Wednesday, 24 April 2013

Bukan Masa Galileo


Jika ada yang nanyain, siapa bapak “Astronomi modern dunia”, kemungkinan besar otak kita langsung mengarah pada satu nama, yang mungkin telah tertanam bertahun-tahun lalu ketika kita duduk di bangku SMA, atau mungkin SMP. Nama itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Mujiku Hibiniu. Ups, bukan ding. Yang bener itu, Galileo Galilei.
Memang ngga dipungkiri lagi, meski ia telah meninggal ratusan tahun lalu, berkat penemuannya ia dikenal hingga saat ini. Salah satu jasanya yang bisa dinikmati oleh umat manusia sekarang ini adalah tentang temuannya yang fenomenal, yaitu menyempurnakan teleskop. Bahkan menurut Stephen Hawkin, Galileo juga sebagai bapak “Fisika Modern” dan “Bapak Sains”.
Luar biasa kan jasanya. Yah, paling tidak, berkat temuannya itu, umat manusia mampu mengetahui fenomena di antariksa dengan lebih baik daripada sebelumnya. Tapi sayangnya, dimasa ia hidup, ia tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya. Berkat kesukaannya tentang astronomi, ia mengalami masalah. Ia dipenjara oleh gereja Italia masa itu karena sejalan dengan pemikiran Copernicus, yaitu mempercayai bahwa matahari lah pusat tata surya, bukan Bumi seperti yang diyakini gereja saat itu. Nah, karena pemikirannya itulah, yang dianggap bid’ah dan meracuni pemikiran masyarakat, dia dipenjarakan, dikucilkan dari kehidupan luar. Hingga akhirnya ia meninggal dunia.
Gereja Italia, dengan kekuasaanya mampu menyeret seorang ilmuwan yang menemukan suatu karya yang terbilang luar biasa ke dalam meja pengadilan. Bahkan membentuk stigma masyarakat bahwa Galileo memang bersalah. Ia layak di hukum. Padahal kala itu, Gereja Italia memiliki ketakutan tersendiri, bahwa masyarakat tidak lagi mempercayai gereja, oleh karena itu, pada zaman itu sains di batasi.
Tentu saat ini kehidupan kita jauh berbeda dengan masa Galileo hidup. Kehidupan kita lebih bebas, dan lebih terjamin. Hukum ditegakan dengan terbuka. Sains bebas berkembang, penelitian-penelitian bahkan di danai oleh pemerintah. Tentu pengekangan, dan layaknya yang terjadi pada Galileo seharusnya tidak terjadi lagi. Apakah demikian yang terjadi?
Nyatanya, kini kehidupan pada masa Galileo tengah terjadi. Bahkan lebih sadis dan menakutkan. Pemikiran-pemikiran sering terancam eksistensinya. Memang, tidak langsung menghukum secara langsung orang yang hendak menguak kebenaran, seperti Galileo yang langsung dihukum oleh gereja. Saat ini “hukuman” itu lebih mengerikan. Lebih menyiksa karena itu terjadi perlahan. “Mereka” menggunakan media untuk menyebarluaskan isu kepada masyarakat sehingga masyarakat sendiri lah yang menjadi hakim. Tentu atas dasar kehendak “mereka”. “Mereka” adalah pelaku utama dan pengendali yanng handal.
Cukup dengan mencuatkan satu isu saja, maka selanjutnya, boooooommm!!! Seperti efek domino, kekacauan akan terjadi dan target utama akan mudah untuk dilumpuhkan. Masyarakat akan mengelu-elukan agar “target” itu di penjara, diadili, bahkan di hukum mati, bahkan tanpa tahu kebenaran yang mutlak. Itu mudah bagi “mereka”.
Ya, media memang telah menggiring masyarakat menuju sebuah opini sesuai apa yang mereka inginkan. Mudah saja, dewasa ini masyarakat sudah sangat tergantung dengan apa yang di beritakan media. Terlebih lagi masyarakat yang “bodoh” dan tidak perduli akan kebenaran yang sejati.
Rasa-rasanya bukan hal baru lagi ketika mereka (media) menyiarkan berita secara berlebihan. Sejumlah media memberitakan berita yang sama, dalam waktu yang sama, dan yang sama layaknya tidak ada berita lain yang lebih penting dan lebih pantas untuk diberitakan. Pantas saja, berita yang seharusnya menjadi wacana bersama, namun akhirnya tenggelam entah kemana.
Pernah saya mendengar sebuah slogan berita di televisi yang menyatakan “Mengabarkan berita secara berimbang”, akhirnya saya hanya tersenyum geli. Mereka tidak lebih dari sekelompok taipan yang menjalankan bisnis informasi. Bagaimana sebuah informasi yang menjadi bisnis bisa di pertanggungjawabkan kevalidannya? Belum lagi dengan embel-embel yang lain. Kebencian terhadap suatu hal juga dapat meyebabkan penyampaian berita menjadi tidak berimbang.

Menyingung tentang hal ini, sebuah artikel yang baru beberapa saat lalu saya baca, judulnya “Pakar Media AS: "Jangan Ada Lagi Pelajar Muslim Di AS"” cukup menyita perhatian. Ternyata pakar media tersebut adalah pakar media dari Fox News yang sering menyiarkan berita bohong atau berat sebelah. Pantas saja, media itu menjadi media yang sering memberitakan Islam dengan sangat buruk, mulai dari kasus perang Irak, hingga serangan 9/11 karena di gawangi oleh orang yang benci terhadap Islam. Apakah kode etik jurnalistik membolehkan itu? Meski bukan orang dunia jurnalistik, saya yakin jawabannya adalah tidak.

Bukan tidak mungkin kalau berita Bom Boston juga mengandung konspirasi, dan manusia-manusia di belakang  mereka adalah dalang penebar kebencian. Nampaknya kasus-kasus lokal yang terjadi di Indonesia tidak perlu di bahas lagi. Kejelasannya sudah sangat jelas. Media menjadi senjata handal guna membelokan dan mempelintirkan kenyataan dan kebenaran. Pembaca sekalian pasti sudah memahami apa yang saya maksud.

Akhirnya, bukan hendak menyebarkan virus ketidak percayaan pada media, karena memang tidak semua media tidak dapat dipercaya, namun pintar-pintarlah menjadi masyarakat. Jangan sampai mempercayai media seperti mempercayai ibumu, dan merasa nyaman-nyaman saja ketika mereka memberikan “makanan” pada kita.

Salam

Mujiku Hibiniu



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Friday, 12 April 2013

Kita Bukan Sepeda


Udara pagi menyambut segenap penghuni bumi. Matahari tak ketinggalan memberi pelukan hangat kepada setiap yang dijumpainya. Meski sebagian besar dari mereka tidak perduli. Sibuk, kesibukan mereka memadati jalanan, serta antrian dibeberapa perempatan,  klakson-klakson bersahutan, serta kegelisahan karena roda tak juga dapat segera berjalan, dan jarum jam yang melaju tak kenal pemberhentian. Pagi ini menjadi pagi yang super sibuk.
Disalah satu sudut pusat kota, sebuah sepeda melaju dengan perlahan, tak mengidahkan kesibukan jalanan. Pengendaranya lebih memilih bermesra ria dengan sinar matahari pagi. Bahkan ia pun tak mengidahkan beberapa klakson yang tertuju padanya. Bukan tak mengidahkan sebenarnya, namun ia telah berada pada jalur yang benar, jalur untuk para pesepeda. Ya, pengklakson itu pun pasti sudah tahu tentang hal itu. Hanya saja mungkin mereka ingin agar si pengendara sepeda berjalan lebih cepat dan cepat lagi.
Bukankah sepeda hanyalah sepeda. Hingga berkali-kali di klakson sekalipun ia tetap sebuah sepeda yang berjalan jika pengendaranya mengayuh pedalnya. Seberapa sih kekuatan si pengayuh? Tidak akan mampu menyamai kecepatan mobil. Apalagi jika jalan yang dilalui menanjak. 10 km/jam mungkin jadi kecepatan maksimal.
Ya, seberapa kalipun mobil itu menekan klakson, beratus-ratus kali, sepeda tetaplah sepeda. Kecepatannya tak akan melampau motor, atau bahkan mobil, apalagi berharap seperti pembalap di circuit. Itu hanya harapan kosong.
Namun, bukankah kita bukan sepeda?
Klakson, layaknya seruan Allah kepada kita, umatnya yang sering lalai dan alpa. Allah telah mengutus Rasulullah untuk menyampaikan ketauhidan, dan kebenaran tunggal. Tidak ada keraguan lagi padanya. Tentu Beliau pun telah menyampaikan syaria-syariat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk umat manusia, tanpa terkecuali.
Sekarang sering sekali muncul pertanyaan, Rasulullah telah meninggalkan umat manusia bertahun-tahun lalu, apakah yang mampu kita jadikan pedoman daripadanya, sedang kita tak lagi dapat menemuinya?
Bukankah semua aturan tentang kehidupan telah ada dalam Al Qur’an dan hadist. Meski Al Qur’an diturunkan 14 abad yang lalu, namun keberlakuannya hingga akhir jaman. Begitupun hadist-hadist Rasulullah. Tidak ada yang namanya kuno atau tidak sesuai tuntutan jaman. Al Qur’an itu selalu up date. Selalu tau tentang apa yang akan di hadapi manusia pada setiap jamannya, dan kisah-kisah umat manusia terdahulu yang dicantumkan dalam Al Qur’an sekiranya dapat menjadi pelajaran berharga untuk umat manusia.
Mungkin berkata tentang seruan yang ada di dalam Al Qur’an dan Hadist terasa berat. Ah, membaca saja tak pernah. Al Qur’an yang di beli dengan mencari kualitas terbaik sering hanya tersusun rapi di rak-rak buku, tanpa tersentuh. Namun bukankah hamba-hamba Allah, jundi-jundi Allah, dengan berbagai sarana yang menurut kita lebih “up to date” telah menyampaikan padamu. Telah disampaikannya berita bahagia tentang surga, dan kedukaan yang tiada berakhir dari neraka.
Facebook, twitter,  yang mungkin kini tengah berada di hadapanmu, telah mereka jadikan ladang dakwah, yang tiap kali dapat kita jumpai padanya status, catatan, ataupun hanya sekedar komentar tentang seruan-seruan kebaikan. Seminar-seminar ilmu, kajian-kajian, serta forum-forum keislaman telah mereka selenggarakan, untuk mengajakmu mendalami Islam, mengkaji ilmu Allah. Itu dengan sangat mudah kita temui pada sekitar.
 Ya, klakson itu adalah seruan dakwah pada kita agar kita cepat memperbaiki diri, cepat move on dari ketidaktahuan menjadi ingin tahu pada segala hal ilmu Allah di muka bumi, akankah di abaikan begitu saja? Lagi-lagi haruskah saya katakan bahwa kita bukanlah sepeda. Kita adalah manusia yang di karuniai kekuatan dan akal yang mampu berfikir (jika mau). Maka sudah sepantasnya kita menyambut seruan itu.  Tidak hanya mendengarkan layaknya sepeda.
Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf:32)

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 27 March 2013

Ia yang Aku Sebut Mama


Rindu...
Hanya mampu aku titipkan pada rinai hujanMu, duhai Dzat yang Memiliki jiwa raga ini
Ketika berpulang nampak seperti mimpi.
Menanggalkan asa yang menggebu pada tumpu yang semakin kelu,
Apakah kau sudah makan pagi ini?
Mengganjal perutmu dengan sesuap nasi yang sering terlupa karena sibukmu.
Apakah asam uratmu sudah membaik?
Hingga tak perlu lagi kau meringis dalam sujudmu.
Hingga tak perlu lagi obat-obat itu,
Apakah kau mampu tertawa seperti aku yang tertawa terbahak?
Sedang engkau sibuk memikirkan anak-anakmu,
Dan aku, tak akan pernah mampu mengganti setiap tetes keringat yang keluar dari pori-pori kulitmu yang berkeriput,
mata yang nanar karena terik matahari di sawah yang gersang,
kaki yang hampir lumpuh,
Tangan kasar tergerus beling-beling tajam,
Menepiskan segala hasrat dunia,
Meninggalkan kesenangan raga,
Hanya untuk anak yang kau jaga 9 bulan dalam rahimmu,
Yang kau timang dalam buaianmu,
Tapi sering berkata ah, dan mungkin tidak,
Padahal telah kau beri segala.
Telah kau penuhi jiwanya dengan kasihmu,
Telah kau penuhi raganya dengan keringatmu,
Telah kau berikan nyawanya dengan taruhan nyawamu,
Ah, lagi-lagi aku hanya mampu berdoa padaMu, Dzat yang merajai dunia.
Do’a rapi yang kuselipkan pada jemari-jemari yang mengadah meminta,
Semoga ia sampai,
pada perempuan tua yang masih bersikukuh melawan usia,
pada wanita perkasa yang berkali-kali menampar kejamnya dunia,
pada perempuan biasa yang kerap berurai air mata,
yang sedari kecil aku sebut ia, Mama.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Kumpulan status FB yang Masih Terdeteksi


14 Desember 2012
Dulu, jaman doeloe. sekali...orang selalu berfikir dua sampe puluhan kali buat cerita alias curhat tentang masalahnya kepada orang lain. Alasan gengsi sampe alasan ngga syar'i, Meski masalahnya itu amat sanagat berat sekali. Tak heran banyak yang bermunajahat kepada Sang Khaliq. 
Kalo jaman sekarang? keren euy...cuma blanja dipasar aja langsung curhat sama HPnya, lepinya, BBnya, dan iPodnya. Tadinya sih pengen nglegain pikiran. Tapi ternyata jadi banyak yang nanggepin. Terus keterusan deh.. Sampe2 lupa akan batas tentang apa yang boleh di ketahui khalayak sama yang seharusnya dipendam sendiri (kaya aku ini nih). Dan lebih parahnya, munahajat kepada Allah beralih ke munajahat ke dinding FB hanya dengan pancingan tulisan: apa yang anda pikirkan?
Padahal Allah menjanjikan penyelesaian.
*Semoga saya segera sadar.. -.-
14 Januari 2013
Kenapa Allah susah-susah menciptakan besi dan menyediakannya di bumi?
Padahal besi sendiri tidak dapat terbentuk di bumi. Memang besi tak seberharga emas. Tapi coba pikirkan ketika besi tak dikirimkan oleh Allah dari ruang angkasa sana. Ya, besi hanya bisa terbentuk dari benda angkasa yang memiliki bintang minimal 5kali lipat besarnya dari matahari.

Jika besi di bumi sebanyak ini, bayangkan dahsyatnya tabrakan yang dulu pernah terjadi.
Wallahu alam.
#Refleksi QS. Al Hadid...
11 Maret 2013
Lebih seneng ngomong sama kertas dari pada sama orang. Karena kertas itu menerima apa saja yang saya bicarakan, tanpa mengeluh apakah saya ngomongnya kepanjangan, belepotan, atau bahkan OOT. Lebih suka ngomong sama kertas daripada sama manusia karena kertas itu tanpa prasangka, amarah, apalagi prasangka. Apalagi dia mudah sekali memaafkan. Sekali di hapus, tiada berbekas. Leboh suka ngomong sama kertas dari pada sama manusia, karena kertas tidak akan membuat kecewa, karena dia tidak menghakimi dan tidak ingkar, tidak berbohong pada kemurniannya, atau munafik akan apa yang ada pada dirinya. Putih ya putih, bercoret-coret ya bercoret-coret.

#Dapatkah menjadi kertas dengan hati yang selalu bergejolak, dan otak yang selalu mengelak?.
11 Maret 2013
Jadilah pemilik status yang berguna, bermanfaat, dan bermartabat. Dari seribu satu penulis status, lebih dari 50% statusnya tentang kegalauan hidup, 25% tentang aktivitas kesehariannya. Sudah macam reality show buat artis-artis itu. Mungkin berlagak seperti artis. 15% Adalah tentang kalimat-kalimat penuh hikmah yang di copas dari negara antah berantah, atau benar-benar habis baca buku dan nemu kata yang menginspirasi, dan sisanya adalah seperti status ini. Tidak jelas juntrungnya. Tidak jelas maksudnya. Tidak jelas tujuannya. Tentu data ini tidak akurat. Jauh dari kevalidan. Saya juga hanya mengira-ira. Karena teman saya tidak ada 1001, hanya 801 dan lebih dari 75% darinya tidak saya kenal, tidak perduli dengan kehidupan saya apalagi status saya, dan saya pun sama tidak perdulinya. Tapi, ketika ada status yang setidaknya menginspirasi, memotivasi dan syukurnya adalah memberi hidayah, kenapa tidak melakukannya. Pahala akan mengalir, padahal kita hanya copas status dunia antah berantah. Dari pada sekedar pasang statu ala artis, biar semua tau aktivitas kita? Buat apa? Agar semua tau apa yang kita rasakan? Jangan- jangan malah di manipulasi setan. Apalagi kalo ketemu sama orang kepo. Bisa saja jadi fitnah yang mengada- ada. Ada banyak celah menuju kebaikan, sebaliknya ada banyak jurang menuju kesalahan, hanya dengan status yang anda tulis. 
Apakah status ini jatuh ke jurang keburukan? Harapannya tidak.
Sabtu, 16 Maret 2013
Yang terbaik belum tentu menang dan yang bekerja keras belum tentu mendapatkan lebih. Tapi itu bukan hal yang seharusnya menghalangi kaki untuk melangkah tanpa lelah, tangan untuk bekerja keras, mulut untuk berbicara benar, otak untuk berfikir jernih dan bhati untuk merasai kasih sayang.
Semangat hari Sabtu...!
Senin, 25 Maret 2013
Kenapa ada sekat-sekat bernama organisasi jika sebenarnya Rasulullah adalah Rahmatan Lin Alamin?
Selasa, 26 Maret 2013
Aku memiliki bagianku dan kalian memiliki bagian kalian. Biar kita berjalan pada alur yang berbeda namun akhir tujuan kita adalah sama.
Rabu, 27 Maret 2013
1.      Kalo tawaf, kita berputar pada arah yang sama, kalo sholat kita menghadap pada kiblat yang sama, tapi kalo soal kekuasaan, politik, kenapa saling beda haluan? Beda prinsip? Prinsip yang mana? Bukankah prinsip kita al Qur'an dan hadist? Beda ideologi? Bukankah Ideologi kita Al Qur'an dan hadist? Apanya yang beda?
2.      Kaum generalis jg perlu. Tp kaum spesialis jgn dilupakan. Lihat media, misalnya. Islam dihajar terus. Tp media Islam ke mana? Sudah jumlahnya sedikit, yg ada pun kualitasnya memprihatinkan. Wartawannya gak ok, redaktur payah, desain seadanya dll. Kalau begitu kondisinya, kapan kita mau meruntuhkan dominasi TIME, CNN dan semacamnya? 
http://chirpstory.com/li/63463

#Jangan terpekur saja dengan perbedaan yang jika di bahas akan semakin membesar dan membesar. Jangan terpekur saja dengan golongan-golongan yang katanya beda faham. Sudah saatnya bangun. "Mereka" sudah siap perang, dengan misi teramat rapi, namun kita masih tertidur pulas dengan mimpi-mimpi surga padahal mempelajari Al Qur'an pun enggan. Kita beda, ya. Bukan berarti harus membeda-bedakan. Kita beda cara, ya. Bukan berarti saling mencela. Kita beda jalur, ya, dan ingat, tujuan kita satu.


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Saturday, 16 March 2013

Bukan Dongeng Bawang Merah dan Bawang Putih



Beberapa hari ini melihat bawang menjadi headline koran langganan asrama membuatku berfikir tentang bumbu masak yang satu ini. Hems, biasanya mana pernah. Meski ia (si Bawang Putih) sering sekali menjadi materi yang memanjakan lidah bersama bumbu-bumbu yang lain, tak pernah terbayangkan bahwa dia mampu membuat kekisruhan yang layak di jadikan headline sebuah koran nasional. Dua kali pula. Wah, sungguh. Mungkin ini belum berakhir. Bisa saja hari-hari berikutnya ia masih akan menjadi headline.
Tentu masalah utamanya bukan karena si bawang putih korupsi, ataupun ikut-ikutan berpolitik, nyalon jadi Cagub. Apalagi ikut-ikutan kasta kekuasaan. Ah, tentu juga bukan karena Si Bawang Putih melakukan kejahatan kemanusiaan. Eh, tapi mungkin saja iya. Tapi jelas bukan si Bawang Putih pelakunya. Dia hanya sebagai objek. Mungkin juga di oplos menjadi kambing hitam. Ngeri sekali. Si bawang putih yang seputih susu berubah menjadi kambing hitam yang segala rupanya hitam. Oplosan pula.
Masalah utamanya adalah karena harga Si putih ini melambung tinggi. Setelah sebelumnya di pusingkan dengan mahalnya harga daging, ternyata Si bawang ini tidak mau ketinggalan juga. Mungkin dia ingin kenaikan derajatnya sekelas daging biar lebih di perhatikan. Pasalnya, selama ini siapa yang memperhatikan bawang putih? Coba hitung saja, berapa siung bawang putih yang ibumu pakai untuk masak sayur dan bumbu lain setiap harinya. Tidak ada satu kilo. Ah, paling lima-enam siung. Pasti kalah dari penggunaan cabai ataupun bawang merah. Tapi kenapa ia mampu menjadi headline?
Saya jelas tidak tau, dan tidak akan membahas kebijakan koran akan hal ini. Tapi setidaknya saya tau, karena saking tidak di perhatikannnya, di Indonesia, bawang putih dalam negeri hanya mampu memenuhi 5% kebutuhan pasar. Wah, sediki sekali. Jelas saja. Karena bawang putih tidak terlalu di perhatikan petani sehingga petani enggan menanamnya. Petani lebih senang menanam bawang merah yang perawatannya dianggap lebih mudah.
Tak heran pemerintah membolehkan import untuk memenuhi kebutuhan pasar nasional. Yang menjadi masalah saat ini adalah ketika pemerintah membatasi jumlah import bawang. Tidak hanya bawang putih si, tapi juga import barang yang lain. Tapi dampak yang kini terasa adalah bawang yang melambung tinggi. Bagi kita-kita mungkin kenaikan harga bawang ini tidak menjadi masalah yang besar. Toh, ngga pake bawang juga ngga apa-apa. Asalkan makanan di warung bu Ida harganya tetap sama. Kecuali jika harganya naik, baru itu menjadi masalah yang harus di pecahkan dengan segera karena sifatnya yang mendesak.
Tapi, buat ibu-ibu di Kebumen kenaikan bawang putih ini menjadi masalah. Si Bawang Putih memaksa mereka tidak menumis sayuran, atau mengolah makanan lain yang menggunakan bawang putih. Mereka lebih suka membeli makanan matang di warung-warung. Akhirnya, pengeluaran rumah tangga pun bertambah. Bagi beberapa penjual, kenaikan bawang harga bawang putih ini memaksa mereka untuk menutup toko, buntutnya mereka tidak ada pemasukan. Dan untuk petani bawang merah, kenaikan bawang putih yang diikuti kenaikan harga bawang merah mencekik leher mereka.
Apa pasalnya petani bawang merah di bawa-bawa? Jelas ini bukan karena cerita tentang bawang putih dan bawang merah dalam dongeng klasik. Sama sekali bukan. Ini adalah cerita murni tentang bumbu masak yang jika kita tanpanya pun masih bisa hidup. Petani bawang merah merasa kesulitan menanam bawang merah karena harga bibit naik akibat kenaikan harga bawang merah. Yang dalam hal ini keduanya searah sejalan. Tapi entahlah. Padahal kebijakan pembatasan bawang untuk melindungi produksi lokal.
Saya setuju dengan pembatasa barang import. Bahkan jika perlu contoh saja Cina dengan politik isolasinya. Toh, jika di garap dengan serius, kita mampu memenuhi kebutuhan kita sendiri. Apa sih yang tidak tumbuh di Indonesia? Apa sih yang tidak tertanam di bumi indonesia. Apa sih yang tidak bisa di lakukan anak-anak cerdas Indonesia. Yang tidak bisa dilakukan saat ini hanyalah memaksimalkan potensi yang di miliki.
Ah, ternyata di tengah-tengah kekisruhan yang tengah melanda ibu-ibu rumah tangga, meski dalam kapasitas yang tidak terlalu besar, ternyata ada saja yang nakal. Importir-importir bawang dengan sengaja menimbun Si putih menunggu harga puncak, dan mereka akhirnya akan meraih keuntungan tertinggi. Keren sekali, dan sayangnya ini berlarut-larut. Pantas saja Presiden kita tercinta kecewa dengan kinerja mentrinya, dan ibu-ibu rumah tangga kecewa dengan presidennya. Kasian sekali.
Semoga tidak ada isu politik, konspirasi apalagi pengalihan isu disini hingga masalah kenaikan bawang putih mengalahkan berita-berita yang lebih mengenaskan, lebih membunuh ibu-ibu rumah tangga. Semoga saja, ini hanya masalah waktu, sehingga ketika sudah waktunya nanti bawang  putih dan bawang merah kembali menempati posisinya sebagai bumbu masakan.

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 26 February 2013

Gue Ngapak, Elu?


Sejenak, beralih dari dunia yang pengap, dengan berita-berita yang mengada-ada, dan berita yang ditiadakan.

Guru                :Selamat pagi anak-anak, sebelum pelajaran dimulai Bapak absen dulu ya…”
Murid2            : iya pak.
Guru                :Karto tuying…”
Karto tuying    : karto tuying ada pak…”
Guru                : kartonom…”
Kartonom        : ada pak…”
Guru                : kantong.
Karto tuying    : kantong ramane mati pak…”
Guru                : lumayan kie, randane biyunge, yang selanjutnya tukiman A”
Karto tuying    : Tukiman A nongkrong nang terminal pak…”
Guru                : Tukiman B..
Kartonom        :Tukiman B ora mlebu pak, jere ora diwei sangu nang biyunge  pak, dadi ora gelem mlebu sekolah…”
Guru                :”wah…wah…kang 36 murid kur 2 wong tok sing mlebu saben saben dina. Wah gaul kie. Jan payah yakin. Ya wis lah ora papa, kartonom karo karto tuying sehubungan pelajaran kita hari ini adalah pelajaran bahasa kaya kue yah, siki kita akan mempelajari tentang, apa yah jal, ana sing ngerti pora?
Karto tuying    : Ora ngerti pak
Guru                : Nek ora ngerti kandani kie, hari ini kita akan mempelajari tentang antonim, atau perlawanan kata. Oke, kita mulai saja lah ya, jadi begini anak-anak, sing jenenge antonim kue adalah lawan kata, dadi kata apa bae nang dunia kie ana lawan katane yah, misalkan langit lawan katane bumi. Nah, gue kan, Oke, sekarang kita mulai saja lah ya. Pak guru siki akan menyebutkan kata, la mengko pak guru ngomong apa kata-kata apa bae, tulung di goletna lawan katane, langsung bae dijawab ya. Karto tuying karo karto nom bareng ya. Pokoke janji kaya kue tok ora teyeng, kaya kue tok ana sing salah, ngesuk guru-guru sekabupaten Cilacap langsung pada unjuk rasa nang DPRD kon SMP gratise dicabut.
Cut! Cut!

          Yang namanya anak gaul pasti ngga asing dengan sepotong episode komedi “Curanmor” diatas, alias curahan Perasaan dan Humor. Lu ngga tau? Kasian banget sih. Lu tinggal di planet mana? Berapa lama? Ckckckckc.
          Komedi yang di perankan oleh penyiar radio Cilacap, kaki Samidi ini cukup mengena di hati pemirsa. Ngga hanya insan yang ditakdirkan memiliki keahlian bahasa “ngapak” namun juga wabah curanmor udah menjalar kemana-mana. Lebih parah dari wabah kolera yang menyerang Sierra Lione tahun 2012 lalu. Wabah ini udah kronis. Emang sih, belum ada data valid, namun berdasarkan wawancara bersama orang-orang non ngapak, komedi ini jadi idola. Kenapa?
          Menurut gue sih, salah satu unsur yang bikin komedi ini menapaki papan atas kancah perkomedian adalah karena penggunaan bahasa ngapak yang khas, yaitu bahasa ngapak Banyumasan yang di daulat sebagai ibunya bahasa ngapak. Tau sendiri kan, bahasa ngapak itu bagaimana, terutama bagi orang-orang non ngapak. Kalo gue yang emang udah fasih bahasa ngapak ya biasa aja, tapi bagi mereka, dan mungkin kamu, bahasa ngapak itu lucu, aneh, wagu, bikin ilfiil, bikin mules, atau malah bikin jatuh hati, dan banyak sebutan lain, yang bisa anda isikan pada titik-titik di bawah ini (titik-titiknya ngga usah dicari, orang ngga ada).
          Ada temen yang bilang, bahasa ngapak itu blekutuk-blekutuk. Entah maksudnya apa. Belum lagi dengan adanya fenomena, “Cantik sih cantik, tapi kalo udah ngapak sih, pikir-pikir dulu.” Wah, kalau kayak begini ceritanya, bahasa udah layaknya parameter ketertarikan aja, dan gue merasa beruntung jadi orang ngapak, karena bisa terbebas dari orang yang berfikiran sempit, yang memandang pergaulan dengan parameter bahasa (hayo siapa).
          Bahasa ngapak juga menjadi fenomena, mengalahkan fenomena-fenomena konspirasi yang menggerogoti kaki-kaki negeri, hingga menjadikan negara ini doyong sana-sini. Meski di Ngayogyakarto ini, orang-orang yang berbahasa ngapak itu minoritas, namun jika udah ketemu sesamanya, jadilah ia mayoritas. Bukan pada jumlah orangnya, namun dari keunikan bahasanya, dan ngga heran, banyak orang-orang non-ngapak yang kepengen mempelajari bahasa ngapak ini. Mulanya sih sok-sokan nyindir-nyindir gitu, tapi lama-lama ketularan juga. Tapi tetep aja, kalo orang non ngapak ngomong ngapak itu, bagi kami bangsa ngapak, wagu dan berlebihan pada huruf  K. K nya terlalu jelas, padahal bahasa ngapak itu ada seni tersendiri dalam pengucapak K, dan tentunya medoknya itu beda.
          Misalnya, dalam pengucapan “kaya kue”. Sungguh, kata itu ngga usah pake K, layaknya orang non ngapak yang nyebutnya “kayak kuek”. Bisa di maklumi sih, orang Ngayogyakarto dan sebagainya itu mungkin terobsesi dengan huruf K ( Seperti terobsesinya parpol akan kursi-kursi kekuasaan, sampai senggol kanan kiri, sepak depan belakang, oper jauh dekat). Misalnya kata dalam bahasa ngapak, “Mba” (sebutan untuk perempuan yang lebih tua), dalam bahasa non ngapak ditulisnya “Mbak”. Begitu pula dengan “de”, yang ditulis “dek”. Gue sendiri aneh sama bahasa non ngapak ini. Mungkin seperti itu lah yang dirasakan orang non ngapak pada bahasa ngapak. So, gue sih nyante aja kalo ada yang aneh-aneh ngomongin tentang bahasa ngapak.
          Namun, meskipun hampir menjadi bahasa “idola” (ngalahin idolanya boyband dan girlband yang menjamur, dan ngga kenal umur), nampaknya belum ada yang berminat membuatkan kamus bahasa ngapak, atau mungkin sudah ada namun gue aja yang belum denger. Lucu sih, dan mungkin nanti akan memperkaya khasanah bahasa bangsa. Paling tidak mencegah kepunahan bahasa ngapak dari ranah ngapaknya sendiri. Karena fenomena yang terjadi kini, meski menjadi “idola” di negri orang, namun banyak yang ahli bahasa ngapak enggan menggunakan bahasa ngapak dan menunjukan identitas kengapakannya. Mungkin karena alasan gengsi dan ngga mau di sebut,” “Cantik sih cantik, tapi kalo udah ngapak sih, pikir-pikir dulu.” Hems, bukankah fenomena ini memang sedang menjangkit Indonesia. Pada umumnya sekarang ini, Indonesia enggan menunjukan ke-Indonesiaannya. Maklum sih, label Indonesia itu banyak yang berkonotasi buruk. 
          Kembali ke ngapak. Meski kita minoritas, namun orang-orang ngapak itu memiliki peluang menjadi pewarna orang-orang non-ngapak. Meski banyak yang tertawa mendengar gue ngomong ngapak, bagi gue ngga masalah, malah itu jadi ladang ibadah. Membuat orang bahagia itu, hadiahnya pahala. So, yang punya jiwa ngapak, tunjukan ngapakmu, dan yang non-ngapak, mau belajar ngapak? Ayo disimak kaki Samidi dalam “Curanmor”. Meski sejenak, paling tidak mampu melepaskan penat.
          Satu pesan dari gue yang ngapak,” Tunjukan ngapakmu, karane ngapakmu itu ladang pahalamu. :P”

          Oya, sekedar inpo sih, bahasa ngapak itu juga banyak macemnya loh. Tiap daerah punya kekhasan sendiri, dan biasanya kosakatanya juga beda-beda. So, ngga semua orang ngapak bisa nyambung.
So, Gue Ngapak, elu?

*Catatan: Penggunaan Gue dan elu dalam tulisan ini adalah kesengajaan, berdasarkan estetika penulisan. :P


Mapir juga di blok ane..
http://ziimujikuhibiniu.blogspot.com/2013/02/gue-ngapak-elu.html


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Saturday, 23 February 2013

Belantara Otak


Saya berada di dunia yang sama dengan anda. Apakah saya merasa senyaman anda? Merasakan nyamanya kasur empuk dan selimut tebal ketika gelap menyergap, menyeruput secangkir kopi susu dan membaca koran di pagi hari. Kita mungkin melakukan hal yang sama. Tapi aku merasakan ada sebuah perasaan yang membuatku tak nyaman. Aku tak nyaman dengan dunia. Aku merasa terancam olehnya. Aku merasa asing dengan dunia yang telah menampungku lebih dari 20 tahun ini.
Aku berusaha tidak perduli. Bukankah anda dan mereka juga tidak perduli. Aku bisa melihatnya dari binar mata anda ketika melihat kembang api mengisi langit kota, yang pada saat itu aku ketakutan setengah mati (Bukankah asapnya bisa membunuhmu? Tidak serta merta, namun kemudian hari). Tapi aku tak mampu mengabaikan pemikiran yang kian hebat berterbangan di belantara urat-urat otak. Apa aku terlalu paranoid, mengada-ada dan berlebihan? Mungkin, tapi tidakkah pernah terfikirkan oleh anda, ketika anda berada di dalam dunia yang memiliki begitu banyak bahasa, bangsa, dan negara, anda hanya sendiri saja? Tidak semua bahasa aku mengerti. Tidak, aku hanya menguasai satu dua bahasa saja. Itu pun dengan keterbatasan. Bagaimana nanti jika ada yang berbicara dengan bahasa asing dan aku tidak memahami tentang apa yang mereka bicarakan, sedang keberadaanku terancam. Aku tidak mampu waspada, aku tidak mampu mempertahankan diri.
Semakin hari, semuanya semakin membuatku merasa tak nyaman. Saya enggan berlangganan koran pagi, atau menonton TV, apalagi membuka internet. Bukan tentang apa yang mereka sampaikan, namun tentang kebenaran yang sama sekali tidak mereka singgung. Bukankah itu lebih menakutkan?
Berita-berita itu, politik, budaya, dan ekonomi, membuat saya tak tenang. Satu persatu seperti mencemooh saya. Bagaimana saya bisa tenang, ketika negara saya di jadikan permainan. Seperti pion-pion catur yang sedang diadu, dan saya tidak mengetahui manusia yang berada di belakangnya. Saya tidak tahu apa tujuannya. Mungkin saja, suatu kali saya akan bertemu dia di mall, dan saya tidak mengenalinya. Padahal dia telah menusuk saya dari belakang layar. Memainkan perannya menghancurkan tanah kelahiran saya, memporak-porandakan, dan mengambil kehidupan dari diri saya. Saya tak pernah tau, dan tak mampu mempertahankan, bahkan untuk diri saya sendiri.
Masihkan anda merasa kenyamanan itu milik anda. Mungkin anda memang beruntung, dan anda akan tetap berada di dalam cangkang kenyamanan anda. Tapi saya khawatir itu tidak akan berlangsung lama lagi. Tanpa anda inginkan, anda harus keluar, dan yang saya takutkan anda belum siap dengan semuanya. Seperti bayi prematur.
Saya hanya sedang mengingatkan. Tentu bukan ingin menyeret anda memasuki dunia saya yang gila. Tapi untuk mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk yang mungkin bisa saja terjadi. Karena saya dan anda tidak benar-benar aman berada di dunia ini.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 19 February 2013

Iklan Produk Kecantikan VS Produk Kejelekan


Kalo lihat iklan di TV bikin nyesek hati. Kayak kena timpukan palu hingga bikin depresi. Apalagi kalau apa yang di tampilkan di TV itu banget-banget bertentangan sama diri. Bikin galau. Tapi, jadi kepikiran sendiri, kalau semisal nih berbondong-bondong media massa, yang entah sebabnya apa (mungkin aja penguasa dunia saat itu adalah orang yang merasakan hal yang sama dengan apa yang perempuan yang berkebalikan dengan iklan rasakan. Terintimidasi oleh iklan), dengan tiba-tiba menampilkan iklan-iklan yang berkebalikan dengan iklan yang ada sekarang. Yang mudahnya, produk-produk kecantikan.
Pernah menghitung perbandingan jumlah iklan yang ditujukan untuk perempuan dan untuk laki-laki di sela sinetron yang ibu kamu atau kamu tonton? Perbandingannya cukup besar. Mayoritas sasaran adalah perempuan. Bukan rahasia sih, perempuan itu memang lebih suka belanja (sebut saja konsumtif) daripada laki-laki.  Baru-baru ini aja muncul iklan untuk cowok. Habisnya, cowok-cowok sekarang juga pengen "cantik" sih. Ngga heran, produsen memberikan apa yang mereka harapkan. Penawaran akibat adanya permintaan (meski hukum ini tidak selalu benar, karena nyatanya banyak barang yang ditawarkan bukan atas dasar permintaan, namun karena ada maksud tertentu (apa ya?).
Silahkan deh, bagi yang punya waktu berdiam di depan TV buat ngehitung. Mulai dari yang pemutih, penghilang jerawat, penghilang komedo, penghilang minyak wajah, penghilang noda (kaya sabun cuci aja), penghilang kerut, pelangsing badan, peninggi tubuh, pelurus rambut, penghitam rambut, penguat rambut, hingga hal remeh-temeh lainnya tentang kecantikan yang target utamanya perempuan. Ketika semua itu di balik (Kayak di negeri cermin aja), apa yang akan terjadi? 
"Hitam itu cantik"
“Yang kelam yang bersinar” (Maksa banget)
"Berjerawat itu menarik"
"Berkomedo itu komersil"
"Yang tua makin jadi”
"Pendek itu lucu"
"Wajah berminyak itu mengkilat" (jelasss)

"Rambut berantakan itu keren"

“Tumbuh itu kesamping, bukan ke atas”
Mungkin, perempuan-perempuan di dunia (khususnya sih di Indonesia) akan lebih memilih berpanas-panasan di sawah daripada kerja di dalam kantor ber-AC. Mereka tidak takut berkotor-kotor ria dengan bergulat lumpur. Hemssss, petani desa tidak perlu khawatir tidak adanya regenerasi karena ngga ada lagi gengsi bekerja di di sawah. Perempuan-perempuan dunia tidak perlu lagi sibuk-sibuk ke salon hingga lupa ngurus anak dan suami. Pendidikan anak juga jadi lebih terkondisi. Apalagi tentang nutrisi. Ibu-ibu jadi suka masak sendiri, karena wajah berminyak itu mengkilat.
Perempuan-perempuan tidak perlu lagi rame-rame ke mall beli baju-baju mahal, hingga kartu kredit jebol (kalo yang punya). Bikin suami stress. Mungkin ujung-ujungnya korupsi, habis istri ngomel tiap hari karena iri hati sama artis di TV. Tak perlulah ada kontes kecantikan karena semua bisa cantik dengan mudah. Mudah toh bikin kulit berjerawat. Mudah toh bikin kulit hitam sekelam batu bara, dan hal itu bisa sangat mudah terjadi jika media massa melakukannya.
Mudah sekali. Tau lah, pengaruh media massa itu ruaaarrr biasa. Opini gampang banget di belokan. Dari yang kanan ke kiriiii banget, dari yang lurus jadi bengkooookkkk banget, dari yang bersih bisa kotor bangetttt. Tapi bisa juga sebaliknya. Tergantung siapa yang memegang kuasa. Apa lagi media massa banget-banget gampangnya di akses. Beli TV yang tadinya harganya juta-jutaan, sekarang? Sudah macam jamu. Gampang dapatnya. belum lagi internet yang dipenuhi iklan. Wi-Fi aja nyangsang dimana-mana, udah kaya jaring laba-laba. 
Ini contoh kecilnya aja sih. Contoh yang lebih gede, kalian cari aja sendiri. Bersyukurlah yang ngga punya TV. Ngga perlu takut terintimidasi hingga masuk ke alam mimpi (Wah, ada produsen TV ngga nih) Eits, bukan karena TVnya. Tapi karena kontens-kontens di dalamnya. Karena ngga hanya teroris yang bisa mencuci otak, kenyataannya pencuci otak yang paling nyata adalah Media massa. Mungkin untuk reverensi, bisa baca buku “Dosa-dosa Media Amerika”. Lupa gue penulisnya siapa. Isinya aja lupa. :D. Dibaca gih, nanti kasih tau ke gue. Kali aja gue salah. Kali aja, bukan media massa yang salah (dosa kah?), kali aja otak gue yang sudah keblandarang kemana-mana hingga sulit mencerna mana yang salah dan mana yang benar. Pesan singkat gue sih, jadilah pengkonsumsi cerdas.

^^


Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com