Thursday, 24 May 2012

Chroma



Keluh itu bukan karena peluh
Meski telah membanjir luruh
Seperti debu yang tersepuh,
Mengahantam, menjadi grumosol, regosol, dan spodosols

Layaknya aphelium, renggang tanpa pegangan
Layaknya apparent, mundur selangkah demi selangkah
Menjauh, dari barisan yang berjajar

Memang, aral itu bukan sekedar elfata
Yang menggores kaki dan mengotorinya
Bukan sekedar lapili yang menghujani
Tapi karang dan tebing
Juga badai hurricane di garis tropis

Tapi sungguh, kita bukan asteroid tanpa jalur
Bukan meteor yang terkikis saat jatuh,
Bukan pluto, tanpa induk
Bukan premeval yang melayang menjauhi matahari.
Tapi sungguh, jalan ini berujung tanpa jerih,
Bersemai manis, serangkai kamboja, semerbak pada kasturi.

Lalu, tak bisakah kita kembali sedekat layaknya perihelium
Dengan chroma yang berpijar meski berbeda
Bukan fault yang terpisah dan tercacah
Merangkai jemari dan melangkah
Pada satu ikatan ukhuwah
Kembali menjadi perca-perca Jundullah.




Zii Mujiku Hibiniu
24 Mei 2012
Ruang kuliah 214
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Wednesday, 23 May 2012

Dinding

Dinding -Dinding
Kita selalu berbicara disini. Berfikir luas, mengembara jauh tentang dunia kita, mengkritik, menghujat, dan bahkan mencaci. Ketidak puasan itu terluncur pasti, dan seperti tanpa aling-aling lagi, kita menuntut mereka. Luar biasa, bukan main, betapa beraninya kita. Ya, kita, karena aku pun bergabung bersama kalian disini. Hati yang bergejolak menentang penindasan dan ketidak adilan, hati yang sedih menatap perut-perut membuncit karena busung lapar, mata-mata yang nanar menatap mayat-mayat hancur berantakan, namun hati ini pun slalu bertanya, kapan kita buka pintu itu, dan kita berteriak lantang di luar? Kapan kita bergerak melawan ketidak adilan? Kapan kita kumandangkan perang pada mereka sang penjahat?
Selalu, yang aku temui kosong. Dinding-dinding kelas seperti sebuah batas pemikiran kita. Dinding-dinding kelas seperti pemisah antara jiwa kita yang radikal, peduli, berani, dan tangkas, dan jiwa kita yang masa bodoh, apatis, dan terlalu penurut pada keadaan.
Tentu, ingin aku usung idiologi kalian yang hebat keluar dari kungkuman ruang bernama kelas. Tentu ingin aku robohkan dinding-dinding batas sehingga kita tak lagi perlu menjadi orang lain. Aku ingin kita bergerak, mencabik-cabik mereka yang telah mengoyak-koyak tubuh ibu pertiwi dengan rakusnya. Kita berjalan, membawa spanduk-spanduk keadilan, kita teriakan, kita kumandangkan, kita kibarkan bendera perang pada mereka yang memenjara kita dengan dinding-dinding peradaban buatan tangan mereka.
Aku ingiiiiinnnnn sekali kawan. Tidak hanya berdemo dipinggir jalan, atau memutari kota dengan seribu tuntutan. Tapi kita benar-benar bertindak. Bukan menuntut, tapi kita yang melakukannya sendiri. Aku inngiiiiiiiin sekali kawan, kita sama-sama berjalan, menyusuri jalan-jalan terjal, menghampiri mereka yang membutuhkan, mendengar suara mereka, bukan sok tau dan menganggap kita sudah sangat paham. Aku ingiiiiiin sekali kawan.
Tapi akhirnya aku harus kembali pada kenyataan. Anganku yang melambung harus kembali pada raganya yang masih duduk manis di dalam kelas. Kosong dan kecewa karena aku hanya bisa diam, dan kita hanya bisa bicara.

#Ayo lakukan perubahan Kawan!!!!

Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Thursday, 10 May 2012

Hujan yang Melengkung


Masih ingat tentang hasil wawancara Justin Bieber yang gue baca di http://id.omg.yahoo.com/news/justin-bieber-sebut-indonesia-sebagai-negeri-antah-berantah.html. Mungkin setelah ini, gue juga bakalan di hujat sama fansnya Justin Bieber mengenai hal ini. (hah, mana gue peduli).Bukan mengenai negeri antah berantah , tapi mengenai perkatan Justin "Kata 'think' itu menggunakan 'th', bukan 'f',".
Gue emang bukan orang yang pinter pake bahasa Inggris, karena ngga mahir itulah gue jadi enggan. Knapa? Lidah gue sering kesleo kalau ngomong bahasa inggris, belum lagi kalo di ketawain sama mereka yang ndengerin. Mendingan ngga usah ngomong. Hahaha, sebenarnya itu pun gue ngga peduli.

Lagi pula kenapa harus bahasa Inggris? Kenapa ngga pake bahasa Indonesia aja? Kenapa harus berkiblat pada bahasa yang ngga tau juntrung dan asal muasalnya. Bahasa Indonesia itu keren loh. Ngga Tau? (meski masih kerenan bahasa Jawa sih, juga bahasa daerah-daerah lain yang penuh dengan keunikan dan seni tersendiri).

Gue sendiri bukan ahli bahasa. Jurusan gue Geografi man!! Tapi gue pengen berfikir kritis layaknya profesor. Gue cuma seorang Mahasiswi tingkat rendah yang ngga tau apa-apa tentang dunia luar. Kita bandingkan saja antara bahasa Inggris dan bahasa nenek moyang kita yang harus kita junjung tinggi-tinggi dan kita gunakan sehari-hari (jangan malah sok-sokan pake bahasa Inggris)

Contohnya saja yang mirip-mirip nama gue, pelangi. Pelangi, bahasa inggrisnya apa? Rainbow. Rain, hujan, bow, melengkung. Hujan yang melengkung. Apakah hujan bisa melengkung? Lagi pula ngga kreatif banget karena menjiplak dari kata lain. Rain dan BOw. Sedangkan bahasa Indonesia itu kreatif, dengan memberi nama lain pada hal yang baru. Nenek moyang kita itu pinter-pinter dan pemikir kelas berat. Maka munculah kata pelangi untuk warna yang berwarna-warni setelah hujan reda yang melengkung indah di langit yang cerah. Hahaha....

Satu lagi, Bahasa Inggris itu ngga konsisten. Really!!! Coba deh, cari di kamus, atau buku bacaan apa saja yang ada bau English di dalamnya. Lu akan nemuin kata-kata yang ngga konsisten, dari segi pengucapan. Misal nih, Kenapa dalam bahasa Inggris Cat, C-A-T, diucapkan Kat, K-A-T??? Lalu guna huruf C itu untuk apa? Apa untuk memperindah. Jadi gue mulai berfikir, sebenarnya bahasa inggris itu hanya memiliki sedikit kosakata, sehingga untuk membedakan antara yang satu dengan yang lain, ya pake perbedaan pengucapan. Wah, beda sekali dengan bahasa Indonesia. K ya di ucapkan K, C ya di ucapkan C, begitupun dengan Z, th ya tetep th, so ngga perlu ada perdebatan antara th di baca th atau f. ckckckc, bener-bener kreatif nenek moyang kita sehingga membuat kosakata yang beraneka ragam.

Sebenarnya, bukan karena keberatan menggunakan bahasa Inggris, tapi gue pengen menghimbau aja (ceila, bahasanya, kaya udah jadi presiden aja, "saya menghimbau kepada segenap masyarakat indonesia dan bla bla bla' hahaha) bahwa bahasa Indonesia itu ngga kalah keren dengan bahasa-bahasa lain, terutama bahasa Inggris, so, kenapa harus berusaha beringgris-inggris ria, kalau kita memiliki bahasa yang super duper keren. Berbahasa Inggris boleh, tapi pada tempat dan situasi yang tepat. Ngga melulu harus bahasa Inggris, sampe-sampe yang sebenernya hanya bisa ngomong yes no, sok-sokan pake bahasa Inggris. Aneh bukan? Niatnya sih biar di bilang keren, tapi nyatanya, bikin wajah mupeng alias muka pengen ketawa.hehehe

Kita negeri yang bermartabat guys, so tunjukan martabat kita pada dunia. Kalo aku sih, sangat setuju dengan negeri Prancis yang tetep keukeuh mempertahankan bahasanya. Ngga ada salahnya kalau kita ikuti langkah mereka. Gunakan bahasa Indonesia. Takut dikucilkan dan sebagainya? Kalo aku sih lebih takut azab Allah (apa coba hubungannya? Ya dihubung-hubungin aja, iya ngga coy...Hahahaha), dan gue amat sangat sekali mendukung Bahasa Indonesia menjadi bahasa Internasional. Kesempatannya besar loh, coba di hitung seluruh penduduk Indonesia, dan juga penduduk Indonesia yang ada di luar negeri. Hampir seluruh penduduk Indonesia tersebar di seluruh dunia dengan jumlah yang besar.
So, ayo perjuangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa Internasional. dan tentu, gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar ya...hehehe
Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Tuesday, 8 May 2012

At Taman Pancasila

Habis baca buku keren langsung pengen nulis. Keren, meski sepertinya ngga best seller. Tapi itu bukan acuan untuk menyatakan kualitas buku kan. Ah, mungkin hanya sebagian yang tau. Atau hanya malah hanya aku yang tahu buku itu ada? Ya ngga lah. Masa buku itu cuma di cetak satu eksemplar aja. (Jadi ingat antologiku yang baru dicetak 2 eksemplar. Kabarnya sekarang gimana ya? Jangan-janang tulisanku udah di garis merah semua. Wa...bahaya, siaga 14.)
Akhirnya aku punya kesempatan nulis juga, setelah berhari-hari lalu, dikalahkan dengan game online (ya ampun aku sudah adicted..huwaaaa..), Alhamdulillah, Allah menyelamatkanku. Aku ngga bisa buka FB. Tapi diambil ibrohnya saja. Jadi bisa nulis blog kan. Ya, setelah sekian lama blognya ngga disambangi. (ih, semutnya nakal. Nggodain aku mulu..(bukan semut di game, tapi semut beneran, la wong posisi nulisnya lagi di bawah pohon kelengkeng yang ngga pernah kelihatan kelengkengannya. Katanya sudah sepuh)).
Back to the book. Sebenarnya bukan bukunya yang hendak aku bahas. Tapi, efek samping setelah nuklis itu buku. Jadi rasa-rasanya langsung pengen nulis. Kayaknya gampang banget gitu loh. Mulus seperti tol tanpa hambatan yang berarti (paling kambing yang lagi pada bejemur, mirip bule-bule gitu) Ya, mudah banget kayanya, masih kayaknya karena aku belum praktek langsung. penasaran sama bukunya? Hubungi saya di nomor 087xxxxxxxxx, hahahahaha.
Dari buku itu, bisa diambil kesimpulan bahwa seorang penulis haruslah memiliki mata dewa. harus mampu melihat hal sekecil apapun yang akan di kembangkan oleh imajinasinya. Sayangnya memang tak mudah menemukan/ memiliki mata dewa itu (itu pendapatku sendiri). Perlu kepekaan tersendiri pada kehidupan sekitar. Ya, saya setuju dengan hal itu. Seorang penulis harus mampu melihat berbagai sudut pandang dari satu peristiwa, sesederhana apapun peristiwa tersebut. Misalnya aja nih, coz aku lagi ditaman, ehm, kita lihat aja di sekitar. Ada seorang mahasiswa duduk sendirian di tengah-tengah taman. Tangannya memegang laptop tapi matanya menerawang. Ah, siapa yang peduli dengan kejadian itu. Tapi bagi seorang penulis, hal itu bisa menjadi sebuah inspirasi. Kita kembangkan, kenapa mahasswa itu bisa termenung padahal di tangannya ada laptope yang sedang menyala. Apakah dia lapar, apakah ia tengah memikirkan tugasnya yang belum kelar, atau bahkan tengah merasai perutnya yang terasa nyeri karena pengen kebelakang. Atau yang lebih romantis, dia tengah teringat pada seseorang disana. Entah dimana. Itu silahkan di kembangkan, bagi kamu-kamu yang pengen jadi penulis cerpen. Atau bahkan novel. Hanya dari melihat seorang mahasiswi yang tengah termenung kita bisa mengembangkan banyak cerita. (katanya sih begitu)
Pengen tau apa bukunya? dan kenapa aku sampai betah bacanya?
lihat aja di toko buku terdekat. banyak sebenarnya buku-buku bagus tentang menulis. Tapi kita sungguh enggan meluangkan waktu dan tentu doku untuk hal yang satu ini. Ya buku. Kita (karena gue juga termasuk brow..heheh) seringkali memilih membeli pulsa yang akan seketika habis, daripada buku yang seumur hidup pun bisa utuh. Asal pinter ngrawatnya aja. Jadinya? Kita jadi buta akan dunia, sedangkan pengeluaran pulsa membengkak dan memperkaya mereka (pemilik penyedia layanan pulsa,hehehe). Seorang guru pernah berkata, musuh utama penulis adalah pulsa. Hems, iya ya...
Hah, sudah adzan dzhuhur. Saatnya sholat dulu Sob. Mungkin besok, kalo FBnya ngga bisa kebuka lagi bisa disambung lagi, mungkin dengan menu yang berbeda, aturan berbeda dan nuansa yang berbeda.
Assalamu'alaykum...(tadi ngga di buka dengan salam ya...hahahaha)



Share This:   FacebookTwitterGoogle+

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com