Wednesday, 24 April 2013
Bukan Masa Galileo
on 03:53 by Tinta Kering with
No comments
Bukan
tidak mungkin kalau berita Bom Boston juga mengandung konspirasi, dan
manusia-manusia di belakang mereka
adalah dalang penebar kebencian. Nampaknya kasus-kasus lokal yang terjadi di
Indonesia tidak perlu di bahas lagi. Kejelasannya sudah sangat jelas. Media menjadi senjata handal guna membelokan dan mempelintirkan kenyataan dan kebenaran. Pembaca sekalian pasti sudah memahami apa yang
saya maksud.
Akhirnya, bukan hendak menyebarkan virus ketidak percayaan
pada media, karena memang tidak semua media tidak dapat dipercaya, namun pintar-pintarlah menjadi masyarakat. Jangan sampai
mempercayai media seperti mempercayai ibumu, dan merasa nyaman-nyaman saja ketika
mereka memberikan “makanan” pada kita.
Salam
Mujiku Hibiniu
Friday, 12 April 2013
Kita Bukan Sepeda
on 09:52 by Tinta Kering with
No comments
Udara pagi menyambut segenap penghuni bumi. Matahari tak ketinggalan memberi pelukan hangat kepada setiap yang dijumpainya. Meski sebagian besar dari mereka tidak perduli. Sibuk, kesibukan mereka memadati jalanan, serta antrian dibeberapa perempatan, klakson-klakson bersahutan, serta kegelisahan karena roda tak juga dapat segera berjalan, dan jarum jam yang melaju tak kenal pemberhentian. Pagi ini menjadi pagi yang super sibuk.
Disalah satu sudut pusat kota, sebuah sepeda melaju dengan perlahan, tak mengidahkan kesibukan jalanan. Pengendaranya lebih memilih bermesra ria dengan sinar matahari pagi. Bahkan ia pun tak mengidahkan beberapa klakson yang tertuju padanya. Bukan tak mengidahkan sebenarnya, namun ia telah berada pada jalur yang benar, jalur untuk para pesepeda. Ya, pengklakson itu pun pasti sudah tahu tentang hal itu. Hanya saja mungkin mereka ingin agar si pengendara sepeda berjalan lebih cepat dan cepat lagi.
Bukankah sepeda hanyalah sepeda. Hingga berkali-kali di klakson sekalipun ia tetap sebuah sepeda yang berjalan jika pengendaranya mengayuh pedalnya. Seberapa sih kekuatan si pengayuh? Tidak akan mampu menyamai kecepatan mobil. Apalagi jika jalan yang dilalui menanjak. 10 km/jam mungkin jadi kecepatan maksimal.
Ya, seberapa kalipun mobil itu menekan klakson, beratus-ratus kali, sepeda tetaplah sepeda. Kecepatannya tak akan melampau motor, atau bahkan mobil, apalagi berharap seperti pembalap di circuit. Itu hanya harapan kosong.
Namun, bukankah kita bukan sepeda?
Klakson, layaknya seruan Allah kepada kita, umatnya yang sering lalai dan alpa. Allah telah mengutus Rasulullah untuk menyampaikan ketauhidan, dan kebenaran tunggal. Tidak ada keraguan lagi padanya. Tentu Beliau pun telah menyampaikan syaria-syariat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk umat manusia, tanpa terkecuali.
Sekarang sering sekali muncul pertanyaan, Rasulullah telah meninggalkan umat manusia bertahun-tahun lalu, apakah yang mampu kita jadikan pedoman daripadanya, sedang kita tak lagi dapat menemuinya?
Bukankah semua aturan tentang kehidupan telah ada dalam Al Qur’an dan hadist. Meski Al Qur’an diturunkan 14 abad yang lalu, namun keberlakuannya hingga akhir jaman. Begitupun hadist-hadist Rasulullah. Tidak ada yang namanya kuno atau tidak sesuai tuntutan jaman. Al Qur’an itu selalu up date. Selalu tau tentang apa yang akan di hadapi manusia pada setiap jamannya, dan kisah-kisah umat manusia terdahulu yang dicantumkan dalam Al Qur’an sekiranya dapat menjadi pelajaran berharga untuk umat manusia.
Mungkin berkata tentang seruan yang ada di dalam Al Qur’an dan Hadist terasa berat. Ah, membaca saja tak pernah. Al Qur’an yang di beli dengan mencari kualitas terbaik sering hanya tersusun rapi di rak-rak buku, tanpa tersentuh. Namun bukankah hamba-hamba Allah, jundi-jundi Allah, dengan berbagai sarana yang menurut kita lebih “up to date” telah menyampaikan padamu. Telah disampaikannya berita bahagia tentang surga, dan kedukaan yang tiada berakhir dari neraka.
Facebook, twitter, yang mungkin kini tengah berada di hadapanmu, telah mereka jadikan ladang dakwah, yang tiap kali dapat kita jumpai padanya status, catatan, ataupun hanya sekedar komentar tentang seruan-seruan kebaikan. Seminar-seminar ilmu, kajian-kajian, serta forum-forum keislaman telah mereka selenggarakan, untuk mengajakmu mendalami Islam, mengkaji ilmu Allah. Itu dengan sangat mudah kita temui pada sekitar.
Ya, klakson itu adalah seruan dakwah pada kita agar kita cepat memperbaiki diri, cepat move on dari ketidaktahuan menjadi ingin tahu pada segala hal ilmu Allah di muka bumi, akankah di abaikan begitu saja? Lagi-lagi haruskah saya katakan bahwa kita bukanlah sepeda. Kita adalah manusia yang di karuniai kekuatan dan akal yang mampu berfikir (jika mau). Maka sudah sepantasnya kita menyambut seruan itu. Tidak hanya mendengarkan layaknya sepeda.
Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf:32)
Wednesday, 27 March 2013
Ia yang Aku Sebut Mama
on 22:19 by Tinta Kering with
No comments
Rindu...
Hanya mampu aku titipkan pada rinai hujanMu, duhai Dzat yang Memiliki jiwa raga ini
Ketika berpulang nampak seperti mimpi.
Menanggalkan asa yang menggebu pada tumpu yang semakin kelu,
Apakah kau sudah makan pagi ini?
Mengganjal perutmu dengan sesuap nasi yang sering terlupa karena sibukmu.
Apakah asam uratmu sudah membaik?
Hingga tak perlu lagi kau meringis dalam sujudmu.
Hingga tak perlu lagi obat-obat itu,
Apakah kau mampu tertawa seperti aku yang tertawa terbahak?
Sedang engkau sibuk memikirkan anak-anakmu,
Dan aku, tak akan pernah mampu mengganti setiap tetes keringat yang keluar dari pori-pori kulitmu yang berkeriput,
mata yang nanar karena terik matahari di sawah yang gersang,
kaki yang hampir lumpuh,
Tangan kasar tergerus beling-beling tajam,
Menepiskan segala hasrat dunia,
Meninggalkan kesenangan raga,
Hanya untuk anak yang kau jaga 9 bulan dalam rahimmu,
Yang kau timang dalam buaianmu,
Tapi sering berkata ah, dan mungkin tidak,
Padahal telah kau beri segala.
Telah kau penuhi jiwanya dengan kasihmu,
Telah kau penuhi raganya dengan keringatmu,
Telah kau berikan nyawanya dengan taruhan nyawamu,
Ah, lagi-lagi aku hanya mampu berdoa padaMu, Dzat yang merajai dunia.
Do’a rapi yang kuselipkan pada jemari-jemari yang mengadah meminta,
Semoga ia sampai,
pada perempuan tua yang masih bersikukuh melawan usia,
pada wanita perkasa yang berkali-kali menampar kejamnya dunia,
pada perempuan biasa yang kerap berurai air mata,
yang sedari kecil aku sebut ia, Mama.
Kumpulan status FB yang Masih Terdeteksi
on 22:18 by Tinta Kering with
No comments
14 Desember 2012
Dulu, jaman doeloe. sekali...orang selalu
berfikir dua sampe puluhan kali buat cerita alias curhat tentang masalahnya
kepada orang lain. Alasan gengsi sampe alasan ngga syar'i, Meski masalahnya itu
amat sanagat berat sekali. Tak heran banyak yang bermunajahat kepada Sang
Khaliq.
Kalo jaman sekarang? keren euy...cuma blanja dipasar aja langsung curhat sama HPnya, lepinya, BBnya, dan iPodnya. Tadinya sih pengen nglegain pikiran. Tapi ternyata jadi banyak yang nanggepin. Terus keterusan deh.. Sampe2 lupa akan batas tentang apa yang boleh di ketahui khalayak sama yang seharusnya dipendam sendiri (kaya aku ini nih). Dan lebih parahnya, munahajat kepada Allah beralih ke munajahat ke dinding FB hanya dengan pancingan tulisan: apa yang anda pikirkan?
Padahal Allah menjanjikan penyelesaian.
Kalo jaman sekarang? keren euy...cuma blanja dipasar aja langsung curhat sama HPnya, lepinya, BBnya, dan iPodnya. Tadinya sih pengen nglegain pikiran. Tapi ternyata jadi banyak yang nanggepin. Terus keterusan deh.. Sampe2 lupa akan batas tentang apa yang boleh di ketahui khalayak sama yang seharusnya dipendam sendiri (kaya aku ini nih). Dan lebih parahnya, munahajat kepada Allah beralih ke munajahat ke dinding FB hanya dengan pancingan tulisan: apa yang anda pikirkan?
Padahal Allah menjanjikan penyelesaian.
*Semoga saya
segera sadar.. -.-
14 Januari 2013
Kenapa Allah susah-susah menciptakan besi dan
menyediakannya di bumi?
Padahal besi sendiri tidak dapat terbentuk di bumi. Memang besi tak seberharga emas. Tapi coba pikirkan ketika besi tak dikirimkan oleh Allah dari ruang angkasa sana. Ya, besi hanya bisa terbentuk dari benda angkasa yang memiliki bintang minimal 5kali lipat besarnya dari matahari.
Jika besi di bumi sebanyak ini, bayangkan dahsyatnya tabrakan yang dulu pernah terjadi.
Wallahu alam.
Padahal besi sendiri tidak dapat terbentuk di bumi. Memang besi tak seberharga emas. Tapi coba pikirkan ketika besi tak dikirimkan oleh Allah dari ruang angkasa sana. Ya, besi hanya bisa terbentuk dari benda angkasa yang memiliki bintang minimal 5kali lipat besarnya dari matahari.
Jika besi di bumi sebanyak ini, bayangkan dahsyatnya tabrakan yang dulu pernah terjadi.
Wallahu alam.
#Refleksi QS. Al Hadid...
11 Maret 2013
Lebih seneng ngomong sama kertas
dari pada sama orang. Karena kertas itu menerima apa saja yang saya bicarakan,
tanpa mengeluh apakah saya ngomongnya kepanjangan, belepotan, atau bahkan OOT. Lebih suka ngomong sama kertas
daripada sama manusia karena kertas itu tanpa prasangka, amarah, apalagi
prasangka. Apalagi dia mudah sekali memaafkan. Sekali di hapus, tiada berbekas.
Leboh suka ngomong sama kertas dari pada sama manusia,
karena kertas tidak akan membuat kecewa, karena dia tidak menghakimi dan tidak
ingkar, tidak berbohong pada kemurniannya, atau munafik akan apa yang ada pada
dirinya. Putih ya putih, bercoret-coret ya bercoret-coret.
#Dapatkah menjadi kertas dengan hati yang selalu bergejolak, dan otak yang selalu mengelak?.
11 Maret 2013
Jadilah pemilik status yang berguna,
bermanfaat, dan bermartabat. Dari seribu satu penulis status, lebih dari 50%
statusnya tentang kegalauan hidup, 25% tentang aktivitas kesehariannya. Sudah
macam reality show buat artis-artis itu. Mungkin berlagak seperti artis. 15%
Adalah tentang kalimat-kalimat penuh hikmah yang di copas dari negara antah
berantah, atau benar-benar habis baca buku dan nemu kata yang menginspirasi, dan
sisanya adalah seperti status ini. Tidak jelas juntrungnya. Tidak jelas
maksudnya. Tidak jelas tujuannya. Tentu data ini tidak akurat. Jauh dari
kevalidan. Saya juga hanya mengira-ira. Karena teman saya tidak ada 1001, hanya
801 dan lebih dari 75% darinya tidak saya kenal, tidak perduli dengan kehidupan
saya apalagi status saya, dan saya pun sama tidak perdulinya. Tapi, ketika ada
status yang setidaknya menginspirasi, memotivasi dan syukurnya adalah memberi
hidayah, kenapa tidak melakukannya. Pahala akan mengalir, padahal kita hanya
copas status dunia antah berantah. Dari pada sekedar pasang statu ala artis,
biar semua tau aktivitas kita? Buat apa? Agar semua tau apa yang kita rasakan?
Jangan- jangan malah di manipulasi setan. Apalagi kalo ketemu sama orang kepo.
Bisa saja jadi fitnah yang mengada- ada. Ada banyak celah menuju kebaikan,
sebaliknya ada banyak jurang menuju kesalahan, hanya dengan status yang anda
tulis.
Apakah status ini jatuh ke jurang keburukan? Harapannya tidak.
Sabtu, 16 Maret 2013
Yang terbaik belum tentu menang dan
yang bekerja keras belum tentu mendapatkan lebih. Tapi itu bukan hal yang
seharusnya menghalangi kaki untuk melangkah tanpa lelah, tangan untuk bekerja
keras, mulut untuk berbicara benar, otak untuk berfikir jernih dan bhati untuk
merasai kasih sayang.
Semangat hari Sabtu...!
Senin, 25 Maret 2013
Kenapa ada sekat-sekat bernama
organisasi jika sebenarnya Rasulullah adalah Rahmatan Lin Alamin?
Selasa, 26 Maret 2013
Aku memiliki bagianku dan kalian
memiliki bagian kalian. Biar kita berjalan pada alur yang berbeda namun akhir
tujuan kita adalah sama.
Rabu, 27 Maret 2013
1. Kalo tawaf, kita berputar pada arah
yang sama, kalo sholat kita menghadap pada kiblat yang sama, tapi kalo soal
kekuasaan, politik, kenapa saling beda haluan? Beda prinsip? Prinsip yang mana?
Bukankah prinsip kita al Qur'an dan hadist? Beda ideologi? Bukankah Ideologi
kita Al Qur'an dan hadist? Apanya yang beda?
2.
Kaum generalis jg perlu. Tp kaum
spesialis jgn dilupakan. Lihat media, misalnya. Islam dihajar terus. Tp media
Islam ke mana? Sudah jumlahnya sedikit, yg ada pun kualitasnya memprihatinkan.
Wartawannya gak ok, redaktur payah, desain seadanya dll. Kalau begitu
kondisinya, kapan kita mau meruntuhkan dominasi TIME, CNN dan semacamnya?
http://chirpstory.com/li/63463
#Jangan terpekur saja dengan perbedaan yang jika di bahas akan semakin membesar dan membesar. Jangan terpekur saja dengan golongan-golongan yang katanya beda faham. Sudah saatnya bangun. "Mereka" sudah siap perang, dengan misi teramat rapi, namun kita masih tertidur pulas dengan mimpi-mimpi surga padahal mempelajari Al Qur'an pun enggan. Kita beda, ya. Bukan berarti harus membeda-bedakan. Kita beda cara, ya. Bukan berarti saling mencela. Kita beda jalur, ya, dan ingat, tujuan kita satu.
http://chirpstory.com/li/63463
#Jangan terpekur saja dengan perbedaan yang jika di bahas akan semakin membesar dan membesar. Jangan terpekur saja dengan golongan-golongan yang katanya beda faham. Sudah saatnya bangun. "Mereka" sudah siap perang, dengan misi teramat rapi, namun kita masih tertidur pulas dengan mimpi-mimpi surga padahal mempelajari Al Qur'an pun enggan. Kita beda, ya. Bukan berarti harus membeda-bedakan. Kita beda cara, ya. Bukan berarti saling mencela. Kita beda jalur, ya, dan ingat, tujuan kita satu.
Saturday, 16 March 2013
Bukan Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih
on 08:42 by Tinta Kering with
No comments
Beberapa hari ini melihat bawang menjadi headline koran langganan
asrama membuatku berfikir tentang bumbu masak yang satu ini. Hems, biasanya
mana pernah. Meski ia (si Bawang Putih) sering sekali menjadi materi yang
memanjakan lidah bersama bumbu-bumbu yang lain, tak pernah terbayangkan bahwa
dia mampu membuat kekisruhan yang layak di jadikan headline sebuah koran
nasional. Dua kali pula. Wah, sungguh. Mungkin ini belum berakhir. Bisa saja
hari-hari berikutnya ia masih akan menjadi headline.
Tentu masalah utamanya bukan karena si bawang putih korupsi,
ataupun ikut-ikutan berpolitik, nyalon jadi Cagub. Apalagi ikut-ikutan kasta kekuasaan.
Ah, tentu juga bukan karena Si Bawang Putih melakukan kejahatan kemanusiaan.
Eh, tapi mungkin saja iya. Tapi jelas bukan si Bawang Putih pelakunya. Dia
hanya sebagai objek. Mungkin juga di oplos menjadi kambing hitam. Ngeri sekali.
Si bawang putih yang seputih susu berubah menjadi kambing hitam yang segala
rupanya hitam. Oplosan pula.
Masalah utamanya adalah karena harga Si putih ini melambung tinggi.
Setelah sebelumnya di pusingkan dengan mahalnya harga daging, ternyata Si
bawang ini tidak mau ketinggalan juga. Mungkin dia ingin kenaikan derajatnya
sekelas daging biar lebih di perhatikan. Pasalnya, selama ini siapa yang
memperhatikan bawang putih? Coba hitung saja, berapa siung bawang putih yang
ibumu pakai untuk masak sayur dan bumbu lain setiap harinya. Tidak ada satu
kilo. Ah, paling lima-enam siung. Pasti kalah dari penggunaan cabai ataupun
bawang merah. Tapi kenapa ia mampu menjadi headline?
Saya jelas tidak tau, dan tidak akan membahas kebijakan koran akan
hal ini. Tapi setidaknya saya tau, karena saking tidak di perhatikannnya, di
Indonesia, bawang putih dalam negeri hanya mampu memenuhi 5% kebutuhan pasar.
Wah, sediki sekali. Jelas saja. Karena bawang putih tidak terlalu di perhatikan
petani sehingga petani enggan menanamnya. Petani lebih senang menanam bawang
merah yang perawatannya dianggap lebih mudah.
Tak heran pemerintah membolehkan import untuk memenuhi kebutuhan
pasar nasional. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketika pemerintah
membatasi jumlah import bawang. Tidak hanya bawang putih si, tapi juga import
barang yang lain. Tapi dampak yang kini terasa adalah bawang yang melambung
tinggi. Bagi kita-kita mungkin kenaikan harga bawang ini tidak menjadi masalah
yang besar. Toh, ngga pake bawang juga ngga apa-apa. Asalkan makanan di warung
bu Ida harganya tetap sama. Kecuali jika harganya naik, baru itu menjadi
masalah yang harus di pecahkan dengan segera karena sifatnya yang mendesak.
Tapi, buat ibu-ibu di Kebumen kenaikan bawang putih ini menjadi
masalah. Si Bawang Putih memaksa mereka tidak menumis sayuran, atau mengolah
makanan lain yang menggunakan bawang putih. Mereka lebih suka membeli makanan
matang di warung-warung. Akhirnya, pengeluaran rumah tangga pun bertambah. Bagi
beberapa penjual, kenaikan bawang harga bawang putih ini memaksa mereka untuk
menutup toko, buntutnya mereka tidak ada pemasukan. Dan untuk petani bawang
merah, kenaikan bawang putih yang diikuti kenaikan harga bawang merah mencekik
leher mereka.
Apa pasalnya petani bawang merah di bawa-bawa? Jelas ini bukan
karena cerita tentang bawang putih dan bawang merah dalam dongeng klasik. Sama
sekali bukan. Ini adalah cerita murni tentang bumbu masak yang jika kita
tanpanya pun masih bisa hidup. Petani bawang merah merasa kesulitan menanam
bawang merah karena harga bibit naik akibat kenaikan harga bawang merah. Yang
dalam hal ini keduanya searah sejalan. Tapi entahlah. Padahal kebijakan
pembatasan bawang untuk melindungi produksi lokal.
Saya setuju dengan pembatasa barang import. Bahkan jika perlu
contoh saja Cina dengan politik isolasinya. Toh, jika di garap dengan serius,
kita mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri. Apa sih yang tidak tumbuh di
Indonesia? Apa sih yang tidak tertanam di bumi indonesia. Apa sih yang tidak
bisa di lakukan anak-anak cerdas Indonesia. Yang tidak bisa dilakukan saat ini
hanyalah memaksimalkan potensi yang di miliki.
Ah, ternyata di tengah-tengah kekisruhan yang tengah melanda
ibu-ibu rumah tangga, meski dalam kapasitas yang tidak terlalu besar, ternyata
ada saja yang nakal. Importir-importir bawang dengan sengaja menimbun Si putih
menunggu harga puncak, dan mereka akhirnya akan meraih keuntungan tertinggi.
Keren sekali, dan sayangnya ini berlarut-larut. Pantas saja Presiden kita
tercinta kecewa dengan kinerja mentrinya, dan ibu-ibu rumah tangga kecewa
dengan presidennya. Kasian sekali.
Semoga tidak ada isu politik, konspirasi apalagi pengalihan isu
disini hingga masalah kenaikan bawang putih mengalahkan berita-berita yang
lebih mengenaskan, lebih membunuh ibu-ibu rumah tangga. Semoga saja, ini hanya
masalah waktu, sehingga ketika sudah waktunya nanti bawang putih dan bawang merah kembali menempati
posisinya sebagai bumbu masakan.
Tuesday, 26 February 2013
Gue Ngapak, Elu?
on 10:10 by Tinta Kering with
No comments
Sejenak, beralih dari dunia yang
pengap, dengan berita-berita yang mengada-ada, dan berita yang ditiadakan.
Guru :“Selamat pagi anak-anak, sebelum
pelajaran dimulai Bapak absen dulu ya…”
Murid2 : “iya pak….”
Guru :”Karto tuying…”
Karto tuying : “karto tuying ada
pak…”
Guru : “kartonom…”
Kartonom : “ada pak…”
Guru : “kantong….”
Karto tuying : “kantong ramane
mati pak…”
Guru : “lumayan kie, randane biyunge, yang
selanjutnya tukiman A”
Karto tuying : “Tukiman A
nongkrong nang terminal pak…”
Guru : “Tukiman B..”
Kartonom :”Tukiman B ora mlebu pak, jere ora
diwei sangu nang biyunge pak, dadi ora gelem mlebu sekolah…”
Guru :”wah…wah…kang 36 murid kur 2 wong
tok sing mlebu saben saben dina. Wah gaul kie. Jan payah yakin. Ya wis lah ora
papa, kartonom karo karto tuying sehubungan pelajaran kita hari ini adalah
pelajaran bahasa kaya kue yah, siki kita akan mempelajari tentang, apa yah jal,
ana sing ngerti pora?
Karto tuying : “Ora ngerti pak”
Guru :” Nek ora ngerti kandani kie, hari
ini kita akan mempelajari tentang antonim, atau perlawanan kata. Oke, kita
mulai saja lah ya, jadi begini anak-anak, sing jenenge antonim kue adalah lawan
kata, dadi kata apa bae nang dunia kie ana lawan katane yah, misalkan langit
lawan katane bumi. Nah, gue kan, Oke, sekarang kita mulai saja lah ya. Pak guru
siki akan menyebutkan kata, la mengko pak guru ngomong apa kata-kata apa bae,
tulung di goletna lawan katane, langsung bae dijawab ya. Karto tuying karo
karto nom bareng ya. Pokoke janji kaya kue tok ora teyeng, kaya kue tok ana
sing salah, ngesuk guru-guru sekabupaten Cilacap langsung pada unjuk rasa nang
DPRD kon SMP gratise dicabut.
Cut! Cut!
Yang namanya anak gaul pasti ngga
asing dengan sepotong episode komedi “Curanmor” diatas, alias curahan Perasaan
dan Humor. Lu ngga tau? Kasian banget sih. Lu tinggal di planet mana? Berapa
lama? Ckckckckc.
Komedi yang di perankan oleh
penyiar radio Cilacap, kaki Samidi ini cukup mengena di hati pemirsa. Ngga
hanya insan yang ditakdirkan memiliki keahlian bahasa “ngapak” namun juga wabah
curanmor udah menjalar kemana-mana. Lebih parah dari wabah kolera yang
menyerang Sierra Lione tahun 2012 lalu. Wabah ini udah kronis. Emang sih, belum
ada data valid, namun berdasarkan wawancara bersama orang-orang non ngapak,
komedi ini jadi idola. Kenapa?
Menurut gue sih, salah satu unsur
yang bikin komedi ini menapaki papan atas kancah perkomedian adalah karena
penggunaan bahasa ngapak yang khas, yaitu bahasa ngapak Banyumasan yang di
daulat sebagai ibunya bahasa ngapak. Tau sendiri kan, bahasa ngapak itu
bagaimana, terutama bagi orang-orang non ngapak. Kalo gue yang emang udah fasih
bahasa ngapak ya biasa aja, tapi bagi mereka, dan mungkin kamu, bahasa ngapak
itu lucu, aneh, wagu, bikin ilfiil, bikin mules, atau malah bikin jatuh hati,
dan banyak sebutan lain, yang bisa anda isikan pada titik-titik di bawah ini
(titik-titiknya ngga usah dicari, orang ngga ada).
Ada temen yang bilang, bahasa
ngapak itu blekutuk-blekutuk. Entah maksudnya apa. Belum lagi dengan adanya
fenomena, “Cantik sih cantik, tapi kalo udah ngapak sih, pikir-pikir dulu.”
Wah, kalau kayak begini ceritanya, bahasa udah layaknya parameter ketertarikan
aja, dan gue merasa beruntung jadi orang ngapak, karena bisa terbebas dari
orang yang berfikiran sempit, yang memandang pergaulan dengan parameter bahasa
(hayo siapa).
Bahasa ngapak juga menjadi
fenomena, mengalahkan fenomena-fenomena konspirasi yang menggerogoti kaki-kaki
negeri, hingga menjadikan negara ini doyong sana-sini. Meski di Ngayogyakarto
ini, orang-orang yang berbahasa ngapak itu minoritas, namun jika udah ketemu
sesamanya, jadilah ia mayoritas. Bukan pada jumlah orangnya, namun dari
keunikan bahasanya, dan ngga heran, banyak orang-orang non-ngapak yang kepengen
mempelajari bahasa ngapak ini. Mulanya sih sok-sokan nyindir-nyindir gitu, tapi
lama-lama ketularan juga. Tapi tetep aja, kalo orang non ngapak ngomong ngapak
itu, bagi kami bangsa ngapak, wagu dan berlebihan pada huruf K. K nya terlalu jelas, padahal bahasa ngapak itu ada seni
tersendiri dalam pengucapak K, dan tentunya medoknya itu beda.
Misalnya, dalam pengucapan “kaya
kue”. Sungguh, kata itu ngga usah pake K, layaknya orang non ngapak yang
nyebutnya “kayak kuek”. Bisa di maklumi sih, orang Ngayogyakarto dan sebagainya
itu mungkin terobsesi dengan huruf K ( Seperti terobsesinya parpol akan
kursi-kursi kekuasaan, sampai senggol kanan kiri, sepak depan belakang, oper jauh
dekat). Misalnya kata dalam bahasa ngapak, “Mba” (sebutan untuk perempuan yang
lebih tua), dalam bahasa non ngapak ditulisnya “Mbak”. Begitu pula dengan “de”,
yang ditulis “dek”. Gue sendiri aneh sama bahasa non ngapak ini. Mungkin
seperti itu lah yang dirasakan orang non ngapak pada bahasa ngapak. So, gue sih
nyante aja kalo ada yang aneh-aneh ngomongin tentang bahasa ngapak.
Namun, meskipun hampir menjadi
bahasa “idola” (ngalahin idolanya boyband dan girlband yang menjamur, dan ngga
kenal umur), nampaknya belum ada yang berminat membuatkan kamus bahasa ngapak,
atau mungkin sudah ada namun gue aja yang belum denger. Lucu sih, dan mungkin
nanti akan memperkaya khasanah bahasa bangsa. Paling tidak mencegah kepunahan
bahasa ngapak dari ranah ngapaknya sendiri. Karena fenomena yang terjadi kini,
meski menjadi “idola” di negri orang, namun banyak yang ahli bahasa ngapak
enggan menggunakan bahasa ngapak dan menunjukan identitas kengapakannya.
Mungkin karena alasan gengsi dan ngga mau di sebut,” “Cantik sih cantik, tapi
kalo udah ngapak sih, pikir-pikir dulu.” Hems, bukankah fenomena ini memang
sedang menjangkit Indonesia. Pada umumnya sekarang ini, Indonesia enggan
menunjukan ke-Indonesiaannya. Maklum sih, label Indonesia itu banyak yang
berkonotasi buruk.
Kembali ke ngapak. Meski kita
minoritas, namun orang-orang ngapak itu memiliki peluang menjadi pewarna
orang-orang non-ngapak. Meski banyak yang tertawa mendengar gue ngomong ngapak,
bagi gue ngga masalah, malah itu jadi ladang ibadah. Membuat orang bahagia itu,
hadiahnya pahala. So, yang punya jiwa ngapak, tunjukan ngapakmu, dan yang
non-ngapak, mau belajar ngapak? Ayo disimak kaki Samidi dalam “Curanmor”. Meski
sejenak, paling tidak mampu melepaskan penat.
Satu pesan dari gue yang ngapak,”
Tunjukan ngapakmu, karane ngapakmu itu ladang pahalamu. :P”
Oya, sekedar inpo sih, bahasa
ngapak itu juga banyak macemnya loh. Tiap daerah punya kekhasan sendiri, dan
biasanya kosakatanya juga beda-beda. So, ngga semua orang ngapak bisa nyambung.
So, Gue Ngapak, elu?
*Catatan: Penggunaan Gue dan elu dalam
tulisan ini adalah kesengajaan, berdasarkan estetika penulisan. :P
Mapir juga di blok ane..
http://ziimujikuhibiniu.blogspot.com/2013/02/gue-ngapak-elu.html
Saturday, 23 February 2013
Belantara Otak
on 07:06 by Tinta Kering with
No comments
Saya
berada di dunia yang sama dengan anda. Apakah saya merasa senyaman anda?
Merasakan nyamanya kasur empuk dan selimut tebal ketika gelap menyergap,
menyeruput secangkir kopi susu dan membaca koran di pagi hari. Kita mungkin
melakukan hal yang sama. Tapi aku merasakan ada sebuah perasaan yang membuatku
tak nyaman. Aku tak nyaman dengan dunia. Aku merasa terancam olehnya. Aku
merasa asing dengan dunia yang telah menampungku lebih dari 20 tahun ini.
Aku
berusaha tidak perduli. Bukankah anda dan mereka juga tidak perduli. Aku bisa
melihatnya dari binar mata anda ketika melihat kembang api mengisi langit kota,
yang pada saat itu aku ketakutan setengah mati (Bukankah asapnya bisa
membunuhmu? Tidak serta merta, namun kemudian hari). Tapi aku tak mampu
mengabaikan pemikiran yang kian hebat berterbangan di belantara urat-urat otak.
Apa aku terlalu paranoid, mengada-ada dan berlebihan? Mungkin, tapi tidakkah
pernah terfikirkan oleh anda, ketika anda berada di dalam dunia yang memiliki
begitu banyak bahasa, bangsa, dan negara, anda hanya sendiri saja? Tidak semua
bahasa aku mengerti. Tidak, aku hanya menguasai satu dua bahasa saja. Itu pun
dengan keterbatasan. Bagaimana nanti jika ada yang berbicara dengan bahasa
asing dan aku tidak memahami tentang apa yang mereka bicarakan, sedang
keberadaanku terancam. Aku tidak mampu waspada, aku tidak mampu mempertahankan
diri.
Semakin
hari, semuanya semakin membuatku merasa tak nyaman. Saya enggan berlangganan
koran pagi, atau menonton TV, apalagi membuka internet. Bukan tentang apa yang
mereka sampaikan, namun tentang kebenaran yang sama sekali tidak mereka
singgung. Bukankah itu lebih menakutkan?
Berita-berita
itu, politik, budaya, dan ekonomi, membuat saya tak tenang. Satu persatu
seperti mencemooh saya. Bagaimana saya bisa tenang, ketika negara saya di
jadikan permainan. Seperti pion-pion catur yang sedang diadu, dan saya tidak
mengetahui manusia yang berada di belakangnya. Saya tidak tahu apa tujuannya.
Mungkin saja, suatu kali saya akan bertemu dia di mall, dan saya tidak
mengenalinya. Padahal dia telah menusuk saya dari belakang layar. Memainkan
perannya menghancurkan tanah kelahiran saya, memporak-porandakan, dan mengambil
kehidupan dari diri saya. Saya tak pernah tau, dan tak mampu mempertahankan,
bahkan untuk diri saya sendiri.
Masihkan
anda merasa kenyamanan itu milik anda. Mungkin anda memang beruntung, dan anda
akan tetap berada di dalam cangkang kenyamanan anda. Tapi saya khawatir itu
tidak akan berlangsung lama lagi. Tanpa anda inginkan, anda harus keluar, dan
yang saya takutkan anda belum siap dengan semuanya. Seperti bayi prematur.
Saya
hanya sedang mengingatkan. Tentu bukan ingin menyeret anda memasuki dunia saya
yang gila. Tapi untuk mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang
mungkin bisa saja terjadi. Karena saya dan anda tidak benar-benar aman berada
di dunia ini.
Tuesday, 19 February 2013
Iklan Produk Kecantikan VS Produk Kejelekan
on 19:27 by Tinta Kering with
No comments
Kalo lihat iklan di TV bikin nyesek
hati. Kayak kena timpukan palu hingga bikin depresi. Apalagi kalau apa yang di
tampilkan di TV itu banget-banget bertentangan sama diri. Bikin galau. Tapi,
jadi kepikiran sendiri, kalau semisal nih berbondong-bondong media massa, yang
entah sebabnya apa (mungkin aja penguasa dunia saat itu adalah orang yang
merasakan hal yang sama dengan apa yang perempuan yang berkebalikan dengan
iklan rasakan. Terintimidasi oleh iklan), dengan tiba-tiba menampilkan
iklan-iklan yang berkebalikan dengan iklan yang ada sekarang. Yang mudahnya,
produk-produk kecantikan.
Pernah menghitung perbandingan
jumlah iklan yang ditujukan untuk perempuan dan untuk laki-laki di sela
sinetron yang ibu kamu atau kamu tonton? Perbandingannya cukup besar. Mayoritas
sasaran adalah perempuan. Bukan rahasia sih, perempuan itu memang lebih suka
belanja (sebut saja konsumtif) daripada laki-laki. Baru-baru ini aja
muncul iklan untuk cowok. Habisnya, cowok-cowok sekarang juga pengen
"cantik" sih. Ngga heran, produsen memberikan apa yang mereka
harapkan. Penawaran akibat adanya permintaan (meski hukum ini tidak selalu
benar, karena nyatanya banyak barang yang ditawarkan bukan atas dasar
permintaan, namun karena ada maksud tertentu (apa ya?).
Silahkan deh, bagi yang punya waktu
berdiam di depan TV buat ngehitung. Mulai dari yang pemutih, penghilang
jerawat, penghilang komedo, penghilang minyak wajah, penghilang noda (kaya
sabun cuci aja), penghilang kerut, pelangsing badan, peninggi tubuh, pelurus
rambut, penghitam rambut, penguat rambut, hingga hal remeh-temeh lainnya
tentang kecantikan yang target utamanya perempuan. Ketika semua itu di
balik (Kayak di negeri cermin aja), apa yang akan terjadi?
"Hitam itu cantik"
“Yang kelam yang bersinar” (Maksa banget)
"Berjerawat itu menarik"
"Berkomedo itu komersil"
"Yang tua makin jadi”
"Pendek itu lucu"
"Wajah berminyak itu mengkilat" (jelasss)
"Rambut berantakan itu keren"
“Tumbuh itu kesamping, bukan ke atas”
Mungkin, perempuan-perempuan di
dunia (khususnya sih di Indonesia) akan lebih memilih berpanas-panasan di sawah
daripada kerja di dalam kantor ber-AC. Mereka tidak takut berkotor-kotor ria
dengan bergulat lumpur. Hemssss, petani desa tidak perlu khawatir tidak adanya
regenerasi karena ngga ada lagi gengsi bekerja di di sawah. Perempuan-perempuan
dunia tidak perlu lagi sibuk-sibuk ke salon hingga lupa ngurus anak dan suami.
Pendidikan anak juga jadi lebih terkondisi. Apalagi tentang nutrisi. Ibu-ibu
jadi suka masak sendiri, karena wajah berminyak itu mengkilat.
Perempuan-perempuan tidak perlu
lagi rame-rame ke mall beli baju-baju mahal, hingga kartu kredit jebol (kalo
yang punya). Bikin suami stress. Mungkin ujung-ujungnya korupsi, habis istri
ngomel tiap hari karena iri hati sama artis di TV. Tak perlulah ada kontes
kecantikan karena semua bisa cantik dengan mudah. Mudah toh bikin kulit
berjerawat. Mudah toh bikin kulit hitam sekelam batu bara, dan hal itu bisa
sangat mudah terjadi jika media massa melakukannya.
Mudah sekali. Tau lah, pengaruh
media massa itu ruaaarrr biasa. Opini gampang banget di belokan. Dari yang
kanan ke kiriiii banget, dari yang lurus jadi bengkooookkkk banget, dari yang
bersih bisa kotor bangetttt. Tapi bisa juga sebaliknya. Tergantung siapa yang
memegang kuasa. Apa lagi media massa banget-banget gampangnya di akses. Beli TV
yang tadinya harganya juta-jutaan, sekarang? Sudah macam jamu. Gampang
dapatnya. belum lagi internet yang dipenuhi iklan. Wi-Fi aja nyangsang
dimana-mana, udah kaya jaring laba-laba.
Ini contoh kecilnya aja sih. Contoh
yang lebih gede, kalian cari aja sendiri. Bersyukurlah yang ngga punya TV. Ngga
perlu takut terintimidasi hingga masuk ke alam mimpi (Wah, ada produsen TV ngga
nih) Eits, bukan karena TVnya. Tapi karena kontens-kontens di dalamnya. Karena
ngga hanya teroris yang bisa mencuci otak, kenyataannya pencuci otak yang
paling nyata adalah Media massa. Mungkin untuk reverensi, bisa baca buku “Dosa-dosa
Media Amerika”. Lupa gue penulisnya siapa. Isinya aja lupa. :D. Dibaca gih,
nanti kasih tau ke gue. Kali aja gue salah. Kali aja, bukan media massa yang
salah (dosa kah?), kali aja otak gue yang sudah keblandarang kemana-mana hingga
sulit mencerna mana yang salah dan mana yang benar. Pesan singkat gue sih,
jadilah pengkonsumsi cerdas.
^^

