Wednesday, 24 April 2013

Bukan Masa Galileo


Jika ada yang nanyain, siapa bapak “Astronomi modern dunia”, kemungkinan besar otak kita langsung mengarah pada satu nama, yang mungkin telah tertanam bertahun-tahun lalu ketika kita duduk di bangku SMA, atau mungkin SMP. Nama itu, tidak lain dan tidak bukan, adalah Mujiku Hibiniu. Ups, bukan ding. Yang bener itu, Galileo Galilei.
Memang ngga dipungkiri lagi, meski ia telah meninggal ratusan tahun lalu, berkat penemuannya ia dikenal hingga saat ini. Salah satu jasanya yang bisa dinikmati oleh umat manusia sekarang ini adalah tentang temuannya yang fenomenal, yaitu menyempurnakan teleskop. Bahkan menurut Stephen Hawkin, Galileo juga sebagai bapak “Fisika Modern” dan “Bapak Sains”.
Luar biasa kan jasanya. Yah, paling tidak, berkat temuannya itu, umat manusia mampu mengetahui fenomena di antariksa dengan lebih baik daripada sebelumnya. Tapi sayangnya, dimasa ia hidup, ia tidak mendapatkan penghargaan yang selayaknya. Berkat kesukaannya tentang astronomi, ia mengalami masalah. Ia dipenjara oleh gereja Italia masa itu karena sejalan dengan pemikiran Copernicus, yaitu mempercayai bahwa matahari lah pusat tata surya, bukan Bumi seperti yang diyakini gereja saat itu. Nah, karena pemikirannya itulah, yang dianggap bid’ah dan meracuni pemikiran masyarakat, dia dipenjarakan, dikucilkan dari kehidupan luar. Hingga akhirnya ia meninggal dunia.
Gereja Italia, dengan kekuasaanya mampu menyeret seorang ilmuwan yang menemukan suatu karya yang terbilang luar biasa ke dalam meja pengadilan. Bahkan membentuk stigma masyarakat bahwa Galileo memang bersalah. Ia layak di hukum. Padahal kala itu, Gereja Italia memiliki ketakutan tersendiri, bahwa masyarakat tidak lagi mempercayai gereja, oleh karena itu, pada zaman itu sains di batasi.
Tentu saat ini kehidupan kita jauh berbeda dengan masa Galileo hidup. Kehidupan kita lebih bebas, dan lebih terjamin. Hukum ditegakan dengan terbuka. Sains bebas berkembang, penelitian-penelitian bahkan di danai oleh pemerintah. Tentu pengekangan, dan layaknya yang terjadi pada Galileo seharusnya tidak terjadi lagi. Apakah demikian yang terjadi?
Nyatanya, kini kehidupan pada masa Galileo tengah terjadi. Bahkan lebih sadis dan menakutkan. Pemikiran-pemikiran sering terancam eksistensinya. Memang, tidak langsung menghukum secara langsung orang yang hendak menguak kebenaran, seperti Galileo yang langsung dihukum oleh gereja. Saat ini “hukuman” itu lebih mengerikan. Lebih menyiksa karena itu terjadi perlahan. “Mereka” menggunakan media untuk menyebarluaskan isu kepada masyarakat sehingga masyarakat sendiri lah yang menjadi hakim. Tentu atas dasar kehendak “mereka”. “Mereka” adalah pelaku utama dan pengendali yanng handal.
Cukup dengan mencuatkan satu isu saja, maka selanjutnya, boooooommm!!! Seperti efek domino, kekacauan akan terjadi dan target utama akan mudah untuk dilumpuhkan. Masyarakat akan mengelu-elukan agar “target” itu di penjara, diadili, bahkan di hukum mati, bahkan tanpa tahu kebenaran yang mutlak. Itu mudah bagi “mereka”.
Ya, media memang telah menggiring masyarakat menuju sebuah opini sesuai apa yang mereka inginkan. Mudah saja, dewasa ini masyarakat sudah sangat tergantung dengan apa yang di beritakan media. Terlebih lagi masyarakat yang “bodoh” dan tidak perduli akan kebenaran yang sejati.
Rasa-rasanya bukan hal baru lagi ketika mereka (media) menyiarkan berita secara berlebihan. Sejumlah media memberitakan berita yang sama, dalam waktu yang sama, dan yang sama layaknya tidak ada berita lain yang lebih penting dan lebih pantas untuk diberitakan. Pantas saja, berita yang seharusnya menjadi wacana bersama, namun akhirnya tenggelam entah kemana.
Pernah saya mendengar sebuah slogan berita di televisi yang menyatakan “Mengabarkan berita secara berimbang”, akhirnya saya hanya tersenyum geli. Mereka tidak lebih dari sekelompok taipan yang menjalankan bisnis informasi. Bagaimana sebuah informasi yang menjadi bisnis bisa di pertanggungjawabkan kevalidannya? Belum lagi dengan embel-embel yang lain. Kebencian terhadap suatu hal juga dapat meyebabkan penyampaian berita menjadi tidak berimbang.

Menyingung tentang hal ini, sebuah artikel yang baru beberapa saat lalu saya baca, judulnya “Pakar Media AS: "Jangan Ada Lagi Pelajar Muslim Di AS"” cukup menyita perhatian. Ternyata pakar media tersebut adalah pakar media dari Fox News yang sering menyiarkan berita bohong atau berat sebelah. Pantas saja, media itu menjadi media yang sering memberitakan Islam dengan sangat buruk, mulai dari kasus perang Irak, hingga serangan 9/11 karena di gawangi oleh orang yang benci terhadap Islam. Apakah kode etik jurnalistik membolehkan itu? Meski bukan orang dunia jurnalistik, saya yakin jawabannya adalah tidak.

Bukan tidak mungkin kalau berita Bom Boston juga mengandung konspirasi, dan manusia-manusia di belakang  mereka adalah dalang penebar kebencian. Nampaknya kasus-kasus lokal yang terjadi di Indonesia tidak perlu di bahas lagi. Kejelasannya sudah sangat jelas. Media menjadi senjata handal guna membelokan dan mempelintirkan kenyataan dan kebenaran. Pembaca sekalian pasti sudah memahami apa yang saya maksud.

Akhirnya, bukan hendak menyebarkan virus ketidak percayaan pada media, karena memang tidak semua media tidak dapat dipercaya, namun pintar-pintarlah menjadi masyarakat. Jangan sampai mempercayai media seperti mempercayai ibumu, dan merasa nyaman-nyaman saja ketika mereka memberikan “makanan” pada kita.

Salam

Mujiku Hibiniu



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Friday, 12 April 2013

Kita Bukan Sepeda


Udara pagi menyambut segenap penghuni bumi. Matahari tak ketinggalan memberi pelukan hangat kepada setiap yang dijumpainya. Meski sebagian besar dari mereka tidak perduli. Sibuk, kesibukan mereka memadati jalanan, serta antrian dibeberapa perempatan,  klakson-klakson bersahutan, serta kegelisahan karena roda tak juga dapat segera berjalan, dan jarum jam yang melaju tak kenal pemberhentian. Pagi ini menjadi pagi yang super sibuk.
Disalah satu sudut pusat kota, sebuah sepeda melaju dengan perlahan, tak mengidahkan kesibukan jalanan. Pengendaranya lebih memilih bermesra ria dengan sinar matahari pagi. Bahkan ia pun tak mengidahkan beberapa klakson yang tertuju padanya. Bukan tak mengidahkan sebenarnya, namun ia telah berada pada jalur yang benar, jalur untuk para pesepeda. Ya, pengklakson itu pun pasti sudah tahu tentang hal itu. Hanya saja mungkin mereka ingin agar si pengendara sepeda berjalan lebih cepat dan cepat lagi.
Bukankah sepeda hanyalah sepeda. Hingga berkali-kali di klakson sekalipun ia tetap sebuah sepeda yang berjalan jika pengendaranya mengayuh pedalnya. Seberapa sih kekuatan si pengayuh? Tidak akan mampu menyamai kecepatan mobil. Apalagi jika jalan yang dilalui menanjak. 10 km/jam mungkin jadi kecepatan maksimal.
Ya, seberapa kalipun mobil itu menekan klakson, beratus-ratus kali, sepeda tetaplah sepeda. Kecepatannya tak akan melampau motor, atau bahkan mobil, apalagi berharap seperti pembalap di circuit. Itu hanya harapan kosong.
Namun, bukankah kita bukan sepeda?
Klakson, layaknya seruan Allah kepada kita, umatnya yang sering lalai dan alpa. Allah telah mengutus Rasulullah untuk menyampaikan ketauhidan, dan kebenaran tunggal. Tidak ada keraguan lagi padanya. Tentu Beliau pun telah menyampaikan syaria-syariat yang telah ditetapkan oleh Allah untuk umat manusia, tanpa terkecuali.
Sekarang sering sekali muncul pertanyaan, Rasulullah telah meninggalkan umat manusia bertahun-tahun lalu, apakah yang mampu kita jadikan pedoman daripadanya, sedang kita tak lagi dapat menemuinya?
Bukankah semua aturan tentang kehidupan telah ada dalam Al Qur’an dan hadist. Meski Al Qur’an diturunkan 14 abad yang lalu, namun keberlakuannya hingga akhir jaman. Begitupun hadist-hadist Rasulullah. Tidak ada yang namanya kuno atau tidak sesuai tuntutan jaman. Al Qur’an itu selalu up date. Selalu tau tentang apa yang akan di hadapi manusia pada setiap jamannya, dan kisah-kisah umat manusia terdahulu yang dicantumkan dalam Al Qur’an sekiranya dapat menjadi pelajaran berharga untuk umat manusia.
Mungkin berkata tentang seruan yang ada di dalam Al Qur’an dan Hadist terasa berat. Ah, membaca saja tak pernah. Al Qur’an yang di beli dengan mencari kualitas terbaik sering hanya tersusun rapi di rak-rak buku, tanpa tersentuh. Namun bukankah hamba-hamba Allah, jundi-jundi Allah, dengan berbagai sarana yang menurut kita lebih “up to date” telah menyampaikan padamu. Telah disampaikannya berita bahagia tentang surga, dan kedukaan yang tiada berakhir dari neraka.
Facebook, twitter,  yang mungkin kini tengah berada di hadapanmu, telah mereka jadikan ladang dakwah, yang tiap kali dapat kita jumpai padanya status, catatan, ataupun hanya sekedar komentar tentang seruan-seruan kebaikan. Seminar-seminar ilmu, kajian-kajian, serta forum-forum keislaman telah mereka selenggarakan, untuk mengajakmu mendalami Islam, mengkaji ilmu Allah. Itu dengan sangat mudah kita temui pada sekitar.
 Ya, klakson itu adalah seruan dakwah pada kita agar kita cepat memperbaiki diri, cepat move on dari ketidaktahuan menjadi ingin tahu pada segala hal ilmu Allah di muka bumi, akankah di abaikan begitu saja? Lagi-lagi haruskah saya katakan bahwa kita bukanlah sepeda. Kita adalah manusia yang di karuniai kekuatan dan akal yang mampu berfikir (jika mau). Maka sudah sepantasnya kita menyambut seruan itu.  Tidak hanya mendengarkan layaknya sepeda.
Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah maka dia tidak akan melepaskan diri dari adzab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata’.” (Al-Ahqaf:32)

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com