Wednesday, 22 February 2012

Terjebak Hujan itu Mahal (sebuah cerita, hehehehe)



Mungkin menjadi hal yang biasa terjadi bagi kamu-kamu yang notebene adalah seorang yang pelupa atau pemalas untuk sekedar membawa payung atau mantol, terjebak hujan disuatu tempat, dan saya akui gue adalah tipe kedua-duanya. Apalagi di musim-musim penghujan seperti ini. Sudah tak terbilang, ketika gue bepergian, entah sekedar kekampus atau kesuatu tempat yang lain, gue hanya bisa merajuk “yah..Ko hujan.. “sembari melihat jam dan berharap hujan itu cepat berhenti.
Dalam ilmu geografi (Sebut saja Metklim), gue jadi tau bahwa hujan dengan intensitas besar didaerah tropis hanya akan bertahan 1 sampai 2 jam. Sisanya hanya rintik-rintik hujan. Karena pedoman itulah, gue sering memutuskan untuk menunggu jika hujan menjebak saya untuk pulang (hujannya pinter ya...). Yah, itu jika tidak tengah terburu-buru. Seperti sore ini. Gue kembali terjebak hujan untuk kesekian kalinya.
Sebelumnya, gue yang tengah berbelanja (weh, gaya euy, padahal Cuma beli odol sama sikat, hehehe) di salah satu swalayan di daerah bekasi, tak jauh dari tempat kontrakan kaka, gue ngga nyadar kalau gludag-gludug yang sedari tadi terdengar adalah suara gludug. Kirain diatep swalayan lagi mbangun apa gitu. So, waktu gue mau pulang dan ngliat luar, seperti yang gue katakan tadi, “yah...Ko ujan?” tanyaku pada diri sendiri. Pada siapa lagi coba, orang cuma jalan sendiri. Masa tanya sama manekin. Ngga lucu dong.
Satu-satunya pilihan adalah menunggu hujan reda. Mau gimana lagi, kalo mau menerobos hujan, hujannya cukup deras, ngga cuma badan gue yang basah, pasti belanjaan juga tak bisa terelakan. Gue lihat jam di layar HP. Masih cukup siang. Belum ada jam 3. So, aku putuskan menunggu.
10, 20 dan hampir setengah jam aku menunggu dengan posisi berdiri di depan swalayan. Cape juga. Mana ngga ada teman untuk mengalihkan perhatian, dan hujannya ternyata belum juga ingin reda. Aku tengok kanan-kiri. Mungkin aja ada tempat duduk. Ada sih, tapi di dalam sebuah tempat makan, dan aku tergoda untuk mendudukinya.
Okey, sekedar makan tak apalah. Kan dari tadi pagi belum makan. Jadilah gue melangkahkan kaki memasuki tempat makan siap saji itu. Setelah memesan dan membayar (belum sadar) gue memilih duduk di tempat paling pojok dekat jendela kaca. Kan biar lebih mudah mandangin ujannya.
Setelah duduk, baru gue sadar. Ko mahal ya? Hahaha, bukanya udik, atau emang sebenarnya udik. Tapi gue lagi tertarik buat berlogika. Emang nasi sepiring ngga penuh berapa harganya sih? Mentok-mentok ya 3 ribu. Terus ditambah telor dan secuil daging ayam. Apakah semahal ini? Dan lagi, tambahan minuman yang rasanya ngga jauh sama Pop ice, ko bisa seharga itu? Apakah bikinnya pake susu import? Esnya dari kutub langsung? Perasaan kalo gue bikin sendiri mentok-mentok ya 3500 lah.
Itu udah biasa kali, gitu aja heran. Udik banget sih Ji..
Di bilangin gue lagi pengen berlogika. Apakah untuk membayar sewa tempat yang mahal jadi semahal itu? Kan kesannya yang makan disitu jadi berkelas tuh? Tapi kan udah ada biaya Rest nya sebesar 2800 yang tertera di struk pembayaran. Emang kalo gue duduk ngga kurang dari 1 jam biasanya bayar? Engga kan..
Aduh..Lo tuh Ji, udik banget sih...
Ah, gue Cuma lagi pengen berlogika aja. Mereka itu bikinnya pake apa? Ko bisa semahal itu. Dan anehnya masih ada aja yang beli. Rame malahan. Kalo gue kan sekali-kali. Heran deh sama yang sering ke tempat-tempat sepert itu. Ditambah lagi fakta bahwa makanan siap saji itu ngga sehat.
Dan ternyata jawabannya sungguh mencengangkan. Gengsi. Aduh, emang kenyang apa makan gengsi? Aku aja ngga kenyang. Mending makan di deket lembah aja. Kenyang, murah dan yummy...hehehe
Tapi ya, mungkin bagi mereka, cukuplah makan dengan ‘seadanya’, asal tempat istimewa, yang penting dapat menunjang image mereka. Kali aja, dengan makan di tempat seperti itu jadi di cap orang kaya, orang berduit, dermawan, atau sebagainya dan itu hak mereka. Ah, aku tengah berfikir saja. Bermain-main dengan otakku yang urat-uratnya kusut karena memikirkan nilai yang makin berkerut..
Atau aku memang Udik?



Bekasi, 30 Januari 2012

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com