuk memasuki sekolah Tsanawiyah. Tanpa bisa ditawar dan dengan setengah hati aku menuruti.
Siapa yang berani mengelak dari perintah ayah. Dia kepala keluarga yang diktaktor. Kediktaktorannya pula yang meyebabkan ia cepat berpulang. Darahnya naik, ia sempat strok selama setahun, namun ia tak bertahan lama.. Bukannya ibu lelah mengurusi, namun ayahlah yang menantang mautnya sendiri. Ia terkena serangan jantung saat memaki ibu yang seharian mencari nafkah setelah ia hanya menjadi manusia setengah. Saat itu aku menginjak kelas 3. Tapi wanita dihadapanku tak ada disana.
“Apa kau mendengar tentang si Wanti? Kudengar ia juga melepas jilbabnya. Tak lama setelah ia lulus SMA. Ia tek melanjutkan kuliah. Ia bekerja di sebuah Mall ternama di kota. Dia ditempatkan di toko kosmetik. Terakhir kudengar ia menikah dengan seorang duda kaya beranak tiga yang masih kecil-kecil.”
Yia, aku ingat Wanti. Gadis lincah yang ramah. Kami tidak berteman akrab, namun aku sedikit tau tentangnya. Kami pernah satu tahun sekelas. Cukup bagiku untuk menyimpan gambaran wajahnya dimemoriku. Seperti apa wajahnya sekarang setelah menginjak usia hampir tiga puluhan? Apakah ia tetap lincah. Atau ia telah direpotkan dengan anak-anak barunya?
“Oya, dulu kita punya teman bernama Sela kan? Masihkah kau ingat? Si gadis tisu itu? Yiah, dia pun sudah melepas jilbabnya. Kudengar ia bekerja diperusahaan jasa akuntansi. Kliennya orang-orang ternama. Kau tau, akhirnya ia pun jadi ibu orang ternama. Kliennya menjadikannya istri muda. Sekarang ia ongkang-ongkang kaki dirumah mewahnya.”
Tentu aku ingat Sela. Dia teman satu bangku denganku. Meski cuma sebulan karena aku tak tahan dengannya yang terus berkeringat karena tak terbiasa mengenakan jilbab. Atau ia yang tak tahan denganku yang sering meminta tisu kesayangannya untuk mengelap ingus saat aku flu. Tisu adalah barang kesayangannya yang sangat berharga. Sepertinya yang benar adalah opsi kedua. Aku didepak dari sisinya, dan ia memilih duduk dengan Fara yang tak pernah flu.
Pesanan datang saat ia akan kembali bercerita. Mulutnya kembali menyunggingkan senyum pada waitres yang segera meninggalkan meja kami.
“Hums, sedari tadi aku yang bercerita. Sekarang katakan apa yang kau tentang teman-teman kita? Ah, atau kau terlalu sibuk hingga tak lagi bisa menyimak kabar mereka? Tenang, aku makhlum. Bahkan aku kagum padamu. Semenjak ayahmu meninggal kau membantu ibumu berjualan di pasar. Selepas lulus dari madrasah, kamu hanya melanjutkan sekolah di kota kita. Supaya kau cepat pulang kan? Dan membantu ibumu? Hai, betapa tak adilnya diriku menceritakan kisahmu sedangkan engkau ada disini. Maaf, kau bisa melanjutkannya sekarang.” Ia mulai memakan pesanannya dan memandangku penuh penantian.
Aku berdehem. Meski hingga saat ini ia tetap tak ku temukan dalam memori otakku, aku tak bis a mengecewakannya yang nampak begitu antusias. Aku mulai bercerita, dan aku larut didalamnya.
Tiga hari lalu ayah meninggal. Harta ibu sudah habis untuk mengobati penyakit ayah. Hanya tersisa sepetak rumah tua tempat kami bernaung dari terik matahari dan dingin air hujan. Terpakasa, kami, aku, ibuku, dan kakak perempuanku mati-matian berusaha menyambung kehidupan kami. Tak ada yang bisa diharapkan sebenarnya. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga ketika ayah masih hidup. Dulu itu tak masalah. Gaji ayah yang bekerja sebagai karyawan disebuah bank swasta membuat hidup kami kecukupan, namun semenjak ayah sakit, tak ada pemasukan. Terpaksa ibu yang hanya tamatan SMP bekerja. Bukan pekerjaan wanita karier tentunya.
Ia berjualan sayuran dipasar. Lumayan, bisa menyambung hidup kami. Namun lama-lama persaiangan dipasar semakin ketat. Apalagi setelah ayah meninggal. Ibu yang syok jadi sering sakit-sakitan. Terpaksalah aku dan kakak perempuanku berganti-gantian berjualan di pasar.
Setelah kakakku menamatkan SMAnya, ialah yang sering menggantikan ibu. Ternyata Kakakku punya bakat berdagang. Penjualannya melebar. Pesaingnya bisa ia takhlukan. Bahkan ia mampu melebarkan sayap. Ia tak hanya menjadi penjual sayuran. Kini ia punya toko kelontong yang memiliki kios sendiri. Bahkan kami berniat membangun rumah dilantai dua. Namun niat itu terpaksa diurungkan. Sakit ibu makin menjadi, dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Apa yang kurasakan itu jauh berbeda dengan apa yang kurasakan ketika ayah yang meninggal. Bukannya aku membenci ayah, atau eku memang membenci ayah? Jika bukan karena semenjak kematian ayah kehidupan perekonomian kami memburuk, tentu aku akan mensyukuri kematian ayah.
Ayah bukan sosok yang baik. Sejak kecil aku sering dipukuli. Tidak dengan tangan, namun dengan benda apa saja yang bisa digunakan untuk memukul. Bahkan pernah ia menggunakan gagang payung yang terbuat dari besi untuk memukulku yang masih berusia 9 tahun. aku kedapatan berkelahi dengan teman bermainku. Katanya kelakuanku memalukan. Aku seorang perempuan, seharusnya aku dapat bersikap manis. Bukan malah berkelahi layaknya preman-preman pasar. Tubuhku merah-merah. Bahkan aku demam selam seminggu. Bukannya meminta maaf, tapi ia tetap menyalahkanku. Katanya aku terlalu lemah.
Tentu saja kekejamannya tak hanya ia lampiaskan padaku. Kakak dan Ibu juga sering mendapat perlakuan yang sama, dan tentu ibu yang paling sering. Karena setiap kesalahan selalu dilimpahkan padanya. Setelah selesai memukuli kami, ia pun akan memukul ibu, menganngap semua kesalahan adalah kesalahan ibu yang tak mampu mendidik kami, dan kami hanya bisa menangis bersama-sama.
Namun kepergian ibu, seperti mengambil separuh jiwaku. Wanita lemah itu lah yang sering melindungiku dari kemarahan ayah. Dialah yang dengan sabar merawat luka-luka memar ditubuhku sembari membisikan kata-kata manis agar aku terhibur. Namun apa mau dikata. Tak ada yang mampu melawan maut. Aku mencoba mengikhlaskan meskipun separuh jiwaku turut serta dalam liang lahat yang menyimpan jasadnya. Kala itu aku duduk di bangku kels dua SMA.
Kehidupan berlanjut. Kakak kembali berdagang, dan tokonya terus berkembang hingga ia menjadi gadis yang sangat sibuk. Ia sering pulang larut malam karena pembeli tak kunjung berhenti ketika waktunya menutup toko. Namun ia menolak ketika kuutarakan ideku agar kami membangun sebuah rumah diatas tokonya. Ia mengatakan ia tak ingin meninggalkan rumah ibu. Akhirnya aku menurut dan sesuatu terjadi diluar dugaan. Suatu malam beberapa preman mencegat motornya. Entah apa yang terjadi, namun sejak saat itu aku hidup sebatang kara. Anehnya aku tak menagis setelah kejadian itu. Bahkan ketika Amir, pria yang kusebut pacar sejak aku duduk di kelas 2 Madrasah itu berkianat, aku membiarkannya tanpa air mata.
“Maaf, aku tak tau semua itu. Semenjak lulus aku tak pernah mendengar berita tentangmu. Aku pikir kau marah padaku saat itu, dan aku tak berani menampakan diri dalam kehidupanmu,” katanya dengan nada penuh penyesalan.
Aku menggeleng. Entah untuk apa. Mungkin untuk menegaskan aku tak apa-apa, atau menegaskan bahwa aku tidak marah. Memang untuk apa aku marah?
“Maaf, memangnya apa yang terjadi dengan kita dulu?”
Dia berhenti mengunyah makanannya. “Kau masih belum ingat Ra?”
Aku menggeleng tanpa dosa.
Dia mengangguk angguk seperti mengerti akan sebuah fakta. “Tak apa, aku paham.” Nampaknya ia sangat sedih. Apakah aku nampak begitu jahat?
“Maaf, bukan maksudku untuk melupakanmu, namun bersediakah kau ceritakan kisah itu padaku?” pintaku penuh harap. Sepertinya aku memang berhak untuk mengetahuinya. Bukankah itu memoriku yang hilang dan aku berhak mendapatkannya kembali. Namun pertanyaan lain muncul. Benarkah jika ia menceritakannya aku dapat mengingat sisi memori itu? Atau itu hanya akan menjadi cerita biasa saja?
“Tentu,” jawabnya. Matanya berbinar penuh bahagia. Aku jadi lega melihatnya. “Tapi nanti. Boleh kan? Sekarang aku ingin mengajakmu mengunjungi sebuah tempat.”
Aku sedikit kecewa namun aku tak bisa memaksanya. Aku hanya mengangguk. Ia memanggil waitres, membayar makanan, dan mengajakku kesebuah tempat yang ia janjikan.
Tak disangka, ia membawaku kearena permainan di mall itu. Tempatnya cukup luas dan permainannya pun lengkap. Ia menukarkan banyak koin dan dengan matanya yang tajam ia menatapku. Ia menantangku. Aku juga membeli banyak koin. Lama sekali aku tak bermain.
Tubuhku seperti mengecil menjadi bocah berusia belasan. Lincah tak terkira. Kami beralih dari permainan satu ke permainan yang lain. Menyenangkan, dan aku tertawa ketika berhasil mengalahkannya.
Koin kami habis sekejap saja. Aku ingin membeli koin lagi, namun ia mencegahku. “Cukup senang-senangnya kawan.” Ia tersenyum manis sekali. Aku mengangguk. Ia berjalan meninggalkan arena permainan, dan aku mengikutinya.
“Nampaknya engkau sangat gembira?”
“Yiah, kau benar. Sudah lama aku tak segembira ini. Kau lihat tadi, bolaku selalu masuk, dan hampir disetiap permainan kau selalu kalah. Oya, apa kau lihat bapak-bapak yang tengah menemani anaknya, nampaknya ia terpana pada kita sampai-sampai anaknya dikira bola.Hahaha..” aku tertawa lebar. Yiah, ada kelegaan yang aku rasakan.
Ia ikut tersenyum. Kami hanya berjalan-jalan saja di mall.
“Apa kau ingin mendengar cerita itu, Ra?” ia menghentikan langkah kakinya. Yia, aku kembali teringat tentang pembicaraan kami ditempat makan tadi. Aku mengangguk antusias.
Ia memulai berkisah.
“Hari-hari berlalu sangat lambat di tahun pertamaku di sekolah tsanawiah. Aku tak punya kawan. Hanya segelintir orang yang mengenalku. Bahkan guru pun tak mampu mengenal namaku. Tahun kedua, aku sekelas denganmu. Awalnya ku pikir akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, namun ternyata tidak. Kau gadis yang lembut Ra. Kau membantuku ketika mereka mengejekku, dan pertemanan itu pun dimulai. Kau yang pintar, bintang kelas, cantik, ramah pada semua orang, siapa yang tak mengenalmu, dan aku sangat beruntung telah menjadi temanmu. Kita sering bersama, mengerjakan pr bersama, bermain bersama, bahkan kita sering merencanakan untuk bolos bersama. Kau juga sering berkunjung kerumahku, dan kau bilang kau ingin selamanya dirumahku. Kau tak ingin pulang. Kau bialng ayah ibuku baik, kau bilang sangat bhagia berada ditengah-tengah kami dan kau slalu melarangku mengunjungi rumahmu yang kau katakan sebagai neraka kedua. Tentu aku tahu sebabnya.” Ia menghela nafas.
“Kau ingat, Kita sering tertawa bersama-sama ketika membicarakan surat-surat cinta yang kita temukan dilacimu. Betapa lucunya mereka. Namun mukamu menjadi merah ketika kita membicarakan Amir. Ketua kels kita. Ia tak pernah mengrimimu surat, tapi ialah yang paling menarik minatmu. Cinta monyet yang manis bukan?”
Aku kembali mengenang kisah-kisah itu. Aneh. Memori itu menyeruak tiba-tiba. Yia, aku ingat saat aku tertawa terbahak-bahak bersama seorang bocah seumuranku. Apakah gadis kecil itu dia? Kemana saja memori itu selama ini?
“Apa kau sudah kembali ingat?”
Aku mengangguk. Anehnya memori itupun berbuntut panjang. Ia tak lagi bercerita, namun aku bisa merangkainya sendiri. Masa-masa yang indah. Kemana saja memori itu? Namun tiba-tiba memori itu berhenti pada sebuah titik. Aku melihat diriku sendiri yang menjadi titik itu. Aku memalingkan muka pada bocah kecil itu pada saat acara perpisahan. Bukannya aku marah, namun aku bahagia, karena ternyata bocah itu pergi dari hidupku. Kenapa aku bahagia dengan kepergiannya? Bukankah seharusnya aku sedih?
“Kau senang dengan kepergianku kan?”
“Yia, tapi aku tak mengerti.”
“Kau bilang aku merebut Amir darimu. Tentu itu tak benar. Namun kau terlanjur membenciku, dan dengan kepergianku ke Jakarta setelah lulus dari sekolah tsanawiah tentu sangat menggembirakanmu.”
“Benarkah? Apakah aku sekejam itu?” aku menatapnya tak percaya. Jika demikian, aku dapat mengambil kesimpulan. Aku sudah melakukan kesalahan. Karena akhirnya aku tau, Amir lah yang jahat.
“Tapi sudahlah. Bukankah itu masa lalu?” ia tersenyum manis sekali. Aku menganguk dan memeluknya. Aku merasa bahagia.
“Klara, ingatlah, hidupmu tak selamanya menyedihkan. Banyak sekali kisah-kisahmu yang penuh tawa. Jangang menghujat nasib karena ia tak adil. Ia sangat adil Klara. Paling tidak padamu. Sebenarnya banyak kebahagiaan yang ada di sekitarmu, namun kau tak menyadaarinya karena kamu ter lalu sibuk memikirkan betapa menyedihkannya hidupmu.”
Aku tersenyum. Benar katanya. Tak semestinya aku mengutuki hidup. Tuhan sudah sangat bermurah hati padaku dengan memberiku kehidupan seperti ini. Harusnya aku bersyukur.
“Ayo pulang, dan katakan pada dunia bahwa kau bahagia.” Ia menggandengku keluar mall. Kami tertawa sepanjang perjalanan pulang.

Pagi-pagi sekali aku mengambil teleponku. Aku ingin menelpon Safa. Aku rindu padanya meski baru kemarin kami bertemu.
“Halo, Assalamu’alaikum. Safanya ada?”
“Yia, maaf ini siapa yia?” kudengar suara di ujung sana bergetar.
“Ini Klara. Maaf apa Safanya ada?”
“Klara? Lama sekali tak menedengar kabarmu nak. Ini tante.” Jawab seseorang diseberang sana.
“Tante, bagaimana kabar Tante? Maaf tante, Klara tak pernah berkunjung lagi. Katanya tante sekeluarga pindah, dan Klara ngga tau kemana tante pindah. Namun kemarin Klara bertemu Safa Tan, kami ngobrol banyak. Tapi kayanya belum puas Tan. Jadi Klara pengen ngajak Safa jalan-jalan lagi. Safanya ada Tan?”
Sepi. Tak ada jawaban diseberang sana.
“Tante?”
“Klara, maaf yia kalo Safa pernah ada salah sama kamu.” Suara diseberang sana mulai terisak.
“Loh, emang kenapa Tan?” tanyaku bingung.
“Safa sudah meninggal dua minggu yang lalu karena penyakit kangker yang ia derita sejak kecil Ra.”
@@@@@
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 1 March 2012

Penaku, Dakwahku

Dakwah dan tulisan. Jika kedua kata ini diucapkan secara biasa maka tidak akan memiliki hubungan apa-apa. Namun apabila ditelusuri lebih lanjut, ternyata tulisan merupakan salah satu bentuk dakwah yang efektif karena Rasulullah pun pernah memncontohkannya.
Dakwah, atau yang dalam arti bahasa yaitu da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan menuju kebaikan bukanlah menjadi barang asing lagi bagi kita. Sering sekali kita mendengar istilah ini, baik pada media cetak, media elektronik ataupun secara langsung diucapakan. Namun, banyak dari kita yang belum mengerti hakekat dari dakwah ini. Sebagian masyarakat bahkan telah terdoktrin bahwa dakwah itu identik dengan hal-hal yang menurut masyarakat awam adalah hal yang ekstrim. Misalnya saja dakwah yang dilakukan dengan melakukan pengajian yang sebagian besar didatangi oleh muslim-muslim dengan pakaian takwa yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Adapula yang menyangka bahwa kegiatan dakwah hanya untuk kalangan-kalangan tertentu saja. Bahkan kini problematika dakwah di kalangan masyarakat lebih luas dari itu semua, apalagi dengan berbagai berita yang menampilkan si

si lain dari dakwah. Sehingga masyarakat enggan untuk berdekat-dekatan dengan kata dakwah.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa hukum dakwah adalah fardhu kifayah yang artinya apabila di suatu tempat sudah ada yang melaksanakan dakwah, maka gugurlah kewajiban penduduk yang lain, namun apabila di tempat tersebut tidak ada yang melaksanakan dakwah, maka berdosalah seluruh penghuni tempat tersebut. Jadi, pada dasarnya setiap muslim wajib melakukan dakwah, terutama dakwah islamiyah, karena merupakan tugas ‘ubudiyah dan bukti keikhlasan kepada Allah SWT.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melaksanakan dakwah. Rasulullah sendiri telah mencontohkan kepada para sahabat berbagai cara berdakwah. Diantaranya melalui lisan, tulisan, dan perbuatan. Dengan lisan contohnya ketika Rasulullah mengisi khotbah Jum’at. Rasulullah adalah suri tauladan yang sangat baik. Dia tidak akan berhenti mengulangi apa yang ia sampaikan apabila jamaahnya belum mengerti apa yang ia maksudkan. Rasulullah juga manusia yang sangat sabar. Meski olok-olok, cacian, makian dan berbagai perbuatan yang tidak menyenangkan ia terima, ia tak pernah putus asa untuk menyerukan kalimat tauhid. Bahkan ia tak segan-segan berbuat baik kepada mereka yang telah mencacinya. Rasulullah juga mengirimkan berbagai surat kepada raja-raja yang berkuasa saat itu.
Namun, yang menjadi permasalahan dakwah saat ini adalah semakin tingginya tingkat perkembangan teknologi yang tidak dibarengi dengan tingginya pelaksanaan dakwah itu sendiri. Dengan semakin tingginya tingkat teknologi maka akan semakin mempermudah munculnya kerawanan-kerawanan moral. Contohnya saja, di era teknologi ini, semakin mudah seseorang mengakses situs-situs porno. Bahkan anak-anak dibawah umur dapat dengan mudah membuka situs-situs terlarang ini.
Dengan permasalahan yang komplek di masyarakat kita, dan dengan adanya permasalahan baru yang ditimbulkan oleh teknologi, maka perlu dikembangkan media dakwah yang dapat meresap di kalangan masyarakat. Salah satunya adalah dengan tulisan. Apalagi kini pemerintah tengah gencarnya mensosialisasikan gemar membaca.
Dengan media tulisan ini, yang dapat berupa artikel-artikel, esay, cerita-cerita fiksi, dan sajak atau puisi yang mengandung pesan moral dan islami, dapat masuk kedalam berbagai kalangan masyarakat tanpa mengenal usia, gender, suku ataupun ras. Karena dengan media tulisan ini, dakwah dapat disesuaikan dengan keadaan masyarakat. Contohnya, masyarakat muda lebih senang membaca cerita-cerita fiksi, maka perlu dibuat cerita fiksi islami yang tak kalah menarik dari cerita fiksi buatan para kaum musrikin.
Tulisan-tulisan ini pun haruslah disesuaikan dengan kondisi teknologi yang ada. Tidak hanya di cetak sebagai buku, tetapi juga dapat dikembangkan dengan media internet. Sehingga nantinya diharapkan, meskipun sedikit demi sedikit pesan-pesan moral dapat tersampaikan dan dengan sukarela di amalkan oleh masyarakat.
Tulisan tak hanya sekedar untuk mengikat ilmu saja, namun dengan tulisan, kita juga bisa berdakwah. Oleh karena itu, teruslah menulis, dan kembangkan sayap dakwah islamiyah.

(Muji_)
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Zaman Aneh

"Lah, ini kan memang yang lagi in sekarang ini, Mbak. Yang mbak cari si Model lawas. Udah ngga pasaran."
Ku tatap model baju yang di tunjukan ibu-ibu separuh baya itu. Bener sih, model baju ini yang sering aku lihat di pakai temen-temen. naluriku sebagai wanita pun mengakui baju ini lumayan bagus. Bukan saja dari modelnya, tapi untuk keluwesannya sebagai perempuan. Tapi yah, baju seperti itu bukan model saya. Sebagus apapun saya tidak akan suka. Apalagi ditambah 1 nilai minus. Bahannya yang tipis. Saya pun berlalu, sekali lagi meninggalkan ibu-ibu penjual pakaian yang mungkin akan menggeleng heran. "Cantik-cantik tapi kuper," mungkin begitu pukirnya. (hahaha, ngarep..)
Lelah rasanya tubuh berkeliling Mall (jelas bukan di Kebumen :D), tapi mengingat stok bajuku sudah sangat memprihatinkan, tiap hari kuliah bajunya itu-itu saja, rasanya bosen juga, mau gimana lagi. Mau beli yang mahalan ,yang bahannya lebih tebel, tapi duit pas-pasan. Susahnya jadi anak kos. Akhirnya aku hanya melenggang pergi, berjanji pada hati untuk kembali jika tabungan sudah mencukupi. (halah, lebai ji... :D)

Sebenarnya bisa saja aku membeli baju itu, tapi jelas itu bukan styleku. Aku yang mungkin dianggap kuper, dianggap ga gahul, mana bisa pake baju seperti itu. Jelas aku trak akan bisa melangkah dengan percaya diri. Begitu juga dengan hal-hal lain yang bukan aku banggettt. Bukannya sok alim sih(tapi daripada di bilang sok kafir, hehehe), tapi kurang syar'i gimana gitu. Aku juga ngga mau sekadar ikut-ikutan mode, meskipun nantinya kan di bilang kuper, ngga gaul atau sebagainya. itu memang aku.

Emang apa sih yang mau di bahas. prolognya panjang banget?
Oke, langsung saja, yang hendak aku bahas disini adalah tentang Dehumanisme.
Apa hubungannya dengan cerita saya tadi?
Yuk simak bareng...

Dehumanisasi dapat ditafsirkan sebagai akibat kemerosotan tata-nilai. Mereka yang menjadi korban dehumanisasi kehilangan kepekaan kepada nilai-nilai luhur, seperti kebenaran, kebaikan, keindahan(estetik) dan kesucian. Mereka hanya peka dan menghargai nilai-nilai dasar, seperti materi (pemilikan kekayaan), hedonisme (kenikmatan jasmani) dan gengsi (prestise). Tiga nilai inilah, yaitu materialisme-hedonisme-prestise, yang menjadi dasar dari tata-nilai bagian besar dari masyarakat kita dewasa ini. Dan karena tidak disantun oleh nilai-nilai yang lebih tinggi, khususnya nilai kebaikan (etik, moral) dan kesucian (agama), di dalam mendapatkan nilai-nilai dasar itu mereka menghalalkan segala cara. Korupsi, kolusi dan nepotisme serta (bahkan) kekerasan adalah cara yang sah; maksiat, kecabulan dan pemadatan adalah perilaku yang wajar; gengsi, sebagai kebalikan dari harga-diri (sense of honour), menampakkan dirinya dalam sifat tak bermalu dan bahkan cenderung membanggakan hasil kejahatan. Semua itu adalah gaya hidup yang sesuai bagi masyarakat dengan tata-nilai rendah sebagai akibat proses dehumanisasi itu.
(http://kangendru.wordpress.com/2008/05/14/dehumanisasi-dan-perkembangannya/

dan tahukah teman-teman, wabah dehumanisme kini sudah menyerang kita. Dari yang tingkat kecil saja. Misalnya mencontek untuk mendapatkan nilai yang bagus. Apalah arti nilai jika dibandingkan dengan panasnya api neraka? Saya sendiri masih kesusahan untuk meredam kebiasaan buruk ini. Tapi buak berarti tak ada jalan. mulai saat ini, mari kita berusaha. lalu contoh lain, sejalan dengan prolog yang saya sampaikan. baju yang di tawarkan penjual baju itu memang tampak bagus. Tapi apakah sudah sesuai dengan ketentuan agama? Agama (Islam) mensyariatkan kita (perempuan) menutup seluruh aurat kita. Termasuk juga lengan kita, karena lengan sampai telapak tangan seorang perempuan adalah aurat yang harus di jaga.
Sering kita saksikan, banyak pula saudara-saudara sesama muslim kita yang memakai pakaian hanya karena mengikuti mode. Misalnya saja mengenai jilbab.
Ingatkah kamu dengan kandungan (QS. Al-Ahzab 33: 59)


Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dan Ingatkah tentang hadist ini?
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
na'udzubilah..
Itulah yang digambarkan Rasulullah beribu tahun yang lalu, dan kini kita menyaksikannnya di depan kita. Memakai pakaian namun telanjang. Baju-baju yang irit bahan. (Emang sih, kain mahal, tapi ngga begitu juga kali.), Kain-kain yang tipis dan transparant.
Dan satu lagi, yang tengah marak saat ini,".. kepala mereka seperti punuk unta yang miring..". lihat model memakai jilbab yang baru? kepala mereka seperti punuk unta. rambut dibentuk meninggi, bahkan jika yang rambutnya pendek, ada penutup kepala yang membantu membentuk rambut mereka.
Ah, yang penting kan udah pake jilbab, daripada ngga pake. Iya kan?
Iya sih, kalo di bandingkan dengan yang ngga pake jilbab, tapi kan ada baiknya kalo kita perbaiki. Kembalilah ke syariat, jangan hanya mengikuti mode, ataupun yang tengah nger\tren saat ini. karena bisa saja kita akan terus terhanyut, dan ketika nantio mode telah berganti menjadi mode-mode yang tanpa jilbab, dengan pakaian yang menggumbar aurat, kita tanpa sadar akan ikut-ikutan.
na'uzdubillah..


"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."QS 16:97.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Latihan Aja Gan...

Siang yang panas...

Namanya mahasiswa yang ngga ada kerjaan ya gini. Luntang-lantung ngga tu tujuan. Biasanya sih sibuk ngurus sana ngurus sini, bolak sana balik sini ngurusin seminar dan seperangkatnya. Ataupun tugas dan seteman-temannya. Bukannya lagi bebas tugas, tapi memang ingin meluntang lantungkan diri, jadi ketika ada seseorang yang tiba-tiba berkata "Perpus Pusat yu," insting luntang lantungku langsung muncul. Padahal udara lagi panas-panasnya dan matahari lagi semangat-semangatnya menghanguskan bumi, biar sekalian hangus. Meringankan kerjaan manusia kan? Baik sekali kau matahari.
Jadilah beberapa anak yang punya tujuan masing-masing berjalan beriringan menikmati panasnya matahari, meski akhirnya akan diketahui kulit kami akan bertambah eksotis, dan sangat dramatis, tapi langkah tetap asik. Giman ngga asik coba, diperjalanan yang lumayan memakan waktu itu (+/- 5 menit) kami masih sering bersendau gurau, bahkan membicarakan asyikan mana antara hujan dan panas. Sayangnya tak ada kesimpulan untuk kasus ini.
tak perlu panjang lebar. Kami sampai di perpustakaan. Ambil kartu biar ngga di tegur, atau meski sudah di tegur tetap saja jari nylonong ngetik keyboard. Kelamaan ambil kartu yang entah nyelip dimana, atau bahkan ketinggalan di kamar kos, tergeletak, terbengkalai di bawah meja. Siapa tau.. lantai 2 menjadi tujuan pasti.
Aku yang memang lagi niat meluntang lantungkan diri, sedikit kebingungan dengan apa yang akan aku lakukan. Ya sudah, aku jelajahi saja rak-rak buku. Berharap petugas perpus sudah membeli buku baru yang relefan dengan kebutuhanku dan kemampuanku.
Nafasku berhembus perlahan, tak ada yang baru..

ah, cuma itu yang ingi aku tulis. Sebenarnya tadi ada lagi yang ingi aku sampaikan, tapi ya lupa.. haha
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com