Monday, 22 September 2014

Munafik

Semalem nemu tulisan nempel di bemper mobil,"Kendaraan ini menggunakan BBM bersubsidi." Posisinya mentereng. Jelas, bisa di baca siapa aja.
Biasanya sih nemunya,"Kendaraan ini tidak memakai BBM bersubsidi."
Mungkin pemilik mobil itu penganut faham antimainstrem. Atau entahlah. Sampai-sampai ia bangga jadi pengguna BBM subsidi yang notebene untuk warga miskin.
Atau mungkin sentilan untuk mobil-mobil yang gayanya selangit namun menggunakan BBM subsidi. Biar tidak munafik.
Saya pun tidak berkesempatan mengorek informasi yang akurat itu. Akhirnya saya hanya mampu mengatakan hanya pemilik mobil yang tahu maksudnya.
Berkaca pada si pemilik mobil yang anti mainstrem, saya jadi berfikir tentang kata munafik yang sering terdengar, dan kadang bikin ciut nyali karena ogah disebut "Munafik."
"Halah, jangan munafik deh lo. Suka kan lihat paha cewek. Ngga usah bilang dalil buat nutupin."
"Munafik! Padahal lo pengen kan punya bini empat. Pake ngalarang pacaran segala."
"Semua orang butuh duit, ngga usah munafik pake nolak-nolak rejeki. Bilang ngga halal. Nunggu halal keburu mati laper."
Akhirnya...secara terang-terangan tindakan yang salah dilakukan. Tanpa malu-malu, dan lebih malu di sebut munafik. Bahkan mungkin bangga, karena "Saya sudah jujur pada diri saya sendiri dan masyarakat."
Bahkan ketika dia sudah membunuh ribuan manusia.
Apakah itu kejujuran?
Setidaknya ia sudah jujur. Ya, dia sudah jujur, dan manusia mengapresiasi. Tapi apresiasi itu jadi kabur. Atas kesalahannya atau atas kejujurannya? Apresiasi itu akhirnya mengubur kesalahannya dan
"Maklumlah manusia, bisa salah."
Kesalahan itu pun dimaklumkan. Kemudian dibenarkan. Lalu tidak ada yang namanya kesalahan jika itu sudah di terima oleh publik.
Sayang saya tidak bisa bertanya pada si cicak yang pagi ini jenazahnya saya temukan pagi ini. Malang.

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com