Friday, 12 April 2013

Kita Bukan Sepeda


Udara pagi menyambut segenap penghuni bumi. Matahari tak ketinggalan memberi pelukan hangat kepada setiap yang dijumpainya. Meski sebagian besar dari mereka tidak perduli. Sibuk, kesibukan mereka memadati jalanan, serta antrian dibeberapa perempatan,  klakson-klakson bersahutan, serta kegelisahan karena roda tak juga dapat segera berjalan, dan jarum jam yang melaju tak kenal pemberhentian. Pagi ini menjadi pagi yang super sibuk.
Disalah satu sudut pusat kota, sebuah sepeda melaju dengan perlahan, tak mengidahkan kesibukan jalanan. Pengendaranya lebih memilih bermesra ria dengan sinar matahari pagi. Bahkan ia pun tak mengidahkan beberapa klakson yang tertuju padanya. Bukan tak mengidahkan sebenarnya, namun ia telah berada pada jalur yang benar, jalur untuk para pesepeda. Ya, pengklakson itu pun pasti sudah tahu tentang hal itu. Hanya saja mungkin mereka ingin agar si pengendara sepeda berjalan lebih cepat dan cepat lagi.
Bukankah sepeda hanyalah sepeda. Hingga berkali-kali di klakson sekalipun ia tetap sebuah sepeda yang berjalan jika pengendaranya mengayuh pedalnya. Seberapa sih kekuatan si pengayuh? Tidak akan mampu menyamai kecepatan mobil. Apalagi jika jalan yang dilalui menanjak. 10 km/jam mungkin jadi kecepatan maksimal.
Ya, seberapa kalipun mobil itu menekan klakson, beratus-ratus kali, sepeda tetaplah sepeda. Kecepatannya tak akan melampau motor, atau bahkan mobil, apalagi berharap seperti pembalap di circuit. Itu hanya harapan kosong.
Namun, bukankah kita bukan sepeda?
Klakson, layaknya seruan Allah kepada kita, umatnya yang sering lalai dan alpa. Allah telah mengutus Rasulullah untuk menyampaikan ketauhidan, dan kebenaran tunggal. Tidak ada keraguan lagi padanya. Tentu Beliau pun telah menyampaikan syaria-syariat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk umat manusia, tanpa terkecuali.
Sekarang sering sekali muncul pertanyaan, Rasulullah telah meninggalkan umat manusia bertahun-tahun lalu, apakah yang mampu kita jadikan pedoman daripadanya, sedang kita tak lagi dapat menemuinya?
Bukankah semua aturan tentang kehidupan telah ada dalam Al Qur’an dan hadist. Meski Al Qur’an diturunkan 14 abad yang lalu, namun keberlakuannya hingga akhir jaman. Begitupun hadist-hadist Rasulullah. Tidak ada yang namanya kuno atau tidak sesuai tuntutan jaman. Al Qur’an itu selalu up date. Selalu tau tentang apa yang akan di hadapi manusia pada setiap jamannya, dan kisah-kisah umat manusia terdahulu yang dicantumkan dalam Al Qur’an sekiranya dapat menjadi pelajaran berharga untuk umat manusia.
Mungkin berkata tentang seruan yang ada di dalam Al Qur’an dan Hadist terasa berat. Ah, membaca saja tak pernah. Al Qur’an yang di beli dengan mencari kualitas terbaik sering hanya tersusun rapi di rak-rak buku, tanpa tersentuh. Namun bukankah hamba-hamba Allah, jundi-jundi Allah, dengan berbagai sarana yang menurut kita lebih “up to date” telah menyampaikan padamu. Telah disampaikannya berita bahagia tentang surga, dan kedukaan yang tiada berakhir dari neraka.
Facebook, twitter,  yang mungkin kini tengah berada di hadapanmu, telah mereka jadikan ladang dakwah, yang tiap kali dapat kita jumpai padanya status, catatan, ataupun hanya sekedar komentar tentang seruan-seruan kebaikan. Seminar-seminar ilmu, kajian-kajian, serta forum-forum keislaman telah mereka selenggarakan, untuk mengajakmu mendalami Islam, mengkaji ilmu Allah. Itu dengan sangat mudah kita temui pada sekitar.
 Ya, klakson itu adalah seruan dakwah pada kita agar kita cepat memperbaiki diri, cepat move on dari ketidaktahuan menjadi ingin tahu pada segala hal ilmu Allah di muka bumi, akankah di abaikan begitu saja? Lagi-lagi haruskah saya katakan bahwa kita bukanlah sepeda. Kita adalah manusia yang di karuniai kekuatan dan akal yang mampu berfikir (jika mau). Maka sudah sepantasnya kita menyambut seruan itu.  Tidak hanya mendengarkan layaknya sepeda.
Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf:32)

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com