Monday, 18 February 2013

Sopir Oh Pak Sopir



Wah, propinsi tetangga kayaknya mau pemilu nih, dan sebentar lagi gue juga jadi pemilih di rimba sendiri. Tinggal menunggu hitungan bulan aja. Dan, kayaknya ngga ada matinya kalo cerita tentang hal yang satu ini.
Tentang pemilu?
Tentu aja bukan. Soal pemilu sih, pasti ada matinya, soalnya yang di pilih itu kan manusia juga, pasti suatu saat nanti ada aja yang mati. Ya ngga?
Terus?
Ini nih, masih tentang Bus Ekonomi.
Biasa si, setiap weekend, orang kayak gue yang ngga punya kegiatan di kampus, yang ngga ada kerjaan, yang ngga ada tuh yang namanya rapat-rapat, apalagi merapat di rektorat, melenggang menuju tempat pemberhentian bus kelas ekonomi. Dimana aja, namanya juga bus ekonomi. Ngga etis kan kalo punya halte. So, dimana aja boleh deh, asal busnya lewat situ aja.
Ckittttttttt!!!
Bus berhenti tepat di depan gue, dengan rem super duper kenceng. Bisa di bayangkan manusia-manusia yang berada di dalamnya. Mungkin ada yang memaki, mengelus dada, mengelus kepala, mengelus rambut, dan yang ingat, menyebut Asma-Nya. Atau bahkan reflek melakukan hal yang lain. Mungkin. Gue ngga berada di dalam sana. Namun semenit kemudian, tubuh ini sudah terhuyung-huyung memasuki area seribu cerita. Dan cerita itu dimulai.
Bus melaju lebih kencang dari yang aku bayangkan dan perkirakan. Seneng sih. Lebih cepet sampai tujuan, namun berkali-kali tubuh ringkih ini di ombang-ambingkan bak berada di kapal bersambut gelombang badai yang garang. Mending kalau dapet tempat duduk. Kalau sudah berdiri, berimpit dengan penumpang yang lain, matahari terik menyengat, sungguh ceritanya menjadi ruar biasa.
Dan sebuah bus menyalip. Syuhhhh... keren. Macam di sirkuit balapan kelas internasional. Padahal bus ini udah kencengnya ampun-ampunan, masih ada yang bisa nyalip. Sopirnya kerennnnnn. Tapi, ternyata si sopir bus yang gue naiki ngga tinggal diem aja. Di suporteri oleh kondektur, si sopir menginjak gas kencang-kencang. Dan benar saja, jalanan Jogja-Kebumen menjadi sirkuit internasional.
Seok ke kanan, rem mendadak, gas kencang, seok ke kiri, rem mendadak lagi, mau nyalip ngga jadi karena ada mobil nyempil, nyempil nyampe turun dari aspal, guncangan besar karena lobang di terjang, sungguh menjadi pemandangan yang menakjubkan alias membuat jantung deg-degan.
Apakah bus baik-baik saja?
Ngga tau juga sih. Yang gue tau, telinga ini mulai mendengar keluh kesah dari beberapa ibu-ibu, nenek renta, dan kakek tua. Yang muda si diem-diem aja. Kayaknya memang asik kan kebut-kebutan gini. Yang payah yang berada di tengah, yang berdiri, dan yang berimpit. Beruntung yang dapat PW, bagi yang ngga, harus mati-matian menjaga tubuhnya biar ngga roboh ke tubuh orang lain atau malah terjerembab ke lantai bus, maka jadilah, tangan menjadi lebih kuat dari biasanya, kaki lebih sigap dari biasanya. Sayang (Alhamdulillah..), gue harus keluar dari arena sebelum pertandingan ini di ketahui pemenangnya (turunnya itu pun nyampe keblandrang jauhhh).
Sopir itu penentu kelangsungan hidup bus dan penumpangnya. Dialah yang menentukan busnya, apakah akan melaju kencang, lamban, sedang, terseok-seok, aman untuk penumpang, membahayakan jantung penumpang, membuat nyaman penumpang, atau membuat takut penumpang. Bahkan menyusahkan penumpang. Belum lagi kalau kondekturnya, yang berada di bawah si sopir minta tarif lebih dari biasa. Waaaaah...
Begitulah seorang sopir yang menjadi pemimpin bus, manusia menjadi pemimpin dirinya sendiri, ayah pemimpin keluarga, lurah pemimpin desa, camat pemimpin kecamatan, bupati pemimpin kabupaten, gubernur pemimpin propinsi. Bagi gue ngga ada bedanya kecuali nama-namanya dan cakupan tanggung jawabnya. Intinya sama. Mereka adalah sama-sama pemimpin yang menentukan nasip (b) penumpangnya.
Bukan hal baru, ketika sopir mengantuk, sopir ugal-ugalan, puluhan nyawa penumpang melayang, di jemput malaikat pencabut nyawa. Atau, yang lebih menyedihkan lagi adalah luka, patah tulang, gegar otak, amnesia, hingga kehilangan dompet di celana.
Memang sih, ketika kita menaiki bus tidak serta merta bisa memilih bus yang tipe sopirnya pas dengan kita. Namun kalau sudah biasa dan hafal macam anak sekolah naik angkot, pasti sudah tau, mobil yang warnanya ini sopirnya begini, yang gambarnya itu sopirnya begitu. Yah, kita bisa menilainya dari pengalaman. Seperti pemimpin, kita bisa melihat dari apa yang telah ia lakukan di hari yang lalu. Jangan serta merta percaya dengan janji, karena yang akan terjadi nanti siapa tahu. Tapi paling tidak jangan asal naik bus (kalo ngga ke buru-buru) tanpa mengenal sopirnya, bisa-bisa beneran kena jantungan. Kalau perlu, sebelum naik wawancara dulu tuh sama si sopir. Kira-kira laju busnya itu kecepatannya berapa, remnya cakram ngga, busnya kuat ngga, bannya bocor ngga, dan yang paling penting adalah, sopirnya waras atau tidak. Syukur-skyukur kalau sampai tahu apakah si sopir itu ingat mati atau tidak, so bisa tau, apakah si sopir akan mempertaruhkan nyawanya sediri, minimal, hanya untuk mendahului bus lain atau tidak.
So, jadilah penumpang cerdas. Nyawamu taruhannya. :D

0 Apa Kata Mereka???:

Post a Comment

Followers

Follow by Email

Google+ Followers

About Me

My photo
Warna-warna yang selalu menghidupi kehidupan anda. Serba-serbinya, seluk beluknya. Bukan aku, tapi warna-warnaku dari refleksi tulisanku. Ayo menulis!!!

Popular Posts

Copyright © Tinta Kering | Powered by Blogger
Design by Blog Oh! Blog | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com