Sunday, 1 April 2012

Ketika Kata

Adalah kata, jika ia semudah pemikiran yang slalu merasuki otak-otak jiwa. Namun nyatanya ia rumit bagai ilalang yang meranggas pada musim kemarau, memilin-milin urat-urat pada rentang kematian yang teramat lama. Sekarat pada detik penghabisan. Nadirnya menjadi pasti. Kata, ia bersandar dalam jiwa, andai saja semudah menghitung jari jemari yang terus berdzikir, nyatanya ia bagai bintang di langit yang kokoh pada pusarannya. menggapai awan-awan yang lalang melintang menghalang mata-mata yang padam. Kata, terakhir bagai tersambar halilintar kepatuhan yang mengancam kesangsian pada kebenaran. Nyatanya ia kasat lebih kasat lagi dan lagi. seperti ruh yang telah tercerabut dari raga yang tergeletak tak berdaya. Pori-porinya kembali utuh, tapi ia tak utuh lagi. Kata, seringkali, meleset pada mantra-mantra pendendam, penghasut, penindas, pembohong, pendusta, dan ia hilang pada angin yang bertiup menggelontorkan asap-asap hitam yang mengepul menyesakan nafas-nafas yang terengah-engah. Tubuh makin ringkih. Amarah makin mendidih, perut makin perih, nyali makin jerih, Kata, apakah dia masih bisa mengenali dirinya lagi??

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com