Wednesday, 28 September 2016

Tua dan Hidup yang Mulus



“Karena hidup tidak selalu mulus,” ucap C ketika senja menyapa kota Yogya hari ini.   Bukannya tanpa sebab, ia mengucapkan kalimat itu seraya mengusap botol minumannya yang masih baru. Beberapa menit sebelumnya botol itu jatuh dari motor, meninggalkan baret-baret di badan botol.
Aku menatapnya geli. Bisa saja dia mendapatkan kalimat filsafah kehidupan tersebut hanya dari baret di botol minumannya. Namun sejurus kemudian wajahku ikut serius. Bahkan ketika kami melaju membelah jalanan Yogya. Aku merenungkannya, merenungkan kalimatnya dengan seksama.
Sejak malam sebelumnya aku telah mengagendakan beberapa hal dihari ini. Pergi kesana, ketemu dengan B, mengunjungi event ini, dan beberapa hal lain. Namun apa daya, pagi-pagi ketika aku hendak meninggalkan asrama, motor yang aku kendarai tak mau bekerja sama. Remnya rusak. Roda belakang tidak mau berputar. Beruntungnya aku masih berada di halaman asrama. Aku masih bisa meminjam motor teman satu asrama. Namun, tentu banyak hal yang berjalan mulus sesuai rencana karena aku tidak bisa meminjam motor itu seharian.
Hidup tidak selalu berjalan mulus. Pun dengan rencana-rencana besar yang telah tersusun bertahun-tahun lalu. Bisa jadi, hari ini rencana itu gagal, batal, tertunda, atau yang lain. Namun seyogyanya, meski kehidupan yang tak berjalan mulus itu tak menyurutkan semangat. Semangat untuk meneruskan mimpi. Jika mimpi yang satu tak terwujud, masih ada mimpi lain yang bisa diwujudkan.
‘Kehidupan yang tidak mulus’ku hari ini sebenarnya memberikan satu pelajaran lagi. Meski usia telah menua, bukan berarti kalah, dan mengalah pada kerentaan tubuh, dan kekuatan yang perlahan sirna. Aku dapatkan pelajaran ini dari seorang bapak tua, pensiunan PNS berusia 70 tahun yang menjadi teman perjalananku di Trans Jogja.
Tubuhnya ringkih, nafasnya pendek-pendek. Namun ia tak berdiam, dan membiarkan semua itu mengalahkannya. Gurat-gurat usia tua jelas tergambar di wajahnya, namun semangat muda seakan membara keluar dari jiwanya.
 Ia bekerja di sebuah univ swasta di Jogja. Berawal dari  permintaan bantuan dari temannya, ia membiarkan dirinya berangkat pagi dan pulang magrib, melupakan usianya yang sudah tak lagi senja. Membiarkan tubuhnya berdesakan dengan penumpang trans jogja lain setiap harinya. Beruntung jika mendapatkan tempat duduk, jika tidak kakinya yang lemah menopang tubuhya meski beratnya tak seberapa. Namun ia menikmatinya. “Daripada melamun dirumah, lebih baik berguna di luar,” begitu katanya.
Ah, tentu hidupnya tak mulus, seperti kulitnya yang mengeriput. Namun, optimistis tetap terpancar di matanya dan nada suaranya.

Tua. Memang bukan sebuah hal yang mutlak, karena maut bisa jadi penghalangnya. Namun jika bisa menjadi tua, mungkinkan bisa tetap memiliki semangat yang sama ketika masih muda meski jalan hidup tak selalu mulus? Semoga.  

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com