Thursday, 1 March 2012

Penaku, Dakwahku

Dakwah dan tulisan. Jika kedua kata ini diucapkan secara biasa maka tidak akan memiliki hubungan apa-apa. Namun apabila ditelusuri lebih lanjut, ternyata tulisan merupakan salah satu bentuk dakwah yang efektif karena Rasulullah pun pernah memncontohkannya.
Dakwah, atau yang dalam arti bahasa yaitu da'a yad'u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan menuju kebaikan bukanlah menjadi barang asing lagi bagi kita. Sering sekali kita mendengar istilah ini, baik pada media cetak, media elektronik ataupun secara langsung diucapakan. Namun, banyak dari kita yang belum mengerti hakekat dari dakwah ini. Sebagian masyarakat bahkan telah terdoktrin bahwa dakwah itu identik dengan hal-hal yang menurut masyarakat awam adalah hal yang ekstrim. Misalnya saja dakwah yang dilakukan dengan melakukan pengajian yang sebagian besar didatangi oleh muslim-muslim dengan pakaian takwa yang menutupi seluruh bagian tubuhnya. Adapula yang menyangka bahwa kegiatan dakwah hanya untuk kalangan-kalangan tertentu saja. Bahkan kini problematika dakwah di kalangan masyarakat lebih luas dari itu semua, apalagi dengan berbagai berita yang menampilkan si

si lain dari dakwah. Sehingga masyarakat enggan untuk berdekat-dekatan dengan kata dakwah.
Ada pendapat yang menyatakan bahwa hukum dakwah adalah fardhu kifayah yang artinya apabila di suatu tempat sudah ada yang melaksanakan dakwah, maka gugurlah kewajiban penduduk yang lain, namun apabila di tempat tersebut tidak ada yang melaksanakan dakwah, maka berdosalah seluruh penghuni tempat tersebut. Jadi, pada dasarnya setiap muslim wajib melakukan dakwah, terutama dakwah islamiyah, karena merupakan tugas ‘ubudiyah dan bukti keikhlasan kepada Allah SWT.
Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk melaksanakan dakwah. Rasulullah sendiri telah mencontohkan kepada para sahabat berbagai cara berdakwah. Diantaranya melalui lisan, tulisan, dan perbuatan. Dengan lisan contohnya ketika Rasulullah mengisi khotbah Jum’at. Rasulullah adalah suri tauladan yang sangat baik. Dia tidak akan berhenti mengulangi apa yang ia sampaikan apabila jamaahnya belum mengerti apa yang ia maksudkan. Rasulullah juga manusia yang sangat sabar. Meski olok-olok, cacian, makian dan berbagai perbuatan yang tidak menyenangkan ia terima, ia tak pernah putus asa untuk menyerukan kalimat tauhid. Bahkan ia tak segan-segan berbuat baik kepada mereka yang telah mencacinya. Rasulullah juga mengirimkan berbagai surat kepada raja-raja yang berkuasa saat itu.
Namun, yang menjadi permasalahan dakwah saat ini adalah semakin tingginya tingkat perkembangan teknologi yang tidak dibarengi dengan tingginya pelaksanaan dakwah itu sendiri. Dengan semakin tingginya tingkat teknologi maka akan semakin mempermudah munculnya kerawanan-kerawanan moral. Contohnya saja, di era teknologi ini, semakin mudah seseorang mengakses situs-situs porno. Bahkan anak-anak dibawah umur dapat dengan mudah membuka situs-situs terlarang ini.
Dengan permasalahan yang komplek di masyarakat kita, dan dengan adanya permasalahan baru yang ditimbulkan oleh teknologi, maka perlu dikembangkan media dakwah yang dapat meresap di kalangan masyarakat. Salah satunya adalah dengan tulisan. Apalagi kini pemerintah tengah gencarnya mensosialisasikan gemar membaca.
Dengan media tulisan ini, yang dapat berupa artikel-artikel, esay, cerita-cerita fiksi, dan sajak atau puisi yang mengandung pesan moral dan islami, dapat masuk kedalam berbagai kalangan masyarakat tanpa mengenal usia, gender, suku ataupun ras. Karena dengan media tulisan ini, dakwah dapat disesuaikan dengan keadaan masyarakat. Contohnya, masyarakat muda lebih senang membaca cerita-cerita fiksi, maka perlu dibuat cerita fiksi islami yang tak kalah menarik dari cerita fiksi buatan para kaum musrikin.
Tulisan-tulisan ini pun haruslah disesuaikan dengan kondisi teknologi yang ada. Tidak hanya di cetak sebagai buku, tetapi juga dapat dikembangkan dengan media internet. Sehingga nantinya diharapkan, meskipun sedikit demi sedikit pesan-pesan moral dapat tersampaikan dan dengan sukarela di amalkan oleh masyarakat.
Tulisan tak hanya sekedar untuk mengikat ilmu saja, namun dengan tulisan, kita juga bisa berdakwah. Oleh karena itu, teruslah menulis, dan kembangkan sayap dakwah islamiyah.

(Muji_)

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com