Sunday, 4 March 2012

Fairy..


Aku berusaha mengingatnya seperti mengingat potongan puzle yang menghilang entah kemana. Tak ada gambaran sama sekali. Dia telah terhapus tanpa aku tau kapan tepatnya ia terhapus. Tiba-tiba saja sudah tidak ada dalam ingatan. Mungkin seorang penyihir telah mengambilnya dariku saat aku bertaruh sesuatu. Benarkah aku telah bertaruh? Tentu saja itu hanya lelucon.
Tapi dia bersikeras. Dia pernah ada dihidupku. Entah dibagian yang mana. Sisi yang menyakitkan atau menyedihkan. Jelas bukan pada tempat yang menyenangkan karena tak ada bagian itu di hidupku. Jadi mudah saja seharusnya untuk mencari memori yang telah terpilih sedemikian rapi. Tapi tidak juga. Namanya sama sekali tidak muncul setelah proses searcing selesai. There are no result to display.
Jadi ku coba acuhkan saja dia. Mungkin saja dia yang salah. Tapi benarkah ia salah sedangkan ia telah menyebut namaku dengan lengkap, bahkan menceritakan kembali sejarah kehidupanku seperti ia membaca sejarah-sejarah pahlawan yang diajarkan di bangku sekolah.
Tak ada tempat mengelak. Mungkin ia benar, ia pernah ada dalam bagian hidupku dan mungkin ingatan tentangnya telah diambil oleh penyihir meski aku tak melakukan taruhan. Aku mengalah dan membiarkannya menariku menuju sudut mal.
Seorang waitres bermake up tebal menyambut kami dan menyerahkan daftar pesanan. Namun ia sama sekali menyentuh daftar pesanan itu, ia menyebutkan beberapa menu makanan yang sepertinya telah dihafal diluar kepala, dan anehnya salah satu menu yang ia sebut adalah makanan kesukaanku. Waitres meninnggalkan kami dan ia tersenyum sangat lebar menyaksikan wajahku yang nampak bodoh atas apa yang ia lakukan. Nampaknya dia benar-benar mengenalku.
“Kau nampak masih sangsi? Apa kau pernah menderita penyakit amnesia? Atau bahkan azhaimer?” ia menggodaku.
Aku menggeleng. Mengelak dari tatapannya yang tajam. Oh, Tuhan. Ada apa dengan ingatanku? Benarkah aku mengidap kedua penyakit itu?
“Bagaimana kehidupanmu sekarang? Nampaknya lebih baik dari dulu. Lihat dirimu. Kini kamu sudah bisa berdandan, dan lihatlah, baju yang kau kenakan. Bukankah itu rancangan desainer ternama?”
Aku melihat diriku sendiri, dan mengangguk pelan. Aku memang telah banyak berubah. Sejak kapan? Entah, tanpa aku sadari aku telah berubah sedemikian rupa. Seperti kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu. Andai saja kalian lihat penampilanku waktu SMA, kalian tidak akan percaya.
“lalu bagaimana dengan dirimu?” tentu aku tak bisa menilai bagaimana alur hidupnya. Masa lalunya tak terkenang. Apakah aku sudah menjadi seseorang yang kejam?
“Yah begitulah.” Katanya seperti putus asa, namun dengan nada yang riang tanpa dibuat-buat. Aku sekali lagi tak bisa menerka bagaimana alur hidupnya.
“Apa kau sudah menikah? Bagaimana dengan Amir, kekasihmu itu? Apa kalian jadi menikah? Kupikir kalian cocok, Amir yang keras dan kamu yang lembut. Bukankah perpaduan yang sangat pas?”
“Tidak. Kami tak jadi menikah. Dia bersama wanita lain dan kini aku tak tau kabarnya.”
Ia menatapku prihatin. Memang menyakitkan, tapi itulah bagian hidupku, dan aku tersenyum seperti tak terjadi apa-apa. “Kami bukan jodoh,” ucapku.
“Yiah, kuharap kamu mendapatkan pria yang lebih baik. oya, kau tau apa yang membuatku sangat senang ketika melihatmu?”
Aku menggeleng.
“Lihatlah, semodis apapun dirimu, kau tetap mengenakan jilbab. Bukankah luar biasa. Kau tau banyak teman-teman kita yang sudah melepaskannya. Katanya untuk menunjang karier mereka. Mungkin benar, karena hingga saat ini aku tak mendapatkan posisi seperti mereka. Tapi kau mematahkan teori mereka. Kini kau sukses, meski dengan selembar kain di kepalamu. Aku salut.”
Aku kembali memutar otakku. Apakah mungkin dia teman satu sekolahku dulu. Setelah lulus SD, ayah memaksaku untuk memasuki sekolah Tsanawiyah. Tanpa bisa ditawar dan dengan setengah hati aku menuruti.
Siapa yang berani mengelak dari perintah ayah. Dia kepala keluarga yang diktaktor. Kediktaktorannya pula yang meyebabkan ia cepat berpulang. Darahnya naik, ia sempat strok selama setahun, namun ia tak bertahan lama.. Bukannya ibu lelah mengurusi, namun ayahlah yang menantang mautnya sendiri. Ia terkena serangan jantung saat memaki ibu yang seharian mencari nafkah setelah ia hanya menjadi manusia setengah. Saat itu aku menginjak kelas 3. Tapi wanita dihadapanku tak ada disana.
“Apa kau mendengar tentang si Wanti? Kudengar ia juga melepas jilbabnya. Tak lama setelah ia lulus SMA. Ia tek melanjutkan kuliah. Ia bekerja di sebuah Mall ternama di kota. Dia ditempatkan di toko kosmetik. Terakhir kudengar ia menikah dengan seorang duda kaya beranak tiga yang masih kecil-kecil.”
Yia, aku ingat Wanti. Gadis lincah yang ramah. Kami tidak berteman akrab, namun aku sedikit tau tentangnya. Kami pernah satu tahun sekelas. Cukup bagiku untuk menyimpan gambaran wajahnya dimemoriku. Seperti apa wajahnya sekarang setelah menginjak usia hampir tiga puluhan? Apakah ia tetap lincah. Atau ia telah direpotkan dengan anak-anak barunya?
“Oya, dulu kita punya teman bernama Sela kan? Masihkah kau ingat? Si gadis tisu itu? Yiah, dia pun sudah melepas jilbabnya. Kudengar ia bekerja diperusahaan jasa akuntansi. Kliennya orang-orang ternama. Kau tau, akhirnya ia pun jadi ibu orang ternama. Kliennya menjadikannya istri muda. Sekarang ia ongkang-ongkang kaki dirumah mewahnya.”
Tentu aku ingat Sela. Dia teman satu bangku denganku. Meski cuma sebulan karena aku tak tahan dengannya yang terus berkeringat karena tak terbiasa mengenakan jilbab. Atau ia yang tak tahan denganku yang sering meminta tisu kesayangannya untuk mengelap ingus saat aku flu. Tisu adalah barang kesayangannya yang sangat berharga. Sepertinya yang benar adalah opsi kedua. Aku didepak dari sisinya, dan ia memilih duduk dengan Fara yang tak pernah flu.
Pesanan datang saat ia akan kembali bercerita. Mulutnya kembali menyunggingkan senyum pada waitres yang segera meninggalkan meja kami.
“Hums, sedari tadi aku yang bercerita. Sekarang katakan apa yang kau tentang teman-teman kita? Ah, atau kau terlalu sibuk hingga tak lagi bisa menyimak kabar mereka? Tenang, aku makhlum. Bahkan aku kagum padamu. Semenjak ayahmu meninggal kau membantu ibumu berjualan di pasar. Selepas lulus dari madrasah, kamu hanya melanjutkan sekolah di kota kita. Supaya kau cepat pulang kan? Dan membantu ibumu? Hai, betapa tak adilnya diriku menceritakan kisahmu sedangkan engkau ada disini. Maaf, kau bisa melanjutkannya sekarang.” Ia mulai memakan pesanannya dan memandangku penuh penantian.
Aku berdehem. Meski hingga saat ini ia tetap tak ku temukan dalam memori otakku, aku tak bis a mengecewakannya yang nampak begitu antusias. Aku mulai bercerita, dan aku larut didalamnya.
Tiga hari lalu ayah meninggal. Harta ibu sudah habis untuk mengobati penyakit ayah. Hanya tersisa sepetak rumah tua tempat kami bernaung dari terik matahari dan dingin air hujan. Terpakasa, kami, aku, ibuku, dan kakak perempuanku mati-matian berusaha menyambung kehidupan kami. Tak ada yang bisa diharapkan sebenarnya. Ibu hanya seorang ibu rumah tangga ketika ayah masih hidup. Dulu itu tak masalah. Gaji ayah yang bekerja sebagai karyawan disebuah bank swasta membuat hidup kami kecukupan, namun semenjak ayah sakit, tak ada pemasukan. Terpaksa ibu yang hanya tamatan SMP bekerja. Bukan pekerjaan wanita karier tentunya.
Ia berjualan sayuran dipasar. Lumayan, bisa menyambung hidup kami. Namun lama-lama persaiangan dipasar semakin ketat. Apalagi setelah ayah meninggal. Ibu yang syok jadi sering sakit-sakitan. Terpaksalah aku dan kakak perempuanku berganti-gantian berjualan di pasar.
Setelah kakakku menamatkan SMAnya, ialah yang sering menggantikan ibu. Ternyata Kakakku punya bakat berdagang. Penjualannya melebar. Pesaingnya bisa ia takhlukan. Bahkan ia mampu melebarkan sayap. Ia tak hanya menjadi penjual sayuran. Kini ia punya toko kelontong yang memiliki kios sendiri. Bahkan kami berniat membangun rumah dilantai dua. Namun niat itu terpaksa diurungkan. Sakit ibu makin menjadi, dan akhirnya ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Apa yang kurasakan itu jauh berbeda dengan apa yang kurasakan ketika ayah yang meninggal. Bukannya aku membenci ayah, atau eku memang membenci ayah? Jika bukan karena semenjak kematian ayah kehidupan perekonomian kami memburuk, tentu aku akan mensyukuri kematian ayah.
Ayah bukan sosok yang baik. Sejak kecil aku sering dipukuli. Tidak dengan tangan, namun dengan benda apa saja yang bisa digunakan untuk memukul. Bahkan pernah ia menggunakan gagang payung yang terbuat dari besi untuk memukulku yang masih berusia 9 tahun. aku kedapatan berkelahi dengan teman bermainku. Katanya kelakuanku memalukan. Aku seorang perempuan, seharusnya aku dapat bersikap manis. Bukan malah berkelahi layaknya preman-preman pasar. Tubuhku merah-merah. Bahkan aku demam selam seminggu. Bukannya meminta maaf, tapi ia tetap menyalahkanku. Katanya aku terlalu lemah.
Tentu saja kekejamannya tak hanya ia lampiaskan padaku. Kakak dan Ibu juga sering mendapat perlakuan yang sama, dan tentu ibu yang paling sering. Karena setiap kesalahan selalu dilimpahkan padanya. Setelah selesai memukuli kami, ia pun akan memukul ibu, menganngap semua kesalahan adalah kesalahan ibu yang tak mampu mendidik kami, dan kami hanya bisa menangis bersama-sama.
Namun kepergian ibu, seperti mengambil separuh jiwaku. Wanita lemah itu lah yang sering melindungiku dari kemarahan ayah. Dialah yang dengan sabar merawat luka-luka memar ditubuhku sembari membisikan kata-kata manis agar aku terhibur. Namun apa mau dikata. Tak ada yang mampu melawan maut. Aku mencoba mengikhlaskan meskipun separuh jiwaku turut serta dalam liang lahat yang menyimpan jasadnya. Kala itu aku duduk di bangku kels dua SMA.
Kehidupan berlanjut. Kakak kembali berdagang, dan tokonya terus berkembang hingga ia menjadi gadis yang sangat sibuk. Ia sering pulang larut malam karena pembeli tak kunjung berhenti ketika waktunya menutup toko. Namun ia menolak ketika kuutarakan ideku agar kami membangun sebuah rumah diatas tokonya. Ia mengatakan ia tak ingin meninggalkan rumah ibu. Akhirnya aku menurut dan sesuatu terjadi diluar dugaan. Suatu malam beberapa preman mencegat motornya. Entah apa yang terjadi, namun sejak saat itu aku hidup sebatang kara. Anehnya aku tak menagis setelah kejadian itu. Bahkan ketika Amir, pria yang kusebut pacar sejak aku duduk di kelas 2 Madrasah itu berkianat, aku membiarkannya tanpa air mata.
“Maaf, aku tak tau semua itu. Semenjak lulus aku tak pernah mendengar berita tentangmu. Aku pikir kau marah padaku saat itu, dan aku tak berani menampakan diri dalam kehidupanmu,” katanya dengan nada penuh penyesalan.
Aku menggeleng. Entah untuk apa. Mungkin untuk menegaskan aku tak apa-apa, atau menegaskan bahwa aku tidak marah. Memang untuk apa aku marah?
“Maaf, memangnya apa yang terjadi dengan kita dulu?”
Dia berhenti mengunyah makanannya. “Kau masih belum ingat Ra?”
Aku menggeleng tanpa dosa.
Dia mengangguk angguk seperti mengerti akan sebuah fakta. “Tak apa, aku paham.” Nampaknya ia sangat sedih. Apakah aku nampak begitu jahat?
“Maaf, bukan maksudku untuk melupakanmu, namun bersediakah kau ceritakan kisah itu padaku?” pintaku penuh harap. Sepertinya aku memang berhak untuk mengetahuinya. Bukankah itu memoriku yang hilang dan aku berhak mendapatkannya kembali. Namun pertanyaan lain muncul. Benarkah jika ia menceritakannya aku dapat mengingat sisi memori itu? Atau itu hanya akan menjadi cerita biasa saja?
“Tentu,” jawabnya. Matanya berbinar penuh bahagia. Aku jadi lega melihatnya. “Tapi nanti. Boleh kan? Sekarang aku ingin mengajakmu mengunjungi sebuah tempat.”
Aku sedikit kecewa namun aku tak bisa memaksanya. Aku hanya mengangguk. Ia memanggil waitres, membayar makanan, dan mengajakku kesebuah tempat yang ia janjikan.
Tak disangka, ia membawaku kearena permainan di mall itu. Tempatnya cukup luas dan permainannya pun lengkap. Ia menukarkan banyak koin dan dengan matanya yang tajam ia menatapku. Ia menantangku. Aku juga membeli banyak koin. Lama sekali aku tak bermain.
Tubuhku seperti mengecil menjadi bocah berusia belasan. Lincah tak terkira. Kami beralih dari permainan satu ke permainan yang lain. Menyenangkan, dan aku tertawa ketika berhasil mengalahkannya.
Koin kami habis sekejap saja. Aku ingin membeli koin lagi, namun ia mencegahku. “Cukup senang-senangnya kawan.” Ia tersenyum manis sekali. Aku mengangguk. Ia berjalan meninggalkan arena permainan, dan aku mengikutinya.
“Nampaknya engkau sangat gembira?”
“Yiah, kau benar. Sudah lama aku tak segembira ini. Kau lihat tadi, bolaku selalu masuk, dan hampir disetiap permainan kau selalu kalah. Oya, apa kau lihat bapak-bapak yang tengah menemani anaknya, nampaknya ia terpana pada kita sampai-sampai anaknya dikira bola.Hahaha..” aku tertawa lebar. Yiah, ada kelegaan yang aku rasakan.
Ia ikut tersenyum. Kami hanya berjalan-jalan saja di mall.
“Apa kau ingin mendengar cerita itu, Ra?” ia menghentikan langkah kakinya. Yia, aku kembali teringat tentang pembicaraan kami ditempat makan tadi. Aku mengangguk antusias.
Ia memulai berkisah.
“Hari-hari berlalu sangat lambat di tahun pertamaku di sekolah tsanawiah. Aku tak punya kawan. Hanya segelintir orang yang mengenalku. Bahkan guru pun tak mampu mengenal namaku. Tahun kedua, aku sekelas denganmu. Awalnya ku pikir akan sama dengan tahun-tahun sebelumnya, namun ternyata tidak. Kau gadis yang lembut Ra. Kau membantuku ketika mereka mengejekku, dan pertemanan itu pun dimulai. Kau yang pintar, bintang kelas, cantik, ramah pada semua orang, siapa yang tak mengenalmu, dan aku sangat beruntung telah menjadi temanmu. Kita sering bersama, mengerjakan pr bersama, bermain bersama, bahkan kita sering merencanakan untuk bolos bersama. Kau juga sering berkunjung kerumahku, dan kau bilang kau ingin selamanya dirumahku. Kau tak ingin pulang. Kau bialng ayah ibuku baik, kau bilang sangat bhagia berada ditengah-tengah kami dan kau slalu melarangku mengunjungi rumahmu yang kau katakan sebagai neraka kedua. Tentu aku tahu sebabnya.” Ia menghela nafas.
“Kau ingat, Kita sering tertawa bersama-sama ketika membicarakan surat-surat cinta yang kita temukan dilacimu. Betapa lucunya mereka. Namun mukamu menjadi merah ketika kita membicarakan Amir. Ketua kels kita. Ia tak pernah mengrimimu surat, tapi ialah yang paling menarik minatmu. Cinta monyet yang manis bukan?”
Aku kembali mengenang kisah-kisah itu. Aneh. Memori itu menyeruak tiba-tiba. Yia, aku ingat saat aku tertawa terbahak-bahak bersama seorang bocah seumuranku. Apakah gadis kecil itu dia? Kemana saja memori itu selama ini?
“Apa kau sudah kembali ingat?”
Aku mengangguk. Anehnya memori itupun berbuntut panjang. Ia tak lagi bercerita, namun aku bisa merangkainya sendiri. Masa-masa yang indah. Kemana saja memori itu? Namun tiba-tiba memori itu berhenti pada sebuah titik. Aku melihat diriku sendiri yang menjadi titik itu. Aku memalingkan muka pada bocah kecil itu pada saat acara perpisahan. Bukannya aku marah, namun aku bahagia, karena ternyata bocah itu pergi dari hidupku. Kenapa aku bahagia dengan kepergiannya? Bukankah seharusnya aku sedih?
“Kau senang dengan kepergianku kan?”
“Yia, tapi aku tak mengerti.”
“Kau bilang aku merebut Amir darimu. Tentu itu tak benar. Namun kau terlanjur membenciku, dan dengan kepergianku ke Jakarta setelah lulus dari sekolah tsanawiah tentu sangat menggembirakanmu.”
“Benarkah? Apakah aku sekejam itu?” aku menatapnya tak percaya. Jika demikian, aku dapat mengambil kesimpulan. Aku sudah melakukan kesalahan. Karena akhirnya aku tau, Amir lah yang jahat.
“Tapi sudahlah. Bukankah itu masa lalu?” ia tersenyum manis sekali. Aku menganguk dan memeluknya. Aku merasa bahagia.
“Klara, ingatlah, hidupmu tak selamanya menyedihkan. Banyak sekali kisah-kisahmu yang penuh tawa. Jangang menghujat nasib karena ia tak adil. Ia sangat adil Klara. Paling tidak padamu. Sebenarnya banyak kebahagiaan yang ada di sekitarmu, namun kau tak menyadaarinya karena kamu ter lalu sibuk memikirkan betapa menyedihkannya hidupmu.”
Aku tersenyum. Benar katanya. Tak semestinya aku mengutuki hidup. Tuhan sudah sangat bermurah hati padaku dengan memberiku kehidupan seperti ini. Harusnya aku bersyukur.
“Ayo pulang, dan katakan pada dunia bahwa kau bahagia.” Ia menggandengku keluar mall. Kami tertawa sepanjang perjalanan pulang.

Pagi-pagi sekali aku mengambil teleponku. Aku ingin menelpon Safa. Aku rindu padanya meski baru kemarin kami bertemu.
“Halo, Assalamu’alaikum. Safanya ada?”
“Yia, maaf ini siapa yia?” kudengar suara di ujung sana bergetar.
“Ini Klara. Maaf apa Safanya ada?”
“Klara? Lama sekali tak menedengar kabarmu nak. Ini tante.” Jawab seseorang diseberang sana.
“Tante, bagaimana kabar Tante? Maaf tante, Klara tak pernah berkunjung lagi. Katanya tante sekeluarga pindah, dan Klara ngga tau kemana tante pindah. Namun kemarin Klara bertemu Safa Tan, kami ngobrol banyak. Tapi kayanya belum puas Tan. Jadi Klara pengen ngajak Safa jalan-jalan lagi. Safanya ada Tan?”
Sepi. Tak ada jawaban diseberang sana.
“Tante?”
“Klara, maaf yia kalo Safa pernah ada salah sama kamu.” Suara diseberang sana mulai terisak.
“Loh, emang kenapa Tan?” tanyaku bingung.
“Safa sudah meninggal dua minggu yang lalu karena penyakit kangker yang ia derita sejak kecil Ra.”
@@@@@

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com