Wednesday, 13 February 2013

Jangan Ganggu Banci (Chapter Hijab Day)


Jreng!! Jreng!! Jreng!!
Bunyi gitar yang sumbang mengisi ruang dengar pemirsa sekalian. Namanya juga bus kota kelas ekonomi, kalau ngga pengasong ya pengamen. Tapi yang bikin mata memicing kali ini adalah tipe pengamen yang berdiri tepat di samping gue. (What the orange?!!). Karena si pengamen bukan perempuan, dan laki-laki namun tidak mengakui dirinya sebagai laki-laki, tanpa pikir panjang, diri ini pun menggeser tubuh untuk duduk lebih menjauh, meski harus menyesak pada Ibu-ibu yang juga nampaknya mahfum.
Sebuah lagu selesai di nyanyikan dengan suaranya yang serak dan agak banjir karena dipaksakan menyerupai suara perempuan, dan yang selanjutnya terjadi adalah, tak ubahnya seperti pemalakan, dengan wajah garang dan bibir yang menyumpah halus, serta omelan galak, dia meminta uang ngamen dari penumpang bus mulai dari posisi terdepan. Bahkan serunya itu, ia sempat bersitegang dengan seorang bapak tua. Oh tidak, apa yang harus aku lakukan? Ngga punya receh nih. Padahal tadinya sih duitnya receh semua, tapi kan udah buat bayar ongkos bus.
“Prok..prok..prok..” suara langkahnya semakin mendekat. Keringat dingin pun mengucur deras, membanjir luruh. Akhirnya, aku hanya mampu memutuskan menggerakan tangan sebagai isyarat tidak ketika ia telah berada di sampingku, dan sebuah keajaiban terjadi. Dia tidak marah apalagi menyumpah. Ia berlalu begitu saja seperti aku tidak ada. (Haruskah saya berteriak girang dan berkeliling bus?)
Pyuh, leganya. Tapi apa yang terjadi membuatku penasaran. Akhirnya aku melihat penumpang sekitar yang wajahnya kini tertekuk. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan tidak mengenakan hijab. Lalu hubungannya apa?
Aku hanya mampu membatin dalam jantung (hati-red), aku memang berbeda dari penumpang lain. Mungkin nampak aneh. Namun, keanehanku yang menyelamatkanku (wah, segitunya).
Memang nampaknya hal ini sepele. Namun, coba deh lihat sekitarmu. Seorang perempuan yang berhijab rapi, persentasi mereka sebagai korban kejahatan, meski hanya seperti example diatas (juga ditambah, di lecehin, digodain ngga jelas, dan pelecehan seksual lain) jumlahnya lebih sedikit daripada perempuan yang tidak berhijab. Conclusinya, hijab tidak hanya sebagai identitas kamu sebagai seorang muslim, namun hijab melindungi kamu. Menghindarkan kamu dari kesempatan seseorang melakukan tindak kejahatan. “Mereka” akan berfikir dua kali ketika hendak menggangu kamu.
Pernah lihat film “Alangkah Lucunya Negeriku”? Beberapa pecopet kecil mengurungkan niatnya untuk mencopet karena target mereka adalah ustadz. Mereka takut ketaatan orang tersebut terhadap Allah akan memberikan kesialan pada mereka, dan ini tidak hanya di film. Dalam kehidupan nyata banyak sekali contoh kasusnya.
Banyak media barat yang mengklaim bahwa kasus pemerkosaan di Arab adalah yang tertinggi, namun faktanya kasus pemerkosaan di AS menempati peringkat pertama, dan di Arab hanya menempati posisi seratus sekian. Why? Bandingkan saja model berpakaian orang Amerika dan orang Arab, tak perlu aku jelaskan kan?
So, jangan ganggu banci. Eh, berhijablah biar ngga di ganggu banci. (Berhijablah untuk Allah, insyaAllah Ia akan melindungimu dari gangguan banci), dan engkau yang telah berhijab, istiqomahlah. Meski kadang panas, gerah, dan ribet namun panasnya neraka tak mampu untuk di bayangkan, dan kelak, wangi surga dapat kau cium sesukamu. InsyaAllah. 

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com