Thursday, 27 October 2016

Jalinan Benang Cinta



 Apakah ini cinta?
Aku bertanya pada lembaran kertas yang aku pegang. Banyak kata tercetak disana. Rangkaian kalimat menjalin, membentuk makna. Namun, mereka tak memberi jawab padaku. Mereka malah memberikan pertanyaan lain. Pertanyaan yang lebih rumit. Jika bukan cinta, lalu apa?
Aku mengedarkan pandangan pada waktu, menyusuri tiap detiknya, mencari sedikit petunjuk. Waktu menunjukanku pada video kenangan. Layaknya globe yang berputar, berputar dan berputar, yang terlihat hanya sekelebat garis berwarna-warni.  Semakin pepat dan semakin pepat. Semakin banyak rupa warnanya. Apakah aku harus menekan tombol atau sesuatu agar aku dapat melihat jelas? Lagi-lagi aku bertanya pada kekosongan. Aku mulai tak tahan. Aku harus menemukan.
“Muji, daftarini yuk!” telingaku menangkap suara. Samar. Tapi aku masih dapat mencium aroma tanah yang baru saja terguyur hujan. Petrichor. Hujan gerimis di bulan Januari memang sering membawa nuansa magis. Namun aku tidak sedang dalam pengaruh magis. Aku tidak sedang bermimpi.
“Ayuuk!!” Aku mengenali suaraku sendiri. Dari getarannya, dari nadanya, dari tekanannya, aku tahu, aku antusias. Seperti seorang bocah yang begitu menginginkan naik komedi putar kemudian diajak kepasar malam oleh sang bapak.
Kemudian hening.
Aku menajamkan telingaku. Lagi-lagi samar. Aku mendengar suara tuts yang beradu dengan ujung-ujung jari. Kadang-kadang suaranya beruntun. Jari-jari itu seperti tak  lelah untuk merentangkan kalimat pada lembaran layar putih.
“Selamat bergabung, selamat menjadi anggota keluarga baru,” sebuah suara penuh dengan kebanggan tiba-tiba membuyarkan suara tuts. Seperti sebuah penyakit endemik yang menular, kebanggan itu menjangkitku. Aku bergabung, aku menjadi bagian dari mereka!
Teater Pena FLP Yogyakarta (2012)
Hening lagi. Namun kini kulitku merasakan sesuatu yang nyaman. Aku merasakan kebahagiaan yang lembut mengusap kulitku. Seperti sutra yang dijalin begituhati-hati untuk sebuah selimut hangat. Sebuah kepompong? Benang-benang sutra itu merentang, melingkupi, menghangatkan. Aku tahu, aku menyukai perasaan yang tersalur dari mereka. Apakah aku ikut tersenyum?
Suara-suara tak lagi samar. Mulai jelas mereka menelusup. Layaknya sekumpulan laron yang menyerang masuk ketika lampu ruang tamu dinyalakan. Mengerubung, meminta perhatian meski akhirnya semua laron mendapatkan cahaya lampu. Suara itu mendapatkan perhatianku. Satu persatu kupilah, kuhafalkan pemiliknya, kuingat tekanan suaranya. Percakapan, permohonan, pujian, kritikan,candaan, masukan, nasehat, atau hanya percakapan tanpa makna. Aku menjadi penuh, aku menjadi kaya.
Warna merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu menyebar. Menguasai warna-warna yang lain. Terdengar, tuts itu berbunyi begitu riang, seperti penari salsa yang menghentakkan kakinya sesuai dengan irama lagu. Cepat dan dinamis. Indah dan menyenangkan.
Suara ribut mulai reda dan kulitku mulai merasakannya. Satu persatu benang mengendur, tercerabut perlahan. Tidak menyakitkan, namun membuat sedikit khawatir. 
“Kau juga harus menjadi benang,”suara itu menggema. Sebuah permintaan lembut, namun telingaku merasakan itu adalah sebuah perintah. Darahku setuju, mereka mengalir, menggerakan kepalaku untuk mengangguk, menggerakan bibirku untuk berkata iya. Dengan begitu saja, aku merasakan kulitku tak lagi terselimuti, namun ia menjadi bagian yang menyelimuti. Tunggu! Apa aku siap menjadi benang? Suara itu tak menanggapi, namun sesuatu yang lain berbisik padaku, seperti angin di bulan Agustus, lembut. “Engkau akan siap. Engkau harus siap.”
Demisioner kepengurusan FLP YK tahun 2012-2014 dan pengangkatan ketua wilayah baru oleh Sinta Yudisia (Ketum FLP pusat)
Aku merasakan lembutnya kulit mereka. Mereka yang baru saja bergabung menjadi anggota keluarga. Lembut, namun penuh semangat membara. Semangat itu membakar, namun tidak menghanguskan, menjadikan benang-benang ikut memerah. Apa mereka merasa nyaman dengan jalinan dimana kulitku berada? Cukupkah kuatkah jalinan ini untuk menampung luapan optimisme dan mimpi mereka?
Serat-seratku menguat. Mungkin benar, aku akan siap.
Waktu kembali hadir. Ia sepertinya sedang memamerkan dirinya yang terus berputar dan mengubah segalanya, padaku. Tidak hanya merubah, namun menggantikan. Dan itulah fungsi keberadaannya.
Perlahan tekanan mereka berbeda, gelora semangat mereka berbeda. Meredupkah? Atau berganti wujud menjadi sebuah kekecewaan? Tidak hanya mereka yang terselimuti, namun benang-benang yang menyelimuti. Apakah selimut sutra baik-baik saja? Apa ini ulah keberadaanku? Aku memandang pada waktu, meminta penjelasannya. Mungkin dia akan menunjukan tentang masa lalu, tentang cerita selimut sutra yang lain sebelum keberadaanku. Waktu menghadirkan sekelebat warna.
Lagi-lagi jalinan benang menyusut satu demi satu. Layaknya sebuah rambut yang tercerabut. Mereka yang terselimuti pun satu per satu tiba-tiba mengempis. Seperti kerupuk yang terlalu lama berada di ruang terbuka, menyusut dan mengkerut. Benarkah selimut sudah tak berfungsi seperti plastik yang telah berlubang disana-sini? Sebuah sembilu tiba-tiba menusuk. Waktu menghadirkan kenyataan yang menyakitkan.
“Apa kamu akan bertahan atau turut melepaskan? Tidak ada yang akan menyalahkan. Waktulah yang bertanggungjawab.”
“Tidak. Aku tidak rela melepaskan!”tanpa sadar aku berteriak. Tapi teriakanku adalah keheningan yang berujung pada ruang hampa. Tangannya menggapai, mencari sebuah pegangan agar ia sampai pada suara. Keheningan itu butuh pertolongan. Sekonyong-konyong keheningan-keheningan lain menyerbu. Bukan milikku, namun dari benang-benang lain yang masih tinggal, atau doa-doa dari benang-benang yang terpaksa meninggalkan. Sekumpulan keheningan menggapai-gapai suara.
Waktu akan membawa pergi, namun ia yang telah terikat dengannya, akan selamanya bersama. Waktu tidak akan mengembalikan, ia akan kembali sendiri dengan sebuah nama lain, kenangan. Aku memencet tombol itu. Tepat pada kenangan tentang petrichor di bulan Januari, poster open rekrutiment , antusiasme selayaknya bocah, warna serupa pelangi, suara ribut yang berebut ingin masuk, kehangatan dan kenyamanan selimut sutra, dan begitu banyak kekayaan bertubi-tubi menghujani. Mereka adalah kenangan-kenangan yang akan aku pandang ketika benang kulitku mulai merasa renggang.
Kali ini aku memilih menjalin kembali selimut sutra bersama benang-benang yang lain. Membangun kisah-kisah baru, merangkul keluarga baru.Aku masih memilih bertahan.
Apakah ini cinta? 
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 6 October 2016

Apa Yang Anda Pikirkan?



“Satu, dua, tiga,” aku mengangkat wajahku seirama dengan hitungan. Benar, ada dua buah bola mata tengah menatapku.
 Apa yang ia lihat?
Apa yang dia pikirkan?
Kenapa dengan beraninya ia balas menatapku?
Pertanyaan itu muncul tanpa berhasil mendapatkan jawaban.  Pemilik mata itu pun seakan tak peduli dengan serangan pertanyaan bertubi-tubi yang menyerang. Dengan seenaknya saja ia menatapku, tanpa ada niat untuk mengalihkan pandangan. Bahkan setelah ia tertangkap mata. Dia jelas tidak sedang mencuri pandang. Ia terang-terangan.
Aku tidak berkutik ditatap mata itu begitu lama. Aku kalah dan menyerah. Aku kembali menundukan wajah. Berpura-pura kembali asik dengan bukuku, berusaha berfikir dan pura-pura tidak pernah terjadi apa-apa.
Perpustakaan masih hening. Pengunjung masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dinginnya udara karena suhu AC dipasang terlalu rendah sepertinya tak mengganggu mereka. Atau malah itu adalah suhu ternyaman ketika otak mereka panas karena dipaksa berfikir keras.
Kepura-puraanku tidak bisa bertahan lama. Aku masih bisa merasakan mata itu masih menatapku. Meski bukan tatapan tajam yang menghakimi dan menguliti, tetap saja tatapan itu mengganggu. Seenaknya saja ia menatap.
Aku kembali mengangkat wajah. Kali ini tanpa hitungan. Hanya spontan saja. Dan mata kami kembali bertemu. Mata tanpa cerita. Tidak ada yang bisa aku baca dari matanya. Bukan, bukan tatapan kosong. Namun, mata dengan begitu banyak cerita.
Apa yang kamu pikirkan dengan menatapku begitu?
Harus apa reaksiku?
Tidak ada jawaban. Tidak ada perubahan, bahkan dari ekspresi kami. Kami hanya saling menatap tanpa reaksi. Seperti tatapan yang lurus tanpa ada objek didepan kami, namun kami saling tahu, kami saling memandang. Kami saling membaca. Lalu, apa yang berhasil ia baca sedangkan aku tak bisa membaca apapun?
Sepertinya aku putus asa. Aku menyerah untuk membacanya.
Aku kembali menunduk seperti prajurit yang kalah dalam perang. Namun otak tak menyerah begitu saja. Ia masih saja berfikir, apa dan kenapa. Kesimpulan-kesimpulan baru terbentuk. Pemikiran-pemikiran baru terbersit. Namun semuanya tidak menjadi sebuah fakta. Hanya sebagai dugaan otak saja.
Aku harus mencari tahu, apa yang ia pikirkan. Kesimpulan inilah yang menuntunku untuk kembali mengangkat wajah. Keberanian telah terkumpul sebagai akumulasi rasa penasaran.
Aku mengangkat wajah, lagi-lagi tanpa komando. Mata itu, masih menatapku. Seakan tanpa bosan, seakan tanpa jengah, seakan tanpa takut. Dan kali ini, sebuah senyum terlukis dari sebuah bibir.

Kali ini aku benar-benar menyerah, pun menyerah mencari tahu apa yang ia pikirkan, ditambah dengan senyum terukir itu. Aku menyerah.
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com