Monday, 6 March 2017

Jaulah Sastra FLP Yogyakarta :Belajar Menerbitkan Buku Fotocopy dari FLP Solo

Yogyakarta dan Solo memiliki sebuah cerita panjang di masa lalu. Dahulu, Yogyakarta dan Solo merupakan satu kesatuan wilayah dibawah satu kerajaan, yaitu kerajaan Mataram sebelum ditandatanganinya perjanjian Giyanti pada tahun 1755 Masehi. Meskipun kini Solo berada di wilayah propinsi Jawa Tengah, namun Yogyakarta dan Solo memiliki banyak sekali kesamaan. Baik dalam bidang budaya maupun bahasa.
Meskipun bukan dengan pertimbangan sejarah tersebut, pada tanggal 5 Maret 2017, FLP Yogyakarta berkunjung ke FLP Solo. Sebagai keluarga besar Forum Lingkar Pena, FLP Yogyakarta ingin bersilaturahmi dengan FLP-FLP di seluruh Indonesia. Kali ini keinginan itu terealisi.
Pukul 06.00 WIB saya sudah berada di stasiun kota Yogyakarta untuk membeli tiket kereta api Pramek atau Prambanan Ekspres dengan jadwal keberangkatan pukul 07.30. Namun sayang, tiket pramex pagi itu ludes terjual. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil buah tangan yang akan kami bawa ke Solo dan kembali lagi ke stasiun untuk membeli tiket untuk jadwal perjalanan selanjutnya. Saya mendapat tiket untuk jadwal pukul 09.10. Belum sempat setengah jam dari pukul 07.00, tiket untuk jadwal pukul 09.10 tersebut pun ludes terjual. Beruntung, saya sudah mengantongi sepuluh tiket. Akhir minggu arus perjalanan dari Yogya ke Solo cukup tinggi.
Satu persatu teman-teman FLP Yogya datang ke stasiun. Namun karena perjalanan masih dua jam lagi, kami memutuskan berjalan-jalan di sekitar stasiun. Pilihan jatuh ke jalan Malioboro.
Apakah prolog saya kepanjangan?
Perjalanan dengan kereta menurut saya akan menyenangkan. Begitupun perjalanan kali ini, satu jam terasa hanya beberapa menit saja. Buku yang saya bawa dan saya niatkan untuk dibaca di kereta, akhirnya hanya terbuka tanpa bisa terbaca karena kami asik bercerita.
Setelah sampai di stasiun Purwosari, kami langsung menuju loket pembelian tiket. Kenapa? Baru saja sampai, kenapa harus sibuk dengan tiket untuk kembali? Ya, kami harus membeli tiket kembali ke Yogya sebelum kehabisan.
Setelah kebingungan dan berdiskusi panjang, akhirnya kami memutuskan berjalan kaki menuju sekertariat FLP Solo yang terletak di Laweyan yang berjarak sekitar 1,2 km. Kami melewati trotoar yang cukup lebar dengan kiri kami berupa taman, dan dibagian kanan adalah pertokoan dan hotel.
Setelah sampai di lokasi, kami disambut oleh Opik Oman. Bukan orang yang kami temui, namun sebuah tulisan yang tertera di depan sebuah warung fried chiken. Rupanya sekertariat FLP Solo terletak di sebelah rumah makan Opik Oman yang merupakan milik ketua FLP Solo yaitu Opik Oman.
Sekertariat FLP Solo sendiri terletak di depan sebuah pondok pesantren, dan kami diajak untuk . Dengan posisi melingkar, kami mulai acara silaturahmi, sharing dan diskusi. Opik Oman selaku ketua FLP Solo mulai menceritakan tentang keadaan FLP Solo. Pengurus FLP Solo hanya terdiri dari dua orang, Ketua dan Sekertaris. Kemudian program kerja pun disusun oleh mereka berdua. Jika dibandingkan dengan FLP Solo, struktur pengurus FLP Yogyakarta nampak begitu gemuk.
Posisi kepengurusan tersebut telah diwariskan dari kepengurusan sebelumnya, dan memang sesuai dengan kondisi FLP Solo.
FLP Solo memiliki acara rutin setiap minggu bernama Kemecer yang merupakan akronim dari Kelas Menulis Cerita. Dalam acara Kemecer ini, anggota FLP Solo akan menyetorkan karya mereka yang kemudian akan “dibantai” oleh Mas Opik Oman. Saya lalu teringat agenda Klub FLP Yogyakarta yang acaranya pun hampir sejenis. Setelah itu, giliran FLP Yogyakarta yang ditodong cerita. Maka saya menceritakan sedikit tentang FLP Yogyakarta dan kegiatan-kegiatannya.
Setelah berbagi cerita tentang FLP di masing-masing wilayah, Mas Opik Oman mulai bercerita tentang buku-buku beliau. Uniknya, buku beliau tidak diterbitkan di penerbitan, namun diterbitkan oleh jasa fotocopyan yang bisa kita temukan di banyak tempat. Buku kumpulan cerita dari FLP Solo pun demikian.
Tidak hanya mudah, menerbitkan buku sendiri dengan cara ini hanya membutuhkan modal yang sedikit. Jika penerbitkan buku di penerbitan menghabiskan dana hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, untuk mendapat 10 buku terbit, jika dengan cara ini,  dengan dana 60 ribu, sudah dapat 10 buku cetak. Harga ini tentu disesuaikan dengan banyaknya lembar naskah.
Mas Opik Oman juga memasarkan karyanya yang lebih dari sepuluh judul ini dengan memanfaatkan media sosial terutama Facebook. Namun, buku beliau  juga dapat ditemukan diportal jual beli online, Buka Lapak. Harga buku beliau sangat terjangkau yaitu sepuluh ribu rupiah. Dengan harga yang demikian murah, nampaknya akan memperbesar kemungkinan pembeli membeli buku beliau.
Open rekruitmen anggota FLP Solo berbeda sekali dengan Open rekruitmen FLP Yogyakarta. FLP Solo cukup mengadakan seminar menulis dengan biaya pendaftaran seratus ribu rupiah. Kemudian, peserta yang mengikuti acara seminar ini bisa mengikuti kegiatan FLP Solo. Namun, dalam perjalanannya memang tidak sebanyak yang mengikuti seminar. Jika yang mendaftar seminar ada enam puluh orang, maka hanya akan tersisa sepuluh sampai lima belas orang saja.
Saya jadi teringat open rekruitment FLP Yogyakarta dengan segala keruwetannya, dan kesenangannya. Oya, obrolan kami juga ditemani Ayam Goreng Opik Oman dan es teh manis.
Selain untuk membiayai kegiatan FLP Solo, uang pendaftaran seminar tadi juga dialokasikan untuk membuat CV percetakan. CV inilah yang akan mencetak karya-karya anggota FLP Solo. Seperti keinginan yang diungkapkan Bunda Helvy Tiana Rosa pada Milad FLP 20 di Bandung tanggal 26 Februari lalu, FLP itu adalah komunitas yang besar, maka sudah seharusnya jika FLP bisa menghidupi dirinya sendiri. Penulisnya dari FLP, percetakan/penerbitan buku dari FLP sendiri, dan pasar/pembaca minimal dari FLP sendiri. Maka, penulis-penulis FLP bisa berkembang jika didukung oleh keluarganya sendiri.
Senja mulai turun, akhirnya kami memutuskan untuk undur diri. Mengingat jadwal kereta dan kami juga ingin megabadikan moment perjalanan di trotoar Solo dengan kamera. Kami menyerahkan kenang-kenangan berupa buku dari salah satu anggota FLP Yogyakarta yang juga diterbitkan secara indie, namun bukan di cetak di fotocopyan.

Dari Jaulah Sastra ini saya belajar, sesungguhnya memiliki buku sendiri itu sangat mudah. Sangat mudah. Syarat yang paling berat sebenarnya adalah, menulis naskahnya. Ya, lagi-lagi menjadi penulis itu yang dibutuhkan adalah menulis. Bukan lagi penerbitan yang mau menerbitkan tulisan kita, karena dengan mendatangi usaha fotocopyan yang tersebar dimana-mana pun kita bisa menerbitkan karya kita dengan sangat mudah. Jadi, ingin memiliki buku sendiri? Menulislah sekarang.



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 22 February 2017

Bali-Lombok: Ketika Aku Hilang dan Menemukan Part 4


Q:”Kenapa ceritamu panjang sekali? Apa tidak takut membosankan pembaca?”
A:”Saya sendiri sebenarnya sudah bosan. Haha. Tapi, karena saya punya hutang, jadi saya berusaha untuk melunasinya. Soal pembaca, saya sedang tidak berfikir untuk pembaca. Mungkin nanti di akhir atau part tambahan, saya akan memberikan ringkasan perjalanan, dan mungkin tips dan trik biar bisa mbolang Bali-Lombok dengan biaya murah.”
**
Terbangun di sebuah tempat asing, bukan lagi menjadi sesuatu yang mengagetkan untuk saya. Meski terkadang otak harus mencerna berkali-kali, kira-kira saya sedang terdampar dimana. Namun, terbangun di pulau Gili Trawangan dengan suara ombak yang cukup jelas, seperti melemparkan saya kembali kerumah. Mendadak, saya ingat pulang.
Hanya ingat saja, karena tentu saya tidak akan memutuskan untuk pulang sekarang. Gili Trawangan siap dijelajahi pagi ini.
Matahari yang bulat sempurna, keluar dari pulau Lombok

Setelah sholat subuh, kami berdua langsung bergegas ke pantai untuk mengabadikan momen sunrise. Mengingat momen sunset kemarin yang penuh nuansa ‘magis’, saya pikir, sunrise pagi ini pun tak kalah. Namun sayang, ternyata sunrise di Gili Trawangan tidak terlalu sempurna karena matahari tidak muncul dari laut, namun dari bukit-bukit pulau Lombok.
Pagi yang magis

Oya, kami tidak berdua saja. Seorang laki-laki dari tetangga penginapan bersama kami. Ia berasal dari Malang, dan traveling sendirian. Saya jadi ingat keinginan saya waktu kecil yaitu menjadi laki-laki. Mungkin salah satu alasannya ini. Laki-laki bebas pergi kemana saja, meski sendirian.
Saya ini action

Setelah puas melihat matahari terbit, wisatawan asing yang tertidur dipantai, para pekerja yang lalu lalang, perahu yang terombang-ambing ombak, kami memutuskan utuk mencari sarapan pagi. Ah, soal wisatawan asing yang tidur dipantai itu hal yang biasa. Apalagi setiap malam di Gili Trawangan ada pesta. Mungkin wisatawan asing itu terlalu mabuk dan tak mampu pulang ke penginapannya.
Semoga dia tidak tengah mengenang.
Pilihan sarapan pagi kami jatuh kepada ketupat plastik lauk kuah yang dijual seorang ibu separuh baya. Ia memanggul dagangannya dengan bakul besar. Isinya macam-macam. Entah namanya apa. Mirip masakan padang, mirip opor, tapi pedas. Cukup enak, dan menenangkan kantong.
Ibu penjual sarapan

Ada yang tau ini namanya apa? Opor ayam?

Setelah sarapan, kami memutuskan mengelilingi pulau Gili Trawangan. Mengelilingi pulau Gili Trawangan dengan sepeda ternyata tidak membutuhkan waktu yang lama. Kurang lebih satu jam, dan kami sudah puas menjelajah. Dan, tentu ini menyenangkan. 
eh, ada saya

Pagi, pantai dan sepeda

Pohonnya cantik
Kami berdua blusukan, menjelajahi Gili Trawangan tidak dari sudut wisatawan saja. Kami melihat banyak rumah-rumah bedeng di tengah-tengah pulau yang dihuni pekerja-pekerja hotel, rumah makan, dan pekerja lain yang menyapa kami berdua dengan ramah. Apalagi setiap dari mereka menyapa kami dengan salam dalam Islam. Ternyata kemewahan hotel, lounge, kafe di pinggir pantai tidak untuk mereka.
Eh, ada saya lagi

Setelah puas menjelajah, kami segera kembali ke penginapan, bersih-bersih diri, dan packing. Kami harus sudah meninggalkan pulau Gili Trawangan. Bukan karena tidak betah, sungguh, saya masih sangat betah, namun ada perjalanan yang harus kami lakukan lagi. Akhirnya, setelah menyelesaikan urusan penginapan dan mengembalikan sepeda sewa, kami kembali menaiki kapal menuju pulau Lombok.
ABK kapal tengah mengangkat jangkar yang super gede. 


Meninggalkan Gili Trawangan. Bye bye, see u next time, insyaAllah
Saya memandang pulau Gili Trawangan dengan sedih dan bergumam dalam hati, mungkin suatu hari nanti saya akan kesini lagi, mungkin dengan seseorang yang lain.
Adzan Dzuhur menyambut kedatangan kami dipelabuhan Bangsal. Setelah mengambil motor dipenitipan, dan bertanya tentang penginapan terdekat, kami segera menuju penginapan yang direkomendasikan. Tidak terlalu jauh dari pelabuhan Bangsal.
Penginapan itu terletak di jalan raya Bangsal. Namun saya lupa nama penginapannya. Setelah membayar biaya penginapan sebesar Rp. 250.000 kami meletakan barang-barang kami, melaundrykan baju kotor kami dan bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya.
Tujuan selanjutnya adalah Gili Air, pulau yang paling dekat dengan pulau lombok sehingga waktu perjalanan lebih singkat.
Lagi-lagi menarik jangkar.
Ternyata loket pembelian tiket kapal menuju gili air berbeda dengan loket kapal menuju gili Trawangan. Loket kapal menuju Gili Air lebih kecil dan terletak di seberang jalan loket utama. Hanya ada sebuah gardu kecil dan beberapa petugas. 
Kami harus menunggu cukup lama kapal menuju gili Air. Berbeda dengan ketika menuju Gili Trawangan, tidak banyak wisatawan yang tertarik untuk pergi ke pulau ini. Mungkin namanya kalah pamor dengan Gili Trawangan yang sudah mendunia. 
jajaran kapal yang tertambat di pantai Gili Air
Akhirnya kapal yang kami nantikan datang, kapal sejenis dengan kapal yang kami naiki sebelumnya. Setelah perjalanan selama kurang lebih 30 menit, akhirnya kami sampai di Gili Air. Kami segera menuju loket kapal, bukan untuk kembali lagi. Namun untuk menanyakan kapal terakhir ke pelabuhan bangsal.
Peta gili Air,

Kemudian kami segera menyewa sepeda, dan selanjutnya tentu saja berkeliling.
Gili Air lebih senyap daripada Gili Trawangan
Bentang alam Gili Air tidak terlalu jauh berbeda dengan Gili Trawangan. Pasir putih terhampar dimana-mana, laut biru, karang yang timbulkarena laut surut, pohon cemara dan burung-burung yang terbang bebas. Selain itu masih sama pula, kafe-kafe, penginapan, toko souvenir, klub, dan para pekerja yang ramah dan memberikan salam dalam Islam. Mungkin perbedaan terletak pada ukuran luasnya dan keramaiannya saja.
Rumah singgah para pekerja kapal
Jika di bibir pantai penginapan nampak menawan, dengan pemandangan pantai dan bangunan yang lebih modern, lebih masuk kedalam pulau, penginapan nampak tenang dan sejuk dengan pohon-pohon yang lebat. Bangunannya pun lebih sederhana daripada penginapan dan hotel di bibir pantai. Memang jumlahnya tidak sebanyak di Gili Trawangan.
Gazebo di depan sebuah hotel. Kayaknya asik duduk cantik disini sambil liat laut.
Listriknya dari sini loh.
Makan siang!!!

Kami teringat kami belum makan siang, dan akhirnya kami memutuskan memarkirkan sepeda kami disebuah rumah makan padang yang terletak di tengah pulau. Sepertinya rumah makan padang emang tersebar disegala penjuru Indonesia, dan sesungguhnya itu membuat saya senang.
Ngga kuat buat mengayuh sepeda karena jalannya berupa pasir.
Gili Air atau Gili Matra sih? Entahlah. Mungkin orang Lombok bisa menjelaskan
Pantainya sedang surut. Karang-karangnya terlihat. Namun saya tidak menemukan ikan yang terperangkap.
Biar rodamu tenggelam dalam pasir, tetap berjuang ya..

Bentang alamnya, MasyaAllah
Rasanya berkeliling di gili air selama hampir tiga jam sudah cukup untuk kami. Kami segera kembali ke pelabuhan, dan menunggu kapal yang akan mengantar kami. Sambil menunggu kapal, kami melihat ada segerombolan anak-anak yang sedang bermain di pantai. Beberapa anak laki-laki dengan terampil naik keatas kapal dan menceburkan dirinya kelaut. Pemandangan yang menggelikan karena mereka tidak memakai pakaian, namun juga menyejukan. Inilah anak-anak pulau gili Meno, inilah potret anak pantai, inilah potret anak-anak Indonesia. Ceria dan berani.
Pose dulu deh

Lagi nyari kepiting mungkin.
Bocahnya pada ngga takut tenggelam gitu ya..

Kapal akhirnya datang,  kami memutuskan duduk didepan, memandang lautan luas bersama ABK kapal yang mengambil jangkar dan mengendalikan kapal agar tidak menabrak kapal yang lain. Menyenangkan ketika wajah ini tersapu angin senja pantai, dan suara ombak yang beradu dengan kapal mengalahkan keinginan untuk mendengarkan musik buatan manusia.
Melelahkan namun menyenangkan. Tiga kali menaiki kapal dan dua kali mengelilingi pulau, sepertinya menguras tenaga kami. Kami langsung merebahkan tubuh di kamar penginapan. Rasanya enggan untuk melakukan ini itu, bahkan untuk membersihkan diri. Namun saya harus membulatkan tekad. Setelah membersihkan diri dan makan malam, akhirnya  saya benar-benar tidak bisa mencegah mata ini untuk terpejam meskipun jam masih menunjukan pukul 9 malam. Hari ini erakhir, namun esok masih ada hari lain yang masih harus dijelajahi.

 To be continue..
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 7 February 2017

Bali-Lombok: Ketika Aku Hilang dan Menemukan Part 3

 PS: Part ini akan penuh dengan gambar, karena banyak hal yang tidak bisa diungkapkan dengan kata.        

 Q:“Bagaimana persiapan sebelum backpakeran ke Bali-Lombok?”
          A:”Ngga ada persiapan apa-apa.”


          Saya tidak ada persiapan khusus. Jika biasanya orang-orang yang akan melakukan perjalanan jauh, paling tidak sudah bikin itin, saya mah boro-boro. Kan mottonya, liat aja dilapangan. Soal barang yang akan dibawa, karena saya orangnya simpel, saya tidak pernah kerepotan soal packing. Lagipula, masih di Indonesia ini.

          Mungkin karena sudah terbiasa packing untuk naik gunung, jadi soal packing itu sudah bukan hal ‘istimewa’ lagi. Bahkan kadang kalau mau naik gunung itu, satu jam sebelum berangkat, baru packing. Anehnya, barang yang saya bawa cukup lengkap sampai jarum benang biasanya ngga ketinggalan.
Untuk perjalanan Bali-Lombok pun demikian. Tas, baru disiapkan malam sebelum hari H. Untuk ‘kostum’, baju bersih yang ada saja. Padahal waktu itu baru mudik lebaran dan banyak baju yang masih kotor. Jadi bawa bajunya ya yang ada saja. Apalagi karena ngga punya itin, jadi ngga bisa nyesuain kostum sama tempat. Jangan heran kalau nanti ada salah kostum. Ini tidak baik untuk di contoh.
Sebenarnya, yang paling penting untuk persiapan perjalanan jauh itu adalah mengenal diri sendiri, dan juga tempat yang dituju. Kalau kita naik gunung tentunya sebelum naik, kita persiapkan fisik kita dulu. Harus benar-benar fit. Perbekalan pun demikian. Jangan sampai kelaparan dan kehausan. Jadi bawa makanan dan minuman secukupnya. Secukupnya, jangan kebanyakan juga, seperti orang yang takut kelaparan. Semua-mua dibawa. Malah nanti bikin bawaan terlalu berat.
Kalau naik gunung, karena udaranya dingin, wajib hukumnya untuk bawa jaket. Bisa ditambah dengan penutup kepala, masker, syal, sarung tangan, atau gel penghangat ala-ala orang Jepang gitu. Gunakan baju yang hangat, tapi ringan, dan mudah kering. Jangan pakai baju atau bawahan dari jeans. Kalau perjalanan Bali-Lombok? Bawa aja baju yang nyaman dan bagus untuk foto-foto.
**
Adzan Subuh berkumandang dengan merdu, saling bersahutan. Setelah hari sebelumnya tidak mendengarkan suara Adzan sama sekali, Adzan pagi ini terdengar syahdu. Saya jadi penasaran, bagaimana rasanya muslim-muslim Indonesia yang tinggal di negara minoritas muslim sehingga tidak bisa mendengarkan Adzan lima kali sehari. Pasti rindu sekali dengan suara Adzan. Meski kadang suara Adzan Subuh diabaikan (sering malahan ya).

Salah satu masjid yang kami temui dijalan menuju pasar tradisional.
Perjalanan menuju pasar tradisional
Aktifitas di rumah Mas Haris sudah dimulai. Setelah sholat dan membersihkan diri kami bergabung dengan keluarga Mas Haris di ruang tamu. Mengobrol sana sini, tentang Lombok, tentang tempat-tempat wisatanya, dan lain-lain. Hingga kami memutuskan ikut Ayah dan Ibu Mas Haris yang akan ke pasar untuk belanja. Sepertinya menyenangkan jika perjalanan ini tidak hanya melihat pemandangan indah saja.
Ibu-ibu tangguh Lombok
Pasar tradisional di Lombok itu hampir sama dengan pasar-pasar tradisional di Jawa. Hanya beberapa barang dagangan yang nampak asing bagi saya dan cara menjualnya. Mungkin ini terkait kebiasaan dan kebudayaan mereka. Namun, mengikuti Ibu belanja di pasar itu mengingatkan saya dengan Mama di rumah. Mama setiap hari harus kepasar untuk belanja sayuran dan barang-barang lain untuk dijual lagi dirumah.
Biasa, Ibu-ibu mah nawar-nawar dulu.
Oya, selama perjalanan ke pasar, kami takjub dengan bangunan masjid yang ada dimana-mana. Sungguh berbeda sekali dengan Bali. Di Bali kami melihat pura dimana-mana, kalau di Lombok, masjid dimana-mana. Maka tak heran jika Lombok dijuluki dengan pulau seribu masjid, karena saking banyaknya masjid disini. Saya jadi seneng.
Kantor pemerintahannya aja berkubah gini.

Selepas belanja, kami langsung berguru pada sang ahli untuk memasak makanan khas Lombok. Plecing Kakung. Ternyata mudah saja membuat makanan enak ini. Bahan dasarnya tentu saja kangkung, dan dicampur bumbu khas Lombok. Sedikit berbeda dengan plecing kangkung yang pernah saya buat di Jogja. Oh, jadi begini toh aslinya. Dan hasilnya, mantap. Saya nambah. 
Ini namanya plecing kangkung khas Lombok. Dijamin, maknyuss.
Selesai makan, kami bersiap-siap melanjutkan petualangan kami. Kami bersiap menjelajah Lombok Utara, dan kali ini kami tidak berdua. Mas Haris, istri dan adiknya, mas Helmi akan bersama dengan kami. By the way, ternyata mereka belum pernah berwisata ke Lombok Utara.
Siap melaju dijalanan Lombok. Hai! aku pake jaket FLP. Saking cintanya atau..:D 


Lombok Utara, mau kemana? Tujuan kami adalah pulau-pulau yang telah termahsyur namanya, pulau Gili Trawangan dan teman-temannya. Kami melewati jalan sepanjang bibir pantai Lombok Utara. Bener-bener di bibir. 
Pemandangan disepanjang perjalanan. Gimana ngga tergoda coba.

Pemandangan disepanjang perjalanan. Gimana ngga tergoda coba

Disisi kiri kami terbentang laut biru yang menggoda, pemandangan yang luar biasa. Jika kami hanya berdua, saya percaya, waktu kami akan habis berfoto-foto di jalan ini. Setiap seratus meter sekali kami akan berhenti dan mamandangi pantai yang begitu mempesonakan. Beruntung ada mas Haris dan Istri yang berada di depan kami sebagai pemandu jalan, sehingga kami tetap pada jalur utama, menuju Gili Trawangan.
Mbak Maryam dan Mas Haris yang baik hati sekali (biar boleh nginep lagi kapan-kapan)
Setelah berada diatas motor sekitar dua jam akhirny kami sampai di pelabuhan Bangsal. Pelabuhan Bangsal ini adalah pelabuhan kecil dengan beberapa bangunan saja. Namun, ada yang berbeda dari apa yang saya baca di internet sebelumnya. Jika di internet, dikatakan bahwa pelabuhan Bangsal ini adalah pelabuhan yang kecil dengan bangunan yang terbuat dari kayu. Selain itu, banyak kejadian scam di pelabuhan ini. Namun ternyata tidak demikian.
Peta tiga Gili di pelabuhan Bangsal
Ko agak kagok ya dengan istilah Fast Boat, berasa mau bilang Fast Food.

Di pelabuhan Bangsal ini telah dibangun bangunan permanen dari batu bata, di plester dan di cat. Petugasnya juga sudah ada yang berseragam dinas. Bangunan utama yang berukuran kurang lebih sepuluh meter persegi digunakan untuk menjual tiket kapal, pusat informasi juga tempat menunggu kapal. Selain itu, di Pelabuhan ini juga sudah ada ATM, dan penginapan. Pokoknya ramai. Jika soal scam, karena saya tidak mengalaminya sendiri, jadi saya tidak bisa memberi kesaksian soal ini. Mungkin beruntungnya saya karena ditemani orang Lombok asli. 
ABK kapal menuju Gili Trawangan

Setelah bertanya tentang kapal mana yang akan kami naiki dan ini itu, kami akhirnya melakukan transaksi pembelian tiket kapal sedang dengan kecepatan sedang pula. Namun kami harus menunggu beberapa waktu karena kami harus antri dengan penumpang yang lain.
Didalam kapal
Tujuan pertama kami tentu saja Gili Trawangan, pulau terbesar dari dua pulau lainnya. Menaiki kapal dengan mesin kapal sedang membutuhkan waktu kurang lebih empat puluh lima menit. Empat puluh lima menit yang kami habiskan diatas kapal tidak berlalu begitu saja. Laut, laut, lau dan laut menjadi pemandangan yang sama sekali tidak membosankan. Apalagi warnanya yang jernih sehingga kami bisa melihat apa yang ada dibawah sana. 

Gili Trawangan!!!
Gili Trawangan!!!! 
Duhh, ini sih bikin baper...

Sesampainya di Gili Trawangan kami sudah disambut dengan tugu Gili Trawangan yang berwarna-warni. Gili trawangan bukanlah pulau yang besar. Mungkin hanya sebesar kota Yogyakarta. Pasir pantainya berwarna putih dengan tekstur yang kasar. 
Pantaiii!!
Pantaiii lagii!!
Pantaiiiiiii lagi lagi lagi!!

Gili Trawangan cukup ramai, terutama disepanjang pantai. Hotel, penginapan, kafe, klub, berjejer berderet membentuk gugusan dengan konsep dan ornamen masing-masing.  
Salah satu konsep kafe di bibir pantai Gili Trawangan
Selanjutnya, kami langsung mencari penginapan untuk saya dan Diah. Ya, rencananya saya dan Diah akan menginap di pulau ini selama semalam.
Cidomo, kendaraan mirip dokar. Transportasi di Gili Trawangan karena di pulau ini tidak boleh ada kendaraan bermesin. 

Mencari penginapan di Gili Trawangan tentu saja mudah. Namun mencari penginapan yang sesuai dengan kantog backpaker miskin kami, tentu harus memilih dan memilah. Kami menemukan penginapan yang letaknya sedikit masuk ke daratan, bersebelahan dengan masjid. Duaratus ribu per malam dengan dua bed, kamar mandi dalam, dan kipas angin. Jika di bandingkan dengan Bali, memang lebih mahal, namun karena sudah lelah juga untuk mencari, apa boleh buat. Saya pun tidak berani membuka internet, mencari tahu harga-harga penginapan di Gili Trawangan ini. Takut menyesal. Biasakan cewe. Meski bedanya cuma lima ribu perak.
Baper? Saya FLP saja.

Duhh, jadi pengen nih.. pengen minum es kelapa muda. Panas.

Ini kisah (cinta) gue. Tau kan gue yang mana?
Agggrr...
Saya menyusuri pantai saja biar ngga panas, e tapi malah tambah panas ini..:D

Dia lagi ngapain? Entahlah.
Setelah sholat dan yang lain, kami berlima menuju pantai, berfoto, berfoto dan berfoto. Menyusuri pantai di Gili Trawangan dengan pasir putih itu menyenangkan. Apalagi air laut yang jernih. Inginnya segera diving saja. Tapi sayang, Diah yang tidak bisa berenang tidak berkenan. Okelah, kita nikmati pemandangan dari atas. 
Kakak-Adik yang baik hati.



Pantai Gili Trawangan dipenuhi wisatawan-wisatawan mancanegara. Hanya satu dua yang merupakan wisatawan lokal.


Senja mulai turun. Mas Haris, Mba Maryam dan Mas Helmi memutuskan untuk pulang sebelum kapal terakhir pergi. Maka tinggalah kami berdua. Selanjutnya apa? Kami memutuskan untuk kembali kepenginapan, merebahkan tubuh sejenak dan menunggu saat-saat sunset.
Mari bersepeda!

Senja dan pantai. Jika hanya kata senja saja mampu menghadirkan nuansa romatis, lalu bagaimana jika bersanding dengan kata pantai? Romantisnya dobel, dan bersepeda di pinggir pantai adalah romantis maksimal. Tak henti-henti hati saya menyebut kebesaranNya.
Berburu senja

Sunset in picture.

Langit cerah, pantai yang surut, dan matahari yang benar-benar bulat dan tenggelam dilaut, adalah suguhan yang luar biasa. Saya tidak heran jika pemandangan ini mampu melemparkan seorang anak manusia kedalam ingatan masa lalu, bahkan yang sudah jauh terkubur sekalipun.
Whats in your mind, Diyah?
Aku disini loh!!

Teringat sebuah quote di buku Tere Liye, Diah mulai menghitung berapa menit yang dibutuhkan matahari yang bulat total hingga benar-benar tenggelam. Entahlah apa yang dipikirkannya. Akhirnya matahari benar-benar tenggelam sempurna dan kami harus meninggalkan pantai.
Menghitung detik

Malam di Gili Trawangan dipenuhi suara pesta. Tapi kami tidak berada didalamnya. Kami berdua memilih asik dengan gadget kami masing-masing. Jelas, saya bukan anak party, meski pernah juga mengikuti party, Pesta Siaga pas jadi pramuka SMP. Dan Diah nampaknya tidak tertarik, mungkin dia masih terbuai dengan kenangan yang berhasil timbul ketika menatap sunset tadi. Entahlah. Akhirnya kami memilih menyudahi hari ini. Besok masih ada hari lain yang ingin kamu jelajahi.

To be continue..
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com