Friday, 23 March 2012

Cerpenku yang di tolak..heheheh "COVER"

Aku pandangi lagi potongan kertas kecil di tanganku. Kemudian beralih ke monitor bertuliskan ang

ka di depan meja costumer . Masih lama. Disana masih tertulis angka 316, sedangkan kertas di tanganku tertera dengan sangat jelas angka 333. Angka yang cantik.
Sekali lagi aku memperbaiki posisi dudukku. Kadang untuk meregangkan otot setelah hampir setengah jam menunggu antrian. Sesekali ku edarkan pandangan kesekeliling. Berharap ada salah satu wajah yang aku kenal dan mengobati sedikit kejenuhan. Tapi nihil. Semuanya nampak asing. Mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang diam terkantuk-kantuk. Ada yang mengobrol dengan teman sebelahnya. Ada yang bermain HP, dan ada pula yang terus-terusan memandang layar monitor tanpa mengenal lelah. Wow, gigih sekali, atau tak sabaran?
Mesin pemanggil berbunyi lagi. Sedikit kelegaan. Seorang pria gemuk setengah baya maju menghampiri meja costumer. Sepertinya dia seorang pegawai kantoran atau seorang bos malahan. Penampilannya rapi dengan kemeja biru muda yang disetrika halus. Dilehernya tergantung dasi bergaris-garis dengan warna biru tua.
Aku pikir mungkin dia salah satu orang sukses di kota ini. Tapi aku lihat lagi, mukanya nampak kusut. Apalagi setelah ia mendengar penjelasan seorang teller muda di depannya. Ia seperti tengah memastikan sesuatu tapi kepastian itu tidak didapatnya. Berbeda dengan teller yang selalu mengembangkan senyum. Entah untuk menghibur atau karena tuntutan profesi. Tapi sepertinya pria itu tidak terpengaruh.
Penjelasan teller pun sepertinya usai. Pria itu terdiam sejenak. Menunduk, mungkin mengamati tali sepatunya yang terlepas dari simpulnya. Tapi sepertinya lebih dari itu. Pria itu lalu bangkit dan beranjak pergi. Dia tak membalas senyum ramah Pak Satpam.
Mesin pemanggil berbunyi lagi.
Sepasang, yang mungkin suami istri menggantikan posisinya. Pasangan itu sudah lanjut usia. Rambut si suami sudah putih semua. Si istri mengenakan jilbab putih yang menutupi sebagian tubuhnya. Wajahnya cerah, senada dengan wajah sang teller muda. Kemungkinan mereka tengah mengurus tabungan masa tua. Entah untuk naik haji ataupun untuk dana pensiun. Tapi nampaknya mereka bahagia.
Aku jadi ingat ayah dan ibu dirumah. Disela-sela obrolan kami sehari-hari kadang Ibu bercerita tentang keinginan hari tuanya. Memang dia bukan seorang manager yang hebat. Dia bahkan tidak mengenal ilmu-ilmu managemen yang diajarkan di perguruan-perguruan tinggi. Dia hanya lulus SD, namun dari kisah hidupnya yang panjang aku tau, dia adalah bendahara yang hebat. Buktinya, dengan bekal ketrampilannya yang terbatas dia mampu memperjuangkan hidup kami dengan sedemikian rupa. Dari sebuah gubuk dari papan dan daun alang-alang menjadi rumah batu bata matang dengan atap genteng dan sudah disemen.
Ia sering bercerita tentang keinginannya. Tidak terlalu muluk. Dia hanya ingin menjalankan semua rukun Islam. Tapi hal ini menjadi permasalahan yang cukup besar bagi kami mengingat kami hanyalah masyarakat pinggiran yang sudah bersyukur jika kebutuhan sehari-hari kami terpenuhi. Tapi hal itu tak pernah menyurutkan niatnya. Dengan mata menerawang dia biasanya berkisah tentang mimpinya ke tanah suci.
Tak lama kemudian sepasang lanjut usia itu meninggalkan meja costumerdan seorang wanita muda menggantikannya. Aku coba menerka.
Dugg..
Pemikiran yang baru saja aku tata tentang wanita itu tiba-tiba buyar. Ada yang menendang kakiku dengan keras. Seorang pria muda berdiri didepanku. Dia menatapku dengan tatapan yang mungkin bisa diartikan marah. Atau memang tatapannya selalu demikian. Entahlah.
Pria itu mengenakan jaket kulit usang yang sudah sobek dibeberapa bagian. Ia juga mengenakan celana jeans yang tak kalah mengenaskan. Dekil dan kumal. Penampilannya tak jauh beda dengan preman-preman yang aku sering temui di pasar. Aku bergidik ngeri.
“Ups, maaf,” ucapku. Semoga dia memaafkan, meski bukan aku yang salah. Dia kan yang menabrakku. Sepertinya kata maafku tak didengarnya. Ia berlalu menuju meja costumer. Wanita muda yang tadi duduk disana entah kemana.
Pria itu masih terbilang cukup muda. Mungkin 27 ataupun 28 tahun. Tapi penampilannya membuatnya sedikit lebih tua. Apalagi di tambah dengan wajah sangar yang ia miliki. Aku yakin dia preman. Atau mungkin tukang pukul sewaan. Ah, bisa saja bodyguard, atau mungkin..., Astagfirullah, kenapa aku jadi berburuk sangka seperti ini?
Pria itu meninggalkan meja costumer. Ia sempat melihatku sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu. Bulu kudukku berdiri.
**
“Ngga mau ah, Bu. Orangnya galak.”
“Ko kamu tahu, Di? Katanya kamu ngga kenal?” ibu menatapku heran. Untuk kesekian kalinya Ibu menawariku untuk berta’aruf dengan seorang ikhwan anak temannya.
Aku paham, di usiaku yang sudah menginjak hampir berkepala tiga, pasti ada kecemasan tersendiri padanya. Belum lagi ditambah gunjingan tetangga yang usil. Apa salahnya sih kalau belum menikah? Tandanya kan belum datang jodohnya. Mereka bilang katanya aku pemilih lah, anu lah, itu lah. Ya memang mencari pasangan hidup harus memilih kan? Ngga asal.
“Lihat aja mukanya, Bu”
“Loh, kamu udah pernah ketemu toh?”
“Belum, dari fotonya.”
“Dinar...Dinar.. kamu ini ya.. mbok ya jangan asal tebak begitu. Belum tentu dia galak meski mukanya seperti itu. Jangan-jangan malah dia itu penyayang.” Ibu menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Ngga asal tebak ko, Bu. Lihat deh mukanya. Banyak banget guratan di keningnya. Pasti orang ini sukanya marah-marah.” Kilahku.
“Stststs, sudah. Kalau kamu ngga mau ya sudah, tapi jangan jadi zu’udhon gitu dong.” Ibu akhirnya menyerah. Nampaknya dia sangat mangkel dengan ulah putri bungsunya, yaitu aku. Ia meninggalkan aku sendiri.
Huft, pada ngga paham sih.
**
Gloobal warming memang bukan sekedar isu. Harusnya semua orang mengerti akan hal itu. Lihat saja, pada bulan-bulan yang seharusnya turun hujan tapi malah panas menyengat seperti ini. Belum ditambah lagi dengan kemacetan ibu kota. Harus ekstra sabar jika menaiki kendaraan umum, tanpa AC, berdesak-desakan pula. Keringan pasti menyerbu keluar dari pori-pori kulit.
Kali ini pun aku tengah menikmatinya. Berdesak-desakan dengan penumpang lain yang pastinya juga merasakan ketidaknyamanan yang sama. Bau-bau aneh menyeruak, ditambah posisi yang tidak menguntungkan. Tapi aku berusaha sabar. Tinggal beberapa menit lagi aku sampai ditujuan. Tapi macetnya itu loh. Bisa-bisa setengah jam lagi aku menikmati semua ini dan mungkin saja bisa lebih.
Tiba-tiba dari arah belakang ada yang mendesak. Aku menoleh. Ternyata seorang pria muda dengan kemeja yang masih lumayan bagus dengan dasi tergantung dilehernya tengah berusaha memasuki area ‘gerah’. Mungkin dia eksekutif muda yang tengah mengalami hari naas. Mungkin mobilny macet atau bannya pecah. Atau dia bukan eksekutif? Kali saja dia Cuma salles. Sales kan sering berpenampilan rapi. Lagian mana mau seorang eksekutif naik bis kota yang panas seperti ini. Paling tidak ia akan lebih memilih taksi sebagai alternatif.
Kini pria itu berdiri disampingku. Sepertinya dia sudah menemukan posisi nyamannya. Dia tersenyum ketika aku menoleh padanya.
Bus maju perlahan-lahan. Kemacetan sudah berkurang dan bus sudah bisa sedikit berjalan dengan lancar. Alhamdulillah sebentar lagi aku keluar dari penderitaan ini.
“Mbak, awas dompetnya,” seseorang membisikan sesuatu padaku. Aku menoleh. Ternyata pria berpenampilan preman yang kemarin lusa aku lihat di bank. Aku bergidik, lalu ingat dompetku.Apa maksudnya? Dompetkku?
Aku meraba tas slempanganku. Resletingnya terbuka separuh, tapi cukup untuk memasukan tangan kedalamnya. Dompet itu tak ada, dompet itu raib. Aku tercekat.
“Ngga ada..” curhatku pada pria preman tadi. Aku panik.
Ko aku curhat sama dia? Bukankah seharusnya dia yang aku curigai. Tapi tadi kenapa dia memperingatkanku? Apa dia mempermainkanku? Dendamkah dia karena tersandung kakiku kemarin hingga hari ini dia membuntutiku?
Dia menoleh kesekitar, seperti mencari sesuatu. “Tunggu sebentar,” katanya.
Ia lalu menerobos kerumunan. Pria berkemeja putih disampingku sudah tidak ada, bahkan aku tak menyadari kepergiannya. Dia sudah berada di pintu dan sepertinya hendak turun. Anehnya, pria bertampang preman itu menghampirinya.
Mereka berbicara. Si pria preman dengan nada seperti mengancam menyodorkan tangannya meminta sesuatu. Mereka bersitegang. Tak lama kemudian pria berkemeja putih sepertinya mengalah dan menstop bus kemudian turun.
Pria bertampang preman itu kembali.
“Nih. Lain kali hati-hati. Copet sekarang ngga kalah pinter sama koruptor. Penampilannya juga ngga kalah beda dengan pegawai kantoran. Coba di cek. Masih utuh atau ngga,” pria itu menyerahkan dompet berwarna abu-abu milikku.
*END*

2 comments:

  1. hemmm...Sekarang tampilannya makin cantik saja..

    Hehehe,,
    bagus kok,,,
    Semangattt menulis kawan :D

    ReplyDelete
  2. Tapi aku pengen kaya punyamu..hehehehehe

    ReplyDelete

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com