Monday, 23 April 2012

Dari Kotak Sampah Masa Lalu


"Belagu kamu. Kerja mash lelet kaya keong aja udah berani ga masuk. Knapa kamu ga
masuk??" tanyanya, lebih tepatnya bentaknya, tiba-tiba di hadapanku.
Dengan tenang aku jawab,"Sakit, Pak!"
"Sakit?? Sakit apa kamu??"
Masih dengan tenang aku jawab,"Demam,pak."
"Demam panggung? Hebat kamu. Demam sehari sudah sembuh. Kurang lama kamu liburnya??" tanyanya, ah tidak, tepatny, bentaknya lagi. Sekarang semua mata sepertinya tertuju padaku.
"Sudah dari Sabtu, Pak." Aku mulai gemetar.
Huuh, knapa pula harus gemetar. Dia ini! Tapi tanganku tetap saja gmetar, meski sbenarnya perasaanku biasa saja. Bukankah dia sudah sering seperti ini? Hanya risih berhadapan dengan manusia seperti dia.
"Mau mati kamu?? Kalo kamu udah ga bisa jalan, baru ga masuk. Demam saja ko absen!!" bentaknya lagi yang membuat emosiku memuncak.
“Eh, kamu siapa? Aku disini bukan budak yang bisa diperlakukan begitu saja. Aku bukan robot yang bisa kamu kendalikan sesuka hatimu tanpa merasa lelah.” Tapi sayangnya kata-kata itu hanya bisa tersendat di tenggrokanku. Aku tau saat ini posisiku dimana. Aku hanya seorang buruh rendahan, dan dia seorang manager yang memiliki kekuasaan. Bisa saja ia mengadukanku pada atasannya, dan bukan mustahil jika aku kehilangan pekerjaan ini. Aku hanya bisa diam. Kembali menekuri pekerjaanku, meski bening kristal sepertinya hendak menetes dan kaki yang lemas karena lelahnya berdiri.
Ah, cerita lama, sepotong episode yang telah terlanjur terukir dalam hidupku yang panjang (sudah dua puluh tahun loh..:D). Sungguh saat-saat yang paling pahit dalam kehidupanku. Tapi ini bukan lagi cerita duka, kini cerita itu adalah cerita faforitku ketika aku tengah terpekur pada keputus asaan. Itu hanya sepenggal kisah laluku ketika sebuah harapan tak mampu menjadi kenyataan begitu saja.
Hems, mungkin sebagian besar dari kalian mengalami kehidupan yang cukup mulus, bahkan mungkin semulus jalan tol. Jikapun ada batu sandungan, batu itu bisa tersingkirkan dengan mudah. Tapi bagi sebagian orang lain, batu itu tak hanya sebagai batu sandungan, namun karang penghalang yang sangat kuat dan tak sedikit yang berbalik dan pergi. Ya, mereka memilih memutar arah dan menyerah. Tapi aku tidak ingin menjadi bagian orang kebanyakan itu. Aku tidak ingin menyerah ditengah keterbatasan, ditengah halangan, dan mungkin rintangan. Jalan Allah akan selalu ada.
Ya, kisah itu sudah terjadi bertahun-tahun yang lalu ( baru dua tahun sih). Ketika itu, suatu malam yang gelap, dingin dan bintang yang malu-malu mengintip dari tebalnya malam. Tapi sayangnya aku tak bisa menikmati mereka. Aku terpaksa berdiri di bawah sebuah bangunan dengan dunia luar yang mulai tertidur karena telah larut. Ya, aku berdiri menghadap sebuah meja dan beberapa peralatan kerjaku, dengan tangan yang tak pernah berhenti meski mata sejak beberapa jam lalu tak bisa lagi diajak kompromi.
Bangunan itu adalah sebuah pabrik elektronik. Bangunan kokoh diantara bangunan-bangunan kokoh lain di tengah-tengah kawasan industri ibu kota. Disitulah tempatku bekerja hampir 9 bulan (10 hari lagi lahiran loh..:P). Siang dan malam tergantung sift yang aku dapat. Jika kebagian sift siang, jam 6 pagi aku harus stay di pinggir jalan menunggu jemputan pabrik, setelah sepuluh jam bekerja (jika tidak lembur, dan jika lembur di tambah dua jam lagi, dan sayangnya seringkali kita tidak bisa menawar jam lembur. Hal itu seperti sudah keharusan), jemputan itu akan mengantarkan kembali ke tempat dimana ia menjemput kita. Pukul 8 malam biasanya aku sampai di kontrakan. Kemudian, apa yang bisa aku lakukan dengan kondisi tubuh yang telah lelah karena sesiangan bekerja dengan posisi berdiri dan tangan yang tak pernah berhenti? Tubuh itu tak jarang hanya mampu terkapar di kasur tipis. Beristirahat, mengumpulkan kembali tenaga, untuk kembali berjuang esok pagi.
Jika kebagian sift malam, sehabis sholat magrib aku harus stay di pinggir jalan. Menunggu jemputan yang biasanya telah penuh sesak. Menunggu macet yang tak kunjung lenggang, dan kembali bekerja, berdiri dengan tangan yang tak berhenti memproses berbagai material elektronik. Meski jika sift malam hanya 8 jam kerja, namun sungguh, sift malam bukanlah sift yang mudah. Kita harus menjaga agar mata tetap terjaga, kita harus menjaga naluri untuk tidur, dan menjaga agar pekerjaan kita tetap benar (kopi sudah tidak mempan). Jam 7 pagi, bus jemputan itu kembali mengantarkanku ke tempat semula. Aku kembali ke kontrakan dengan aktifitas siang yang sebagian besar aku gunakan untuk mengumpulkan energi agar tetap terjaga dimalam hari. Jika bos sedang “berbaik hati” mereka akan mewajibkan bekerja di hari Sabtu dan Minggu. Memang hasilnya cukup lumayan, tapi seorang buruh akan benar-benar bekerja tujuh hari dalam satu minggu.
Itulah rutinitasku selama 9 bulan itu. Bekerja siang dan malam mengabaikan pembagian hari. Siang untuk bekerja, malam untuk beristirahat. Hal itu tidak ada. Kesenangan- kesenangan lai pun terabaikan, misalnya saja kesenanganku menulis benar-benar aku tinggalkan. Aku sangat jarang menyentuh pena dan kertas. Sangat jarang berjalan-jalan, sangat jarang membaca, sangat jarang berdiskusi, sangat jarang naik gunung (tidak pernah). Tujuh hari dalam seminggu benar-benar digunakan untuk bekerja.
Aku bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang melakukan hal tersebut tentunya. Aku memiliki teman yang senasib. Lulus SMA, langsung melamar kerja. Bekerja tujuh hari dalam seminggu demi cita-cita di kemudian hari. Ya, beberapa dari teman-temanku juga memiliki impian yang sama. Kami hanya bekerja disini sementara. Jika uang telah mencukupi, kami akan kembali mengejar mimpi kami. Mimpi kami bukanlah disini, tentu. Kami ingin melanjutkan kuliah, menjadi mahasiswa berprestasi, kuliah di luar negeri, mendapat pekerjaan yang mendapatkan jatah kursi untuk kami duduk. Aku sedikit demi sedikit berhasil. Aku meninggalkan pabrik itu setelah sembilan bulan bekerja dan melanjutkan mimpiku, menjadi mahasiswa yang semoga dapat berprestasi, berharap menjadi guru yang menginspirasi, dan jikalau dapat menjadi penulis yang memotivasi. Tapi tidak untuk mereka. Teman-teman yang aku kenal selama sembilan bulan. Teman-teman yang menghiburku ketika aku mendapatkan makian dari atasan, teman-teman yang menemaniku bergadang, teman-teman yang membersamaiku berdiri dengan kaki pegal.
Sebagian dari mereka kini masih bekerja. Ada beberapa yang bekerja di tempat yang sama, ada beberapa yang pindah namun dengan tipe pekerjaan yanng hampir sama, dan ada sebagian dari mereka yang menikah dan menjadi ibu rumah tangga, menunggu suami yang juga bekerja sebagai buruh sebuah pabrik, dan hanya segelintir orang saja yang menyusulku menapaki bangku kuliah setelah satu tahun mereka aku tinggalkan.
Aku memang bukan Tuhan yang tahu segala, tapi sungguh, kalian yang memiliki jalan mulus seperti jalan tol. Kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk kuliah, kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk membeli pulsa, kalian yang tidak perlu memikirkan biaya untuk makan sehari-hari, karena orang tua kalian telah menyediakan segala, sungguh kalian akan membuat kami kecewa, buruh-buruh yang mengubur mimpi-mimpi masa depan, jika kalian berleha-leha, menerima segalanya dengan pikiran masa bodoh, membiarkan waktu-waktu terbuang percuma, meratapi nasib yang sebenarnya tak seberapa, meneriaki dunia karena keputus asaan kalian, membenci dunia karena putus cinta, dan membiarkan ‘mereka’ merenggut milik kita, sungguh kami kecewa.
Kalian adalah wujud-wujud mimpi kami, jika kami tidak bisa menjadi kalian, biarlah kalian yang menjadi diri kalian sendiri. Menjadi penerus bangsa yang bisa memperjuangkan nasib rakyatnya, memperjuangkan nasib buruh-buruhnya, memperjuangkan pendidikan untuk semua, dan yang terpenting menjadikan negri kaya ini menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Tugas itu kami serahkan pada kalian yang memiliki kesempatan, maka, bangunlah dari sekarang, pedulilah pada kami buruh-buruh mlarat yang mengubur mimpi dalam-dalam, pedulilah pada masa depan kalian. Jangan menyerah hanya karena masalah kalian, jangan berputus asa hanya karena satu masalah.

“...sesungguhnya Aku dekat...” (Q.S. Al Baqarah: 186)


0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com