Thursday, 6 October 2016

Apa Yang Anda Pikirkan?



“Satu, dua, tiga,” aku mengangkat wajahku seirama dengan hitungan. Benar, ada dua buah bola mata tengah menatapku.
 Apa yang ia lihat?
Apa yang dia pikirkan?
Kenapa dengan beraninya ia balas menatapku?
Pertanyaan itu muncul tanpa berhasil mendapatkan jawaban.  Pemilik mata itu pun seakan tak peduli dengan serangan pertanyaan bertubi-tubi yang menyerang. Dengan seenaknya saja ia menatapku, tanpa ada niat untuk mengalihkan pandangan. Bahkan setelah ia tertangkap mata. Dia jelas tidak sedang mencuri pandang. Ia terang-terangan.
Aku tidak berkutik ditatap mata itu begitu lama. Aku kalah dan menyerah. Aku kembali menundukan wajah. Berpura-pura kembali asik dengan bukuku, berusaha berfikir dan pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.
Perpustakaan masih hening. Pengunjung masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dinginnya udara karena suhu AC dipasang terlalu rendah sepertinya tak mengganggu mereka. Atau malah itu adalah suhu ternyaman ketika otak mereka panas karena dipaksa berfikir keras.
Kepura-puraanku tidak bisa bertahan lama. Aku masih bisa merasakan mata itu masih menatapku. Meski bukan tatapan tajam yang menghakimi dan menguliti, tetap saja tatapan itu mengganggu. Seenaknya saja ia menatap.
Aku kembali mengangkat wajah. Kali ini tanpa hitungan. Hanya spontan saja. Dan mata kami kembali bertemu. Mata tanpa cerita. Tidak ada yang bisa aku baca dari matanya. Bukan, bukan tatapan kosong. Namun, mata dengan begitu banyak cerita.
Apa yang kamu pikirkan dengan menatapku begitu?
Harus apa reaksiku?
Tidak ada jawaban. Tidak ada perubahan, bahkan dari ekspresi kami. Kami hanya saling menatap tanpa reaksi. Seperti tatapan yang lurus tanpa ada objek didepan kami, namun kami saling tahu, kami saling memandang. Kami saling membaca. Lalu, apa yang berhasil ia baca sedangkan aku tak bisa membaca apapun?
Sepertinya aku putus asa. Aku menyerah untuk membacanya.
Aku kembali menunduk seperti prajurit yang kalah dalam perang. Namun otak tak menyerah begitu saja. Ia masih saja berfikir, apa dan kenapa. Kesimpulan-kesimpulan baru terbentuk. Pemikiran-pemikiran baru terbersit. Namun semuanya tidak menjadi sebuah fakta. Hanya sebagai dugaan otak saja.
Aku harus mencari tahu, apa yang ia pikirkan. Kesimpulan inilah yang menuntunku untuk kembali mengangkat wajah. Keberanian telah terkumpul sebagai akumulasi rasa penasaran.
Aku mengangkat wajah, lagi-lagi tanpa komando. Mata itu, masih menatapku. Seakan tanpa bosan, seakan tanpa jengah, seakan tanpa takut. Dan kali ini, sebuah senyum terlukis dari sebuah bibir.

Kali ini aku benar-benar menyerah, pun menyerah mencari tahu apa yang ia pikirkan, ditambah dengan senyum terukir itu. Aku menyerah.

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com