Monday, 6 March 2017

Jaulah Sastra FLP Yogyakarta :Belajar Menerbitkan Buku Fotocopy dari FLP Solo

Yogyakarta dan Solo memiliki sebuah cerita panjang di masa lalu. Dahulu, Yogyakarta dan Solo merupakan satu kesatuan wilayah dibawah satu kerajaan, yaitu kerajaan Mataram sebelum ditandatanganinya perjanjian Giyanti pada tahun 1755 Masehi. Meskipun kini Solo berada di wilayah propinsi Jawa Tengah, namun Yogyakarta dan Solo memiliki banyak sekali kesamaan. Baik dalam bidang budaya maupun bahasa.
Meskipun bukan dengan pertimbangan sejarah tersebut, pada tanggal 5 Maret 2017, FLP Yogyakarta berkunjung ke FLP Solo. Sebagai keluarga besar Forum Lingkar Pena, FLP Yogyakarta ingin bersilaturahmi dengan FLP-FLP di seluruh Indonesia. Kali ini keinginan itu terealisi.
Pukul 06.00 WIB saya sudah berada di stasiun kota Yogyakarta untuk membeli tiket kereta api Pramek atau Prambanan Ekspres dengan jadwal keberangkatan pukul 07.30. Namun sayang, tiket pramex pagi itu ludes terjual. Akhirnya saya memutuskan untuk mengambil buah tangan yang akan kami bawa ke Solo dan kembali lagi ke stasiun untuk membeli tiket untuk jadwal perjalanan selanjutnya. Saya mendapat tiket untuk jadwal pukul 09.10. Belum sempat setengah jam dari pukul 07.00, tiket untuk jadwal pukul 09.10 tersebut pun ludes terjual. Beruntung, saya sudah mengantongi sepuluh tiket. Akhir minggu arus perjalanan dari Yogya ke Solo cukup tinggi.
Satu persatu teman-teman FLP Yogya datang ke stasiun. Namun karena perjalanan masih dua jam lagi, kami memutuskan berjalan-jalan di sekitar stasiun. Pilihan jatuh ke jalan Malioboro.
Apakah prolog saya kepanjangan?
Perjalanan dengan kereta menurut saya akan menyenangkan. Begitupun perjalanan kali ini, satu jam terasa hanya beberapa menit saja. Buku yang saya bawa dan saya niatkan untuk dibaca di kereta, akhirnya hanya terbuka tanpa bisa terbaca karena kami asik bercerita.
Setelah sampai di stasiun Purwosari, kami langsung menuju loket pembelian tiket. Kenapa? Baru saja sampai, kenapa harus sibuk dengan tiket untuk kembali? Ya, kami harus membeli tiket kembali ke Yogya sebelum kehabisan.
Setelah kebingungan dan berdiskusi panjang, akhirnya kami memutuskan berjalan kaki menuju sekertariat FLP Solo yang terletak di Laweyan yang berjarak sekitar 1,2 km. Kami melewati trotoar yang cukup lebar dengan kiri kami berupa taman, dan dibagian kanan adalah pertokoan dan hotel.
Setelah sampai di lokasi, kami disambut oleh Opik Oman. Bukan orang yang kami temui, namun sebuah tulisan yang tertera di depan sebuah warung fried chiken. Rupanya sekertariat FLP Solo terletak di sebelah rumah makan Opik Oman yang merupakan milik ketua FLP Solo yaitu Opik Oman.
Sekertariat FLP Solo sendiri terletak di depan sebuah pondok pesantren, dan kami diajak untuk . Dengan posisi melingkar, kami mulai acara silaturahmi, sharing dan diskusi. Opik Oman selaku ketua FLP Solo mulai menceritakan tentang keadaan FLP Solo. Pengurus FLP Solo hanya terdiri dari dua orang, Ketua dan Sekertaris. Kemudian program kerja pun disusun oleh mereka berdua. Jika dibandingkan dengan FLP Solo, struktur pengurus FLP Yogyakarta nampak begitu gemuk.
Posisi kepengurusan tersebut telah diwariskan dari kepengurusan sebelumnya, dan memang sesuai dengan kondisi FLP Solo.
FLP Solo memiliki acara rutin setiap minggu bernama Kemecer yang merupakan akronim dari Kelas Menulis Cerita. Dalam acara Kemecer ini, anggota FLP Solo akan menyetorkan karya mereka yang kemudian akan “dibantai” oleh Mas Opik Oman. Saya lalu teringat agenda Klub FLP Yogyakarta yang acaranya pun hampir sejenis. Setelah itu, giliran FLP Yogyakarta yang ditodong cerita. Maka saya menceritakan sedikit tentang FLP Yogyakarta dan kegiatan-kegiatannya.
Setelah berbagi cerita tentang FLP di masing-masing wilayah, Mas Opik Oman mulai bercerita tentang buku-buku beliau. Uniknya, buku beliau tidak diterbitkan di penerbitan, namun diterbitkan oleh jasa fotocopyan yang bisa kita temukan di banyak tempat. Buku kumpulan cerita dari FLP Solo pun demikian.
Tidak hanya mudah, menerbitkan buku sendiri dengan cara ini hanya membutuhkan modal yang sedikit. Jika penerbitkan buku di penerbitan menghabiskan dana hingga ratusan ribu bahkan jutaan rupiah, untuk mendapat 10 buku terbit, jika dengan cara ini,  dengan dana 60 ribu, sudah dapat 10 buku cetak. Harga ini tentu disesuaikan dengan banyaknya lembar naskah.
Mas Opik Oman juga memasarkan karyanya yang lebih dari sepuluh judul ini dengan memanfaatkan media sosial terutama Facebook. Namun, buku beliau  juga dapat ditemukan diportal jual beli online, Buka Lapak. Harga buku beliau sangat terjangkau yaitu sepuluh ribu rupiah. Dengan harga yang demikian murah, nampaknya akan memperbesar kemungkinan pembeli membeli buku beliau.
Open rekruitmen anggota FLP Solo berbeda sekali dengan Open rekruitmen FLP Yogyakarta. FLP Solo cukup mengadakan seminar menulis dengan biaya pendaftaran seratus ribu rupiah. Kemudian, peserta yang mengikuti acara seminar ini bisa mengikuti kegiatan FLP Solo. Namun, dalam perjalanannya memang tidak sebanyak yang mengikuti seminar. Jika yang mendaftar seminar ada enam puluh orang, maka hanya akan tersisa sepuluh sampai lima belas orang saja.
Saya jadi teringat open rekruitment FLP Yogyakarta dengan segala keruwetannya, dan kesenangannya. Oya, obrolan kami juga ditemani Ayam Goreng Opik Oman dan es teh manis.
Selain untuk membiayai kegiatan FLP Solo, uang pendaftaran seminar tadi juga dialokasikan untuk membuat CV percetakan. CV inilah yang akan mencetak karya-karya anggota FLP Solo. Seperti keinginan yang diungkapkan Bunda Helvy Tiana Rosa pada Milad FLP 20 di Bandung tanggal 26 Februari lalu, FLP itu adalah komunitas yang besar, maka sudah seharusnya jika FLP bisa menghidupi dirinya sendiri. Penulisnya dari FLP, percetakan/penerbitan buku dari FLP sendiri, dan pasar/pembaca minimal dari FLP sendiri. Maka, penulis-penulis FLP bisa berkembang jika didukung oleh keluarganya sendiri.
Senja mulai turun, akhirnya kami memutuskan untuk undur diri. Mengingat jadwal kereta dan kami juga ingin megabadikan moment perjalanan di trotoar Solo dengan kamera. Kami menyerahkan kenang-kenangan berupa buku dari salah satu anggota FLP Yogyakarta yang juga diterbitkan secara indie, namun bukan di cetak di fotocopyan.

Dari Jaulah Sastra ini saya belajar, sesungguhnya memiliki buku sendiri itu sangat mudah. Sangat mudah. Syarat yang paling berat sebenarnya adalah, menulis naskahnya. Ya, lagi-lagi menjadi penulis itu yang dibutuhkan adalah menulis. Bukan lagi penerbitan yang mau menerbitkan tulisan kita, karena dengan mendatangi usaha fotocopyan yang tersebar dimana-mana pun kita bisa menerbitkan karya kita dengan sangat mudah. Jadi, ingin memiliki buku sendiri? Menulislah sekarang.



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com