Tuesday, 8 May 2012

At Taman Pancasila

Habis baca buku keren langsung pengen nulis. Keren, meski sepertinya ngga best seller. Tapi itu bukan acuan untuk menyatakan kualitas buku kan. Ah, mungkin hanya sebagian yang tau. Atau hanya malah hanya aku yang tahu buku itu ada? Ya ngga lah. Masa buku itu cuma di cetak satu eksemplar aja. (Jadi ingat antologiku yang baru dicetak 2 eksemplar. Kabarnya sekarang gimana ya? Jangan-janang tulisanku udah di garis merah semua. Wa...bahaya, siaga 14.)
Akhirnya aku punya kesempatan nulis juga, setelah berhari-hari lalu, dikalahkan dengan game online (ya ampun aku sudah adicted..huwaaaa..), Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku. Aku ngga bisa buka FB. Tapi diambil ibrohnya saja. Jadi bisa nulis blog kan. Ya, setelah sekian lama blognya ngga disambangi. (ih, semutnya nakal. Nggodain aku mulu..(bukan semut di game, tapi semut beneran, la wong posisi nulisnya lagi di bawah pohon kelengkeng yang ngga pernah kelihatan kelengkengannya. Katanya sudah sepuh)).
Back to the book. Sebenarnya bukan bukunya yang hendak aku bahas. Tapi, efek samping setelah nuklis itu buku. Jadi rasa-rasanya langsung pengen nulis. Kayaknya gampang banget gitu loh. Mulus seperti tol tanpa hambatan yang berarti (paling kambing yang lagi pada bejemur, mirip bule-bule gitu) Ya, mudah banget kayanya, masih kayaknya karena aku belum praktek langsung. penasaran sama bukunya? Hubungi saya di nomor 087xxxxxxxxx, hahahahaha.
Dari buku itu, bisa diambil kesimpulan bahwa seorang penulis haruslah memiliki mata dewa. harus mampu melihat hal sekecil apapun yang akan di kembangkan oleh imajinasinya. Sayangnya memang tak mudah menemukan/ memiliki mata dewa itu (itu pendapatku sendiri). Perlu kepekaan tersendiri pada kehidupan sekitar. Ya, saya setuju dengan hal itu. Seorang penulis harus mampu melihat berbagai sudut pandang dari satu peristiwa, sesederhana apapun peristiwa tersebut. Misalnya aja nih, coz aku lagi ditaman, ehm, kita lihat aja di sekitar. Ada seorang mahasiswa duduk sendirian di tengah-tengah taman. Tangannya memegang laptop tapi matanya menerawang. Ah, siapa yang peduli dengan kejadian itu. Tapi bagi seorang penulis, hal itu bisa menjadi sebuah inspirasi. Kita kembangkan, kenapa mahasswa itu bisa termenung padahal di tangannya ada laptope yang sedang menyala. Apakah dia lapar, apakah ia tengah memikirkan tugasnya yang belum kelar, atau bahkan tengah merasai perutnya yang terasa nyeri karena pengen kebelakang. Atau yang lebih romantis, dia tengah teringat pada seseorang disana. Entah dimana. Itu silahkan di kembangkan, bagi kamu-kamu yang pengen jadi penulis cerpen. Atau bahkan novel. Hanya dari melihat seorang mahasiswi yang tengah termenung kita bisa mengembangkan banyak cerita. (katanya sih begitu)
Pengen tau apa bukunya? dan kenapa aku sampai betah bacanya?
lihat aja di toko buku terdekat. banyak sebenarnya buku-buku bagus tentang menulis. Tapi kita sungguh enggan meluangkan waktu dan tentu doku untuk hal yang satu ini. Ya buku. Kita (karena gue juga termasuk brow..heheh) seringkali memilih membeli pulsa yang akan seketika habis, daripada buku yang seumur hidup pun bisa utuh. Asal pinter ngrawatnya aja. Jadinya? Kita jadi buta akan dunia, sedangkan pengeluaran pulsa membengkak dan memperkaya mereka (pemilik penyedia layanan pulsa,hehehe). Seorang guru pernah berkata, musuh utama penulis adalah pulsa. Hems, iya ya...
Hah, sudah adzan dzhuhur. Saatnya sholat dulu Sob. Mungkin besok, kalo FBnya ngga bisa kebuka lagi bisa disambung lagi, mungkin dengan menu yang berbeda, aturan berbeda dan nuansa yang berbeda.
Assalamu'alaykum...(tadi ngga di buka dengan salam ya...hahahaha)



0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com