Monday, 23 April 2012

Dari Kotak Sampah Masa Lalu


"Belagu kamu. Kerja mash lelet kaya keong aja udah berani ga masuk. Knapa kamu ga
masuk??" tanyanya, lebih tepatnya bentaknya, tiba-tiba di hadapanku.
Dengan tenang aku jawab,"Sakit, Pak!"
"Sakit?? Sakit apa kamu??"
Masih dengan tenang aku jawab,"Demam,pak."
"Demam panggung? Hebat kamu. Demam sehari sudah sembuh. Kurang lama kamu liburnya??" tanyanya, ah tidak, tepatny, bentaknya lagi. Sekarang semua mata sepertinya tertuju padaku.
"Sudah dari Sabtu, Pak." Aku mulai gemetar.
Huuh, knapa pula harus gemetar. Dia ini! Tapi tanganku tetap saja gmetar, meski sbenarnya perasaanku biasa saja. Bukankah dia sudah sering seperti ini? Hanya risih berhadapan dengan manusia seperti dia.
"Mau mati kamu?? Kalo kamu udah ga bisa jalan, baru ga masuk. Demam saja ko absen!!" bentaknya lagi yang membuat emosiku memuncak.
“Eh, kamu siapa? Aku disini bukan budak yang bisa diperlakukan begitu saja. Aku bukan robot yang bisa kamu kendalikan sesuka hatimu tanpa merasa lelah.” Tapi sayangnya kata-kata itu hanya bisa tersendat di tenggrokanku. Aku tau saat ini posisiku dimana. Aku hanya seorang buruh rendahan, dan dia seorang manager yang memiliki kekuasaan. Bisa saja ia mengadukanku pada atasannya, dan bukan mustahil jika aku kehilangan pekerjaan ini. Aku hanya bisa diam. Kembali menekuri pekerjaanku, meski bening kristal sepertinya hendak menetes dan kaki yang lemas karena lelahnya berdiri.
Ah, cerita lama, sepotong episode yang telah terlanjur terukir dalam hidupku yang panjang (sudah dua puluh tahun loh..:D). Sungguh saat-saat yang paling pahit dalam kehidupanku. Tapi ini bukan lagi cerita duka, kini cerita itu adalah cerita faforitku ketika aku tengah terpekur pada keputus asaan. Itu hanya sepenggal kisah laluku ketika sebuah harapan tak mampu menjadi kenyataan begitu saja.
Hems, mungkin sebagian besar dari kalian mengalami kehidupan yang cukup mulus, bahkan mungkin semulus jalan tol. Jikapun ada batu sandungan, batu itu bisa tersingkirkan dengan mudah. Tapi bagi sebagian orang lain, batu itu tak hanya sebagai batu sandungan, namun karang penghalang yang sangat kuat dan tak sedikit yang berbalik dan pergi. Ya, mereka memilih memutar arah dan menyerah. Tapi aku tidak ingin menjadi bagian orang kebanyakan itu. Aku tidak ingin menyerah ditengah keterbatasan, ditengah halangan, dan mungkin rintangan. Jalan Allah akan selalu ada.
Ya, kisah itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu ( baru dua tahun sih). Ketika itu, suatu malam yang gelap, dingin dan bintang yang malu-malu mengintip dari tebalnya malam. Tapi sayangnya aku tak bisa menikmati mereka. Aku terpaksa berdiri di bawah sebuah bangunan dengan dunia luar yang mulai tertidur karena telah larut. Ya, aku berdiri menghadap sebuah meja dan beberapa peralatan kerjaku, dengan tangan yang tak pernah berhenti meski mata sejak beberapa jam lalu tak bisa lagi diajak kompromi.
Bangunan itu adalah sebuah pabrik elektronik. Bangunan kokoh diantara bangunan-bangunan kokoh lain di tengah-tengah kawasan industri ibu kota. Disitulah tempatku bekerja hampir 9 bulan (10 hari lagi lahiran loh..:P). Siang dan malam tergantung sift yang aku dapat. Jika kebagian sift siang, jam 6 pagi aku harus stay di pinggir jalan menunggu jemputan pabrik, setelah sepuluh jam bekerja (jika tidak lembur, dan jika lembur di tambah dua jam lagi, dan sayangnya seringkali kita tidak bisa menawar jam lembur. Hal itu seperti sudah keharusan), jemputan itu akan mengantarkan kembali ke tempat dimana ia menjemput kita. Pukul 8 malam biasanya aku sampai di kontrakan. Kemudian, apa yang bisa aku lakukan dengan kondisi tubuh yang telah lelah karena sesiangan bekerja dengan posisi berdiri dan tangan yang tak pernah berhenti? Tubuh itu tak jarang hanya mampu terkapar di kasur tipis. Beristirahat, mengumpulkan kembali tenaga, untuk kembali berjuang esok pagi.
Jika kebagian sift malam, sehabis sholat magrib aku harus stay di pinggir jalan. Menunggu jemputan yang biasanya telah penuh sesak. Menunggu macet yang tak kunjung lenggang, dan kembali bekerja, berdiri dengan tangan yang tak berhenti memproses berbagai material elektronik. Meski jika sift malam hanya 8 jam kerja, namun sungguh, sift malam bukanlah sift yang mudah. Kita harus menjaga agar mata tetap terjaga, kita harus menjaga naluri untuk tidur, dan menjaga agar pekerjaan kita tetap benar (kopi sudah tidak mempan). Jam 7 pagi, bus jemputan itu kembali mengantarkanku ke tempat semula. Aku kembali ke kontrakan dengan aktifitas siang yang sebagian besar aku gunakan untuk mengumpulkan energi agar tetap terjaga dimalam hari. Jika bos sedang “berbaik hati” mereka akan mewajibkan bekerja di hari Sabtu dan Minggu. Memang hasilnya cukup lumayan, tapi seorang buruh akan benar-benar bekerja tujuh hari dalam satu minggu.
Itulah rutinitasku selama 9 bulan itu. Bekerja siang dan malam mengabaikan pembagian hari. Siang untuk bekerja, malam untuk beristirahat. Hal itu tidak ada. Kesenangan- kesenangan lai pun terabaikan, misalnya saja kesenanganku menulis benar-benar aku tinggalkan. Aku sangat jarang menyentuh pena dan kertas. Sangat jarang berjalan-jalan, sangat jarang membaca, sangat jarang berdiskusi, sangat jarang naik gunung (tidak pernah). Tujuh hari dalam seminggu benar-benar digunakan untuk bekerja.
Aku bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang melakukan hal tersebut tentunya. Aku memiliki teman yang senasib. Lulus SMA, langsung melamar kerja. Bekerja tujuh hari dalam seminggu demi cita-cita di kemudian hari. Ya, beberapa dari teman-temanku juga memiliki impian yang sama. Kami hanya bekerja disini sementara. Jika uang telah mencukupi, kami akan kembali mengejar mimpi kami. Mimpi kami bukanlah disini, tentu. Kami ingin melanjutkan kuliah, menjadi mahasiswa berprestasi, kuliah di luar negeri, mendapat pekerjaan yang mendapatkan jatah kursi untuk kami duduk. Aku sedikit demi sedikit berhasil. Aku meninggalkan pabrik itu setelah sembilan bulan bekerja dan melanjutkan mimpiku, menjadi mahasiswa yang semoga dapat berprestasi, berharap menjadi guru yang menginspirasi, dan jikalau dapat menjadi penulis yang memotivasi. Tapi tidak untuk mereka. Teman-teman yang aku kenal selama sembilan bulan. Teman-teman yang menghiburku ketika aku mendapatkan makian dari atasan, teman-teman yang menemaniku bergadang, teman-teman yang membersamaiku berdiri dengan kaki pegal.
Sebagian dari mereka kini masih bekerja. Ada beberapa yang bekerja di tempat yang sama, ada beberapa yang pindah namun dengan tipe pekerjaan yanng hampir sama, dan ada sebagian dari mereka yang menikah dan menjadi ibu rumah tangga, menunggu suami yang juga bekerja sebagai buruh sebuah pabrik, dan hanya segelintir orang saja yang menyusulku menapaki bangku kuliah setelah satu tahun mereka aku tinggalkan.
Aku memang bukan Tuhan yang tahu segala, tapi sungguh, kalian yang memiliki jalan mulus seperti jalan tol. Kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk kuliah, kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk membeli pulsa, kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk makan sehari-hari, karena orang tua kalian telah menyediakan segala, sungguh kalian akan membuat kami kecewa, buruh-buruh yang mengubur mimpi-mimpi masa depan, jika kalian berleha-leha, menerima segalanya dengan pikiran masa bodoh, membiarkan waktu-waktu terbuang percuma, meratapi nasib yang sebenarnya tak seberapa, meneriaki dunia karena keputus asaan kalian, membenci dunia karena putus cinta, dan membiarkan ‘mereka’ merenggut milik kita, sungguh kami kecewa.
Kalian adalah wujud-wujud mimpi kami, jika kami tidak bisa menjadi kalian, biarlah kalian yang menjadi diri kalian sendiri. Menjadi penerus bangsa yang bisa memperjuangkan nasib rakyatnya, memperjuangkan nasib buruh-buruhnya, memperjuangkan pendidikan untuk semua, dan yang terpenting menjadikan negri kaya ini menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Tugas itu kami serahkan pada kalian yang memiliki kesempatan, maka, bangunlah dari sekarang, pedulilah pada kami buruh-buruh mlarat yang mengubur mimpi dalam-dalam, pedulilah pada masa depan kalian. Jangan menyerah hanya karena masalah kalian, jangan berputus asa hanya karena satu masalah.

“...sesungguhnya Aku dekat...” (Q.S. Al Baqarah: 186)


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 10 April 2012

Pertanyaan-Pertanyaan Ngga Penting Gueh



Kenapa kalo di sinetron-sinetron, orang tanda ketika seorang aktor atau aktris kena penyakit kangker rambutnya pada rontok? Padahal rambut rontok kan karena di kemoterapi. Kalo ngga di kemo ya ngga rontok. Kenapa bisa begitu? Apakah itu sebuah pembodohan? Lalu ketika rambut kita banyak yang rontok, terus bilang, jangan-jangan aku kena kangker. Panik, gigit jari, nangis-nangis sendiri di kamar, guling-guling ngga karu-karuan, jadi pendiem, menarik diri dari peredaran kaya majalah yang udah bangkrut atau artis yang kena skandal. Ujung-ujungnya bikin status geje di FB.. “Pren, maapin yeah kalo selama ini gueh ada salah,” terus ntar ada yang koment, “lebaran masih lama coy, ngapain maap-maapan sekarang?” Terus ada yang ngga nyambung lagi, “eah, gueh maapin, tapi beliin coklat dulu ya..xixixixi,” Becous si empunya status ikut geng jempol, jempol bertubi-tubi pun menghampiri statusnya. Pada seneng ya kalo temennya mau mati? (meski hanya dugaan)
Ini yang salah yang bikin status atau yang komen? Yang bikin status, padahal dulunya metal abis, status-statusnya penuh dengan makian, entah pada dunia, pada anjing yang lewat, atau pada burung-burung yang terbang tanpa dosa (kasian tuh burung), baru nyadar kalo udah mau mati (padahal hanya dugaan, kasian...) Yang bikin status, aneh, yang koment, tambah aneh. Emang kite maap-maapan cuma lebaran doang? Dikiranya dosa bisa dirapel dalam satu hari yaitu lebaran. Kaya gaji aja rapelan. Ckckckck, anak muda jaman sekarang. Untung gue mudanya jaman dahulu..hahahahaha..
Tapi ada baiknya juga sih, paling tidak meski hanya sementara, si empunya status bersikap ‘baik’. Sementara, karena nanti dua atau tiga hari lagi di juga paham, kalo paham, tanda-tanda kena penyakit kangker itu bukan dengan rambut rontok. Kali aja si empunya malas kramas, jadi rambutnya pada lari, males dengan baunya sendiri. ckckckc
Kenapa sih, kita sering kali hanya menjadi pengikut sebuah trend? Coba, trend apa yang kita tidak ikuti? Dari yang mulai boysband ala Korea, hingga chaya-chaya ala India. Ngga Cuma lagunya, gaya-gayanya juga. Mulai gaya fasion, bicara, sampe mungkin cara duduk cowok-cowok Korea yang bagi gue ngga banget.
Sebuah status mampir di beranda Gue, “Hari ini jalan bareng oppa liat pesawat ulang-aling. Baju kita kembaran loh, couple gitu. Lucu deh warna pinknya, Saranghai Oppa..” Herannya, jempolnya banyak banget. Mungkin dia juga anggota Genk Jempol. Gue sebenernya pengen koment, “Lu jalan ama kakek lu? Keren dong kakek-kakek pake baju pink, kembaran lagi. Sungguh cucu yang berbakti.”
Tapi, karena alasan etika dan tidak mau mencari perkara, gue biarin aja. Sambil menjadi pengamat, akhirnya gue ketemu juga sama yang namanya Oppa. Dia muncul sebagai komentator pertama. “Aku juga seneng Unni, besok lagi ya. Eh, tapi pake baju yang warna ungu ya..Saranghai juga.:*.” Kalian kakak beradik yang kompak.. Uni itu kakak kan? Ternyata yang namanya Oppa itu namanya Sami’un dari desa sebelah.
Ada-ada sahaja. Bener-bener ngga penting untuk diurusin. Tapi kenapa kita sok mengurusi hal-hal besar ketika hal-hal kecil yang sejatinya mengikis sedikit demi sedikit kepribadian kita dibiarkan begitu saja.
A
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Mungkinkah?

Pernahkah kamu bertanya, Mungkinkah? Atau apakah aku bisa? Aku sering melakukanya ketika aku menginginkan sesuatu. Ya, itu sebagai bentuk ketidak optimisan yang sering membuat langkahku terhenti, ah, bahkan sebelum langkah pertama diambil. Apalagi, aku memang bukan orang yang dapat begitu saja optimis terhadap suatu hal. Bahkan terkadang minder, tidak pede dengan apa yang ada pada diriku. Ini adalah penyakit pembunuh yang paling utama. Penyakit ini adalah penghalang untuk eksistensi di dunia. Bukan hanya ‘aku’ yang menjadi tokoh disini. Bisa saja kamu, mereka atau dia. Ketika sebuah keraguan menjadi arah pikiranmu, silahkan saja tunggu hasilnya. Tapi disisi lain, tentu kita juga ingin menyisikan penyakit ini sejauh mungkin yang kita bisa. Apa segampang itu? Mudah sekali berteori, tapi sunggguh sulit realisasi. Kembali, sedikit cerita, sewaktu aku di bangku SMA, menjalani hari-hari yang semakin dekat dengan Ujian Nasional, aku selalu bertanya dalam hati, mungkinkah aku bisa kuliah? Meneruskan menuntut ilmu, mungkinkah aku bisa mencapai mimpi-mimpiku? Kemudian aku pun memikirkan hal-hal yang membuat hal-hal tersebut menjadi semakin tidak mungkin. Sebuah pemikiran bodoh yang akan menghancurkan mimpi itu sendiri. Aku berfikir, siapa aku? Aku hanyalah anak dari seorang petani yang hasil sawahnya tidak bisa di prediksi. Aku hanyalah seorang siswa dengan nilai pas-pasan, dan tak punya relasi banyak. Aku hanya anak kampung yang tak pernah menginjakan kaki ke Mal-mal, berbelanja, ataupun makan-makan di kafe-kafe mewah, seperti yang sering aku lihat di cerita TV (baca sinetron). Apakah itu yang aku butuhkan? Background keluarga? Relasi? Daerah asal? Tidak, bukan itu yang aku butuhkan dalam meraih mimpi itu. Ah, kata menyerah tentu ada. Ketika kelelahan setelah berjuang seharian, Ketika harus bergulat siang malam dengan material-material pabrik, terjatuh, dehidrasi, sakit, opname, atau mungkin seribu halangan, ketika akhirnya ada iming-iming gaji yang menjanjikan, sejatinya Ia tak pernah padam, karena ada satu keyakinan, Allah selalu ada untuk hambanya. Ya, langkah pertama, gantilah kata mungkinkah dengan “tiada yang tak mungkin bagi Allah azza Wa Jalla.” Bangku kuliah yang semestinya, teman-teman yang baik, keluarga baru yang hangat, suasana yang kondusif, bukan lagi mimpi. Sungguh, perjalanan panjang yang melelahkan. Tapi apakah sudah berakhir? Tidak sungguh masih panjang. Kata mungkinkah itu kembali hadir membayangi langkah kaki yang sudah berat dan di tambah berat lagi. Kemudian, hal yang paling sulit adalah aku harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Sungguh sulit. Aku seperti menderita sindrom anti tempat baru sejak dulu. Mungkin sejenis fobia. Dan lagi-lagi aku bertanya, mungkinkah aku dapat diterima dengan keadaanku yang seperti ini. Fisik (ah, apa sih pentingnya fisik?) yang jauh dari kesempurnaan versi manusia, tutur kata yang manis, guyonan ringan tapi menghibur. Ah, aku tidak punya. Aku tak pada menyapa seseorang meski hanya berkata “hai” dan memulai percakapan yang berakhir pada persahabatan. Akhirnya aku hanya menjadi golongan yang mungkin lebih senang duduk di pojok dan menjadi penonton. Sungguh tidak asik bukan jika hanya menjadi penonton? Kata mungkinkah itu pun menjadi momok yang menyeramkan. Tapi apakah semudah itu aku menyerah, setelah satu tahun bergulat dengan peluh dan debu, setelah satu tahun menjadi manusia paling kritis dengan buku tabungan? (metafora lah..) Sungguh sia-sia, jika mungkinkah itu menjadi penghalang dan aku hanya terlempar disudut. Kaki ini harus bergerak, bibir ini harus berbicara, tangan ini harus terangkat, dan hilangkan ketakutan bahwa engkau adalah sendiri. Ya, langkah kedua, ingatlah dan camkan dengan baik-baik, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat....” Ya, Allah selalu dekat dimana pun engkau berada (backsong Allah always be There-Maher Zain..hehehe). Luar biasa, keberanian itu muncul. Seperti ada yang tak kasat mata, mengangkat tanganku, menyeret kakiku, dan menyuruhku berbicara meski tergagap, dan keyakinan itu hadir, aku siap menjadi guru dengan resiko bercerita di depan banyak orang, banyak mata yang memandang, meski dalam keadaan asing sekalipun. InsyaAllah. Selanjutnya, aku bermimpi, Aku ingin menjadi penulis. Dan lagi-lagi, pertanyaan itu menghantuiku. Mungkinkah? Sungguh, hidupku tak semulus jalan tol. Kata menyerah sering kali mampir. Tidak hanya menenggak air, tapi juga tertidur dan berdiam cukup lama. Hingga akhirnya, kata lelah tak terelakan. Aku lelah ketika harus menjalani hidup yang sering kali terhalang karang, aku lelah menjadi debu yang di terbangkan angin, dan tak cukup sampai disitu. Kesedihan datang bertubi, menjadi sebuah sandungan yang menyakitkan. Ketika sebuah kerikil membawa bala bantuannya. Sungguh, melelahkan. Tapi haruskah aku berhenti setelah sekian jalan yang telah terlewati? Haruskah berbalik arah dan menyerah? Jawabannya pasti sudah, TIDAK! Ketika semua upaya, daya tenaga, pikiran, dan jiwa telah tercurahkan, apalagi yang bisa dilakukan, kecuali berdoa padaNya? Ya, harapkanlah dengan pengharapan sebesar-besarnya. “Berdoalah padaKu, niscaya akan Aku kabulkan,” Ya, yang terakhir adalah, Berdoalah. Libatkan Allah dalam setiap urusanmu. Ingatlah Dia yang menggenggam segalanya. Dia pemilik alam semesta, dan terlantunlah sebuah doa sederhana, “Jika menulis bukan jadi jalanku, aku meminta Allah menunjukan apa yang terbaik untukku. Jika Menulis memang jalanku, berikanlah aku sedikit saja keyakinan bahwa itu memang jalanku,” Dan Allah menjawab doaku. Dia memberiku inspirasi ketika aku tengah bosan untuk menulis. Lelah dalam aktivitas harian. Dia memberiku ide dan kegigihan. Meski tanpa edit sebelumnya, dengan kondisi baru terlahir dari dalam telurnya, sebuah naskah tanpa ada tujuan akan mendapat apresiasi, penghargaan, atau pujian, telah terkirim pada sebuah majalah online dengan bacaan tasmiah. Dan Allah menjawab doaku. Satu hari berselang, sebuah email masuk dalam inbok Pemberitahuan, naskah yang aku kirim di tayangkan. Bukan prestasi besar, tapi aku pikir tiga ribu pembaca, dengan tiga puluh komentar hangat (padahal pengennya kripik pedas), sebuah pencapaian yang luar biasa, apalagi untuk aku, yang sungguh tak mengerti hakekat menulis sesungguhnya. Ya, libatkan Allah dalam setiap urusanmu. Apakah sudah selesai? Aku pikir belum. Masih banyak hal yang masih harus di capai, tentunya tanpa ada embel-embel kata Mungkinkah? membayangi langkah-langkah keyakinan akan Dia. Akhirnya, sebuah pesan dari seorang sahabat, jangan pernah menyerah! Jangan pernah ragu dengan bertanya, Mungkinkah? Tak ada yang tak mungkin bagi Allah azza Wa jalla. Selanjutnya, aku akan membuat novel. Mungkinkah? Sangat jelas mungkin jika Allah menghendaki itu terjadi. Salam... Mujiku Hibiniu Kamar Mimpi Revisi 10 April 2012
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sunday, 1 April 2012

grgrgrgrg

Muak, atau kata sejenisnya. Terserahlah. Kadang-kadang aku merasa menyesal, meski penyesalan itu segera aku enyahkan, karena akhirnya akan menambah daftar penyesalan lainnya. Kenapa aku ada disini? Bukankah seharusnya aku memiliki kehidupan yang lebih baik disana? Aku mungkin hanya lelah. Tugas-tugas tertumpuk, proker-proker yang menggunung, target-target yang tak tercapai. semuanya itu kemudian masuk kedalam pikiranku. Tidak seharusnya dipikirkan memang. Hanya perlu diselesaikan. Ya, tapi terlanjur sudah. Semua hal itu telah masuk kedalam otakku yang bebal. Yang terus saja memikirkannya hingga membuatku risau. Kenapa pula aku harus memikirkannya? Kerjakan saja. Nyatanya tak semudah itu. Ah, aku bosan. Bosan selalu saja berkutat dengan tugas-tugas, dengan kuliah-kuliah. Apa otakku makin tumpul? atau aku yang semakin dangkal? Bisa saja semua itu benar adanya. Aku yang terlalu dan terlalu. Ah, ini hanya kebosannanku. Tapi sungguh ini membuatku seperti orang gila. lelah rasanya menjadi aku meski aku bukan apa-apa. Meski aku tidak melakukan apa-apa. Atau mungkin itu yang membuatku bosan? Aku yang bukan apa-apa?
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Ketika Kata

Adalah kata, jika ia semudah pemikiran yang slalu merasuki otak-otak jiwa. Namun nyatanya ia rumit bagai ilalang yang meranggas pada musim kemarau, memilin-milin urat-urat pada rentang kematian yang teramat lama. Sekarat pada detik penghabisan. Nadirnya menjadi pasti. Kata, ia bersandar dalam jiwa, andai saja semudah menghitung jari jemari yang terus berdzikir, nyatanya ia bagai bintang di langit yang kokoh pada pusarannya. menggapai awan-awan yang lalang melintang menghalang mata-mata yang padam. Kata, terakhir bagai tersambar halilintar kepatuhan yang mengancam kesangsian pada kebenaran. Nyatanya ia kasat lebih kasat lagi dan lagi. seperti ruh yang telah tercerabut dari raga yang tergeletak tak berdaya. Pori-porinya kembali utuh, tapi ia tak utuh lagi. Kata, seringkali, meleset pada mantra-mantra pendendam, penghasut, penindas, pembohong, pendusta, dan ia hilang pada angin yang bertiup menggelontorkan asap-asap hitam yang mengepul menyesakan nafas-nafas yang terengah-engah. Tubuh makin ringkih. Amarah makin mendidih, perut makin perih, nyali makin jerih, Kata, apakah dia masih bisa mengenali dirinya lagi??
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Sunday, 25 March 2012

Demokrasi, Pemandulan Hukum Islam??



Jleg!!
Saya sendiri kaget ketika saya memilih judul diatas. Tidak bermaksud menghakimi, atupun menyalahkan, saya hanya hendak mengkaji, sedikit saja bagian yang mungkin beberapa dari kita belum paham, tentang sebuah kata yang dianut oleh negara kita. Padahal sebagian besar dari kita telah menggembar-gemborkan dan bahlkan menuntut penegakannya, ya demokrasi.
Bukankah negara kita adalah negara demokrasi? Ya, secara teori negara kita adalah negara demokrasi. Oleh karena itu ada baiknya jikalau kita mengkaji dari awal, apa itu demokrasi. Kata Demokrasi dapat dipilah menjadi ‘demos’ yaitu ‘rakyat’ dan ‘kratos/cratein’ yang artinya pemerintahan, jadi demokrasi sederhananya berarti pemerintahan rakyat. Istilah “demokrasi” berasal dari Yunani Kuno yang tepatnya diutarakan di Athena kuno pada abad ke-5 SM. Negara tersebut dianggap sebagai contoh awal dari sebuah sistem yang berhubungan dengan hukum demokrasi modern.
Kemudian munculah teori demokrasi klasik. Pandangan ini dikemukakan antara lain oleh JohnLocke (contrac social), Montesquie (triaspolitica),dll. Mereka mendefinisikan demokrasi sebagai “kehendakrakyat” (the will of the people ), kebaikan bersama,atau kebajikan publik (the common good ). Dalam hal ini demokrasi dilihat dari sumber dan tujuannya. Paham ini lahir sebagai respon terhadap paham yang memberikan kekuasaan mutlak pada negara, baik berbasiskan teokratis maupun duniawi seperti dalam konsep Thomas Hobbestentang Laviathan (sudah ada gambaran?).
Kemudian teoi klasik itu mendapatkan banyak kritikan. Terutama dari Joseph Schumpeter dalam bukunya berjudul “Capitalism, Socialismand Democracy” yang terbit tahun 1942. Dalam bukunya, Schumpter menyatakan bahwa“kehendak rakyat” (termasuk kontrak sosial) tidak bisa diimplementasikan begitu saja. Dalam politik, yang menjadi motor penggerak adalahprosedur-prosedur atau metode berdemokrasi. Karena menekankan prosedur maka konsep demokrasi Schumpeter disebut juga demokrasi prosedural.
Sepertinya demokrasi slalu di usahakan untuk menemukan titik idealnya. Padahal sejak tercetusnya kata demokrasi itu sendiri, telah terdapat banyak sekali kritikan. Apa engkau mengenal Plato? Bapak filsuf kita yang telah melanglang buana dunia keilmuan bahkan pada zaman semuanya masih terbatas. Ia adalah keturunan bangsawan Athena yang menjadi saksi sejarah bahwa demokrasi tak lebih baik dari hukum Islam tentang ketatanegaraan. Plato dalam karyanya yang masyhur berjudul Republic mengulas tentang istilah demokrasi. Dalam kajiannya tersebut, Plato berpandangan bahwa demokrasi sesungguhnya bukan sebuah sistem politik yang ideal. Plato mengkritik demokrasi seperti itu, berdasarkan pendapatnya bahwa masyarakat merupakan hakim yang tidak becus dalam banyak masalah politik. Masyarakat cenderung memberikan penilaian berdasarkan kebodohan, dorongan hati, sentimen, dan prasangka. Yang paling buruk adalah demokrasi seperti itu mendorong munculnya pemimpin-pemimpin yang tidak becus. Karena pemimpin memperoleh kepemimpinannya dari masyarakat, pemimpin cenderung mengikuti tingkat masyarakat demi keamanan kedudukannya. Lagi pula, karena dalam demokrasi” setiap individu bebas melakukan apa yang dikehendakinya”, pengaruhnya bersifat merusak.
Bukankah hal ini telah secara nyata terjadi pada negara kita? Kita contohkan saja, hal yang sedang panas-panasnya saat ini. Apalagi dengan isu menaikan harga BBM. Saya sungguh lelah untuk terus mengecam dan mengecam. Bukankah mereka tidak akan pernah mendengar? Dalam Hukum Islam, telah terdapat hukum yang mengatur tentang energi. Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Sa'id berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Khirasy bin Hausyab Asy Syaibani dari Al Awwam bin Hausyab dari Mujahid dari Ibnu Abbas ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal; air, rumput dan api. Dan harganya adalah haram." Abu Sa'id berkata, "Yang dimaksud adalah air yang mengalir." (HR. Ibnu Majah).
Sudah sangat jelas sekali. Harga untuk BBM haram, kecuali untuk produksinya sendiri, dan kini, wacana terbaru, pemerintah akan menaikan harga BBM untuk meningkatkan pendapatan APBN. Iya, jika APBN tersebut merata untuk rakyat. Kenyataanya, siapa yang menikmati APBN itu? Bandingkan dengan pengaturan APBN pada masa Amirul Mukmini. Tak ada anggaran yang di bebankan pada rakyatnya. Saya pikir anda telah paham tentang hal ini, dan menurut anda apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi di negara kita? Pemerintahan yang demokrasi.
Pemerintahan kita yang terdiri dari orang-orang yang di pilih oleh rakyat yang mengatakan bahwa mereka adalah wakil rakyat nyatanya mengambil untung dari rakyatnya tanpa perduli pada kehidupan yang mereka wakili. Apakah ini yang di sebut wakil rakyat? Saya tidak serta merta menyalahkan wakil-wakil rakyat kita, karena memang pada kenyataannya semua itu bukan mutlak kesalahan mereka. Benarkan? Siapa yang berhak memilih mereka? Siapa? Kita kawan-kawan. Rakyat yang memilih mereka. Padahal, kita sebenarnya tidak yakin apakah mereka amanah, apakah mereka seorang al amin, apakah mereka sidik, dan banyak kriteria lain sebagai syarat untuk menjadi wakil rakyat. Itulah kelemahan pemilu kita, pemilu sebagai lambang sebuah demokrasi ditegakan. Ya, negara kita adalah negara demokrasi.
Selain Plato, demokrasi juga mendapat kecaman dari filsuf kita yang lain. Aristoteles dalam Politics mengulas juga tentang demokrasi. Baginya demokrasi juga bukan pula sebuah sistem yang ideal. Penolakan aristoteles terhadap demokrasi sebagai sebuah sistem yang ideal karena demokrasi berpotensi menjadikan negara kacau (anarki), karena semua warga negara bebas berkehendak sesuai kepentingannya. Aristoteles menganggap suatu rezim akan menjadi ideal ketika rezim itu merupakan perpaduan antara aristokrasi dan demokrasi, dimana menurut Aristoteles rezim tersebut akan berjalan dengan baik jika benar-benar memadukan (anggota-anggota) dari berbagai kelas menjadi satu komunitas tunggal .
Saya rasa menemukan benang merah disini. Perpaduan antara aristokrasi dan demokrasi, apakah anda familiar dengan hal tersebut? Islam menjawabnya. Saya tidak akan berbicara banyak tentang hukum Islam disini karena itu jauh dari kemampuan saya. Yang pasti saya katakan bahwa hukum yang bersumber dari Tuhan itulah hukum yang paling benar.
Lalu, kenapa demokrasi terus di gulirkan, dan bahkan hampir semua negara di dunia menyakini demokrasi sebagai tolak ukur tak terbantahkan dari hukum politik. Kita lihat, siapa yang menggulirkan pandangan ini? Saya yakin mereka adalah negara non muslim yang menginginkan runtuhnya negara-negar muslim di muka bumi. Ya, cara yang sangat halus. Dengan demokrasi yang menjanjikan kebebasan kepada rakyatnya ini secara tidak langsung melucuti satu demi satu hukum-hukum Islam yang semestinya di tegakan dengan embel embel demi rakyat banyak. Ah, banyak sekali hukum islam yang telah terabaikan bukan? merambah ke bidang lain, kita akan melihat seks bebas yang mengkungkum negara kita ini secara kasat mata. Yang akhirnya menelurkan angka, secara kumulatif, aborsi di Indonesia diperkirakan mencapai 2,3 juta kasus per tahun. Setengah dari jumlah itu dilakukan oleh wanita yang belum menikah, sekitar 10-30% adalah para remaja. Pembunuhan terjadi dimana-mana, dan kita belum juga mau membuka mata.
Hukum Islam telah di mandulkan. Banyak hukum Islam yang di tentang, banyak hukum Islam yang di caci atas dasar demokrasi, kebebasan berpendapat, kebebasan bertindak, hingga urusan HAM pun di gulirkan. Ah, rasa-rasanya semua hal telah menjadi halal. Dan akhirnya kerusakan dimana-mana. Siapa yang senang? Manusia-manusia disana dengan otaknya yang licik. Karena ketika kerusakan itu telah pada puncaknya, mereka akan dengan mudah menguasai dan mengendalikan kita. Akhirnya? Kehancuran Islam di depan mata.

Apakah sekarang kamu akan tetap meneriakan,”Hidup Demokrasi”????..



NB: Saya yakin masih banyak sekali kekurangan, tolong di benarkan jika ada yang salah.
@Kamar kepedihan dengan satu tanya, Apakah aku harus mengancam kedua orang tua untuk menambah jatah bulananku sedang kini saja mereka menjerit tercekik???
#Diolah dari berbagai sumber.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Friday, 23 March 2012

Cerpenku yang di tolak..heheheh "COVER"

Aku pandangi lagi potongan kertas kecil di tanganku. Kemudian beralih ke monitor bertuliskan ang

ka di depan meja costumer . Masih lama. Disana masih tertulis angka 316, sedangkan kertas di tanganku tertera dengan sangat jelas angka 333. Angka yang cantik.
Sekali lagi aku memperbaiki posisi dudukku. Kadang untuk meregangkan otot setelah hampir setengah jam menunggu antrian. Sesekali ku edarkan pandangan kesekeliling. Berharap ada salah satu wajah yang aku kenal dan mengobati sedikit kejenuhan. Tapi nihil. Semuanya nampak asing. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang diam terkantuk-kantuk. Ada yang mengobrol dengan teman sebelahnya. Ada yang bermain HP, dan ada pula yang terus-terusan memandang layar monitor tanpa mengenal lelah. Wow, gigih sekali, atau tak sabaran?
Mesin pemanggil berbunyi lagi. Sedikit kelegaan. Seorang pria gemuk setengah baya maju menghampiri meja costumer. Sepertinya dia seorang pegawai kantoran atau seorang bos malahan. Penampilannya rapi dengan kemeja biru muda yang disetrika halus. Dilehernya tergantung dasi bergaris-garis dengan warna biru tua.
Aku pikir mungkin dia salah satu orang sukses di kota ini. Tapi aku lihat lagi, mukanya nampak kusut. Apalagi setelah ia mendengar penjelasan seorang teller muda di depannya. Ia seperti tengah memastikan sesuatu tapi kepastian itu tidak didapatnya. Berbeda dengan teller yang selalu mengembangkan senyum. Entah untuk menghibur atau karena tuntutan profesi. Tapi sepertinya pria itu tidak terpengaruh.
Penjelasan teller pun sepertinya usai. Pria itu terdiam sejenak. Menunduk, mungkin mengamati tali sepatunya yang terlepas dari simpulnya. Tapi sepertinya lebih dari itu. Pria itu lalu bangkit dan beranjak pergi. Dia tak membalas senyum ramah Pak Satpam.
Mesin pemanggil berbunyi lagi.
Sepasang, yang mungkin suami istri menggantikan posisinya. Pasangan itu sudah lanjut usia. Rambut si suami sudah putih semua. Si istri mengenakan jilbab putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya cerah, senada dengan wajah sang teller muda. Kemungkinan mereka tengah mengurus tabungan masa tua. Entah untuk naik haji ataupun untuk dana pensiun. Tapi nampaknya mereka bahagia.
Aku jadi ingat ayah dan ibu dirumah. Disela-sela obrolan kami sehari-hari kadang Ibu bercerita tentang keinginan hari tuanya. Memang dia bukan seorang manager yang hebat. Dia bahkan tidak mengenal ilmu-ilmu managemen yang diajarkan di perguruan-perguruan tinggi. Dia hanya lulus SD, namun dari kisah hidupnya yang panjang aku tau, dia adalah bendahara yang hebat. Buktinya, dengan bekal ketrampilannya yang terbatas dia mampu memperjuangkan hidup kami dengan sedemikian rupa. Dari sebuah gubuk dari papan dan daun alang-alang menjadi rumah batu bata matang dengan atap genteng dan sudah disemen.
Ia sering bercerita tentang keinginannya. Tidak terlalu muluk. Dia hanya ingin menjalankan semua rukun Islam. Tapi hal ini menjadi permasalahan yang cukup besar bagi kami mengingat kami hanyalah masyarakat pinggiran yang sudah bersyukur jika kebutuhan sehari-hari kami terpenuhi. Tapi hal itu tak pernah menyurutkan niatnya. Dengan mata menerawang dia biasanya berkisah tentang mimpinya ke tanah suci.
Tak lama kemudian sepasang lanjut usia itu meninggalkan meja costumerdan seorang wanita muda menggantikannya. Aku coba menerka.
Dugg..
Pemikiran yang baru saja aku tata tentang wanita itu tiba-tiba buyar. Ada yang menendang kakiku dengan keras. Seorang pria muda berdiri didepanku. Dia menatapku dengan tatapan yang mungkin bisa diartikan marah. Atau memang tatapannya selalu demikian. Entahlah.
Pria itu mengenakan jaket kulit usang yang sudah sobek dibeberapa bagian. Ia juga mengenakan celana jeans yang tak kalah mengenaskan. Dekil dan kumal. Penampilannya tak jauh beda dengan preman-preman yang aku sering temui di pasar. Aku bergidik ngeri.
“Ups, maaf,” ucapku. Semoga dia memaafkan, meski bukan aku yang salah. Dia kan yang menabrakku. Sepertinya kata maafku tak didengarnya. Ia berlalu menuju meja costumer. Wanita muda yang tadi duduk disana entah kemana.
Pria itu masih terbilang cukup muda. Mungkin 27 ataupun 28 tahun. Tapi penampilannya membuatnya sedikit lebih tua. Apalagi di tambah dengan wajah sangar yang ia miliki. Aku yakin dia preman. Atau mungkin tukang pukul sewaan. Ah, bisa saja bodyguard, atau mungkin..., Astagfirullah, kenapa aku jadi berburuk sangka seperti ini?
Pria itu meninggalkan meja costumer. Ia sempat melihatku sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu. Bulu kudukku berdiri.
**
“Ngga mau ah, Bu. Orangnya galak.”
“Ko kamu tahu, Di? Katanya kamu ngga kenal?” ibu menatapku heran. Untuk kesekian kalinya Ibu menawariku untuk berta’aruf dengan seorang ikhwan anak temannya.
Aku paham, di usiaku yang sudah menginjak hampir berkepala tiga, pasti ada kecemasan tersendiri padanya. Belum lagi ditambah gunjingan tetangga yang usil. Apa salahnya sih kalau belum menikah? Tandanya kan belum datang jodohnya. Mereka bilang katanya aku pemilih lah, anu lah, itu lah. Ya memang mencari pasangan hidup harus memilih kan? Ngga asal.
“Lihat aja mukanya, Bu”
“Loh, kamu udah pernah ketemu toh?”
“Belum, dari fotonya.”
“Dinar...Dinar.. kamu ini ya.. mbok ya jangan asal tebak begitu. Belum tentu dia galak meski mukanya seperti itu. Jangan-jangan malah dia itu penyayang.” Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ngga asal tebak ko, Bu. Lihat deh mukanya. Banyak banget guratan di keningnya. Pasti orang ini sukanya marah-marah.” Kilahku.
“Stststs, sudah. Kalau kamu ngga mau ya sudah, tapi jangan jadi zu’udhon gitu dong.” Ibu akhirnya menyerah. Nampaknya dia sangat mangkel dengan ulah putri bungsunya, yaitu aku. Ia meninggalkan aku sendiri.
Huft, pada ngga paham sih.
**
Gloobal warming memang bukan sekedar isu. Harusnya semua orang mengerti akan hal itu. Lihat saja, pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan tapi malah panas menyengat seperti ini. Belum ditambah lagi dengan kemacetan ibu kota. Harus ekstra sabar jika menaiki kendaraan umum, tanpa AC, berdesak-desakan pula. Keringan pasti menyerbu keluar dari pori-pori kulit.
Kali ini pun aku tengah menikmatinya. Berdesak-desakan dengan penumpang lain yang pastinya juga merasakan ketidaknyamanan yang sama. Bau-bau aneh menyeruak, ditambah posisi yang tidak menguntungkan. Tapi aku berusaha sabar. Tinggal beberapa menit lagi aku sampai ditujuan. Tapi macetnya itu loh. Bisa-bisa setengah jam lagi aku menikmati semua ini dan mungkin saja bisa lebih.
Tiba-tiba dari arah belakang ada yang mendesak. Aku menoleh. Ternyata seorang pria muda dengan kemeja yang masih lumayan bagus dengan dasi tergantung dilehernya tengah berusaha memasuki area ‘gerah’. Mungkin dia eksekutif muda yang tengah mengalami hari naas. Mungkin mobilny macet atau bannya pecah. Atau dia bukan eksekutif? Kali saja dia Cuma salles. Sales kan sering berpenampilan rapi. Lagian mana mau seorang eksekutif naik bis kota yang panas seperti ini. Paling tidak ia akan lebih memilih taksi sebagai alternatif.
Kini pria itu berdiri disampingku. Sepertinya dia sudah menemukan posisi nyamannya. Dia tersenyum ketika aku menoleh padanya.
Bus maju perlahan-lahan. Kemacetan sudah berkurang dan bus sudah bisa sedikit berjalan dengan lancar. Alhamdulillah sebentar lagi aku keluar dari penderitaan ini.
“Mbak, awas dompetnya,” seseorang membisikan sesuatu padaku. Aku menoleh. Ternyata pria berpenampilan preman yang kemarin lusa aku lihat di bank. Aku bergidik, lalu ingat dompetku.Apa maksudnya? Dompetkku?
Aku meraba tas slempanganku. Resletingnya terbuka separuh, tapi cukup untuk memasukan tangan kedalamnya. Dompet itu tak ada, dompet itu raib. Aku tercekat.
“Ngga ada..” curhatku pada pria preman tadi. Aku panik.
Ko aku curhat sama dia? Bukankah seharusnya dia yang aku curigai. Tapi tadi kenapa dia memperingatkanku? Apa dia mempermainkanku? Dendamkah dia karena tersandung kakiku kemarin hingga hari ini dia membuntutiku?
Dia menoleh kesekitar, seperti mencari sesuatu. “Tunggu sebentar,” katanya.
Ia lalu menerobos kerumunan. Pria berkemeja putih disampingku sudah tidak ada, bahkan aku tak menyadari kepergiannya. Dia sudah berada di pintu dan sepertinya hendak turun. Anehnya, pria bertampang preman itu menghampirinya.
Mereka berbicara. Si pria preman dengan nada seperti mengancam menyodorkan tangannya meminta sesuatu. Mereka bersitegang. Tak lama kemudian pria berkemeja putih sepertinya mengalah dan menstop bus kemudian turun.
Pria bertampang preman itu kembali.
“Nih. Lain kali hati-hati. Copet sekarang ngga kalah pinter sama koruptor. Penampilannya juga ngga kalah beda dengan pegawai kantoran. Coba di cek. Masih utuh atau ngga,” pria itu menyerahkan dompet berwarna abu-abu milikku.
*END*
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Monday, 12 March 2012

Janeng, yang Hilang di Telan Jaman

Banyak sekali budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia dengan berbagai nilai yang terkandung didalamnya. Misalnya saja budaya gotong royong, yang mana setiap masyarakat saling bekerja sama dalam melakukan sebuah pekerjaan tanpa ada imbalan berupa materi. Semuanya dilakukan sukarela. Tentu hal ini akan semakin mengeratkan silaturahmi antar penduduk. Selain itu, akan terasa sekali rasa kekeluargaan di dalam diri mereka. Susah sama dirasa, senang sama tertawa. Namun, sayangnya sesuai dengan perkembangan teknologi budaya yang banyak mengandung nilai-nilai kebaikan ini pun mulai luntur.

Kini jarang sekali ditemui budaya gotong royong seperti membuat rumah salah satu penduduk, memanen padi bersama, ataupun membangun jalan. Kini semuanya di nilai dengan materi. Apalagi di dalam masyarakat perkotaan. Budaya gotong royong ini sudah hilang dari permukaan karena masing-masing penduduknya tidak perduli satu sama lain.

Budaya-budaya yang lain pun demikian. Banyak kebudayaan-kebudayaan tradisional yang ditinggalkan warganya. Contohnya saja Janeng. Ya, Janeng. Kata ini pasti asing ditelinga kita. Ya, banyak yang tidak mengenal salah satu kesenian musik tradisional ini. Bahkan di kalangan penduduk Kebumen sendiri, musik Janeng seperti barang asing yang sangat asing. Jika ingin mengkaji tentang kesenian ini pun sumber tertulis yang ada sangatlah minim. Apalagi di dunia maya. Jarang sekali ada yang menyinggung kesenian tradisional Islam ini. Padahal budaya ini memiliki nilai-nilai yang sangat baik.

Janeng sendiri adalah kesenian musik daerah yang bernuansa Islami. Musik tradisional yang beralat musik pukul seperti kendang dan rebana ini biasa mendendangkan lagu-lagu puji-pujian yang ditujukan kepada baginda Rasulullah Muhammad SAW, dan pada umumnya musik janeng di lantunkan dengan rasa syukur yang teramat.

Karena lagu-lagu yang dinyanyikan adalah lagu-lagu sholawat kepada Rasulullah, maka lagu ini berbeda dengan lagu-lagu yang sering kita dengar sekarang ini. Lagu-lagu janeng memiliki pesan-pesan yang sangat baik dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Selain itu juga mengingatkan kita terhadap Keagungan Sang Pencipta, Allah Azza Wa Jalla. Sehingga lagu-lagu yang dinyanyikan pun tidak sembarangan. Banyak lagu yang diambil dari hadist-hadist shahih. Sehingga tidak heran jika para pemain janeng banyak menghafal hadist-hadist shahih.

Pada awalnya musik janeng digunakan sebagai sarana dakwah oleh para ulama. Kemudian berkembang menjadi musik yang menyatu dengan kehidupan masyarakat. Dahulu, sekitar 1980-an, sebelum dangdut, musik pop, campursari, dan kesenian modern lain populer, musik Janeng sering dimainkan di mana-mana. Musik ini menjadi primadona. Seperti di balai desa, Kantor kecamatan, Pendopo Kabupaten, dan di tempat orang yang mempunyai hajatan.

Setiap ada pertunjukan Janeng, orang-orang berbondong-bondong untuk menonton. Dalam pertunjukan inilah sering terjadi interaksi yang mendekatkan masyarakat. Pertunjukan janeng sering di barengi dengan pembicaraan santai para penontonnya. Baik mengenai sawah mereka, maupun kehidupan rumah tangga mereka. Maka dari itu, terjadilah komunikasi yang baik serta tak lupa tentang esensi kehidupan mereka didunia ini.

Kini, Janeng tidak setenar dahulu. Jasanya jarang sekali di gunakan. Hanya sesekali dalam acara peringatan Maulud Nabi atau peringatan hari-hari Islam lain yang biasa dirayakan masyarakat. Bahkan karena sepinya jop, terkadang grup janeng ini menawarkan diri untuk tampil meski tidak di bayar.

Kebumen sendiri mempunyai banyak klub musik Janeng. Ini menandakan bahwa Kabupaten Kebumen adalah jantung dari Kesenian Janeng. Contohnya adalah klub janeng dari desa Bumirejo, Panggel, Peniron dan Klegenrejo. Tapi sayangnya yang tergabung dalam klub janeng adalah orang-orang yang sudah berusia lanjut. Contohnya saja klub janeng yang berada di desa Klegenrejo, Kecamatan Klirong. Grup Janeng yang di motori oleh Pak Roso ini terdiri dari beberapa warga yang rambutnya telah memutih. Bahkan beberapa dari mereka telah hidup sejak penjajahan Jepang.
Mereka mengaku, meski kini jarang sekali mendapat panggilan untuk mengisi acara, mereka tetap sering berlatih. Hal itu semata-mata mereka lakukan karena mereka mencintai kebudayaan ini. Mereka mengaku bahwa kebudayaan ini seperti sarana untuk mendekatkan diri pada Sang Pencipta.
Amat disayangkan memang, sebuah kebudayaan yang memiliki nilai-nilai positif ditinggalkan warganya. Anak-anak muda lebih memilih mempelajari musik-musik modern yang hinggar binggar dan hedonis. Kebudayaan ini pun tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah. Tidak ada upaya pengenalan kepada masyarakat luas. Padahal nilai-nilai yang terkandung sangat baik. Bahkan kebudayaan-kebudayaan ini lebih banyak ditampilkan di dalam kelas internasional daripada di wilayah domestik sendiri.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com