Saturday, 16 March 2013

Bukan Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih



Beberapa hari ini melihat bawang menjadi headline koran langganan asrama membuatku berfikir tentang bumbu masak yang satu ini. Hems, biasanya mana pernah. Meski ia (si Bawang Putih) sering sekali menjadi materi yang memanjakan lidah bersama bumbu-bumbu yang lain, tak pernah terbayangkan bahwa dia mampu membuat kekisruhan yang layak di jadikan headline sebuah koran nasional. Dua kali pula. Wah, sungguh. Mungkin ini belum berakhir. Bisa saja hari-hari berikutnya ia masih akan menjadi headline.
Tentu masalah utamanya bukan karena si bawang putih korupsi, ataupun ikut-ikutan berpolitik, nyalon jadi Cagub. Apalagi ikut-ikutan kasta kekuasaan. Ah, tentu juga bukan karena Si Bawang Putih melakukan kejahatan kemanusiaan. Eh, tapi mungkin saja iya. Tapi jelas bukan si Bawang Putih pelakunya. Dia hanya sebagai objek. Mungkin juga di oplos menjadi kambing hitam. Ngeri sekali. Si bawang putih yang seputih susu berubah menjadi kambing hitam yang segala rupanya hitam. Oplosan pula.
Masalah utamanya adalah karena harga Si putih ini melambung tinggi. Setelah sebelumnya di pusingkan dengan mahalnya harga daging, ternyata Si bawang ini tidak mau ketinggalan juga. Mungkin dia ingin kenaikan derajatnya sekelas daging biar lebih di perhatikan. Pasalnya, selama ini siapa yang memperhatikan bawang putih? Coba hitung saja, berapa siung bawang putih yang ibumu pakai untuk masak sayur dan bumbu lain setiap harinya. Tidak ada satu kilo. Ah, paling lima-enam siung. Pasti kalah dari penggunaan cabai ataupun bawang merah. Tapi kenapa ia mampu menjadi headline?
Saya jelas tidak tau, dan tidak akan membahas kebijakan koran akan hal ini. Tapi setidaknya saya tau, karena saking tidak di perhatikannnya, di Indonesia, bawang putih dalam negeri hanya mampu memenuhi 5% kebutuhan pasar. Wah, sediki sekali. Jelas saja. Karena bawang putih tidak terlalu di perhatikan petani sehingga petani enggan menanamnya. Petani lebih senang menanam bawang merah yang perawatannya dianggap lebih mudah.
Tak heran pemerintah membolehkan import untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketika pemerintah membatasi jumlah import bawang. Tidak hanya bawang putih si, tapi juga import barang yang lain. Tapi dampak yang kini terasa adalah bawang yang melambung tinggi. Bagi kita-kita mungkin kenaikan harga bawang ini tidak menjadi masalah yang besar. Toh, ngga pake bawang juga ngga apa-apa. Asalkan makanan di warung bu Ida harganya tetap sama. Kecuali jika harganya naik, baru itu menjadi masalah yang harus di pecahkan dengan segera karena sifatnya yang mendesak.
Tapi, buat ibu-ibu di Kebumen kenaikan bawang putih ini menjadi masalah. Si Bawang Putih memaksa mereka tidak menumis sayuran, atau mengolah makanan lain yang menggunakan bawang putih. Mereka lebih suka membeli makanan matang di warung-warung. Akhirnya, pengeluaran rumah tangga pun bertambah. Bagi beberapa penjual, kenaikan bawang harga bawang putih ini memaksa mereka untuk menutup toko, buntutnya mereka tidak ada pemasukan. Dan untuk petani bawang merah, kenaikan bawang putih yang diikuti kenaikan harga bawang merah mencekik leher mereka.
Apa pasalnya petani bawang merah di bawa-bawa? Jelas ini bukan karena cerita tentang bawang putih dan bawang merah dalam dongeng klasik. Sama sekali bukan. Ini adalah cerita murni tentang bumbu masak yang jika kita tanpanya pun masih bisa hidup. Petani bawang merah merasa kesulitan menanam bawang merah karena harga bibit naik akibat kenaikan harga bawang merah. Yang dalam hal ini keduanya searah sejalan. Tapi entahlah. Padahal kebijakan pembatasan bawang untuk melindungi produksi lokal.
Saya setuju dengan pembatasa barang import. Bahkan jika perlu contoh saja Cina dengan politik isolasinya. Toh, jika di garap dengan serius, kita mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri. Apa sih yang tidak tumbuh di Indonesia? Apa sih yang tidak tertanam di bumi indonesia. Apa sih yang tidak bisa di lakukan anak-anak cerdas Indonesia. Yang tidak bisa dilakukan saat ini hanyalah memaksimalkan potensi yang di miliki.
Ah, ternyata di tengah-tengah kekisruhan yang tengah melanda ibu-ibu rumah tangga, meski dalam kapasitas yang tidak terlalu besar, ternyata ada saja yang nakal. Importir-importir bawang dengan sengaja menimbun Si putih menunggu harga puncak, dan mereka akhirnya akan meraih keuntungan tertinggi. Keren sekali, dan sayangnya ini berlarut-larut. Pantas saja Presiden kita tercinta kecewa dengan kinerja mentrinya, dan ibu-ibu rumah tangga kecewa dengan presidennya. Kasian sekali.
Semoga tidak ada isu politik, konspirasi apalagi pengalihan isu disini hingga masalah kenaikan bawang putih mengalahkan berita-berita yang lebih mengenaskan, lebih membunuh ibu-ibu rumah tangga. Semoga saja, ini hanya masalah waktu, sehingga ketika sudah waktunya nanti bawang  putih dan bawang merah kembali menempati posisinya sebagai bumbu masakan.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 26 February 2013

Gue Ngapak, Elu?


Sejenak, beralih dari dunia yang pengap, dengan berita-berita yang mengada-ada, dan berita yang ditiadakan.

Guru                :Selamat pagi anak-anak, sebelum pelajaran dimulai Bapak absen dulu ya…”
Murid2            : iya pak.
Guru                :Karto tuying…”
Karto tuying    : karto tuying ada pak…”
Guru                : kartonom…”
Kartonom        : ada pak…”
Guru                : kantong.
Karto tuying    : kantong ramane mati pak…”
Guru                : lumayan kie, randane biyunge, yang selanjutnya tukiman A”
Karto tuying    : Tukiman A nongkrong nang terminal pak…”
Guru                : Tukiman B..
Kartonom        :Tukiman B ora mlebu pak, jere ora diwei sangu nang biyunge  pak, dadi ora gelem mlebu sekolah…”
Guru                :”wah…wah…kang 36 murid kur 2 wong tok sing mlebu saben saben dina. Wah gaul kie. Jan payah yakin. Ya wis lah ora papa, kartonom karo karto tuying sehubungan pelajaran kita hari ini adalah pelajaran bahasa kaya kue yah, siki kita akan mempelajari tentang, apa yah jal, ana sing ngerti pora?
Karto tuying    : Ora ngerti pak
Guru                : Nek ora ngerti kandani kie, hari ini kita akan mempelajari tentang antonim, atau perlawanan kata. Oke, kita mulai saja lah ya, jadi begini anak-anak, sing jenenge antonim kue adalah lawan kata, dadi kata apa bae nang dunia kie ana lawan katane yah, misalkan langit lawan katane bumi. Nah, gue kan, Oke, sekarang kita mulai saja lah ya. Pak guru siki akan menyebutkan kata, la mengko pak guru ngomong apa kata-kata apa bae, tulung di goletna lawan katane, langsung bae dijawab ya. Karto tuying karo karto nom bareng ya. Pokoke janji kaya kue tok ora teyeng, kaya kue tok ana sing salah, ngesuk guru-guru sekabupaten Cilacap langsung pada unjuk rasa nang DPRD kon SMP gratise dicabut.
Cut! Cut!

          Yang namanya anak gaul pasti ngga asing dengan sepotong episode komedi “Curanmor” diatas, alias curahan Perasaan dan Humor. Lu ngga tau? Kasian banget sih. Lu tinggal di planet mana? Berapa lama? Ckckckckc.
          Komedi yang di perankan oleh penyiar radio Cilacap, kaki Samidi ini cukup mengena di hati pemirsa. Ngga hanya insan yang ditakdirkan memiliki keahlian bahasa “ngapak” namun juga wabah curanmor udah menjalar kemana-mana. Lebih parah dari wabah kolera yang menyerang Sierra Lione tahun 2012 lalu. Wabah ini udah kronis. Emang sih, belum ada data valid, namun berdasarkan wawancara bersama orang-orang non ngapak, komedi ini jadi idola. Kenapa?
          Menurut gue sih, salah satu unsur yang bikin komedi ini menapaki papan atas kancah perkomedian adalah karena penggunaan bahasa ngapak yang khas, yaitu bahasa ngapak Banyumasan yang di daulat sebagai ibunya bahasa ngapak. Tau sendiri kan, bahasa ngapak itu bagaimana, terutama bagi orang-orang non ngapak. Kalo gue yang emang udah fasih bahasa ngapak ya biasa aja, tapi bagi mereka, dan mungkin kamu, bahasa ngapak itu lucu, aneh, wagu, bikin ilfiil, bikin mules, atau malah bikin jatuh hati, dan banyak sebutan lain, yang bisa anda isikan pada titik-titik di bawah ini (titik-titiknya ngga usah dicari, orang ngga ada).
          Ada temen yang bilang, bahasa ngapak itu blekutuk-blekutuk. Entah maksudnya apa. Belum lagi dengan adanya fenomena, “Cantik sih cantik, tapi kalo udah ngapak sih, pikir-pikir dulu.” Wah, kalau kayak begini ceritanya, bahasa udah layaknya parameter ketertarikan aja, dan gue merasa beruntung jadi orang ngapak, karena bisa terbebas dari orang yang berfikiran sempit, yang memandang pergaulan dengan parameter bahasa (hayo siapa).
          Bahasa ngapak juga menjadi fenomena, mengalahkan fenomena-fenomena konspirasi yang menggerogoti kaki-kaki negeri, hingga menjadikan negara ini doyong sana-sini. Meski di Ngayogyakarto ini, orang-orang yang berbahasa ngapak itu minoritas, namun jika udah ketemu sesamanya, jadilah ia mayoritas. Bukan pada jumlah orangnya, namun dari keunikan bahasanya, dan ngga heran, banyak orang-orang non-ngapak yang kepengen mempelajari bahasa ngapak ini. Mulanya sih sok-sokan nyindir-nyindir gitu, tapi lama-lama ketularan juga. Tapi tetep aja, kalo orang non ngapak ngomong ngapak itu, bagi kami bangsa ngapak, wagu dan berlebihan pada huruf  K. K nya terlalu jelas, padahal bahasa ngapak itu ada seni tersendiri dalam pengucapak K, dan tentunya medoknya itu beda.
          Misalnya, dalam pengucapan “kaya kue”. Sungguh, kata itu ngga usah pake K, layaknya orang non ngapak yang nyebutnya “kayak kuek”. Bisa di maklumi sih, orang Ngayogyakarto dan sebagainya itu mungkin terobsesi dengan huruf K ( Seperti terobsesinya parpol akan kursi-kursi kekuasaan, sampai senggol kanan kiri, sepak depan belakang, oper jauh dekat). Misalnya kata dalam bahasa ngapak, “Mba” (sebutan untuk perempuan yang lebih tua), dalam bahasa non ngapak ditulisnya “Mbak”. Begitu pula dengan “de”, yang ditulis “dek”. Gue sendiri aneh sama bahasa non ngapak ini. Mungkin seperti itu lah yang dirasakan orang non ngapak pada bahasa ngapak. So, gue sih nyante aja kalo ada yang aneh-aneh ngomongin tentang bahasa ngapak.
          Namun, meskipun hampir menjadi bahasa “idola” (ngalahin idolanya boyband dan girlband yang menjamur, dan ngga kenal umur), nampaknya belum ada yang berminat membuatkan kamus bahasa ngapak, atau mungkin sudah ada namun gue aja yang belum denger. Lucu sih, dan mungkin nanti akan memperkaya khasanah bahasa bangsa. Paling tidak mencegah kepunahan bahasa ngapak dari ranah ngapaknya sendiri. Karena fenomena yang terjadi kini, meski menjadi “idola” di negri orang, namun banyak yang ahli bahasa ngapak enggan menggunakan bahasa ngapak dan menunjukan identitas kengapakannya. Mungkin karena alasan gengsi dan ngga mau di sebut,” “Cantik sih cantik, tapi kalo udah ngapak sih, pikir-pikir dulu.” Hems, bukankah fenomena ini memang sedang menjangkit Indonesia. Pada umumnya sekarang ini, Indonesia enggan menunjukan ke-Indonesiaannya. Maklum sih, label Indonesia itu banyak yang berkonotasi buruk. 
          Kembali ke ngapak. Meski kita minoritas, namun orang-orang ngapak itu memiliki peluang menjadi pewarna orang-orang non-ngapak. Meski banyak yang tertawa mendengar gue ngomong ngapak, bagi gue ngga masalah, malah itu jadi ladang ibadah. Membuat orang bahagia itu, hadiahnya pahala. So, yang punya jiwa ngapak, tunjukan ngapakmu, dan yang non-ngapak, mau belajar ngapak? Ayo disimak kaki Samidi dalam “Curanmor”. Meski sejenak, paling tidak mampu melepaskan penat.
          Satu pesan dari gue yang ngapak,” Tunjukan ngapakmu, karane ngapakmu itu ladang pahalamu. :P”

          Oya, sekedar inpo sih, bahasa ngapak itu juga banyak macemnya loh. Tiap daerah punya kekhasan sendiri, dan biasanya kosakatanya juga beda-beda. So, ngga semua orang ngapak bisa nyambung.
So, Gue Ngapak, elu?

*Catatan: Penggunaan Gue dan elu dalam tulisan ini adalah kesengajaan, berdasarkan estetika penulisan. :P


Mapir juga di blok ane..
http://ziimujikuhibiniu.blogspot.com/2013/02/gue-ngapak-elu.html


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Saturday, 23 February 2013

Belantara Otak


Saya berada di dunia yang sama dengan anda. Apakah saya merasa senyaman anda? Merasakan nyamanya kasur empuk dan selimut tebal ketika gelap menyergap, menyeruput secangkir kopi susu dan membaca koran di pagi hari. Kita mungkin melakukan hal yang sama. Tapi aku merasakan ada sebuah perasaan yang membuatku tak nyaman. Aku tak nyaman dengan dunia. Aku merasa terancam olehnya. Aku merasa asing dengan dunia yang telah menampungku lebih dari 20 tahun ini.
Aku berusaha tidak perduli. Bukankah anda dan mereka juga tidak perduli. Aku bisa melihatnya dari binar mata anda ketika melihat kembang api mengisi langit kota, yang pada saat itu aku ketakutan setengah mati (Bukankah asapnya bisa membunuhmu? Tidak serta merta, namun kemudian hari). Tapi aku tak mampu mengabaikan pemikiran yang kian hebat berterbangan di belantara urat-urat otak. Apa aku terlalu paranoid, mengada-ada dan berlebihan? Mungkin, tapi tidakkah pernah terfikirkan oleh anda, ketika anda berada di dalam dunia yang memiliki begitu banyak bahasa, bangsa, dan negara, anda hanya sendiri saja? Tidak semua bahasa aku mengerti. Tidak, aku hanya menguasai satu dua bahasa saja. Itu pun dengan keterbatasan. Bagaimana nanti jika ada yang berbicara dengan bahasa asing dan aku tidak memahami tentang apa yang mereka bicarakan, sedang keberadaanku terancam. Aku tidak mampu waspada, aku tidak mampu mempertahankan diri.
Semakin hari, semuanya semakin membuatku merasa tak nyaman. Saya enggan berlangganan koran pagi, atau menonton TV, apalagi membuka internet. Bukan tentang apa yang mereka sampaikan, namun tentang kebenaran yang sama sekali tidak mereka singgung. Bukankah itu lebih menakutkan?
Berita-berita itu, politik, budaya, dan ekonomi, membuat saya tak tenang. Satu persatu seperti mencemooh saya. Bagaimana saya bisa tenang, ketika negara saya di jadikan permainan. Seperti pion-pion catur yang sedang diadu, dan saya tidak mengetahui manusia yang berada di belakangnya. Saya tidak tahu apa tujuannya. Mungkin saja, suatu kali saya akan bertemu dia di mall, dan saya tidak mengenalinya. Padahal dia telah menusuk saya dari belakang layar. Memainkan perannya menghancurkan tanah kelahiran saya, memporak-porandakan, dan mengambil kehidupan dari diri saya. Saya tak pernah tau, dan tak mampu mempertahankan, bahkan untuk diri saya sendiri.
Masihkan anda merasa kenyamanan itu milik anda. Mungkin anda memang beruntung, dan anda akan tetap berada di dalam cangkang kenyamanan anda. Tapi saya khawatir itu tidak akan berlangsung lama lagi. Tanpa anda inginkan, anda harus keluar, dan yang saya takutkan anda belum siap dengan semuanya. Seperti bayi prematur.
Saya hanya sedang mengingatkan. Tentu bukan ingin menyeret anda memasuki dunia saya yang gila. Tapi untuk mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang mungkin bisa saja terjadi. Karena saya dan anda tidak benar-benar aman berada di dunia ini.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 19 February 2013

Iklan Produk Kecantikan VS Produk Kejelekan


Kalo lihat iklan di TV bikin nyesek hati. Kayak kena timpukan palu hingga bikin depresi. Apalagi kalau apa yang di tampilkan di TV itu banget-banget bertentangan sama diri. Bikin galau. Tapi, jadi kepikiran sendiri, kalau semisal nih berbondong-bondong media massa, yang entah sebabnya apa (mungkin aja penguasa dunia saat itu adalah orang yang merasakan hal yang sama dengan apa yang perempuan yang berkebalikan dengan iklan rasakan. Terintimidasi oleh iklan), dengan tiba-tiba menampilkan iklan-iklan yang berkebalikan dengan iklan yang ada sekarang. Yang mudahnya, produk-produk kecantikan.
Pernah menghitung perbandingan jumlah iklan yang ditujukan untuk perempuan dan untuk laki-laki di sela sinetron yang ibu kamu atau kamu tonton? Perbandingannya cukup besar. Mayoritas sasaran adalah perempuan. Bukan rahasia sih, perempuan itu memang lebih suka belanja (sebut saja konsumtif) daripada laki-laki.  Baru-baru ini aja muncul iklan untuk cowok. Habisnya, cowok-cowok sekarang juga pengen "cantik" sih. Ngga heran, produsen memberikan apa yang mereka harapkan. Penawaran akibat adanya permintaan (meski hukum ini tidak selalu benar, karena nyatanya banyak barang yang ditawarkan bukan atas dasar permintaan, namun karena ada maksud tertentu (apa ya?).
Silahkan deh, bagi yang punya waktu berdiam di depan TV buat ngehitung. Mulai dari yang pemutih, penghilang jerawat, penghilang komedo, penghilang minyak wajah, penghilang noda (kaya sabun cuci aja), penghilang kerut, pelangsing badan, peninggi tubuh, pelurus rambut, penghitam rambut, penguat rambut, hingga hal remeh-temeh lainnya tentang kecantikan yang target utamanya perempuan. Ketika semua itu di balik (Kayak di negeri cermin aja), apa yang akan terjadi? 
"Hitam itu cantik"
“Yang kelam yang bersinar” (Maksa banget)
"Berjerawat itu menarik"
"Berkomedo itu komersil"
"Yang tua makin jadi”
"Pendek itu lucu"
"Wajah berminyak itu mengkilat" (jelasss)

"Rambut berantakan itu keren"

“Tumbuh itu kesamping, bukan ke atas”
Mungkin, perempuan-perempuan di dunia (khususnya sih di Indonesia) akan lebih memilih berpanas-panasan di sawah daripada kerja di dalam kantor ber-AC. Mereka tidak takut berkotor-kotor ria dengan bergulat lumpur. Hemssss, petani desa tidak perlu khawatir tidak adanya regenerasi karena ngga ada lagi gengsi bekerja di di sawah. Perempuan-perempuan dunia tidak perlu lagi sibuk-sibuk ke salon hingga lupa ngurus anak dan suami. Pendidikan anak juga jadi lebih terkondisi. Apalagi tentang nutrisi. Ibu-ibu jadi suka masak sendiri, karena wajah berminyak itu mengkilat.
Perempuan-perempuan tidak perlu lagi rame-rame ke mall beli baju-baju mahal, hingga kartu kredit jebol (kalo yang punya). Bikin suami stress. Mungkin ujung-ujungnya korupsi, habis istri ngomel tiap hari karena iri hati sama artis di TV. Tak perlulah ada kontes kecantikan karena semua bisa cantik dengan mudah. Mudah toh bikin kulit berjerawat. Mudah toh bikin kulit hitam sekelam batu bara, dan hal itu bisa sangat mudah terjadi jika media massa melakukannya.
Mudah sekali. Tau lah, pengaruh media massa itu ruaaarrr biasa. Opini gampang banget di belokan. Dari yang kanan ke kiriiii banget, dari yang lurus jadi bengkooookkkk banget, dari yang bersih bisa kotor bangetttt. Tapi bisa juga sebaliknya. Tergantung siapa yang memegang kuasa. Apa lagi media massa banget-banget gampangnya di akses. Beli TV yang tadinya harganya juta-jutaan, sekarang? Sudah macam jamu. Gampang dapatnya. belum lagi internet yang dipenuhi iklan. Wi-Fi aja nyangsang dimana-mana, udah kaya jaring laba-laba. 
Ini contoh kecilnya aja sih. Contoh yang lebih gede, kalian cari aja sendiri. Bersyukurlah yang ngga punya TV. Ngga perlu takut terintimidasi hingga masuk ke alam mimpi (Wah, ada produsen TV ngga nih) Eits, bukan karena TVnya. Tapi karena kontens-kontens di dalamnya. Karena ngga hanya teroris yang bisa mencuci otak, kenyataannya pencuci otak yang paling nyata adalah Media massa. Mungkin untuk reverensi, bisa baca buku “Dosa-dosa Media Amerika”. Lupa gue penulisnya siapa. Isinya aja lupa. :D. Dibaca gih, nanti kasih tau ke gue. Kali aja gue salah. Kali aja, bukan media massa yang salah (dosa kah?), kali aja otak gue yang sudah keblandarang kemana-mana hingga sulit mencerna mana yang salah dan mana yang benar. Pesan singkat gue sih, jadilah pengkonsumsi cerdas.

^^


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Just writing


Kegalauan ini membuncah semakin parah. Aku ingin menulis!
Tapi jari ini masih kaku untuk menari diatas tuts, otak ini masih kusut mengurai satu persatu kata yang terangkai dalam kalimat.
Entahlah, aku hanya ingin menulis. Meledak-ledakan rasa biar tak bertumpuk Tidak hanya tentang ada tidaknya keberadaan, namun tentang cerita yang mampu menggemparkan dunia. Muluk, ya, larut dalam mimpi kosong. Aku ingin seperti dia, hingga langkahku seketika terhenti. Aku tak bisa seperti dia, aku adalah aku seutuhnya. Tak mampu menjelma menjadi manusia seperti dia. Namun apa salahnya mencoba mencicipi nikmat Tuhan yang terlebih dulu diberikan padanya. Aku tak hanya ingin menulis. Tapi aku ingin aku menjadi orang yang mampu menulis. Tujuan yang kabur, gambaran yang kabur, penat yang mengubur, serta kemalasan dan keengganan memupuk benih yang tersemai. Aku harus memberinya nutrisi. Membaca.
Sungguh! Rasanya ingin meledak pada suatu titik. Aku jenuh pada keterpasrahan. Aku jenuh menjadi bayang-bayang yang tak dikenal. Aku jenuh berada di barisan belakang. Aku jenuh hanya berdiam.
Sungguh, aku akan meledak. Mungkin tidak detik ini juga. Namun emosi ini telah mencapai ubun-ubun tertinggi.
Aku hanya ingin menulis, lalu kenapa harus ada keinginan yang lain? Ini tidak akan berhasil. Aku tak akan mampu menulis, tanpa mimpi!
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Monday, 18 February 2013

Sopir Oh Pak Sopir



Wah, propinsi tetangga kayaknya mau pemilu nih, dan sebentar lagi gue juga jadi pemilih di rimba sendiri. Tinggal menunggu hitungan bulan aja. Dan, kayaknya ngga ada matinya kalo cerita tentang hal yang satu ini.
Tentang pemilu?
Tentu aja bukan. Soal pemilu sih, pasti ada matinya, soalnya yang di pilih itu kan manusia juga, pasti suatu saat nanti ada aja yang mati. Ya ngga?
Terus?
Ini nih, masih tentang Bus Ekonomi.
Biasa si, setiap weekend, orang kayak gue yang ngga punya kegiatan di kampus, yang ngga ada kerjaan, yang ngga ada tuh yang namanya rapat-rapat, apalagi merapat di rektorat, melenggang menuju tempat pemberhentian bus kelas ekonomi. Dimana aja, namanya juga bus ekonomi. Ngga etis kan kalo punya halte. So, dimana aja boleh deh, asal busnya lewat situ aja.
Ckittttttttt!!!
Bus berhenti tepat di depan gue, dengan rem super duper kenceng. Bisa di bayangkan manusia-manusia yang berada di dalamnya. Mungkin ada yang memaki, mengelus dada, mengelus kepala, mengelus rambut, dan yang ingat, menyebut Asma-Nya. Atau bahkan reflek melakukan hal yang lain. Mungkin. Gue ngga berada di dalam sana. Namun semenit kemudian, tubuh ini sudah terhuyung-huyung memasuki area seribu cerita. Dan cerita itu dimulai.
Bus melaju lebih kencang dari yang aku bayangkan dan perkirakan. Seneng sih. Lebih cepet sampai tujuan, namun berkali-kali tubuh ringkih ini di ombang-ambingkan bak berada di kapal bersambut gelombang badai yang garang. Mending kalau dapet tempat duduk. Kalau sudah berdiri, berimpit dengan penumpang yang lain, matahari terik menyengat, sungguh ceritanya menjadi ruar biasa.
Dan sebuah bus menyalip. Syuhhhh... keren. Macam di sirkuit balapan kelas internasional. Padahal bus ini udah kencengnya ampun-ampunan, masih ada yang bisa nyalip. Sopirnya kerennnnnn. Tapi, ternyata si sopir bus yang gue naiki ngga tinggal diem aja. Di suporteri oleh kondektur, si sopir menginjak gas kencang-kencang. Dan benar saja, jalanan Jogja-Kebumen menjadi sirkuit internasional.
Seok ke kanan, rem mendadak, gas kencang, seok ke kiri, rem mendadak lagi, mau nyalip ngga jadi karena ada mobil nyempil, nyempil nyampe turun dari aspal, guncangan besar karena lobang di terjang, sungguh menjadi pemandangan yang menakjubkan alias membuat jantung deg-degan.
Apakah bus baik-baik saja?
Ngga tau juga sih. Yang gue tau, telinga ini mulai mendengar keluh kesah dari beberapa ibu-ibu, nenek renta, dan kakek tua. Yang muda si diem-diem aja. Kayaknya memang asik kan kebut-kebutan gini. Yang payah yang berada di tengah, yang berdiri, dan yang berimpit. Beruntung yang dapat PW, bagi yang ngga, harus mati-matian menjaga tubuhnya biar ngga roboh ke tubuh orang lain atau malah terjerembab ke lantai bus, maka jadilah, tangan menjadi lebih kuat dari biasanya, kaki lebih sigap dari biasanya. Sayang (Alhamdulillah..), gue harus keluar dari arena sebelum pertandingan ini di ketahui pemenangnya (turunnya itu pun nyampe keblandrang jauhhh).
Sopir itu penentu kelangsungan hidup bus dan penumpangnya. Dialah yang menentukan busnya, apakah akan melaju kencang, lamban, sedang, terseok-seok, aman untuk penumpang, membahayakan jantung penumpang, membuat nyaman penumpang, atau membuat takut penumpang. Bahkan menyusahkan penumpang. Belum lagi kalau kondekturnya, yang berada di bawah si sopir minta tarif lebih dari biasa. Waaaaah...
Begitulah seorang sopir yang menjadi pemimpin bus, manusia menjadi pemimpin dirinya sendiri, ayah pemimpin keluarga, lurah pemimpin desa, camat pemimpin kecamatan, bupati pemimpin kabupaten, gubernur pemimpin propinsi. Bagi gue ngga ada bedanya kecuali nama-namanya dan cakupan tanggung jawabnya. Intinya sama. Mereka adalah sama-sama pemimpin yang menentukan nasip (b) penumpangnya.
Bukan hal baru, ketika sopir mengantuk, sopir ugal-ugalan, puluhan nyawa penumpang melayang, di jemput malaikat pencabut nyawa. Atau, yang lebih menyedihkan lagi adalah luka, patah tulang, gegar otak, amnesia, hingga kehilangan dompet di celana.
Memang sih, ketika kita menaiki bus tidak serta merta bisa memilih bus yang tipe sopirnya pas dengan kita. Namun kalau sudah biasa dan hafal macam anak sekolah naik angkot, pasti sudah tau, mobil yang warnanya ini sopirnya begini, yang gambarnya itu sopirnya begitu. Yah, kita bisa menilainya dari pengalaman. Seperti pemimpin, kita bisa melihat dari apa yang telah ia lakukan di hari yang lalu. Jangan serta merta percaya dengan janji, karena yang akan terjadi nanti siapa tahu. Tapi paling tidak jangan asal naik bus (kalo ngga ke buru-buru) tanpa mengenal sopirnya, bisa-bisa beneran kena jantungan. Kalau perlu, sebelum naik wawancara dulu tuh sama si sopir. Kira-kira laju busnya itu kecepatannya berapa, remnya cakram ngga, busnya kuat ngga, bannya bocor ngga, dan yang paling penting adalah, sopirnya waras atau tidak. Syukur-skyukur kalau sampai tahu apakah si sopir itu ingat mati atau tidak, so bisa tau, apakah si sopir akan mempertaruhkan nyawanya sediri, minimal, hanya untuk mendahului bus lain atau tidak.
So, jadilah penumpang cerdas. Nyawamu taruhannya. :D
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 13 February 2013

Jangan Ganggu Banci (Chapter Hijab Day)


Jreng!! Jreng!! Jreng!!
Bunyi gitar yang sumbang mengisi ruang dengar pemirsa sekalian. Namanya juga bus kota kelas ekonomi, kalau ngga pengasong ya pengamen. Tapi yang bikin mata memicing kali ini adalah tipe pengamen yang berdiri tepat di samping gue. (What the orange?!!). Karena si pengamen bukan perempuan, dan laki-laki namun tidak mengakui dirinya sebagai laki-laki, tanpa pikir panjang, diri ini pun menggeser tubuh untuk duduk lebih menjauh, meski harus menyesak pada Ibu-ibu yang juga nampaknya mahfum.
Sebuah lagu selesai di nyanyikan dengan suaranya yang serak dan agak banjir karena dipaksakan menyerupai suara perempuan, dan yang selanjutnya terjadi adalah, tak ubahnya seperti pemalakan, dengan wajah garang dan bibir yang menyumpah halus, serta omelan galak, dia meminta uang ngamen dari penumpang bus mulai dari posisi terdepan. Bahkan serunya itu, ia sempat bersitegang dengan seorang bapak tua. Oh tidak, apa yang harus aku lakukan? Ngga punya receh nih. Padahal tadinya sih duitnya receh semua, tapi kan udah buat bayar ongkos bus.
“Prok..prok..prok..” suara langkahnya semakin mendekat. Keringat dingin pun mengucur deras, membanjir luruh. Akhirnya, aku hanya mampu memutuskan menggerakan tangan sebagai isyarat tidak ketika ia telah berada di sampingku, dan sebuah keajaiban terjadi. Dia tidak marah apalagi menyumpah. Ia berlalu begitu saja seperti aku tidak ada. (Haruskah saya berteriak girang dan berkeliling bus?)
Pyuh, leganya. Tapi apa yang terjadi membuatku penasaran. Akhirnya aku melihat penumpang sekitar yang wajahnya kini tertekuk. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan tidak mengenakan hijab. Lalu hubungannya apa?
Aku hanya mampu membatin dalam jantung (hati-red), aku memang berbeda dari penumpang lain. Mungkin nampak aneh. Namun, keanehanku yang menyelamatkanku (wah, segitunya).
Memang nampaknya hal ini sepele. Namun, coba deh lihat sekitarmu. Seorang perempuan yang berhijab rapi, persentasi mereka sebagai korban kejahatan, meski hanya seperti example diatas (juga ditambah, di lecehin, digodain ngga jelas, dan pelecehan seksual lain) jumlahnya lebih sedikit daripada perempuan yang tidak berhijab. Conclusinya, hijab tidak hanya sebagai identitas kamu sebagai seorang muslim, namun hijab melindungi kamu. Menghindarkan kamu dari kesempatan seseorang melakukan tindak kejahatan. “Mereka” akan berfikir dua kali ketika hendak menggangu kamu.
Pernah lihat film “Alangkah Lucunya Negeriku”? Beberapa pecopet kecil mengurungkan niatnya untuk mencopet karena target mereka adalah ustadz. Mereka takut ketaatan orang tersebut terhadap Allah akan memberikan kesialan pada mereka, dan ini tidak hanya di film. Dalam kehidupan nyata banyak sekali contoh kasusnya.
Banyak media barat yang mengklaim bahwa kasus pemerkosaan di Arab adalah yang tertinggi, namun faktanya kasus pemerkosaan di AS menempati peringkat pertama, dan di Arab hanya menempati posisi seratus sekian. Why? Bandingkan saja model berpakaian orang Amerika dan orang Arab, tak perlu aku jelaskan kan?
So, jangan ganggu banci. Eh, berhijablah biar ngga di ganggu banci. (Berhijablah untuk Allah, insyaAllah Ia akan melindungimu dari gangguan banci), dan engkau yang telah berhijab, istiqomahlah. Meski kadang panas, gerah, dan ribet namun panasnya neraka tak mampu untuk di bayangkan, dan kelak, wangi surga dapat kau cium sesukamu. InsyaAllah. 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 6 December 2012

Bunga Trotoar

Ketika ada seorang bocah, berusia tujuh atau delapan tahun mendekatimu, dan dengan entengnya mengatakan,”Mba, minta duit,” apa yang akan kamu lakukan? Pilihan biasanya ada dua, pertama, mengacuhkan. Kadang-kadang aku juga gini. Habisnya yang jadi pengemis lebih kerenan dari aku sih, lebih gemukan (aku emang kurus sangat ya?), Hpnya aja lebih canggih. Rasanya ngga etis banget aku ngasih ke orang yang punya “modal” seperti itu. Terus, pilihan kedua adalah kita menyodorkan beberapa lembar uang kita, tak jarang uang receh yang nyelip disela-sela kantong yang udah lepek. Tapi kali itu, aku pengen melakukan hal yang lain. Ah, tepatnya spontanitas ding.
Bocah itu, (ah, entahlah siapa namanya, semoga ketika besar kelak dia tak menjadi pengemis seperti apa yang ia lakukan sekarang ini) menghampiriku yang baru keluar dari In**mart dekat asrama. Ia masih menggunakan seragam sekolah, namun sudah nampak kumal. Mukanya juga kotor kena debu jalanan. Dengan entengnya dia mengatakan,”Mba, minta duit.” Kalo aku kenal dia sih ngga papa, tapi aku kan ngga kenal dia, dia juga belum tentu kenal aku. Yah, namanya juga pengemis. Tapi aku tergelitik juga buat tanya lebih lanjut.
“Minta uang buat apa dek?” tanyaku mencoba meramahkan diri.
“Buat beli es cream, Mba,” jawabnya dengan mata memandang ke aspal.
Oiii, gue aja udah berbulan-bulan ngga makan es cream.
“Memang Bapak kamu kemana? Ngga minta sama bapak aja?” tanyaku lagi. Setahuku, dan semoga benar, anak seusia dia masihlah menjadi tanggungan orang tua. Tentu tidak dibenarkan ketika dia meminta-minta pada orang lain selain orang tuanya dalam keadaan tidak terdesak. Buat beli es cream coba.
“Bapak lagi layat, Mba,”
“Bapaknya di perempatan jalan tuh, Mba,” sela seorang pemuda di dekat kami. Nampaknya ia menyimak pembicaraan kami.
“Kalo Ibu? Layat juga?”
Dia hanya mengangguk lemah. Satu fakta, dia bukan anak yatim. Setidaknya belum aku lihat pembenaran dari tindakannya menjadi peminta-minta. Mungkin kini di pikirannya waktu itu, “Mba aneh, ngapain sih nanya-nanya?” tapi aku tak perduli. Waktu-waktu yang bergulir selanjutnya, aku masih berbicara dengannya. Menyakan banyak hal tentang ini itu. Mulai dari sekolahnya, PRnya yang belum dikerjakan, ia yang dipaksa kakaknya untuk ikut mengemis (kakaknya di Al**mart juga loh), bapaknya yang tak memberinya uang, hingga pengakuannya yang mengatakan ulang tahun minggu depan. Ah, aku tentu ingin mengajaknya ke asrama. Jika mau, dia akan aku belikan kue ulang tahun yang mungkin sangat ia impikan. Tentu jika pengakuannya benar, tapi, dia menolak. Namanya juga pengemis.
Adzan magrib baru saja terdengar dari masjid, dibersamai gerimis rintik-rintik. Jika tidak teringat bahwa aku harus sholat magrib, mungkin pembicaraan setelah hampir lebih dari 20 menit itu itu akan terus berlanjut. Tapi aku ternyata harus menyudahinya setelah berkali-kali mengatakan,”Mengemis bukanlah pekerjaan. Janganlah mengemis. Tuhan tidak suka akan hal itu, dan itu sungguh bukan perbuatan yang baik, bekerjalah jika kau dewasa nanti. Tugasmu sekarang adalah belajar, biar orang tuamu yang mencari uang untukmu. Sekali lagi jangan mengemis. Itu sungguh bukan perbuatan yang baik, ” tentu dengan bahasa yang mudah untuk ia pahami (aku punya ponakan seusia dia, ingat itu! Terus knapa?).
Aku meninggalkannya, setelah sebelumnya memberinya sebungkus coklat (tau kan coklat yang biasa aku beli?-.-).
Bocah itu hanya satu, dari mungkin sekian ribu bocah-bocah yang tak beruntung. Bukan karena tak beruntung berada dalam kemiskinan, tapi karena tak beruntung berada di dalam bimbingan orang tua yang “tak benar”. Kenapa aku bilang tak benar? Jika orang tua mengasuhnya dengan benar, tak mungkin orang tuanya membiarkan anaknya malam-malam, magrib berada di luar rumah, mengemis pula. Meski semiskin apapun, jika masih mampu, orang tua yang benar-benar mengajar anaknya dengan benar, tak akan membenarkan tindakan mengemis seperti itu. Sungguh, dia pantas mendapatkan lebih dari ini.
Kemudian, terkenang masa kanak-kanak. Meski hanya berasal dari keluarga bekas transmigran, keluarga yang harus berjuang penuh untuk bertahan hidup setelah kembali ke pulau Jawa, setelah tertatih menata hidup kembali setelah goncangan bertubi-tubi, sungguh, aku lebih beruntung dari ia. Orang tuaku tak pernah mengajarkanku untuk menjadi peminta-minta. Keluargaku tak pernah meninggalkanku sendirian di kegelapan malam, menghampiri orang-orang untuk meminta uang pada mereka, berharap belas kasihan. Sungguh, aku jauh dan jauh lebih beruntung.
Ah, aku teringat pula akan negriku yang kaya raya luar biasa. Melimpah ruah sumber daya. Bagaimana negriku 10-15 tahun ke depan jika anak-anaknya lebih suka di luar untuk mengemis daripada berada di dalam rumah, belajar, mengerjakan PR, dan mengaji? Apakah ini salah keadaan? Patutkah kita menyalahkannya? Sungguh, tentu tak ada gunanya saling menyalahkan sekarang. Tak perlu pidato, penghimbauan pemberantasan kemiskinan, tak perlu sumbangan janji-janji, tak perlu, sungguh.
Dan, aku selalu bertanya, apa yang bisa aku lakukan?
Lagi-lagi jawabannya adalah, aku hanya bisa menulis. Melukis keadaan mereka dengan goresan tinta. Menerjemahkan keadaan mereka dengan otakku yang terbatas, dan semoga mampu mengetuk hati yang keras, untuk sekedar peduli, melihat dan turut memikirkan, apa yang bisa kita lakukan. Tidak hanya untuk mengulurkan tangan, membantu, tapi juga berusaha memutus rantai yang terlanjur terjalin kuat. Negara kita bukan negara pengemis. Ah, lagi-lagi, mungkin itu terlalu muluk.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com